Kota dan Jejak Kenangan

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 September 2017
Kota dan Jejak Kenangan

Esai Handry TM

MERASA tidak mampu berperan apa lagi mewarnai dan berderma terhadap tempatnya kini berada, sungguh sia-sia. Jika berposisi sebagai tamu, cukup besar kerepotan yang ditimbulkannya, jika menjadi tuan rumah tak ada hitung-hitungan memadai  yang pernah diberikan. Ia hanya menandai kota sebagai bagian dari kawasan administratif sebuah negara. Hanya kebetulan saja ia berada di sana.

            Inilah pentingnya keberadaan Taman Budaya di tengah kota. Ia akan menandai sejumlah situs peradaban, bahwa kota ini memiliki akar romantisme yang bisa dinikmati siapa saja. Bahkan oleh warga yang tidak punya sejarah asal-usul dan genetika. Warga kota secara administrasi harus bisa menunjukkan tanda kependudukan dan dokumen kuat yang berkaitan dengan dirinya. Secara psikologis, siapapun merasa menjadi warga Kota New York, banyak orang sangat bangga pernah tinggal di sana. Memiliki kenangan indah dan merasa pernah berbuat terhadap kota termasyur di dunia.

            “Saya pernah bermalam tahun baru di Times Square, saya merasa sangat menjadi warga kota dunia,” kata seorang teman yang punya pengalaman indah itu. Pendekatan kebudayaan lebih mengeratkan ikatan, karena seni sebagai produk kebudayaan, pada dasarnya berfungsi saling mengeratkan. Seorang perupa Asia yang selama beberapa tahun berproses di Eropa, tanpa sungkan akan mengaku menjadi anak kebudayaan di belahan benua. Terhadap pernyataan itu, tak seorang pun bersemangat untuk mengkomplain.

            “Sebuah kebahagiaan jika Anda  memiliki keluarga besar penuh kasih, erat dan berperhatian di kota lain,” demikian George Burns, aktor pemenang nominasi Academy Award kelahirkan New York 1896 yang meninggal di Beverly Hills, California tahun 1996. Makna dari kata-kata itu adalah, di mana saja Anda tinggal, asal berhubungan dengan kebahagian dan ikatan persaudaraan, Anda layak menjadi warga kota utama di manapun juga.

            Lebih simpel lagi Plato, “This City is what it is because our citizens are what they are.”  Sebuah kota akan berkesan apa adanya jika warganya pun apa adanya. Tidak pernah ada persyaratan muluk-muluk, saat kapan minum teh di beranda hotel di mana pun, sebuah kota besar akan mempersilakan Anda menjadi warganya.

Kita Narapidana

            Kenanglah di tahun 1976, ketika The Eagle (Glenn Frey, Don Henley, Bernie Leadon dan Randy Meisner), sebuah grup rock asal Los Angeles, California memenangi Penghargaan Grammy untuk Rekaman Terbaik dan Penghargaan Grammy Hall of Fame. Grup itu membukukan lagu Hotel California. Di tengah sanjung dan pujiannya terhadap tempat tersebut, ada satu kata yang terselip tajam dan menyayat pilu: And she said, 'we are all just prisoners here, of our own device. (Dan dia berkata, 'kita semua hanya narapidana di sini, dari perangkat kita sendiri).

            Saya kira menandai sebuah kota, bukan karena ketakjuban kita melihat gedung-gedung pencakar langit  yang maha mencengangkan dari celah kaca mobil yang sedang kita tumpangi. Namun bagaimana sebuah kota menawarkan imajinasi.  Tidak heran jika seseorang yang pernah singgah di kota kecil sebuah negara terbelakang, di masa tuanya ingin mengulang kembali sebelum meregang nyawa.

            Novelis Umar Kayam menuliskan cerpennya sangat romantisdi Seribu Kunang-kunang di Manhattan, seperti ini:

            “…Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan….”

            Kita bukan warga kota Manhattan, mungkin malah belum pernah ke sana. Namun membayangkan adegan antara Jane dan Marno di salah satu kamar gedung pencakar langit di Manhattan itu di cerpen Umar Kayam, seperti benar-benar ikut mengalami. Para pembaca diajak seolah-olah menjadi warga kota Manhattan. Tanpa sekat, kita pun merasa memiliki suasana yang dirasakan Marno dan Jane. Sungguh sihir yang luar biasa.

            Perasaan kita berpendar ketika berada di sebuah kawasan ketika merasakan sensasi yang dahsyat. Sambil menikmati kopi di cangkir kecil, sepotong bread tanpa isi, jiwa kita mengembara bersama kekasih, seperti terlupa tempat asal kita. Ini pula yang diyakini para sastrawan (novelis, penyair dan cerpenis), bahwa di setiap kota mereka singgah, akan muncul kisah-kisah luar biasa yang tidak mungkin terulang sama.

            Serupa kapal pesiar yang berlayar dari ujung samudera yang satu ke ujung samudera yang lain. Angin menerpa masuk di kapal itu memunculkan aroma asin yang juga berbeda. Itulah sebabnya mengapa seseorang ingin selalu menjelajah, mendapatkan pengalaman berlebih daripada mati terduduk di rumah sunyi. Selalu, manusia berharap menambah masa lalunya yang biru, bukan masa silam yang datar dan beku. Demikian pulakah para pengelana cinta dalam mendapatkan kekasih barunya?

            Mari tandai sebuah kota dengan coretan kata, dentingan lagu atau sapuan kanfas seadanya. Di masa datang, hal itu akan menjelma kenangan serta memaksamu berlinangan airmata. Di sudut kota New York, jika Anda seorang pria, ketika hanya dimintai tolong menemani seorang wanita ke telephone box di saat gerimis turun, lima atau sepuluh tahun kemudian, akan menjadi novel atau puisi.

            Jangan biarkan tempat pijak menjadi kenangan sia-sia. Abadikanlah sekarang juga, entah itu foto, puisi atau cerita panjang. Sebelum semua tinggal kenangan, dan tak menyisakan jejak masa silam.

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.


Quotes

Lebih simpel lagi Plato, “This City is what it is because our citizens are what they are.”  Sebuah kota akan berkesan apa adanya jika warganya pun apa adanya.

 

 

 

  • view 183

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Setiap kalimat dari esai milik Handry TM ini mengandung makna dalam dengan bahasa yang cantik dengan terkadang mengandung metafora. Butuh latihan menulis, lahapan bacaan yang banyak hingga mampu menghadirkan tulisan berbobot seperti ini. Dari sekian banyak tulisan esai yang kebetulan Handry unggah dalam waktu yang agak bersamaan, karya ini yang kami pilih terlebih disebabkan paling pas dengan garis besar Inspirasi.co, yang menyinggung tentang sastra, budaya dan humanisme.

    Esai ini menceritakan kota dan sederet fungsi filosofis yang ia hadirkan bagi para penghuninya. Bahwa kota tak sekadar tempat untuk bernaung dan mencari rezeki tetapi tempat bergumul, bergaul, berekspresi hingga pada akhirnya seorang warga mempunyai tempatnya sendiri di tempat ia tinggal melalui kontribusinya terhadap ruang tempat ia eksis. Handry memunculkan contoh kota New York, Manhattan berikut kutipan sastrawi dari Umar Kayam. Sebuah tulisan ‘timeless’ yang mempunyai tempat tersendiri di hati setiap pembacanya.