Perdebatan Kecil tentang Donat

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 September 2017
Perdebatan Kecil tentang  Donat

Oleh:  Handry TM

 

Oleh:  Handry TM

 

 

 

KALI ini kita akan bergunjing mengenai kue bulat serupa cincin bernama donat. Mungkin ini tidak penting bagi permasalahan besar yang keseharian dihadapi manusia. Akan tetapi  makanan berbentuk cincin atau bola-bola yang di tengahnya berlubang, yang orang Inggris menyebutnya dengan doughnut atau orang Amerika mengistilahkan dengan donut itu, menjadi penting ketika mereka mencarinya di pagi hari untuk mengisi perut.

            Seperti juga kue yang  lain, donat diadon dalam dua versi di negara asalnya. Kue yang dimasak dari bahan baku tepung terigu, gula, telur dan mentega itu, versi pertama digelembungkan dengan fermentasi (ragi). Dengan cara ini, kelak donat akan menghasilkan kadar lemak hampir seperempat dari volume donat keseluruhan. Sedangkan adonan kental sebagaimana adonan kue yang lain, bisa menekan hasil lemak 20 persen dari volume donat secara utuh.

            Menggelembungkan donat mentah dengan cara fermentasi, selain tidak higienis, proses pemasakannya memakan waktu lebih lama daripada adonan kental seperti kue biasa. Belum lagi, konsumen masih dibebani oleh resiko kolesterol dengan adanya taburan keju, serbuk gula atau cokelat pada topping di atasnya.

            Di pagi hari orang-orang Amerika lebih suka mengudap donat di gerai kaki lima atau toko-toko roti daripada sarapan kentang atau kue berat. Selain fashionable, menggigit donat sambil berdiri di jalan raya tidak terlihat norak dibanding harus menyangga piring bagi menu kentang dan lauk pendampingnya.

            Di mata orang-orang kota, donat menjadi sahabat di pagi hari. Mengisi perut dengan kue jenis itu merupakan habit tersendiri bagi orang-orang yang memanfaatkan cara tersebut sebagai gaya hidup. Pada perkembangannya, donat mendisplay diri menjadi produk makanan yang secara performa harus nampak mempesona. Merk-merk branded seperti Glam Doll Donuts,  Federal Donuts, Donut Snob dan Blue Star Donuts menjadi label pujaan di bursa kuliner Eropa.

            Produsen menyusun narasi jualan yang memikat dan merangsang tetesan air liur. Mari kira amati kiat Blue Star Donuts dari Perancis. Produk ini jauh-jauh hari telah mengklaim diri sebagai “Donatnya kaum dewasa,” karena rasanya yang dirancang matang. Selai blueberry, bourbon dan basil menjadi daya pikat pada lapis tambahannya. Lain lagi Glam Doll Donuts, ia sengaja mempromosikan reputasinya yang luar biasa melalui tagline "Best Donuts in Minneapolis." Perancang promosi di merk ini mengurai, ada rasa ajaib yang berhasil mereka cipta pada produk berlabel Chart Topper. Padahal hanya paduan antara selai kacang dengan saus Srirarcha biasa. 

            Banyak cara bagi mereka untuk menjajakan dagangannya. Meski demikian, produk  donat tetap sexy ketika dipajang di rak kaca sebuah toko kue di tengah kota.

 

Penggagas

 

            Sebaiknya kita gunjing pula pertikaian dari mana donat ini berasal. Ada yang menulis, seorang imigran Belanda membawanya saat menempuh perjalanan ke Amerika Utara. Bukti lain menyebut, seorang kapten kapal Denmark bernama Hanson Gregory adalah orang pertama pencipta donat. Masih ditambah, lubang di tengah kue ini terjadi lantaran tertusuk roda kemudi kapal yang dijalankan.

            Ketika Hanson Gregory mengklaim menciptakan donat pada tahun 1847, data lain mengemuka, pada tahun 1800 Elizabeth Dimsdale dari Hertford – Inggris, telah menciptakan kur itu. Dimsdale menyebut  resep kue itu dengan dow nut bukan donut. Siapa di antara ketiga tokoh yang disebut-sebut sebagai terpenting terciptanya donat, ini pun menarik diperdebatkan di kedai-kedai kopi kelas dunia.

            Genre kue bernama donat benar-benar menjadi bintang ketika tahun 1809 buku History of New York versi Washington Irving mengupas secara spesifik.  Namun tidak langsung menyebut kua bola yang tengahnya berlubang itu dengan nama donuts, melainkan doughnuts atau olykoeks. Nama donut mulai dipakai pada tahun 1929 ketika Bailet Millard menulis di Los Angeles Times.

            Demikianlah sejarah memberi penghargaan dengan caranya sendiri terhadap donat yang mendunia. Hingga negara berkembang pun akhirnya mengenal donat melalui merk monumental seperti Dunkin’ Donuts berikut berbagai variannya.  Merk itu ditengarai berdiri pada tahun 40-an di Massachusetts, Amerika Serikat. Hingga merk-merk sempalan lain menjamur, menawarkan cita-rasa yang berbeda-beda.

            Kisah tentang siapa penggagas donat, siapa pula yang keranjingan mengudapnya, akan menjadi kisah lain dari perang produk makanan. Sebuah modeling perang industri dimana mula-mula sederhana, kemudian membubung sebagai tema yang luar biasa.

            Demikiankah industri pangan yang lain merebut wilayah pasar? Kita kerap dijejali kisah dramatik di balik sekadar jualan rasa. Dan ini pelajaran berharga untuk dicerna.

 

 

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes

Pada perkembangannya, donat mendisplay diri menjadi produk makanan yang secara performa harus nampak mempersona.

 

  • view 16