Kebenaran Tak Pernah Palsu

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Juni 2017
Kebenaran Tak Pernah Palsu

Oleh Handry TM

 TAPI percayalah, truth is never false, bahwa kebenaran tak pernah palsu. Meski melewati berbagai medium dan berubah bentuk, kebenaran tetap tercium sebagai sesuatu yang hakiki dan tidak artifisial. Demikian pula dengan ilmu pengetahuan, kualitas sain akan teruji dalam berabad waktu. Ia tidak mudah luntur atau berubah warna menjadi “pura-pura benar” meski hal itu suatu kebohongan.

            Mengapa manusia membuat takaran, standar ukuran yang universal? Tidak lebih agar satuan pengukur itu bisa diterima oleh semua pihak. Bukan kebenaran versi dirinya sendiri, atau menurut ketentuan subjektif. Jika satuan ukuran mengenai kebenaran sudah tidak bisa disatukan, yang terjadi hanyalah pertikaian. Permusuhan karena satu sama lain saling bersikukuh memperjuangkan kebenaran menurut caranya.

            Salah satu contoh kebenaran universal  adalah  humanisme. Dari jaman batu hingga jaman milenium, perikemanusiaan didudukkan pada posisi yang diagungkan. Intimidasi, pencabutan nyawa secara sepihak dan kesewenang-wenangan tidak bisa diterima. Sikap kemanusiaan mestinya tidak bertentangan dengan paham keyakinan, tradisi kesukuan dan perbedaan strata sosial.

            Namun kebenaran universal  kini dibenturkan oleh ketentuan reliji yang berbeda. Suku dan agama satu sama lain saling bertikai. Kemanusiaan universal bisa tidak berlaku karena satu sama lain menganggap berbeda.

            Mari kita bayangkan seolah-olah sedang berdiri di tengah kerumunan manusia dimana seorang penjahat dikawal di tiang gantungan di tengahnya. Penjahat itu sebentar lagi akan menghadapi kematiannya. Rasa kemanusiaan dan hati kecil kita pasti memekik. Betapapun ia manusia, akan terasa perih ketika dengan mata kepala sendiri kita melihat tubuh itu menggelantung dengan leher terjerat.

            Di antara kita akan memekik dan menangis, karna sebuah nyawa dihilangkan. Satu kehidupan diputus oleh manusia, bukan oleh Tuhan yang mempunyai kehendak. Yang lain bersorak-sorai, bergembira dan bersenang-senang. Mereka itu golongan yang percaya, bahwa penjahat memang harus dihukum mati. Dunia tidak butuh manusia-manusia tidak berguna. Bukan hanya tidak berguna, namun juga membahayakan manusia yang lain. Kebenaran biasanya ditemukan dalam situasi yang sederhana, “Tidak berada dalam situasi hiruk-pikuk dan kegaduhan luar biasa,” ini kata  Isaac Newton.

 

Kebenaran Itu Keillahian

            Kebenaranmu belum tentu kebenaranku, hal ini yang sering terjadi di wilayah pertikaian agama. Secara Keillahian kebenaran itu tunggal, meski dibatasi oleh wahyu yang turun dalam bentuk surat dan ayat-ayat. Menyakiti seseorang itu tidak benar, namun menyakiti orang yang dianggap musuh kelompoknya adalah benar.

            Tafsir-tafsir Keillahian sebenarnya tidak berlaku sempit, karena bisa menembus sekat agama dan keyakinan. Keillahian bisa dilakukan mereka yang belum memeluk agama sekalipun, asal sikap jiwanya taat terhadap aturan yang diyakini. YB Mangunwijaya memperjuangkan istilah “Religiositas” ke ranah kehidupan yang lebih lebar. Tidak hanya sebatas disiplin peribadatan, namun juga perillaku.

             Belajar dari cara hidup para pedagang yang sibuk dan rakus akan keuntungan, “Religiositas” bisa muncul di tengah-tengah mereka. Pebisnis yang tekun dan taat terhadap profesionalitas bisa dikatakan memiliki religiositas tinggi. Keuntungan besar bukan dosa, karena menjadi target. Akan menjadi nista ketika keuntungan itu didapat dari merampas kesempatan orang lain, memotong hak pekerja dan sejenisnya.

            Manakah yang benar, diriku ataukah dirimu? Menurut “ego” aku, kebenaran adalah apa yang diyakini sebagai sesuatu yang aku pihaki. Namun “ego” objektif selalu merujuk kepada azas yang lebih bermanfaat. Bagaimana jika kita meragukan “ego objektif” yang kini sering digoreng dan dikontaminasi oleh banyak kepentingan? Misalnya, agama menjadi alat mempengaruhi demi politik dan pragmatisme kekuasaan?

            Tuhan selalu hadir dengan sosoknya yang akbar, kekal dan lentur. Dalam agama tertentu, Tuhan tidak terpersonifikasi, artinya tak boleh diwujudkan. Mengapa demikian? Dikhawatirkan akan berlaku tafsir yang gagal. Pada agama yang lain Tuhan muncul dengan sosok yang teduh, pelindung dan bersahabat. Masyarakat penganut animisme dan dinamisme malah menghadirkan Keillahian dengan medium alam dan benda-benda.

            Manakah yang benar di antara berpuluh medium kebenaran itu? Masing-masing agama telah membatasi keliaran imajinasi manusia dengan dogma. Jika akal sehatmu tidak mampu menjawab kegelisahan tentang kebenaran, kembalilah ke dogma. Bagaimana dengan ungkapan, bahwa kepercayaan bisa didiskusikan? Diskusi sebatas mengurai paradigma berpikir iya, namun  harus kembali ke logika wahyu masing-masing.

            Sungguh mengasyikkan jika manusia telah  memahami, bahwa masing-masing kebenaran memiliki ruang berbeda. Jika itu terjadi, maka tidak perlu lagi memaksakan diri dan menjelas-jelaskan bahwa semua kebenaran itu sama. Dalam keyakinan, kebenaran memiliki batas-batas. Dalam humanisme sosial, kebenaran diseragamkan sesuai kesepakatan universal. Sehingga tidak perlu lagi memakai istilah “kafir” bagi penganut keyakinan yang berbeda. Karena keyakinan yang berbeda pasti tidak memunculkan kesepakatan yang sama.

            Memprihatinkan,  retorika dan bahasa komunikasi yang dipakai belakangan ini jauh dari etika. Istilah-istilah “kafir,” “iblis,” “biadab,” seyogianya sudah tidak dipakai lagi di masa global seperti ini. Tapi marilah kembali kita baca buku-buku pintar tentang kebenaran, ditemani secangkir kopi pahit tanpa pemanis buatan.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Dimuat di Harian Wawasan 3 Juni 2017

 

Quotes

“Tuhan hadir dengan sosoknya yang akbar, kekal dan lentur. Dalam agama tertentu, Tuhan tidak terpersonifikasi, artinya tak boleh diwujudkan…”

 

 

 

 

  • view 99