Manusia Sunyi di Keramaian

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Mei 2017
Manusia Sunyi di Keramaian

Oleh: Handry TM

KERETA api mempersiapkan perjalanan sesuai rute yang disepakati. Barangkali ia akan menuju ke rute terakhir setelah melewati dua atau tiga stasiun singgah di antaranya. Kereta api tidak akan berhenti sebelum melewati stasiun yang ditetapkan. Namun perjalanan tidak selancar apa yang direncana. Selalu muncul berbagai hambatan, bisa saja berupa kerusakan mesin, hambatan alur jalan atau kecelakaan. Demikianlah perjalanan hidup manusia yang diibaratkan seperti perjalanan kereta api.

Manusia lahir dengan ekspektasi sosial (social expectations) hingga ke batas akhir (ajal/ kematian yang wajar dan ideal). Begitu kata Robert Havighurst (5 Juni 1900 – 31 Januari 1991), seorang profesor Ilmu Pendidikan dan Manula asal Wisconsin, Amerika Serikat.

Dalam periode perjalanan hidup, akan ditandai tugas-tugas perkembangan sesuai dengan saat di mana individu berada. Pada stasiun pertama mestinya akan diperoleh kebahagiaan awal, atau justru sebaliknya. Demikian pula dengan stasiun yang berikut, mestinya ada tugas-tugas ideal yang sesuai dengan harapan perjalanan sebelumnya. Ukuran keberhasilan dari perjalanan itu tentu sebuah kebahagiaan. Jika gagal, akan mengalami kemurungan dan kenestapaan luar biasa.

Manusia sebagai makhluk “tak berkartu nama” di alam semesta, menjadi bukan apa-apa atau siapa-siapa(anonymous) jika tugas-tugas perkembangan tersebut tak mewujud sesuai capaian. Seorang remaja yang tak mampu menempatkan dirinya sebagai individu yang berkembang, kreatif dan berkelompok, akan dianggap gagal memenuhi tugas-tugasnya. Perempuan berusia 25 tahunan tidak memiliki pacar apa lagi menikah, akan menerima hambatan sosial dari kiri kanannya.

Menghitung usia tidak sebatas diulangtahuni atau dirayakan pengulangannya dengan pesta besar. Atau diratapi lantaran kian lama kian berkurang usia seseorang. Usia akan menandai dirinya “menjadi penting” di tengah kerumunan yang membutuhkannya. Termasuk mewarnai lingkungan dengan ide-ide segar dan menggairahkan, meski tidak selalu dengan gagasan besar.

Hindari menjadi pelaku utama di lagu Strangers in the Night tulisan Bert Kaempfert bagi penyanyi Frank Sinatra pada tahun 1966: “Strangers in the night/ two lonely people/ We were strangers in the night…” Menjadi orang asing yang kesepian di malam hari. Maknailah usia dengan tugas-tugas yang sesuai dengan perintah kehidupan dan kehendak jiwa.

Menghitung Waktu

Manusia diberi waktu untuk mengembangkan hasrat kehidupan dan syahwat keindahannya oleh Tuhan, agar memiliki arti. Usia ideal yang hanya mencapai 60 tahunan itu, sungguh singkat bagi terwujudnya keinginan puncak yang tidak dibagi dalam periode tertentu. Namun Elizabeth B Hurlock menandai harapan sosial di atas dengan bagaimana memainkan peranan penting di lingkungannya. Menghitung waktu tidak diukur secara kuantitatif, melainkan kualitas yang dimaknai.

Seyogianya manusia memiliki ketrampilan dan nilai lebih agar bisa diterima secara kelompok. Kehadirannya tidak ditolak dan bisa diterima, agar memunculkan rasa bahagia. Inilah manajemen usia yang dimaksud, agar individu membawa makna penting mulai dari masa prenatal (periode konsepsi) hingga ajal menjelang.

Hidup serasa sepi, ngungun tanpa kawan di tengah keramaian, adalah hal yang sering dialami ketika manusia sedang stagnan. Tuhan yang hadir melalui agama, kadang tidak sanggup mengisi kesunyian itu, malah terkadang dipersalahkan mengapa Tuhan tidak memiliki peran apa-apa terhadap kesedihan manusia. Hidup demikian kosong, usia hanya menggelinding di jarum waktu yang terus berdetak.

Waktu memburu meski sudah berusaha mengisinya dengan berbagai upaya. Merasa bukan menjadi apa-apa adalah penyakit akut yang sering melanda manusia. Di manakah letak keindahan di sepanjang kehidupan ketika segalanya menjadi dungu ? Psikologi menawarkan solusi tentang seyogianya seseorang mengatur tugas-tugas itu sehingga menjadi arti. Carannya, dengan membagi periodisasi tugas perkembangan yang sesuai.

Kegagalan mencapai tugas-tugas tersebut akan membuat seseorang frustrasi dan tidak bermanfaat. Untuk mengulangi tugas awal pada usia terkini, sudah tidak mungkin lagi. Segala yang dilakukan selalu tidak tepat dan menjadi aneh. Cara membongkarnya, harus mewujudkan kesimpulan sendiri sebagaimana quotes terkenal Descartes, “Karena saya berpikir maka saya ada!” (cogito ergo sum). Kesimpulannya, segala yang ada hanya ditentukan oleh jalan pikiran manusia. Bukan oleh faktor lain.

Kereta api terus bergerak. Dari stasiun yang satu ke stasiun lainnya. Manusia menumpang di dalamnya, takzim menunggu kereta api sampai stasiun terakhir. Sepanjang perjalanan mungkin kita tertidur atau nyeruput kopi, atau tidak berpikir sama sekali. Manusia punya pilihan, bahkan dengan tidak memilih.

Riuhnya dunia sering tidak mengusik kesenyapan jiwa manusia. Hidup cuma sekumpulan imajinasi yang sudah dipersiapkan, manusia sendiri yang kelak meyimpulkan. Pengetian baik - buruk hanya ukuran satuan yang tidak berlaku untuk semua orang, melainkan sangat subjektif. Tidak perlu kita begitu takjub melihat seseorang menjadi dewasa di usia belia, jangan heran menyaksikan kanak-kanak abadi di batas usia senja.

Perjalanan waktu harus diberi warna, kita sendiri yang melotehkannya. Jangan orang lain yang tak dikenal dan mencoret sekenanya. Usia terlalu pendek untuk merencanakan kebahagiaan, namun terlalu panjang bagi kehidupan yang kosong dan sia-sia.

• Penulis adalah pengelola Ezzpro Media. Quotes

Quotes:

“Strangers in the night/ two lonely people/ We were strangers in the night…” Menjadi orang asing yang kesepian di malam hari. Maknailah usia dengan tugas-tugas yang sesuai dengan perintah kehidupan dan kehendak jiwa.

  • view 137