Peradaban yang Dipertaruhkan

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 2 bulan lalu
Peradaban yang Dipertaruhkan

Oleh: Handry TM

DAN industri menangkapnya sebagai peluang. Kebudayaan menyokong sebagai ekspresi yang tidak bisa ditinggalkan. “My rule of life prescribed as an absolutely sacred rite…, ” kata Winston Churchill sembari menambahkan, “Merokok dan minum alkohol merupakan interval dari sebelum dan sesudah makan apa saja.”

            Mitos-mitos besar pun dikibarkan. Imajinasi bahwa seseorang akan mati bisa tanpa didahului oleh isapan rokok dan minum kopi. Atau, kematian tidak ditentukan oleh kerak nikotin di dinding paru-paru manusia, melainkan dibunuh oleh otak pikirannya sendiri. Seseorang yang sedang unbalance, sedih, menderita, galau, cemas luar biasa, pasti mati dengan sendirinya tanpa racun nikotin. Sebaliknya, seorang perokok akan terhibur, keluar dari tekanan, enjoy, move on, di saat menikmati asap tembakau dalam situasi sempurna.

            Apa sebab manusia menikmati asap daun tembakau kering yang terbakar itu? Alasan semacam apa, sehingga orang memahami riset kesehatan bahwa lama-lama hal tersebut sangat berbahaya bagi  kesehatan manusia? Di garis yang berseberangan, belum ada kejelasan pasti, apakah dunia memerangi rokok sebagaimana memerangi Narkoba untuk kemudian melarangnya?

            Racikan tembakau berdiameter 10 milimeter dan panjang seratus millimeter berbentuk silinder itu membawa dimensi romantisme kebudayaan di masa lalu. Abad 16, suku bangsa Indian Amerika memperkenalkan perilaku “meminum” tembakau atas pertimbangan religion yang dianutnya. Hisapan asap tembakau itu bukan tanpa maksud, merupakan bentuk ritual dari sesembahan yang dianutnya.

            Keniikmatan “memuja” bertabrakan melawan hedonisme yang dibawa para imigran Eropa saat menemukan Benua Amerika. Tafsir yang ditangkap kaum borjuis Eropa sangat berbeda dengan tafsir yang dioleh para Indian pribumi. Di Eropa, tembakau dikonsumsi secara riang-gembira dan bersenang-senang. Meminum rokok menjadi habit di kalangan para bangsawan sebagai sebuah kesenangan.

            Lagi-lagi industri masuk di dalamnya. Kebudayaan dan industri rupanya saling menopang. Keduanya beriringan “menuliskan kisah,” satu sama lain untuk saling mendapatkan manfaat dan saling menumpangi. Sebagai sebuah karya seni, rokok adalah heritage di kawasan masing-masing. Seperti juga Indonesia, yang menganggap kretek adalah karya seni budaya anak bangsa. Demikian pula sejarah Amerika sebagaimana yang tertulis di atas, ia adalah tradisi awal kaum Indian.

 

Hypergrowth

            Sesungguhnya kebudayaan merupakan alasan utama, mengapa merokok menjadi bagian dari peradaban yang sedang berjalan. Di zaman yang terang benderang, di tengah dunia yang aturannya telah disusun ketat, produksi rokok kian digencet oleh dinding pembatas. Mulai dari iklan, pemasaran hingga harga cukai yang terus dinaikkan.

            Indonesia memilik keuntungan besar ketika 51,1 persen warganya adalah perokok aktif, terbesar di negara-nagara Asia Tenggara. Hampir 140 triliun rupiah negara diuntungkan dari cukai rokok di tahun 2015. Pada tahun berikutnya negara berani menyatakan tidak lagi bergantung pendapatan dari cukai tersebut.

            Senyampang dengan anjuran dunia agar berangsur-angsur meninggalkan konsumsi tembakau, pemerintah pun menaikkan harga cukai di tahun 2016 rata-rata 11,19 persen dari harga sebelumnya. Benarkah konsumen berkurang? Harga mahal bukan alasan seseorang untuk meninggalkan kebiasaan “meminum” asap tembakau. Mereka mengurangi konsumsi yang lain, untuk tetap bisa membeli rokok seperti semula.

            Perilaku kebudayaan pun diam-dia berubah. Berbagai olahraga dan kesenian semula didominasi oleh produk tersebut, berangsur-angsur menghilang. Berbagai turnamen  bulutangkis kelas dunia dan sepakbola kelas regional menyurut. Konser-konser musik internasional yang selama ini disokong sponsor rokok, tak lagi terbilang.

            Dampak besarnya, kafe musik di kota-kota besar kehilangan “kawan,” karena iklan rokok dibatasi sedemikian rupa. Kelompok-kelompok musik lokal tak lagi berkembang. Ada dosa kolektif di tengah-tengah situasi ini, namun rokok toh tetap diisap di tanah lapang dan di taman-taman budaya.

            Dunia mengutuk rokok, namun media membutuhkan iklan besar darinya. Bahasa marketing para penjaja itu cerdik nian. Kini tidak lagi menampilkan iklan jualan dengan gambar atau narasi langsung, cukup dengan lagu Sepanjang Jalan Kenangan atau lagu Aku Ingin Pulang.

            Di sebuah provinsi di Kalimantan, pemeo rokok dilarang masuk sekolah, di ruang kantor, guru laki-laki dan perempuan menghisap rokok bersama sambil mengobrol tentang pendidikan. Peringatan bahaya yang menempel di pembungkus rokok hampir tidak memiliki resonansi apapun, karena merokok adalah peredaban yang sedang dipertaruhkan.

            Para selebritas menawarkan diri meng-endors pesan moralnya. Musisi Nat King Cole pernah beruap,”Dapatkan saya di televisi, saya akan menghimbau penggemar untuk berhenti menghisap rokok.” Bahasa normatif di tengah geliat industri yang sedang rakus mengumpulkan laba, masih saktikah?

            Di abad 19, produksi rokok mengalami apa yang disebut hypergrowth era. Tahun 1990-2000-an, perusahaan rokok banyak yang mampu bertahan 50 tahun dari tahun ia berdiri, dan melipatgandakan produksi hingga 40 kali dari omset sebelumnya.

            Mampukah iklan-ikan terbatas dan aturan-aturan ketat membendung produksi mereka? Produk lintingan tembakau ini akan mencari jalan nasibnya sendiri dengan cara melawan mitos kebudayaan yang terus mengitari.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

 

Quotes

Indonesia memilik keuntungan besar ketika 51,1 persen warganya adalah perokok aktif, terbesar Asia Tenggara. Hampir 140 triliun rupiah negara diuntungkan dari cukai rokok di tahun 2015.

 

 

 

Dilihat 118