Raja yang Menenteramkan Hati

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Maret 2017
Raja yang Menenteramkan Hati

 Oleh: Handry TM

 

TENTANG siapa Pangeran Alwaleed bin Talal, ada cerita panjang di balik nama tersebut. Ia adalah cucu Almarhum Raja Abdulaziz bin Saud, Ayahanda Raja Salman  bin Abdulaziz, pendiri Kerajaan Arab Saudi. Pangeran Alwaleed dikenal sebagai pewaris kerajaan yang brilian. Selain cerdas ia memiliki visi bisnis yang mendunia. Ia suka membeli saham perusahaan ternama seperti Apple, Twitter, e-Bay dan lain-lainnya.

            Anak Pangeran Talal bin Saud ini merintis berdirinya Kingdom Holding Company yang memiliki anak perusahaan bernama Kingdom Hotel Investments, penguasa saham terpenting di Raffles Hotel And Premium Residence Jakarta. Pengelolaan atas hotel tersebut dipercayakan kepada International Raffles Hotels & Resort – Singapura.

            Mengapa keluarga kerajaan memilih hunian di Raffles Hotel? Mungkin mereka merasa at home dibanding yang lain. Karena ada keluarga kerajaan di dalamnya, pasti segalanya lebih bisa dikomunikasikan. Meski secara profesional, operator hotel manapun selalu siap melayani setiap tamunya.

            Dari sisi pandang berbeda, Raja Salman pasti menentukan pilihan di mana ia akan menginap, sambil mengapresiasi sukses bisnis sang keponakan. Karena di kalangan istana, sepak-terjang Pangeran Alwaleed ini luar biasa. Lulusan Menlo College, California, Amerika Serikat (AS) tersebut  merintis bisnis sejak tahun 1979. Pilihan yang ditekuninya bukan bisnis minyak yang pada era 1970-1980 mengalami booming tinggi, melainkan jenis lain seperti keuangan dan properti.

            Sejurus tatapan matanya yang tajam, pangeran yang dijuluki Warren Buffett dari Timur Tengah ini merambah berbagai investasi dunia. Di sektor perbankan, reputasinya sangat teruji ketika memergerkan Saudi Commercial Bank dengan Saudi Cairo Bank dan SAMBA, sehingga menjadi bank terdepan di Timur Tengah. Di sektor properti ia memiliki Kingdom Riyadh Land, Jeddah Economic Company Ltd dan Canary Wharf (Songbird Estates PLC). Sedangkan National Private Air Transport Services Company LLC (NAS Saudi Arabia) adalah perusahaan maskapai yang ia miliki.

            Banyak sektor yang dirambah selain perminyakan. Mulai dari pendidikan (Kingdom Schools Company), media (News Corporation dan Time Warner), Media Sosial dan IT (Twitter, Aol, Apple, Motorolla) hingga hiburan (Euro Disney S.C.A). Hanya satu perusahaan yang tercatat di sektor Petrokimia, yakni National Industrialization Company (TASNEE). Ini artinya, kekuatan bisnis kerajaan sudah bergeser ke sektor lain, karena ladang minyak semakin lama kian menipis.;

 

Multi Dimensional

            Kedatangan rombongan besar Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia dan sejumlah negara Asia lain, memiliki tafsir muti dimensional . Bisa ditafsirkan sebagai kunjungan diplomatik dan memperluas tali persaudaraan. Tafsir lain bisa pula dikonotasikan, Baginda Raja Salman bin Abdulaziz sebagai simbol negara mendorong percepatan visi investasi dan divestasi imbal-balik dengan negara-negara Asia.

            Arab Saudi sebagai sebuah negara memiliki ikatan kekariban dengan negara-negara Islam yang lain. Secara politis, Arab Saudi punya kepentingan menjaga stabilitas geopolitik yang kini berkembang dinamis di kawasan Timur Tengah dan Asia.

            Kedatangan 1.500 rombongan Kerajaan Arab Saudi di Indonesia, adalah peristiwa kebudayaan. Kita dihibur oleh mentum kemewahan yang singgah selama tiga hari di Jakarta, selebihnya di Pulau Dewata. Secara psikologis, masyarakat Indonesia diperlihatkan ekspresi humanitas Sang Baginda Raja Salman yang murah senyum, ikhlas dan membuka diri terhadap negara yang dikunjunginya.

            Dengan menyebut “Indonesia adalah negara kedua saya,” pada balasan suratnya ketika hendak berkunjung ke Indonesia, hal itu  menunjukkan betapa seorang raja terkaya dunia, masih memiliki rasa rendah hati terhadap negara yang kini sedang dirundung banyak masalah.

            Pelajaran lain yang bisa dipetik, kekayaan dan kemasyuran ternyata dihentikan oleh batas. Yakni batas kemuliaan orang lain dan kehormatan di luar dirinya. Menginap di hotel bertarif kamar Rp. 133 juta per malam, bukan semata-mata  menjadi ukuran kemewahan ketika yang menghendaki adalah seorang raja dengan kekayaan tiada tara.

            Keluarga kerajaan sedang mengapresiasi para anak warisnya yang kini sedang merintis bisnis di berbagai kawasan. Ini pelajaran mahal yang belum tentu kita dapatkan dalam sepuluh tahun ke depan. Sebagaimana ukuran normatif, raja juga manusia. Ia mengalami keuzuran, ditunjukkan dengan mulai sulitnya melakukan perjalanan tanpa alat bantu, melakukan salat hanya dengan berdiri dan duduk, terbatas ketika mengonsumsi makanan, sehingga harus membawa koki kerajaan di setiap perjalanannya.

            Bahasa tubuh Raja Salman sungguh menenteramkan hati. Ia selalu mendengar ucapan lawan bicaranya, menjawab sekadarnya dan tersenyum. Ia memberikan tangan kanannya untuk digandeng oleh  Sang Tuan Rumah, kemudian tangannya melambai ke khalayak sambil tersenyum sebelum pergi.

            Benarkah Raja Salman representasi diri seorang pemimpin kaya-raya di dunia yang diberkahi Tuhan dalam segala hal? Sementara yang kita lihat di sini, orang kaya selalu menyebalkan, menjaga jarak, mendiskriminasikan sikapnya tajam sekali? Jangan-jangan, Raja Salman hanyalah simbolisasi dari kebesaran keillahian, yang tidak mungkin kita temukan di keseharian kita, Indonesia? Kita sedang dipertontonkan sebuah Daulat Raja yang cukup sempurna.

Selamat menikmati Indonesia, Raja yang kami muliakan.

 

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

  • view 161