Garis Pantai Gold Coast

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 3 bulan lalu
Garis Pantai Gold Coast

Oleh: Handry TM

SAYA  pernah berdiri sepanjang siang di pantai itu, menikmati geliat gelombangnya yang biru.  Lantas sebait puisi saya tulis sepulang dari tempat tersebut:

//sepasang es krim new Zealand/ mencair bagai salju, di tepi pantai gold coast/ bersama kenangan yang lantas menetes/ dan air mata berlinangan//.

Pantainya terhampar biru, di tepiannya adalah gedung pencakar langit yang elok dan tak terhitung jumlahnya. Di malam hari, ibarat kota induknya, Brisbane (Ibukota Negara Bagian Queensland, Australia), pasti bertabur lampu seperti kunang-kunang. Kota ini menjadi kota terbesar ke enam di Australia (non Ibukota). Dihuni hanya oleh 5.000 penduduk yang sadar akan industri pariwisata dan abai terhadap keindahan . Tidak mengherankan jika Gold Coast juga menjadi kota terbesar kedua setelah Brisbane di Negara Bagian Queensland.

Tempat-tempat yang  indah di pantai ini, sebagian besar dihuni oleh orang-orang Eropa hingga tahun 1823. Adalah John Oxley yang pertama kali mendarat di Mermaid Beach dan menarik orang-orang ke kawasan tersebut pada pertengahan abad ke-19. Perkembangan kota pantai ini terus bersambung hingga tahun 1875, ketika Southport diriset dan dikembangkan menjadi kota pariwisata terpencil bagi orang-orang kaya di Brisbane.

Lebih menggila lagi ketika Surfers Paradise Hotel berdiri megah di ujung tahun 1920. Kawasan itu tidak hanya terpencil, namun  juga menawarkan atmosfer. Megah, alami, dan eksotis luar biasa. Bergegaslah ke Gold Coast, karena ia menawarkan iklim subtropis, kanal, selancar pantai, taman hiburan, kehidupan malam dan hutan pedalaman. Pada tahun 2018 kelak, kota pantai ini akan menjadi tuan rumah Comminwealth Games yang mendunia.

            Tak terlukiskan bagaimana indahnya kanal-kanal yang menjulur ke Sungai Nerang. Ke selatan dari itu, akan kita dapati kanal sepanjang Tallebudgera Creek dan Currimbin Creek. Ke utara, kanal mengarus sepanjang Gold Coast Broadwater, Stradbroke Islamd, Coomera hingga ke Moreton Bay.

            Kota ini perpaduan antara Bali dengan pantainya yang panjang dan Singapura dengan industri pariwisatanya yang lengkap. Kita seperti berada negeri puisi, para penyair dimanjakan untuk memilih tema keindahan yang ditawarkan. Pusat-pusat nongkrong mengingatkan kita pada Legian di malam hari. Di terik panas, tubuh akan berketingatbasah  kerena sengatan matahari, menghangatkan seluruh pori-pori. Inilah karunia warga penghuni, karena di masa lalu kota tersebut tidak saja sepi, namun tidak dilirik oleh mereka yang tidak berhasrat membangun  dunia mulai dari nol sama sekali.

 

James Cook

            James Cook sebenarnya merupakan orang Eropa pertama yang berlayar melintasi pantai itu pada 16 Mei 1770. Ia pula yang mencatatkan kawasan tersebut sebagai pantai yang mempesona, di kemudian hari menjadi daerah ramai yang mendunia. Pada saat yang bergantian, pada tahun 1802, Kapten Matthew Flinders dari New South Wales melewati kawasan itu pula.

            Ini sejarah yang tak terbantahkan, bahwa selalu ada segelirit manusia yang berjasa besar menjadikan yang semula bukan apa-apa menjadi “sesuatu” yang luar biasa. Kesunyian di daerah tak bertuan, menjadi daerah tujuan yang kini bertumbuh sejak tahun 1950 secara industri. Padahal nama Gold Coast semula dianggap sebagai “penghinaan,” namun kini telah berbalik. Sebelum tanggal 23 Oktober 1958, kawasan itu lebih dikenal dengan nama Kota Pantai Selatan. Sebelum akhirnya berganti nama menjadi Gold Coast yang penuh pesona.

            Kata filsuf, di garis pantai yang tenang akan terbaca sebuah kebijaksanaan. Garis yang mempertemukan antara ujung laut dengan ujung langit secara merapat. Akan kita temukan imajinasi tentang batas pandang, bahwa dunia sungguh berujung, bukan tanpa batas. Maka ingatlah novel The Old Man and the Sea (Laki-laki dan Laut)  karya Ernest Hemingway yang terkesan ngungun dan sepi di pantai. Teringat pula akan keterbatasan akal sehat dalam menerjemahkan kehidupan. Kemudian orang mencari kebenarannya dengan mempercayai Tuhan.

            Melihat Gold Coast sebagai sebuah pantai, seperti memaknai betapa kita hanya sendiri ketika berpikir tentang kebijaksanaan alam. Membayangkan surfing meniti ombak dan terjatuh. Jika itu sebuah keindahan, kita akan tertawa digulung ombak, dan berenang kembali ke tepi pantai sembari meraih alat selancar yang semula lepas dari tangan. Jika itu tragedi, kita akan tergulung ombak, terbawa entah kemana, mungkin kita mati karenanya.

            Di malam hari, hanya suara gedebur ombak yang terdengar. Sesekali mata menangkap kilatan air, sesekali air itu menghantam pantai dengan ujung buihnya yang berbusa. Pantai menyimpan misteri di kedalamannya, dan kita hanya bisa meraba-raba. Maka nikmatilah Gold Coast Waterway dan Chevron Pulau di Surfers Paradise. Dalam hati kita akan sangsi, apakah kelak bisa berkunjung lagi di tempat ini.

            Pantai sepanjang 530 mil, selain Southport ada pula Budds Beach, Currumbin Allet, Jacobs Well, Paradise Point hingga Evandale Lake. Jangan lewatkan Jabiru Island, Harlet Labrador dan Boykambil Lake. Semua itu adalah huruf-huruf pantai yang perlu dibaca. Dan Gold Coast adalah karunia di sepanjang ujung selatan – timur Benua Australia.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes  

Pada tahun 2018 kelak, kota pantai ini akan menjadi tuan rumah Comminwealth Games yang mendunia.

 * Dimuat di Harian Wawasan 4 Februari 2017

 

Dilihat 48