Ketika ‘Rolls - Royce’ Mengaku Dosa

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Februari 2017
Ketika ‘Rolls - Royce’ Mengaku Dosa

Oleh: Handry TM

PERUSAHAAN  produsen mesin jet terbesar di Inggris dan peringkat kedua dunia itu kini sedang menghadapi sisi gelap. Praktik penjualannya dengan sejumlah otorita negara Amerika, Eropa dan Asia mulai terkuak. Terakhir, Indonesia ditengarai menjadi salah satu target  penyuapan yang melibatkan mantan petinggu PT Garuda Indonesia.

            Nama besar, reputasi besar dengan kekuatan besar, ternyata selalu punya sisi gelap yang tersimpan. Inilah yang terjadi pada perusahaan mesin motor dan mesin pesawat besar tersebut dalam empat tahun terakhir. “Sisi gelap itu baik, karena akan mengingatkan kita untuk mundur sejenak demi kemajuan yang lebih sempurna,” kata Colin Powell, penulis buku  Statesman yang cukup ternama tersebut. Ia bilang, “Sukses adalah hasil dari kesempurnaan, kerja keras, belajar dari kegagalan, loyalitas, dan ketekunan.”  Penekanan pada kata-kata itu adalah, pada kalimat learning from failure, yang ternyata mengandung heroisme tinggi.

            Untuk segala hasil temuan tersebut, Rolls-Royce bersedia menyediakan dana untuk segala urusan tersebut sebesar  £671 juta (atau sekitar Rp11 triliun). Apakah bisnis itu muaranya selalu pada keuntungan ? Perusahaan yang didirikan oleh Charles Stewart Rolls dan Sir Frederick Henry Royce pada 15 Maret 1906 di Inggris itu tidak ingin kehilangan muka. Dalam kurun waktu beratus tahun, Rools – Royce menjadi merek yang tidak saja menjadi jaminan, namun juga menampilkan sebuah pandangan.

            Bentuk dari kesanggupan perusahaan tersebut dalam menuntaskan semua urusan “penyuapan,” lebih pada pengakuan dosa yang memalukan. Yang menjadi pertanyaan, apakah hanya perusahaan langganan PT Garuda itu yang beroperasional secara tidak bersih? Tidak ada yang berani memastikan. Kata sebuah tokoh novel tulisan Putu Wijaya ada benarnya. Kata tokoh di novel itu, “Pada dasarnya semua orang itu jahat. Namun ada yang bisa menutupi kejahatannya, ada yang tidak.”

            Sisi gelap biasanya menjadi celah terbelah dari kehidupan yang nyata. Sisi gelap menjadi bagian yang biasanya dihindari, namun akan tetap selalu tercuri dan terbaca dari luar. Pada saatnya, segala bercak kelengahan dalam bisnis, akan menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri. Lembaga bisnis yang mengingkari sisi gelap tersebut, biasanya justru kehilangan arah terhadap kelemahan apa yang sekarang sedang dihadapi.  Di sebuah pesawat, passenger mungkin dengan nyamannya sedang menikmati soft drink dan makanan ringan. Tidak ada perhitungan kalkulasi di belakang itu.

 

Dalam Bayangan Tuhan

            Tidak ada kesalahan yang sempurna, demikian pula tidak ada kebenaran yang sempurna. Seorang pedagang menjajakan makanannya ada yang berpromosi dengan cara menipu diri. Tipuan itu bisa sementara, untuk kemudian kembali pada garis yang jujur.

            Sebuah perusahaan minuman ringan tidak mungkin hanya menjual rasa dan kesegaran, tapi juga brand dan nama besar. Bisnis pesawat tidak hanya bisnis jasa penerbangan, namun juga bisnis reputasi. Pesawat yang mennggunakan mesin buatan Rolls Royce tentu tidak memiliki banyak alasan untuk dilemahkan, karena reputasinya yang sudah mendunia.

            Memulai gagasannya pada tahun 1907, ketika Charles Rolls tertarik ke dunia penerbangan. Namun ia tidak cukup meyakinkan ketika memengaruhi direktur lain terhadap gagasan itu. Dan Perang Dunia I mengubah segalanya, akhirnya Rolls – Royce berhasil membuat mesin pesawat untuk pemerintah Inggris di bawah lisensi Renault. Pesawat pertama yang digarap adalah Eagle, disusul kemudian Hawk, Falcon dan Condor.

            Reputasi itu tidak terelakkan, kini mesin pesawat yang paling hebat di dunia adalah produksi pabrik Rolls - Royce. Kehebatan sebuah produksi rupanya harus dibarengi dengan konsesi pengembalian uang cukup besar. Dan ini melenceng dari akal sehat. Harus diingat, akal sehat pun kadang mengikuti arah angin pemikiran yang sekarang sedang berkembang.

            Dunia usaha sedang merenungkan bagaimana melakukan tugas kehidupan secara lebih indah. Tanpa kecurangan, tanpa keadilan, bisakah bisnis ditempuh dengan jalan yang tidak membutuhkan uang? Menjadi pelajaran, kadang kita tidak bisa membaca peta sampai di mana kebenaran dan kejujuran beriringan? Karena kebenaran itu berada dalam bayangan Tuhan.

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

Quotes 

Ia memulai gagasannya pada tahun 1907, ketika Charles Rolls tertarik ke dunia penerbangan. Namun ia tidak cukup meyakinkan ketika memengaruhi direktur lain terhadap gagasan itu.  

 

 

 

 

 

 

  • view 213