Romantisme Kolektif

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Januari 2017
Romantisme Kolektif

Oleh: Handry TM

 

SIAPAKAH sesungguhnya Ia yang Agung, yang dalam teori keimanan disebut sebagai Tuhan? Teori-teori ilmiah yang meng-explore Tuhan, juga pernah dilakukan para tokoh Psikoanalisa seperti Sigmund Freud (1856-1939) dan Carl Gustaf Jung (1875 – 1961). Manusia akan mencari keyakinan terpuncak, karena ia merasa tidak yakin merasa hidup mandiri dengan serba keterbatasannya.

            Penyempurna teori absolut Freud tak lain adalah Carl Gustaf Jung. Dalam proses dimana  manusia memiliki id, ego dan superego sebagaimana yang diyakini Freud, puncak pencapaian manusia adalah menemukan the self (jati diri yang sesungguhnya) sebagaimana ucap Jung. Untuk mencapai true self, manusia akan mengalami individuation, hingga kelak mencapai apa yang disebut Devina (Tuhan).

            Berbahagialah manusia, karena agama memudahkan para penganut untuk menemukan Tuhan. Orang beragama telah diperkenalkan Tuhan sejak lahir, justru ketika ia belum mampu memahami bahasa kata-kata. Orangtua memberi bimbingan, bahkan mengarahkan langsung bagaimana kita beriman.  Tanpa harus ada pertentangan, seorang anak langsung mengikuti agama orangtuanya dengan gembira.

            Persoalan muncul pada proses pendewasaan yang berbeda-beda. Ada yang mempertebal langsung keyakinan Tuhan versi agama ibu dan nenek moyangnya, ada yang mengalami pergulatan batin luar biasa. Konflik batin muncul tidak saja ketika seorang yang telah memeluk agama tertentu tiba-tiba memutuskan tidak meyakininya, atau sebaliknya. Berpindah agama pun hukumnya menjadi sama persis dengan tidak beragama.

            Harus diingat, bahkan teori-teori eksistensialisme berupaya tetap menemukan Tuhan, meski dengan cara berperang dengan diri sendiri di dalam jiwa dan hati nurani. Rasanya, Tuhan selalu dikejar dan dicari, meski caranya berbeda-beda.

            Seorang komunis tulen pernah mengkawatirkan bagaimana caranya mengeluh jika kelak ia sakit gigi. “Tuhan akan disebut bersamaan dengan aduhan, karena kau beragama. Sedangkan aku, bagaimana akan kuucap ‘Ya Tuhan, sembuhkanlah rasa sakit ini’ padahal saya tidak beragama…”

            Sedang di manakah Tuhan ketika sebagian manusia mempergunjingkan Dirinya? Berlari, atau bersembunyikah di tempat yang tidak semua orang diperkenankan mengetahui?  Manusia berusaha mendekatkan imajinasi tentang Tuhan seperti dirinya. Bahkan mencoba mempersonifikasi bahwa Tuhan sedang berlari, Tuhan tidak tidur dan sejenisnya. Rasa hormat manusia tentang Dia, selalu datang pada akhirnya. God never ends anything on a negative; God always ends on a positive.

 

Romantisme Kolektif

            Kehidupan di alam semesta sebenarnya pendek sekali. Sebatas usia manusia uzur yang rata-rata kurang dari 70 tahun. Di atas itu, orang menyebutnya sebagai “kelebihan yang harus disyukuri. “Sepanjang proses lahir hingga meninggal, seseorang mengalami berbagai pengalaman romantik. Menjadi kanak-kanak, masa remaja yang indah dan masa dewasa yang penuh pencapaian.

            Sisa usia yang ia lakoni, sesekali mendapatkan anugerah keindahannya ketika ia bisa melihat anak-cucu yang sempurna. Tidak sedikit di masa tua manusia menjalani pengalaman traumatik yang mencekam. Terlantar, sakit menahun, menunggu ajal yang tidak kunjung tiba.

            Itu semua disebut sebagai Rimantisme Kolektif. Hal yang ditakuti atau dirindukan setiap manusia. Di masa tua ada yang merasa bahwa Malaikat atas seizing Tuhan menjaganya. Tidak sedikit yang merasa, sepanjang hidup adalah sia-sia. Bisakah seseorang memilih lakon akhir masa tuanya sebagaimana dongeng-dongeng yang pernah ia dengar? Bisakah menghindar dari plot hidup yang tidak ia inginkan?

            Tuhan tidak pernah berlari, sekalipun engkau hanya berdiam di bawah pohon rindang dan tidak merindukan. Tuhan tidak sembunyi, meski manusia merasa berjuang sendiri dan tidak ditemani. Pada sebuah lagu, ternyata Tuhan mengikuti hatimu sendiri. “Aku jauh engkau jauh, aku dekat engkau dekat.”

            Penyair Inggris William Cowper (1731 – 1800) dalam puisinya, God Moves In A Mysterious Way, menuliskan seperti ini: “Tuhan bekerja dengan cara yang misterius/ Dalam  melakukan keajaiban-Nya/ Ia menanam jejak di laut/ Kemudian naik di badai…

            Pencarian akan Tuhan banyak ahli meyakini, dilakukan oleh semua individu yang merasa dihidupkan di bumi. Sebab di dalam akal sehat manusia tidak cukup bukti bahwa ia mampu sendiri. Ada yang menempuh cara mudah bersama dogma, ada yang menempuh jalan panjang dengan mencari pembuktian.

            Jikapun manusia tidak menemukan-Nya, sebenarnya Tuhan sedang tidak di mana-mana.  Hanya manusia saja yang tersesat jalan dan belum menemukan. Tuhan selalu menunggu, karena semua yang hidup adalah ciptaan-Nya. Dalam menunggu kita selalu memohon, mudah-mudahan mendapatkan-Nya sesuai yang kita rindu. Dan doa, menjadi katalisator yang memudahkan kita mendekati-Nya.

 

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.
  • Dimuat di Koran Wawasan, 14 Januari 2017

 

Quotes

 

 

Sedang di manakah Tuhan ketika sebagian manusia mempergunjingkan Dirinya? Berlari, atau bersembunyikah di tempat yang tidak semua orang diperkenankan mengetahui? 

 

 

 

 

 

 

  • view 126