Perayaan Penuh Kepiluan

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Januari 2017
Perayaan Penuh Kepiluan

Oleh:  Handry TM

 

ADA pula yang alay terjebak romantisme pendek dengan berurai airmata. Tulis TS Eliot (dramawan dan kritikus sastra Amerika), “Kata-kata tahun lalu adalah milik tahun lalu dan next year’s words await another voice.” Waktu memiliki kedaulatannya sendiri. Ia tidak  bisa disetir apalagi diarahkan. Detak jam terus berputar, andai pun engkau ingin berhenti bernafas.

            Demikianlah cara manusia menandai pergerakan zamannya. Ia membuat terminologi dengan jeda. Menandai saat-saat tertentu dengan menciptakan perpisahan yang mengharu-biru. Seolah hari telah berakhir, hari baru telah berganti. Di sana muncul harapan, atau setidaknya masa depan, padahal “masa depan” telah tertinggal jauh di peralihan zaman yang ia cipta sendiri.

            Di Times Square, New York City, ribuan orang berkumpul, menunggu detik-detik berakhirnya sebuah masa. Sorak-sorai bertumpukan dengan pijar nyala kembang api dan dentuman musik keras. Ribuan terompet kertas diteriakkan penuh serak. Ada yang menangis, ada yang tertawa. Ada yang terharu, ada yang datar - datar saja. Times Square menjadi lalu-lalang pergantian masa bagi dunia. Tidak heran, tempat itu dijuluki The Crossroad of the World.

            Masyarakat Australia mengundang para pelancong dengan pesta kembang api. Ribuan kembang api dinyalakan di atas empat kapal tongkang yang diarahkan ke Sydney Harbour Bridge. Siapapun dapat melihat peristiwa itu dari dekat dengan perahu.

            Di Jepang, malam pergantian tahun pun pesta cahaya. Mereka menamai label acaranya dengan Canyon d’Azur’ Illumination, bertempat di Shiodome, Tokyo. Bukan pesta kembang api, melainkan unjuk nyala hampir 3.000 lampu LED  berbagai warna. Orang-orang Jepang tidak ingin melewatkan transisi masa dengan tidur biasa.

            Penyelenggaraan pesta pergantian tahun di Inggris dilakukan cukup ikonik. Pesta kembang api diletupkan berkali-kali di atas Sungai Thames yang lebar dan jernih. Dimana kapal-kapal kecil hilir-mudik di tepiannya, membawa orang-orang yang berbahagia. Di Kota Manchester, pesta semacam biasanya ditandai dengan penyelenggaraan mannequin challenge di Albert Square.

 

Pribadi yang Kesepian

            Ricchard Wilbur, penyair Amerika penerima Hadiah Pulitzer dua kali (1957 dan 1989), mengekspresikan detik-detik penting ini dengan puisinya,Year’s End. Penyair yang kini berusia 95 tahun itu menulis puisi dengan perasaan syahdu.  Ia menangkap musim yang dingin, salju yang tipis, danau membeku. Seekor anjing nampak berbaring, ia temukan orang-orang yang diyakininya tidak sempurna.  Pada bait terakhir dari lima bait yang ia tulis, miris sekali ia tuliskan ini:

These sudden ends of time must give us pause./ We fray into the future, rarely wrought/ Save in the tapestries of afterthought./ More time, more time. Barrages of applause ….”

Sungguh manusia sebenarnya sedang tersandera. Hal itu sudah ditengarai ketika filsafat di abad pertengahan Eropa mampu menjelaskan seperti apa penyanderaan waktu atas manusia. Manusia adalah pribadi yang kesepian, maka ia selalu didera imajinasi mengenai waktu yang terekam.   

Imajinasi yang muncul di dalam pemikirannya (feel imagination) adalah, Imajinasi Waktu Subjektif dan Imajinasi Waktu Objektif.  Waktu Subjektif dirasakan bersamaan dengan rujukan batin kita sendiri. Contohnya adalah, setahun hidup menderita kualitasnya akan berbeda dengan setahun hidup sejahtera, meski volume waktunya sama. Sedangkan Waktu Objektif  harus mengikuti rujukan orang banyak. Misalnya kejadian kalender, jam dan kejadian nyata yang tidak terpungkiri.

Pada perkembangan filsafat modern, muncullah kritik keras Immanuel Kant, filsuf Jerman. Ia menentang keras pemaksaan mengenai Waktu Objektif sebagai anutan. Menurut Kant, Imajinasi Waktu Subjektif-lah yang layak dikedepankan. Dengan demikian, pemahaman tentang waktu tidak terpisahkan dengan ruang, dan itu bisa tercipta jika menggunakan ukuran Waktu Subjektif.

Dalam keterbatasan manusia, biasanya waktu hanya ditandai dengan kejadian-kejadian fenomenal. Seperti tentang kelahiran dan kematian, juga mengenai pertemuan dan perpisahan. Penandaan waktu dibarengi upacara-upacara, sekadar menengarai bahwa kita telah sampai pada masanya.

Peristiwa tutup tahun, yang kita tangkap hanyalah sebuah pesta. Pesta menandai telah kita lalui segala tugas setahun penuh, dan akan menyongsong harapan yang lebih baik. Jargon itu bersifat sangat normatif. Ketika di termin waktu ke depan manusia tidak seberhasil meraih harapan, ia tidak berani menyatakan sebagai sebuah kegagalan.

Pesta kembang api, makan-makan dan dansa-dansi, sekadar pengalihan derita. Manusia menyimpan rapat-rapat derita masa lalu dan membalut dengan harapan  baru yang belum pasti. Perayaan yang sedang kita persiapkan ini sebenarnya sintetis. Ia memadukan pemikiran transaksional dengan kemuliaan. Harapan di tahun depan, sebenarnya kita sendiri tidak berani memastikan.

Berilah kemafhuman terhadap seseorang menangis terguguk di tepi jalan. Mungkin ia sedang tidak berbahagia. Siapa tahu ia tidak tahu seperti apa nasib berikutnya. Pesta pergantian tahun sebenarnya bukan merayakan kegembiraan, melainkan sedang meratapi kepiluan. Anda boleh berdoa di dalam kamar, meski yang lain berosrak-sorai di jalanan. Bukankah kepiluan itu self control yang tak dimiliki semua orang.

Selamat Tahun baru 2017.

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

(Dimuat di Koran Wawasanm 31 Desember 2016)

 

 Quotes

These sudden ends of time must give us pause./ We fray into the future, rarely wrought/ Save in the tapestries of afterthought./ More time, more time. Barrages of applause ….”

 

 

 

 

 

 

Dilihat 93