“Melenyapkan” Nomor Punggung Bintang

handry tm
Karya handry tm Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 25 Desember 2016
“Melenyapkan” Nomor Punggung Bintang

Oleh: Handry TM

 

FILOSOFI apa yang dibawa serta manajer baru asal Italia itu terhadap Chelsea, sehingga klub yang semula terseok di musim lalu, kini bangkit seperti “mayat hidup”? Antonio Conte seperti tampil membangun kultur. Saat menangani Timnas Italia, bahkan saat memanajeri Juventus, ia mengambil pilihan yang manajer lain tidak memikirkan. Yakni,  berani menghilangkan “idolatry” nomor punggung 10, kemudian memperkuat tiga gelandang dan dua wing back di lini tengah. Pemain dengan nomor punggung 10 yang diincar lawan, kekuatannya digantikan oleh pemain tengah yang pintar membuang bola ke wilayah lawan.

            Di luar racikan itu, sang arsitek membangun kultur bertarung dengan cara yang rendah hati, militan, pernuh percaya diri, penuh kebanggaan, serta pantang menyerah. Sebenarnya ini strategi “perang” tidak lumrah. Di hadapan lebih dari 40.000 penonton yang memadati Stamford Bridge Stadium,  Conte ingin menunjukkan, memainkan pertarungan tidak harus ditumpukan hanya pada beberapa pemain bernomor punggung bintang. Eden Hazard yang kini berkostum nomor punggung 10, tidak diumpankan menjadi “tumbal” untuk dihabisi lawan. Pertaruhan lini tengah sangat diberdayakan, kini banyak klub Inggris ikut menirunya.

            Di bawah Chelsea ada Liverpool di peringkat kedua. Klub asuhan Jurgen Klopp (Jerman) ini akan memetik angka 40 jika berhasil memenangi pertarungan melawan Stoke City pada Selasa dini hari. Namun jika Liverpool kalah atau seri, posisi kedua akan diraih Manchester City jika ia menang melawan Hull City.

            Chelsea memang klub yang selalu menarik hati. Selain nama-nama seperti Manchester United, Arsenal, Manchester City dan Liverpool, klub sepakbola yang didirikan pada tahun 1905 dengan nama Chelsea Football Club itu, sejak tahun 2003 bermarkas di bekas stadion atletik yang kemudian direnovasi menjadi Stamford Bridge Stadium di bawah kepemilikan Triliuner Rusia, Roman Abramovich.

Klub ini tampil tidak hanya dengan reputasi gila, juga menawarkan sensasi penuh warna. Chelsea melibatkan para pelatih/ manajer kelas dunia seperti Ted Drake Inggris/ 1952–1961), Tommy Docherty (Skotlandia/ 1962–1967), Dave Sexton (Inggris/ 1967–1974), John Neal (Inggris / 1981–1985),  John Hollins  (Inggris/ 1985–1988), Bobby Campbell (Inggris/ 1988–1991), Ruud Gullit (Belanda/ 1996–1998), Gianluca Vialli (Italia/ 1998–2000), José Mourinho (Portugal/ 2004–2007/ 2013–2015), Guus Hiddink (Belanda/ 2009),  Carlo Ancelotti (Italia/ 2009–2011), Roberto Di Matteo (Italia/ 2012),  Rafael Benítez (Spanyol/ 2012) dan Antonio Conte (Italia/ 2016-sekarang)

 

Dramatik

            Kerlap kebintangan klub yang bermarkas di sebuah kota kecil yang letaknya berdekatan dengan Stamford Bridge ini diraih tidak serta-merta. Mulai memoles kebintangannya dengan meraih gelar juara Divisi Satu Liga Inggris pada musim 1954–1955. Tentu setelah mengalami jatuh bangun terdegradasi ke divisi bawah.

            Kegemilangan para arsitek Chelsea ditandai dengan banyaknya deret kejuaraan yang diraihnya. Paling menarik resputasi Jose Mourinho yang berhasil mengoleksi kejuaraan meliputi tiga kali juara Liga Utama Inggris, tiga Piala Liga Inggris, Piala FA, Community Shield. Pelatih lain yang tidak kalah moncer adalah Gianluca Vialli dengan perolehan prestasi seperti Piala FA, Piala Liga Inggris, Charity Shield, Piala Winners UEFA, Piala Super UEFA dan Carlo Ancelotti dengan torehan reputasinya, juara Liga Utama Inggris, Piala FA, Community Shield.

            Keberhasilan Mourinho mengantar Chelsea sebagai juara Liga Primer sebanyak tiga kali, tidak meruntuhkan niat Roman Abramovich melengserkan tahtanya sebagai manajer pada musim kompetisi 2015/2016. Rupanya target prestasi tidak ada hubungannya dengan romantisme masa lalu. Kemenangan senantiasa diukur dengan capaian di masa depan. Mourinho harus meninggalkan klub yang menyayanginya, ia kini bertaruh dengan mantan klub bebuyutannya, Manchester United.

            Pengamat sepakbola dunia sedang menyoroti perjuangan Conte dalam mengantar Chelsea. Harapan besar, penghormatan besar, berujung pada kemuliaan. Namun hal itu tidak dengan mudah diterima Conte saat meninggalkan Italia. Tidak seorangpun memberi jaminan, bahwa manajer baru dengan nama besar, sanggup mengantarkan puncak kemenangan. Demikian pula dengan nama yang satu ini. Ketika pertandingan baru berjalan di bawah deret limabelas, Chelsea terseok-seok. Sang pemilik telah meniupkan warning mengenai pola permainan yang dianggapnya tidak cocok.

            Kini Chelsea berhasil memainkan angka positif di tiap penampilannya. Kita tidak hanya menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola, namun juga dramatika. Suasana ini dibangun oleh Mourinho di lapangan. Bahkan ketika ia membawa Manchester United ke markas Chelsea dan berujung kekalahan, Mou sempat “menitipkan” pesan dramatik pada Conte. Ketika Chelsea memenangi pertarungan atas  MU, Mou memrotes sikap sang pelatih baru Chelsea yang dianggapnya mempermalukan.

            Ada-ada saja cara seorang peracik tim hebat dalam “melemahkan” lawan. Di peringkat puncak dengan selisih dua kemenangan dari peringkat di bawahnya, Chelsea sudah punya cukup modal. Dan Manchester United yang masih di peringkat ke enam, rasanya sudah waktunya untuk dilupakan. Namun bola itu bulat, segalanya masih mungkin terjadi.

            Jurus-jurus yang dibawa Conte saat menukangi Timnas Italia di Piala Eropa 2016 membuat decak kagum dunia. Jelas Italia tidak mempersiapkan para bintang dengan individu yang luar biasa matang. Bisa mencapai perempat final, Tim Italia memang luar biasa. Masyarakat bola meyakini, Conte sedang membangun pola. Dan itu mengejutkan, karena ia beda dari yang lain.

            Jurus lini tengah kini sedang dianalisa secara serius oleh para lawannya. Cukup halus sang arsitek mentransformasi permainan Chelsea gaya lama. Ujung-ujungnya tak bisa melupakan pola tim Azzurri saat Conte berada di sana. “Melenyapkan” nomor punggung bintang untuk mengelabui target penghancuran lawan !

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Medi

Quotes :

Harapan besar, penghormatan besar, berujung pada kemuliaan. Namun hal itu tidak dengan mudah diterima Conte saat meninggalkan Italia.
 (Dimuat di Harian Wawasan, 24 Dsember 2016)

  • view 258