Roti yang “Kehilangan Surga”

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 Desember 2016
 Roti yang “Kehilangan Surga”

Oleh: Handry TM

Apa dosa sepotong roti yang tidak memiliki moral keberpihakan, kecuali dimainkan oleh orang-orang yang berkepentingan? Andai saja, semua benda itu bisa bicara dan memiliki “cahaya keyakinan …”

TAPI kehadiran sepotong roti ternyata tidak sesederhana yang kita lihat di rak-rak kaca tempatnya berjaja.  Ia bisa menjadi makanan ritual ketika digunakan untuk berdoa, bermuatan politis saat hadir di pesta kampanye kekuasaan, bahkan menjadi musuh di kala tidak tepat keberpihakannya. Kadang kita bertanya-tanya, benarkah sepotong makanan yang mungil, cantik dan menawan itu, memiliki kekuatan dahsyat menggoyang pikiran sehat manusia?

Ia dibentuk, dipotong dan dikemas ke dalam sebuah plastik. Tidak kalah akal, juru masaknya membagi-bagi jenis roti menjadi biskuit, scone, baguette, bagel, tortilla, pita, lavash, pretzel dan donat.

Produk makanan yang berhasil meraih pasar, biasanya membentuk simbol kekuatannya sendiri. Secara tidak langsung dan secara terbuka ia akan menawarkan agar dimanfaatkan. Mc.Donald, Pizza HUT, Coca-Cola, Pepsi atau merk ternama yang lain,  jangan heran jika tidak hadir secara independen. Ia akan mewakili nama besar di balik produk jualannya. Mungkin tidak disengaja, namun nyatanya ketika kita menenggak Pepsi Cola, serasa sedang meniadi manusia sibuk Amerika.

Di saat konsumen telah sangat jatuh cinta pada produk makanan tertentu, tatkala seisi bumi merasa bahwa produk-produk yang dikonsumsinya itu adalah pelengkap keseharian hidupnya, maka perang pasar pun dimulai . Para pesaing tidak saja berperang meningkatkan produk, namun juga mencari celah di balik proses produksi. Dibuatlah isu yang menjatuhkan lawan. Tidak heran ketika beberapa negara Asia Tenggara pernah “mengharamkan” produk-produk Amerika \, karena beredar viral, sekian persen keuntungan produk tertentu diisukan untuk memerangi negara minoritas di Timur Tengah.

Nasib malang pun menimpa produk roti lokal. Ketika secara “salah posisi” ia dijajakan di komunitas tententu, dan kelompok yang berseberangan bersikap berkeberatan. Produsen roti berusaha mengklarifikasi, tapi celaka, justru ia terkena kampanye boikot dari pihak yang semula mengkonsumsinya.

Benarkah sepotong makanan serupa roti tidak bernyawa? Bagaimana caranya agar  ia bisa tampil dengan “ruh” sebagaimana manusia? Fenomena ini bukan yang pertama, namun setidaknya etika sosial sangat bermain di dalamnya.

James Q Wilson, sosiolog Amerika dalam bukunya, The Moral Sense (1993), pernah mengingatkan  tentang etika sosial di atas. Etika sosial global diprediksi akan terus bergerak, bahkan kian bergeser. Kita tidak bisa berharap dari society atau kelompok besar. Iaharus dimulai dari bilik rumah bernama keluarga. Pertahanan sosial akan dijaga dari sana, bukan dari sekumpulan ideologi.

Hal tersebut dipertegas oleh John Nasibitt (penulis New York Times yang terkenal dengan buku Megatrend 2000). Menurutnya, kelak akan muncul tata laku universal di abad 21. Tata laku baru ini demikian kuatnya, sehingga masyarakat terkaget-kaget terhadap ukuran-ukuran yang muncul di kiri kanannya. Demikian pula masyarakat ideologis akan menyikapi keyakinannya (agama, aliran kepercayaan) dengan ekstremnya.

 

Pembodohan dan Pencerdasan

Siapakah seseorang yang paling getol membicarakan objek kecil seukuran roti menjadi masalah yang seolah-olah besar? Mengapa tidak membiarkan saja roti itu tampil sebagaimana tugasnya, mengenyangkan perut, memberi asupan gizi di tubuh pembelinya. Proses berikutnya,  produsen membuat roti sebanyak-banyaknya. Mengapa tidak?

Apa dosa sepotong roti yang tak memiliki moral keberpihakan, kecuali dimainkan oleh orang-orang yang berkepentingan? Andai saja, semua benda bisa bicara dan memiliki “cahaya keyakinan,” akan kemanakah barang-barang itu kelak? Menuju ke surga atau justru di nerakakah?

Pertanyaan semacam tiba-tiba muncul, lantaran kita begitu setia membaca media. Di televisi, media sosial, koran-koran  dan juga majalah, semakin asyik memunculkan berita yang tidak substansial. Viral-viral negatif yang beredar di media sosial, tidak lepas dari rasa “riang gembira” –nya masyarakat yang sedang memainkan mesin online murah ini. Dalam sebuah perbincangan warung kopi, anak muda yang paham dunia virtual bisa menjelaskan sambil terkekeh-kekeh terhadap permasalahan tersebut.  Bahwa isu besar di sebuah kawasan, sungguh sangat bisa dibangun oleh para ahli yang paham teknologi.

Secara iseng, orang berduit pun ikut campur di dalamnya, dengan memesan tema gosip besar yang diingininya. Jika tidak menjaga jarak terhadap persoalan, kita bisa puyeng. Seolah-olah dunia sedang lintang-pukang dan kita berada di dalamnya. Kelak, orang sudah tidak perlu lagi mempertanyakan etika jurnalistik dan kebenaran. Yang dibutuhkan adalah informasi terkini, pembaca akan langsung memfilter sendiri,

Tentang nasib roti yang sedang “menistakan diri” tadi, kita akan kembali ke moral pasar. Ia bisa bertahan, dengan kembali ke baris tengah, tanpa ke kiri ataupun ke kanan. Secara profesional, sepotong roti harus memperbaiki diri sesuai kithah-nya. Yakni menjadi makanan siap saji yang mengenyangkan dan mmenuhi gizi. Ia tidak perlu lagi mempermasalahkan apakah harus menjadi santapan orang mulia atau masyarakat biasa.

Kita sering keliru menafsir camilan yang ditawarkan. rasanya tidak dipentingkan, pesan pembuatnya yang kita beli. Misalnya, makanan produk Yahudi, kebanyakan masyarakat Asia cepat-cepat menghindari.  Demikianlah, kita tidak mungkin memaksakan masyarakat netral sama sekali. Ideologi memberi banyak giringan apakah kita memilih cerdas atau sebaliknya. Maka, marilah berdoa, agar surga di atas sana menjadi harapan kita bersama. Termasuk sepotong roti yang sedang galau dengan situasi yang tidak menguntungkannya.

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media

 

 ~ Dimuat di Koran Pagi Wawasan, 10 Desember 2016

 

 

 

 

  • view 383