Bisnis yang “Ingkar Janji”

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Desember 2016
 Bisnis yang “Ingkar Janji”

Oleh: Handry TM

 

“It’s Now or Never” sebagaimana lagu Elvis Presley, ternyata sangat berlaku bagi janji bisnis. Blackberry, produk telepon seluler Kanada ini terpuruk karena kurang menepati janjinya pada customer.

 

DOSA besar apakah sehingga Blackberry akhirnya terpuruk dan bangkrut mulai tahun 2013? Padahal sejak diluncurkan tahun  1999 ia sudah menawan hati jutaan manusia. Hingga limabelas tahun sesudahnya, lebih dari 8 juta pelanggan mengikat janji setia bersamanya. Setiap seri yang muncul, mulai dari  Strom, Bellagio, Z10, Q10 bahkan Q5, deret panjang pengantre terlihat di kota-kota besar dunia.

Tapi ada beberapa janji yang tidak ditepati. Produk yang mengandalkan push e-mail (surat elektronik cepat) persembahan RIM (Research In Motion) ini tidak segera meluncurkan produk terbarunya, BB10 yang akhirnya juga laris manis. Bersamaan dengan itu, muncul para pesaing seperti  Samsung, Nokia, Apple dan Sony Erricson dengan Xperia Z-nya yang familiar di jalur android. Produk itu terlambat dilaunching, ketika pemakai sudah menunggu lama akan keberadaannya.

 Telepon nirkabel tidak hanya diburu besar fungsinya, namun juga bagaimana ia membawa diri di kancah tren dunia. Telepon genggam selain pintar juga harus fashionable, bergaya dan memiliki “kegenitan” menawar terhadap lebutuhan manusia. Itulah sebabnya mengapa Blackberry di awal peluncurannya sangat mendunia. Karena pada kisaran tahun 1999, secara bersamaan Presiden baru Barrack Obama menggunakannya. Inilah trendsetter yang menyertai kegemilangan produk tersebut. Menjelang masa berakhirnya memimpin Amerika Serikat itu, di acara talkshow Jimmy Falon, Obama menyatakan sudah tidak lagi memakai Blackberry tipe 8830.

Dosa besar yang lain, Blackberry sudah tidak lagi mampu mengejar vitur smartphone yang mulai menggesernya. Selain melengkapi banyak vitur seperti Google Map, Instagram, Path dan lain-lain, gaya tampilan Blackberry dari tipe ke tipe tidak beranjak banyak. Sementara produk lain kecuali mematok harga terjangkau, juga memberi banyak alternatif untuk explore ke banyak fasilitas.

Rasa percaya diri yang besar membawa Blackberry masuk ke pasar tablet dengan bandrol harga mahal. Semula ia yakin, apapun yang ia jual akan diterima pasar, karena membangun loyalitas ditafsir sebagai ikatan permanen tanpa sebab. Sementara produk lain yang lebih murah bahkan menyertakan vitur yang lebih kreatif dan menghibur. Inilah kesalahan lain Blackberry yang oleh pengamat dinilai sebagai sebuah “keteledoran kreatif.”

Di manakah kredibilitas dan ekslusivitas merk yang dulu sangat dipuja-puja kaum eksekutif dunia itu? Seolah-olah, pemakai Blackberry adalah bagian dari gaya hidup Gedung Putih dan pejabat-pejabat pemerintahan Amerika? Para pemakainya membayangkan, ketika ia memencet tuts-tuts, dirinya sedang menentukan keputusan dunia, di manakah kini mererka?

Sungguh kejam cara pasar bisnis global berpihak pada produk yang sedang dicintainya. Perusahaan yang digagas Mike Lazaridis, seorang imigran Yunani kelahiran Turki di Waterloo itu akhirnya “mundur teratur” setelah limabelas tahun menangguk untung besar dengan brand spektakulernya.

 

Platform

Tidak menyadari akan selera platform pasar yang bergeser ternyata sangat berbahaya. Semula produk ini meyakini akan memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Mulai dari kalangan pebisnis, para eksekutif di pemerintahan hingga kepala negara. Nyatanya, iPhone menggeser platform Blackberry sesuai yang mereka butuhkan. Perang kreativitas menjadi kunci utama, bahwa perangkat komunikasi harus menawarkan banyak pernak-pernik di kiri kanannya.

Produk ini sudah menjadi gaya hidup dan simbol masyarakat dinamis. Bahkan para penulis novel meng-endors bahwa Blackbery adalah kawan setia. Sebagaimana galibnya waktu yang terus berputar, jaman yang terus bergerak, masa puncak akan berganti ke titik nadir dan masa kelam akan merangkak ke kejayaan.

Manusia yang menjalankan fungsi hidupnya masih perlu bicara. Kalau perlu sampai menembus jarak yang jauh. Seseorang di benua ramai dapat melakukan tawar-menawar dengan seseorang di benua sepi. Dan itu tidak perlu ditempuh dengan perjalanan berpuluh jam dengan pesawat. Cukup mengayunkan tangan, mengubah letak telepon selulernya dari punggung meja ke dekat telinga.

Tapi itu pun belum cukup. Di sela-sela perbincangan tersdebut, perlu rasanya membuka loudspeaker di telepon agar ia bisa memainkan vitur yang lain. Jika lima tahun yang lalu cara itu hanya ditempuh dengan tablet besar, kali ini cukup dengan  smartphone. Bukankah, “Jarak tidak lagi memisahkan kita” ?

“Andai pada usia empat tahun aku tidak membangun pemutar rekaman dan ketika kuliah di Waterloo tidak memutuskan drop out, mungkin tak akan lahir Blackberry,” kata Mike Lazaridis, sang penggagas luar biasa.

Sedemikian dahsyatnya fungsi telepon, hingga Sholom Aleichem, novelis humor yang hidup pada tahun 1859 – 1916 di New York sinis menyindir, “Gossip is nature's telephone” (Gosip adalah telepon yang alamiah). Artinya, telepon akan memperpendek waktu tempuh pembicaraan, sementara gosip akan menumbangkan kekuatan alat yang berfungsi dengan satelit itu.

Sudah saatnya para penggagas besar membatasi masa keberhasilan bisnisnya dengan filosofi yang ia yakini. Sukses besar yang paling ideal melintasi generasi berikutnya, namun yang paling tidak ideal berkisar antara 10 hingga 50 tahun sesudahnya. Apakah dengan demikian, keberhsasilan pendek membangkrutkan kehidupan penggagasnya? Belum tentu, karena Tuhan memberi keleluasaan jalan pikiran yang bisa diputar ulang.

Seorang pedagang telepon genggam bisa saja hanya berhenti di kisaran puluhan tahun, namun bersama generasi berikutnya diijinkan untuk menggagas bisnis yang beda. Dare to succeed, dare to fail. Seseorang pebisnis besar akan berpikir, mungkin inilah saatnya untuk berhenti. Di hari lain, akan ia putuskan kembali berdagang bersama generasi penerusnya.

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media

(Dimuat di Koran "Wawasan"  3 Desember 2016)

 

 

 

 

 

 

 

  • view 371