Belajar Krisis dari “Time”

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 November 2016
Belajar Krisis dari “Time”

Oleh: Handry TM

 

SEJARAH menunjukkan, industri media besar di belakangnya selalu berdiri “Bos Besar” yang juga berpengaruh luar biasa besar. Ini pula yang terjadi atas Time Inc, perusahaan induk yang memayungi Majalah Time di Amerika Serikat. “Bos Besar” di majalah yang mendunia itu adalah Henry Robinson Luce (lahir 3 April 1898). Ia tidak saja pendiri bersama Britton Hadden, namun juga penyemai gagasan, pengatur “strategi perang” dan pemasok hampir seluruh konsep racikan Time yang terbit perdana pada tahun 1923 di Manhattan.

Luce lahir di Tengchow - China dan meninggal dalam usia 68 tahun pada 28  Februari 1967 di Arizona. Sangat beruntung karena gagasannya di bidang jurnalisme lahir sebelum era televisi merebak. Kelak, era tabung kaca inilah pesaing utama media-media cetak dalam menyalurkan berita. Itu terjadi menjelang tahun 1970-an, sebelum penyajian berita beradu cepat dengan televisi sebagai radio bergambar.

Dengan konsep menyajikan majalah berita mingguan bagi masyarakat yang sibuk dan butuh bacaan, Time beranak-pinak dengan tiga majalah lainnya seperti Life, Fortune dan Sport Illustrated. Keberhasilan ini menjadikan para awak perusahaan Time Inc yakin diri. Luce bukan mengesampingkan orang-orang hebat di kiri-kanannya jika harus dominan mempimpin perusahaan. “Harus ada dirigen yang paling kuat di antara para pemimpin berbakat yang memiliki potensi memperjuangkan konsepnya,” demikian ia berujar.

Banyak jurnalis handal, banyak editor kreatif dan tim artistik hebat. Tapi yang paling sering dilupakan dalam menjalankan media adalah hadirnya ahli komposisi. Sejak ditinggal Briton Hadden, Henry Luce harus belajar cepat. Sejatinya, Hadden-lah ahlinya memasak content, sementara Luce menjadi “tukang jual” produk. Sebelumnya mereka dipertemukan di kantor yang sama saat masih menjadi bagian dari Yale Daily. Itu pula yang menginspirasi banyak industri media, memadukan dua kemampuan berbeda, antara jurnalisme dan bakat membidik pasar.

Hadden terlebih dahulu berpulang (tahun 1929) sebelum akhirnya Luce pun pergi untuk selama-lamanya dengan warisan Time Inc-nya yang melimpah-ruah. Dari sini para “pewaris” Time mulai kebingungan mengapresiasi sukses. Pasca Luce para petinggi Time Inc ingin agar perusahaannya semakin besar. Uang ada, kemampuan teruji, mereka pun berambisi “membeli” Warner Communications milik konglomerat Steven J Ross yang bergerak di  bidang entertainment antara lain industri film.

Tentu tidak mudah, karena Warner bukan perusahaan “sekarat” yang membutuhkan pengembalian uang begitu saja. Mereka ingin dua perusahaan merger menjadi Time Warner, dan me-launching “kebersamaan semu” pada tahun 1990. Kisah tragis di balik itu adalah, Time Inc justru “dicaplok” perusahaan yang hendak diakusisi (Warner Communications). Dari manuver itu, Steven J Ross membukukan keuntungan lebih dari USD 200 juta.

 

Bisnis dan Intelektual

Siapakah yang tidak tergiur dengan bisnis media cetak sebelum televisi menjadi media baru (1970-an) dan era virtual hadir sebagai pahlawan yang ditunggu-tunggu (1980-an) ? Koran dan majalah tak ubahnya sebuah toko, masing-masing bereksperimen dengan fokusnya. “Ia perpaduan antara bisnis dan intelektual,” endors John Jay Chapman, yang antara lain menulis buku A Glance toward Shakespeare, Letters and Religion, Lucian, Plato and Greek Morals dan New Horizons in American Life.

Ketika dua perusahaan itu menjadi Time Warner Inc, bukan tidak ada kesulitan dalam mengoperasikannya. Betapapun, dua perusahaan dengan karakter yang berbeda, ketika menjadi satu akan melahirkan karakter yang tidak sama. Time Inc yang telah menghasilkan kegembiraan ketika Fortune melejit sebagai mesin bisnis baru, harus menebus kesedihannya yang lain. Demikian juga dengan Sport Illustrated yang di luar dukaan justru sehat di antara empat perusahaan inti yang dipunyai.

Ironisnya Time yang justru membebani pembiayaan terbesar di Time Warner. Perusahaan harus mengeluarkan dana tinggi untuk tetap mempertahankan ikon pertama konglomerasi media tersebut. Konon dibutuhkan dana setara program bantuan luar negeri Amerika Serikat di tahun 1989. Time tetap harus diperhatankan, karena ia ikon utama warisan Luce dan tidak boleh disingkirkan.

            Belajar krisis menjadi penting, karena itu pembelajaran. Perkawinan dua perusahaan besar yang semula bertekad untuk manfaat bersama, sungguh butuh waktu lama. Kini Time Warner tetap berdiri, salah satunya menempati kantor di Gedung Time & Life di Manhattan Rockefeller Center. Di dalamnya masih terpasang lukisan para pendiri seperti Henry Luce dan Briton Hadden. Time Warner sebagai perusahaan utama tetap mempertahankan romantisme sejarah, dimana Time Inc menjadi anak perusahaan yang terus dikedepankan.

            Bisnis media tidak sekadar berdagang berita, butuh kegilaan untuk tetap di sana. Kini dengan tagline A leader in innovation for more than 100 years (Warner Communications berdiri sejak 1923, semula Warner Bross, Time berdiri sejak 1923), perusahaan ini kembali menguasai media cetak, televisi kabel dan berbagai media virtual dunia.

            Time Warner Inc  mengalami krisis di era tranformasi seperti yang dialami media cetak saat ini. Kalau dulu tantangannya adalah televisi, saat ini era digitalisasi virtual. Menjelang setengah abad berlalu, toh Time masih berdiri, meski era virtual kian menjadi. Makna apakah yang bisa dipetik dari peristiwa ini? Krisis menjadikan para petarung tidak berhenti, mengingat “krisis” bisa diurai.

            Hakekat lain yang sangat berharga adalah, para pejuang media harus mempersiapkan orang-orang kuat di dalam rumahnya. Sungguh sayang jika tenaga-tenaga hebat itu tidak termotivasi bagi perkembangnya jamannya. “Jangan biarkan para profesional media berpindah ke bidang lain, sementara belum selesai dengan tugasnya,” kata Michael Goodwin, pengamat media Amerika.

            Inilah kisah pedih perusahaan sebesar Time yang mendunia. Apa yang terjadi di media Indonesia tentu belum seberapa. Maka, berhentilah meratap tanpa banyak berupaya

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media

 

(Dimuat di Koran Wawasan, 27 November 2016)

 

 

Quotes:  

 

Kini dengan tagline A leader in innovation for more than 100 years, Time Warner Inc kini menguasai media cetak, televisi kabel dan berbagai media virtual yang mendunia.

 

 

  • view 296