Cokelat dan “Filosofi Upacara”

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 November 2016
Cokelat dan “Filosofi Upacara”

Oleh  Handry TM

Apakah arti cokelat bagi manusia? Ternyata, ia tidak mewakili kebutuhan apapun, kecuali secara psikologis merasa sempurna bagi yang menyantapnya.

 

 

DALAM kehidupan sehari-hari, cokelat selalu hadir menjadi “pemanis.” Ia tampil dengan berbagai  kemasan menawan, menawarkan berbagai “upacara” dan menempel pada momen-momen penting yang hampir tidak ada hubungannya dengan kebutuhan asupan. Memang, cokelat memiliki kandungan fenilalanin, tyrosin, asam amino triptofan dalam jumlah besar. Terkandung Sembilan persen protein, empat belas persen karbohidrat  dan tigapuluh satu persen lemak. Namun semua yang ada di dalam cokelat telat terpenuhi oleh makanan lain di sekeliling kita.

            Tanpa cokelat, nasi dan daging telah menyediakan lemak dan protein. Rasa manis pun sudah dipasok oleh gula atau makanan berkarbohodrat lainnya. Cokelat senantiasa menjadi pelengkap dan begitu penting di saat kita “berupacara” ?

            Dalam bentuk permen, ia akan mendampingi sepasang remaja atau manusia puber kedua yang  jatuh cinta. Ia menjadi buah tangan bagi seorang ayah yang  menyatakan dirinya sangat setia bagi anak-anaknya. Di saat menyampaikan selamat ulang tahun, cokelat adalah hadiah yang paling praktis diberikan.

          Apakah cokelat yang mahal serta-merta akan segera dikonsumsi sebagai asupan? Belum tentu. Dalam jeda waktu, ia akan dibiarkan tergeletak di lemari pendingin atau langsung dibagi-bagikan terhadap banyak orang. Di dalam sebatang cokelat, muncul dimensi rasa cinta, empati, respek dan kegembiraan. Kenapa bukan sabun atau batangan keju untuk seseorang yang sedang kita muliakan?

          Itulah sebab, kenapa satu dari delapan perusahaan termasyhur dunia, perusahaan cokelat Ghirardelli menyajikan sejarah panjang, membuang produk kopi untuk kemudian beralih ke cokelat. Kopi adalah produk minuman yang terus-menerus dikonsumsi, namun tidak memiliki nilai privilege setinggi cokelat. Merk Ghirardelli telah ada sejak tahun 1817, dan hingga kini masih bertahan menyamai merk-merk cokelat termasyhur lainnya seperti Ferrero Rocher (Italia), Lindt and Spugli (Swiss), Thorntons (Inggris), Hershey's (Amerika), Guylian dan Godiva (keduanya produk Belgia) serta Valrhona (Perancis).

          Perjalanan panjang ini dimulai oleh seorang pemerhati cokelat Italia bernama Domenico Ghirardelli bersama istrinya. Hidup berpindah-pindah mengadu usaha, mulai dari cokelat dan kopi hingga berpindah negara ke Uriguay kemudian ke Peru. Jatuh bangun produksi permen cokelat adalah sebuah “karamah” (bisikan mukjizat dari Tuhan).  Keputusan hanya untuk menjual cokelat akhirnya diambil oleh generasi sesudahnya, di abad ke19. Ide besar itu terbukti sakti, perusahaan yang jatuh bangun setelah dari Kota Lima (Peru) ke San Fransisco, kemudian berpindah tangan di tahun 1963 ke Golden Grain Macaroni, perusahaan pembuat Rice-A-Roni. Pada tahun 1986, Quaker Oats membeli Golden Grain, dan dengan demikian Ghirardelli menjadi miliknya.

 

Empat Juta Ton

            Secara hitung-hitungan, mungkin kopi lebih besar diserap pasar daripada cokelat. Tapi jangan lupal, cokelat memiliki margin (keuntungan) psikologis yang nilainya besar. Itu semua tergantung bagaimana cara produser membangun brand. Harga sebatang cokelat yang satu dengan lainnya akan terpaut jauh ketika kisah di balik pembuatannya semakin historikal dan melewati romantisme panjang.

            Jika kita membutuhkan rasa manis, kenapa harus cokelat sementara gula pun berlimpah? Andai kita butuh kenyang, roti akan lebih efektif dibanding cokelat? Rupanya, cokelat memang produk “upacara” bagi manusia. Apapun, di tempat manapun. Seseorang akan lebih sempurna bersama cokelat. 

          “Tidak ada sesuatu yang lebih baik dari teman, kecuali teman itu membawa serta cokelat,” demikian Linda Grayson, penulis yang terkenal dengan bukunya Sweet Dreams, Sleepy Bunny.  Normatif, simpel dan ringan. Namun yang ingin Linda Grayson garisbawahi adalah, cokelat akan memberikan atmosfer baru bagi suasana apa pun dalam kehidupan manusia..

          Lain lagi pengalaman Judith Viorst , penulis buku keluarga dan anak-anak dari Amerika. Baginya, tidak penting ia mengunyah cokelat atau tidak, namun “Rasakanlah sensasinya di saat memenggal ruas Hershey (merk cokelat) yang empat potong itu hanya dengan tangan kosong. Kemudian kita memakannya hanya sepotong dari kesemuanya.”

          “Jangan merasa bersalah karena memakan cokelat. Cokelat tidak seperti melakukan seks pranikah, It will not make you pregnant.Dan kita akan baik-baik saja,” seru Lora Brody, penulis buku yang lain.

          Data International Cocoa Organization (ICCO) memperlihatkan ekspektasi pasar dunia terhadap cacao sebagai bahan baku cokelat akan meningkat. Kini rata-rata penyerapan pasar mencapai 4 juta ton pertahun. Dari jumlah itu 33 persennya dipasok Pantai Gading. Indonesia terhitung negara penghasil cacao 20 persennya dari kebutuhan dunia.

          Harga pasar cokelat olahan justru lebih menggiurkan, karena harga bruto tidak ditentukan oleh berapa besar harga bahan yang dibutuhkan, namun seberapa mampu produsen itu memberikan arti besar bagi konsumennya. Hitung-hitungan psikologis menjadi pengaruh besar di dalamnya, karena ia memberi sugesti dan juga impresi. Cokelat tidak sekadar bahan yang dikunyah, melainkan juga teman pengusir gelisah, memberi arti kebahagiaan dan juga cinta. “Katakan cinta dengan cokelat,” demikian salah satu jargonnya.

          Filosofi cokelat tidak kalah kuatnya dengan filosofi kopi. Ia memberikan arti, bahwa manusia tidak sekadar membutuhkan makanan karena lapar, namun juga kesan. Tidak heran, pemakna terhadap filsafat ini setidaknya orang berpendidikan. Dan cokelat merupakan jembatan bagi kaum menengah untuk mengapresiasi sebuah arti seni. Memenggal cokelat, kemudian mengulum dan perlahan melumatnya dengan lidah dan langit-langit mulut, tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak berpengetahuan.

          Tidak heran, produk cokelat sarat oleh upacara kebahagiaan. Dan kita tidak bisa hanya merasa lapar lantas yang kita cari adalah cokelat. Sebuah pembelajaran sederhana namun juga tidak sederhana. Mulailah segala perilaku hidup dengan simbol yang menempelnya. Dan cokelat adalah produk simbol upacara yang menandai periode-periode kebahagiaan manusia.

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

 

 

(Dimuat di Harian Wawasan, 19 November 2016)