“Trump Tower,” Sebuah Rumah Besar

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 November 2016
“Trump Tower,” Sebuah Rumah Besar

Oleh: Handry TM 

 Kekayaan dan keberhasilan bukan ia rasakan sebagai keajaiban. Namun memenangi Pilpres atas Madam Hilary ia rasakan sebagai “tamparan Tuhan.”

 

 

SEMUA Orang menyukai saya. Anda tahu kenapa? I have been very successful. Everybody loves me.” Kata-kata itu kedengarannya cuma provokasi kecil, namun sebenarnya dikatakan Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat, dengan nada baper (terbawa peraaan) dan tercekat.

          Kaya dan sukses bagi Trump hanyhalah sebuah keniscayaan. Bayangkan, dari lahir sudah kaya-raya. Ia mewarisi kekayaan ayahnya, Fred Trump, seorang pengembang sukses yang membangun banyak real estate di New York City bersama perusahaan besarnya, Elizabeth Trump & Son. Tidak hanya itu, setelah bergabung selama tiga tahun, pada tahun 1971 Donald Trump mengendalikan perusahaan keluarga dengan mengubah bendera bisnisnya menjadi The Trump Organization.

          Termasuk bukan keajaiban yang lain adalah, ketika Trump tampil sebagai manusia super sukses dengan banyak varian. Sebagai laki-laki, ia dikelilingi perempuan cantik dan berkesempatan menikahi tiga perempuan hebat secara bergantian. Masing-masing ia menikahi Ivana Zelnickova (1977-1992), Marla Maples (menikah tahun1993), terakhir bersama Melanija Kanvs (2005- sekarang).

          Sebagai pebisnis Trump memiliki kekayaan sebesar US$ 3,7 miliar atau setara Rp. 48,1 triliun di usia 70 tahun dan sehat. Pada usia itu, Amerika menganugerahkan kemenangan kontroversial sebagai Presiden ke - 45.

          Keajaiban justru ia rasakan di momen pemilihan presiden, mengingat hampir seluruh lembaga survei memosisikan dirinya di bawah Hillary Clinton yang tampil penuh percaya diri. Trump memenangi 279 Electoral Vote dari Hillary yang hanya meraup 218. Meski secara Popular Vote (akumulatif) Hillary menang dengan raihan 47,7 persen dan Donald Trump hanya meraih 47,5 persen.

          Masih kurang apa Donald Trump tanpa menjadi presiden? Masihkah kurang sempurna tanpa harus menyandang kemenangan yang “melukai” banyak orang? Rupanya, setelah Abraham Maslow (1908-1970) menuliskan Hierarchy of Needs dimana kebutuhan dasar tertinggi manusia adalah aktualisasi, apa yang ingin dicapai Trump bukan sekadar tahta dan uang. Ia ingin pengakuan tentang new concept America. Sebagaimana pula yang ia gembar-gemborkan dalam pidato kampanyenya, bahwa Donald Trump adalah the agent of change.

           Ia mengkonsep semua gagasan besar itu dengan provokatif, karena Trump sadar bahwa rival yang dihadapinya sangatlah normatif, baku dan menjual propaganda moral. Jika Trump menandinginya dengan konsep sama, ia sadar akan kelemahannya. Bukankah Trump seorang pebisnis luar biasa?

 Fifth Avenue

          Semua bermula dari sini. Dari sebuah kawasan di Fifth Avenue - Midtown Manhattan, New York City. Trump Tower adalah merupakan kawasan bangunan pencakar langit pecah tanah tempat di mana The Trump Organization bermarkas. Di tempat itu pula terdapat Penthouse, rumah tinggal utama Donald Trump bersama keluarga intinya , serta tim sukses yang merancang “pemasaran” suaranya.

          Trump Tower dibangun setelah tahun 1979 lahannya diambil alih dari bangunan arsitektur lama yang didirikan pada tahun 1929. Menara itu dirancang oleh Der Scutt untuk konsep kota mewah pertama bertingkat tinggi. Perluasan berikutnya, Trump Tower menempati lahan Fifth Avenue antara 38 dan 58 Streets yang di dalamnya terdiri atas kondomunium mewah, supermal, perkantoran dan rumah tinggal yang disewakan untuk bisnis. Di antaranya, terdapat 39 lantai kondominium yang menempati lantai 30-69, kemudian 26 lantai untuk perkantoran.

          Baginya, rumah besar itu adalah Trump Tower, dan Amerika Serikat adalah kampung halaman yang harus ditata ulang. Dengan keberaniannya, Trump menawarkan janji-janji negatif, seperti mempersulit kaum muslim masuk di negerinya, dan mengancam para imigran yang berbondong-bondong masuk ke Amerika.

          Banyak yang meragukan, bahwa itu substansial. Rupanya perang propaganda sedang benar-benar ia mainkan. Kaum muda Amerika seperti mendapatkan amunisi semangat mengenai kebangsaan. Dan Trump memperlakukan perebutan tahta politik itu dengan cara bisnisnya. “Mungkin sudah saatnya Amerika dijalankan seperti berbisnis. Saya sedang membuat keputusan-keputusan yang sulit,” katanya.

          Dari Trump Tower ini pula ia mendiskusikan panjang lebar mengenai bagaimana menyatukan korelasi antara moral dan kekuasaan. Tim sukses Trump, mungkin sembari minum kopi atau mengudap white bread selai, mencetuskan sejumlah tagline brilian. Misalnya, tim Partai Republik ingin mengubah pola pikir bahwa politik adalah aib. Itulah sebabnya orang-orang baik sudah saatnya masuk ke pemerintahan.

          Propaganda negatif itu ia gunakan untuk memenangi suara, namun perlahan-lahan mulai dikoreksi. Sebenarnya trik-trik semacam sudah bisa terbaca, namun kubu Republik benar-benar memainkan perasaan calon pemilihnya. Trump membiarkan semuanya bergulir, ia ingin menikmati kemenangan itu sebagaimana dulu ia memenangi sebuah gagasan bisnis atas lawannya.

          Kita sedang melihat sebuah pertarungan, dan pemenangnya adalah orang yang tidak dikehendaki. Ini menarik, karena dari Trump Tower telah muncul pondasi besar bagaimana menjadikan Amerika dengan caranya yang beda.

          Dalam sebuah peradaban panjang, Amerika senantiasa memunculkan pemimpin yang beragam. Negeri ini sangat teruji bertahan pada saat situasi tidak biasa. Trump memiliki cara yang tidak sama dalam menghadapi berbagai tantangan. Trump Tower adalah rumah besar yang akan menyatukan kontroversi-kontroversi itu menjadi tesa yang sengaja digulirkan dan dikoreksi bersama.

 

• Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

(Dimuat di Koran Pagi Wawasan tanggal 12 November 2016)

 

 

  • view 418