Hard Rock Café dan Diplomasi Kebudayaan

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 November 2016
Hard Rock Café dan Diplomasi Kebudayaan

Oleh: Handry TM

TERLETAK di 150 Old Park Ln, Mayfair, London, Hard Rock Café pertama di dunia ini sampai sekarang masih berdiri. Di sinilah dua pemuda Amerika memadukan gagasannya, mula-mula sederhana ; mewujudkan imajinasi membuat kedai kudapan yang berisik oleh live music. Tigrett pada tanggal 14 Juni 1971 mengajak Peter Morton, sahabatnya membesarkan ide tersebut. Setelah desain terpola, lantas ruangan itu akan dihias dengan dekorasi yang seperti apa?

            Ornamen, tata lampu, presisi ruang yang bising namun nyaman telah dirancang. Lantas musik pengantar, live concert dan berbagai pernik cukup dipersiapkan. Berikutnya, yang ada dalam benak kedua pemuda itu adalah memilih hiasan-hiasan tempel ekletik. Artinya, memasang gambar-gambar, poster terbaik dari banyak segmen. Namun ide itu pun terkoreksi di hari berikutnya. Mereka sepakat berpikir mengerucut, dari dekorasi ekletik menuju memorabilia khusus musik.

            Tata ruang sudah disepakati, adonan apa yang pantas disajikan dari sisi menu? “Meski ini di London, kami akan menebarkan budaya Amerika di Hard Rock Café,” teriak Peter Morton. Muncullah menu-menu favorit seperti Twisted Mac Mac & Cheese (macaroni ditabur keju dan lada hitam), Grilled Norwegian Salmon (ikan salmon panggang ditabur merica dan saus ikan), serta Original Legendary Burger (burger tiga lapis yang mengenyangkan).

            Sejarah Hard Rock Café London akhirnya bergulir hingga 45 tahun kemudian. Berdirinya kedai makanan dan museum musik itu tidak hanya menjadi tempat nongkrong. Lebih dari itu, telah mengantar para pengunjungnya berimajinasi menjadi orang dekat para musisi dunia. Franchaise Hard Rock Café kini telah menyebar ke 53 negara di dunia, dan membukukan jumlah kedai menjelang 200 titik. Tentu yang terbesar di Orlando, karena sejak tahun 2007 pusat kantor Hard Rock International berpindah dari London ke kota itu.

            Di New York, Hard Rock Café terletak berdekatan dengan jalan menuju teater-teater Broadway. Tepatnya di 1501 Broadway, New York, NY 10036, dimana orang-orang saling antre panjang untuk mendapatkan gift berupa t-shirt, topi, pin dan jaket keren.  Saya pernah berkunjung ke sana dalam sebuah tugas jurnalistik, dan hanya berani mengoleksi t-shirt seharga USD 40 karena terhitung mahal. Tidak jauh dari tempat itu, para pedagang kaki lima menjajakan t-shirt tiruannya seharga USD 10, dan laris manis.

            Mengapa Hardr Rodk Café berpindah tangan dari Isaac Tigrett yang bermarkas di London ke Seminole Tribe of Florida di Orlando, Florida? Bagaimana dengan misi awal sang penggagas, yang mula-mula ingin menebarkan virus kebudayaan nongkrong Amerika ke Inggris dan kini kembali lagi bermarkas di Amerika? Pasti ada latar belakang panjang yang menyertainya. Yakni ingin mempertajam  penetrasi pasar dunia.

           

Menjadi Amerika

            Keberhasilan Hard Rock Café adalah, bagaimana mengantar imajinasi para pengunjungnya seolah-olah dekat dengan Eric Clapton. Musisi Rock & Blues itu menyerahkan gitar Fender Lead II-nya untuk memorabilia di kedai tersebut. Kini, hampir 90.000 item memorabilia bersejarah dikoleksi oleh kedai itu di seluruh dunia.

            Diplomasi kebudayaan yang dikawal dari tepi itu terbukti sakti. Sayap bisnisnya telah beranak-pinak menjadi hotel dan kasino di Las Vegas. Kebudayaan urban yang mereka tawarkan ditangkap oleh para eksekutif muda di seluruh dunia. Mereka girang nongkrong sambil “diganggu” oleh kebisingan musik di dalamnya.

                Nongkrong di tempat itu tidak hanya membutuhkan rasa kenyang, lebih jauh lagi ia merasa menjadi orang Amerika, atau setidaknya masuk dalam masyarakat mapan di negaranya. Membenturkan diplomasi nongkrong sembari mengudap dan “nyangking” buah tangan berupa gift, adalah standar target penjualan jaringan Hard Rock. “Saya senang hanya untuk duduk di sebuah kafe dan menonton orang,” kata Zoe Kravitz, aktris putri pasangan musisi Lenny Kravitz dan Lisa Bonet. Artinya, tidak cukup hanya dengan alasan haus mencari tempat nyaman. Para pengunjung butuh singgah ke dunia ide, bahwa mereka menjadi bagian penting bagi lingkungannya.

            Di banyak negara yang rata-rata pelangganannya adalah kaum muda, pola jualan HRC sudah menggunakan sistem aplikasi kontemporer. Dari yang semula Cuma casual dining restaurant di London, jaringan ini telah memiliki 12 hotel dan kasino di banyak kota besar kelas dunia.

            Siapakah yang mengira kalau kedai kudapan plus musik ini tidak hanya ditongkrongi untuk ngobrol sambil menikmati musik? Siapa mengira kalau kekuatan besar pasar Hard Rock adalah merchandise? Ke mana pun Anda berkunjung, yang pertama kali mengusik kegeliahan adalah mencari jaket atau t-shirt bertuliskan Hard Rock Café setempat. Karena itu menunjukkan kelas sosial Anda.

            Ketika seseorang tenggelam dalam kubangan sosial di kota besar, maka identitas individu akan tergerus. Ia menjadi anonim dan bukan siapa-siapa. Sebagai pribadi ia akan mencari topangan untuk memperkenalkan diri dalam beraktualisasi. Salah satu caranya adalah mencari simbol terdekat yang  agar aktualisasi dirinya termunculkan. Seorang individu penyuka musik, ia akan lebih nyaman mengajak ngobrol relasinya di kedai ini. Seorang pebisnis yang memiliki minat besar terhadap kuliner urban, ingin menghabiskan jam istirahatnya di tempat ini.

            Dengan tetap mempertahankan pemeo “pengunjung adalah raja,” maka Hard Rock Café terus bebenah diri. Kini jaringan itu mengklain jumlah pelanggan setia sebesar 30 juta di seluruh dunia. Angka ini membawa konsekuensi agar tetap dikelola. Caranya adalah eengan terus menyapa, mereka sudah menerapkan sistem pelayanan pelanggan secara online di smart phone yang paling mudah.

            Pasar bisnis memberikan banyak tawaran menggiurkan. Yang diperlukan adalah kreativitas ide. Impian yang muncul dari kamar tidur akan di-share bersama teman lain, dan menjadi sebuah kerja besar.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

 

Quotes:

“Sebanyak 30 juta pelanggan tetap di 53 negara dengan titik kedai menjelang 200 titik kedai, jelas butuh pengelolaan …”

 

 (Dimuat di Koran Pagi Wawasan, 5 November 2016)

 

 

 

 

  • view 288