Nobel Sastra Sang Pendendang

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Oktober 2016
Nobel Sastra Sang Pendendang

BELUM usai dunia bertanya-tanya mengenai fenomena keputusan itu, orang masih dibenturkan pada pertanyaan besar lainnya. Yakni, jika penghargaan Nobel Sastra tahun ini harus  jatuh di Amerika, bukankah karya dua novelis besar itu jauh lebih representatif dibanding lirik-lirik lagu Bob Dylan yang lebih bersifat industri?

            Keputusan memilih Bob Dylan mengandung implikasi jauh dari sekadar yang kita pertanyakan. Komite Nobel tidak memiliki catatan baku harus menjatuhkan penghargaan Nobel kategori sastra hanya bagi karya fiksi atau puisi. Ia bisa diberikan kepada penulis lirik (lagu), skenario film, naskah drama atau apa pun. Yang menjadi barometer besar adalah, karya itu mesti bersifat sastrawi, berpengaruh besar terhadap perubahan jaman dan memiliki kedalaman sosial terhadap kemanusiaan.

            Maka, novel-novel kuat semacam White Noise, Underworld, Zero K, Falling Man atau naskah drama berjudul The Word for Snow, Valparaiso dan Love-Lies-Bleeding karya Don DeLillo (sastrawan kelaahiran 20 November 1936 di New York) tidak cukup meyakinkan juri Komite Nobel untuk menjatuhkan penghargaan padanya.

            Juga karya-karya Philip Milton Roth yang lahir pada 19 Maret 1933 di Newark, New Jersey,  ia telah melahirkan karya buku hebat semacam American Pastoral, Portnoy's Complaint dan  Indignation, namun belum berhasil memikat tim juri untuk memberikan penghargaan nobel terhadapnya.

            Para penulis besar itu terkalahkan oleh lirik-lirik lagu balada, blues dan country yang ditulis Bob Dylan penuh kedalaman. Misalnya A Hard Rain's A-Gonna Fall, Blowin' In the Wind, Tangled Up In Blue atau The Time They Are A-Changin.' Atau tembangnya yang sangat urban, Someday Baby di iklan TV untuk produk iPod dan iTunes.

            Fenomena Nobel akhirnya bukan lagi menjadi pertanyaan besar, mengapa tidak ada karya sastra tulis yang layak dimenangkan? Hingga tim juri harus menyeberang ke media lain di bidang musik? Swedish Academy yang membidangi penghargaan Sastra merasa tidak harus bergantung pada patron karya tulis buku. Sastra harus diaktualisasi sesuai jamannya. Melihat pertimbangan karya-karya Bob Dylan, nampak bahwa sastra abad ini adalah sastra yang sudah teraudio dan tervisualisasi.

            Jika secara “tengil” kita lepas lirik-lirik Bob Dylan dari musiknya, dan kit baca secara lepas sebagai sebuah karya liris, akan kita tangkap kedalaman yang luar biasa. Pada A Hard Rain's A-Gonna Fall, terbacalah liris ini: “/Oh, where have you been, my blue-eyed son?/

And where have you been my darling young one?/” Yang pada bait dan baris kedua lagu itu, kita seperti dihempas dengan kata-kata: “/I saw a newborn baby with wild wolves all around it/ I saw a highway of diamonds with nobody on it/ I saw a black branch with blood that kept drippin'/ I saw a room full of men with their hammers a-bleedin' / I saw a white ladder all covered with water/ I saw ten thousand talkers whose tongues were all broken/ I saw guns and sharp swords in the hands of young children…”

 

Kamar Virtual

            Dalam karya-karya Dylan, aroma Nobel dibawa ke kamar virtual yang lebih personal namun melebar. Ia berteriak tentang “kekeliruan” Amerika di Perang Vietnam. Ia menjadi manusia senyap di lagu Someday Baby yang kolokan, berteriak bahkan tidak peduli. Namun lagu itu justru memikat jutaan penggemar ketika tampil sebagai iklan televisi untuk produk iPod dan iTune, benda pemutar lagu dan pengunggah lagu-lagu virtual yang kini merajai pasaran.

            Dalam klip berdurasi 30 detik dari lima menit durasi lagu yang sebenarnya, Someday Baby digarap secara keren. Mengambil pilihan desaturate,warna yang dibenturkan pada kontras hitam gelap, lagu yang salah satunya meneriakkan kata: Someday baby, you ain't gonna worry about me any more !” itu mendongkrak unduhan di pasar musik dunia.

            Sastra tidak bisu di lipatan buku. Ia menjelajah menjadi klip visual sedahsyat badai. Untuk semua itu, Bob Dylan menyuarakan pekikan anak muda Amerika di era 60-an. Karya-karyanya simbolistik, mewakili manusia pada jamannya. Dan di usia tua, Dylan adalah satu dari segelintir musisi gaek yang membukukan penghargaan Grammy terhitung banyak.

            Untuk memperjuangkan “pekikan” tidak dari rumah gubug dimana di dalamnya berhimpun sejumlah manusia lapar. Peraih Nobel 2016 terhitung kaya dengan jet pribadi yang dimilikinya. Ia termasuk seniman musik yang mampu menjual karyanya hingga uzur usia. Musisi kelahiran Duluth, Minnesota, Amerika Serikat, 24 Mei 1941 ini pada tahun 2014 bahkan telah membukukan harga lelang sebesar USD 40 ribu hingga USD 60 ribu atas karya-karya yang ditulis tahun 60-an di Rumah Lelang Christie. Lelang itu terdiri atas lagu Go Away You Bomb.

            Ketika sastra tampil sangat dinamis, media menyesuaikan dengan masanya, maka masyarakat sastra dunia menyikapi fenomena secara berbeda. Sebuah karya novel atau cerita pendek, kelak akan dinominasikan peraih penghargaan sastra ketika ia sudah menjad film atau lagu.

            Someday Baby terdengar dengan tangkapan penuh magis. Tidak heran jika Akademi Nobel memberi alasan, karya-karya Bob Dylan memiliki ungkapan puitika baru bagi masyarakat Amerika.

            Untuk memutuskan bahwa kali ini seorang musisilah yang layak meraih penghargaan Nobel Sastra, Akademi Nobel pun harus menunda pengumuman. Tidak heran kalau muncul berbagai spekulasi, keputusan ini pasti luar biasa dan alot penilaiannya. Swedish Academy (membawahi Nobel kategori Sastra), sebagaimana kerja Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia (membawahi Nobel kategori Fisika dan Kimia), The Karolinska Institute (membawahi Nobel kategori Fisiologi atau Kedokteran), Royal Swedish Academy of Sciences (membawahi Nobel kategori Ekonomi) dan Norwegian Storting (membawahi Nobel kategori Perdamaian), pasti sangat cermat memilih Dylan.

            Maka, mari kita sambut hangat warga baru di bidang sastra dunia, musisi dan seorang pendendang, Dialah Bob Dylan!

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

Quotes :

“Aku berjalan dan merangkak di enam tikungan jalan, melangkah di tujuh hutan dengan hati perih.  Aku berada di depan lautan senyap …” (Lagu Bob Dylan, "“A Hard Rain's A-Gonna Fall” )

 

 

  • view 273