Sukses Satu Persen

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Sukses Satu Persen

Oleh: Handry TM

HITUNG-hitungan model apakah yang dirancang Soichiro Honda, sehingga anak seorang pemilik bengkel pertanian di Desa Kamyo, Distrik Shizuko Jepang, kelak berhasil membangun imperium bisnis yang mendunia?

            Tidak muluk-muluk, Honda yang lahir tahun 1906 itu memulai segalanya dengan mimpi besar. Kecintaannya terhadap mesin ditunjukkannya dengan senantiasa kagum melihat pesawat terbang. Ia menekuni mesin dengan penuh kecintaan. Apakah kecintaannya itu ditunjang dengan kemampuannya yang juga luar biasa? Artinya, mungkin ia anak yang cerdas, sehingga mampu menyulap gagasan menjadi kenyataan menakjubkan? Ternyata tidak.

“Saya seorang siswa yang sangat rendah diri dan tidak yakin di kelas. Saya senantiasa mengambil bangku paling belakang ketika pelajaran berlangsung, karena merasa tidak mampu dengan pelajaran-pelajaran berat itu,” kisahnya.

            Soichiro Honda pun bukan seorang insinyur mesin yang patut dibanggakan kisah hidupnya, ia cuma seorang pengagum mesin. Dari kegagalan demi kegagalan, di mana-mana ia mengunggah hitung-hitungan suksesnya dengan tesa terbalik seperti ini:

            “Keberhasilan yang saya raih hanyalah bernilai satu persen dari 99 persen kegagalan yang pernah saya alami.”

            Quotes tersebut nampaknya sederhana. Terdiri atas dua pengertian yang dipetik dari dua situasi yang bertolak belakang. Yakni, keberhasilan yang dianalogikan dengan bobot  satu persen, dan itu dibarengi dengan kegagalan demi kegagalan yang disimbolkan dengan bobot 99 persen.

            Hitung-hitungan itu menjadikan dirinya masyhur dan memiliki kualitas. Orang-orang Setengah Dewa tidak pernah mempromosikan diri sendiri dengan menyamakan Dewa itu sendiri. Melainkan memilih perumpamaan yang tidak masuk hitungan, biasanya berbalik dari logika yang sebenarnya.

            Kalau kelak kisah hidupnya difilmkan, maka yang akan ditunggu-tunggu adalah adegan bagaimana Soichiro Honda di saat berusia 8 tahun mengayuh sepeda anhginnya sejauh 10 mil, hanya agar bisa menyaksikan pesawat terbang yang dikaguminya terbang. Kekaguman bukan ditarfsirkan secara pendek sebagai keterpesonaan semata. Tak henti-henti Honda bertanya, bagaimana mungkin sebuah mesin yang terukur mampu mengangkat besi yang beratnya beratus kilogram bahkan jika dikonversikan dengan jenis pesawat komersial modern saat ini bisa beribu-ribu kilogram?

            Pertanyaan atas diri Honda kelak menghasilkan eksplorasi karya cipta yang dipatenkan, yakni jari-jari roda (jeruji) kendaraan yang terbuat dari logam pada usia 30 tahun. Intuisinya terus bergerak. (“Bukankah tingkat tertinggi kinerja datang pada orang-orang yang fokus, intuitif, kreatif, dan reflektif? Mereka adalah individu yang paham melihat masalah sebagai peluang,” kata Deepak Chopra, penulis India kelahiran tahun 1947).

 

Motor Impian

            Sukses besar Honda terjadi pada usia paruh baya, dimana pada usia yang ke 52, Honda berhasil menyempurnakan produk impiannya, dari motor “Dream” bertenaga 98cc menjadi kelas motor yang dibutuhkan pasar.

            “Jika Anda bertanya tentang kunci keberhasilan impian-impian saya, jika dirangkum secara sederhana, hanya meliputi beberapa hal. Jangan merasa gagal sebelum Anda merasa berhasil. Jangan merasa miskin untuk memulai sebuah mimpi besar karya besar Anda, meski modalnya kecil. Gunakan ilmu pengetahuan yang Anda punya dan Anda ketahui. Terakhir, kita tidak bisa membangun sebuah bisnis tanpa relationship dan jaringan,” itu kata Soichiro Honda.

            Hal yang kini menjadi acuan untuk memotivasi para karyawan di perusahaan multiinternational itu adalah “Sukses 1 Persen Sebelum Gagal 99 Persen.” Perusahaan yang kini masih merajai produk sepeda motor dan mobil dunia tersebut selalu bangga terhadap kisah awal rintisannya.

            Sekilas, storytelling itu terkesan klise tanpa tantangan. Jika kita cermati, sebenarnya ini Honda telah melakukan capaian besar dibanding yang lain. Perusahaan tersebut kalah start dari Toyota yang diakuinya menjadi mentor kultur Honda. Perlahan-lahan perusahaan ini mampu menyejajarkan dan hampir setara sebagai bintang otomotif dunia.

            Soichiro Honda menampilkan impresi kisah sukses dari kisah gagal yang bertubi-tubi di masa silam. Secara romantik, kemiskinan memunculkan energi positif yang luar biasa besar. Satu hal yang tidak dilupakan orang, Soichiro Honda bukanlah bos atau “penghitung laba” dari awal ia merancang kerja. Ia benar-benar seorang mekanik yang menguasai mesin, dan mampu membuat rancangan motor yang kelak menjadi impian dunia.

            Jika ia masih hidup, mungkin kegelisahan terbesarnya adalah mencipta mesin pesawat terbang.  Tapi tidak, ia cukup mengagumi saja bagaimana pesawat terbang bisa melayang di udara, sementara ia megikutinya dengan sepeda angin di usia delapan tahun.  Perang Dunia II, sebagaimana para perintis yang lain, menjadi titik awal bagi cita-cita gila mereka. Soichiro Honda juga mengawali dari puing-puing kehancuran perang yang tidak ia mengerti.

            Satu hal yang tidak kalah penting, meski menjadi perusahaan yang siap besar pada masa itu, Honda tetap menerapkan manajemen personalia. “Jadi, tidak seluruh sistem tunduk pada mekanisme perusahaan. Saya rasa, ada sentuhan-sentuhan langsung yang bersifat persahabatan dari kami ke karyawan,” tuturnya, mengenai regenerasi hebat di perusahaannya.

            Mau tidak mau, perusahaan otomotif ini mempersiapkan para insinyur untuk dilatih di luar negeri. “Karena ini pabrik mesin, kelak harus dipimpin oleh para teknokrat hasil universitas, bukan seperti saya,” kata Honda berseloroh, seperti meledek diri sendiri.

            Demikianlah, cara perusahaan ini beraktivitas dalam menjalankan roda bisnisnya. “Yang saya punya hanyalah mimpi. Kini, merekalah yang menikmati mimpi saya dengan bekerja keras,” pesan Honda sebelum wafat di Tokyo pada 5 Agustus 1991, duapuluh lima tahun yang lalu.

           

 

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Medi

 

Quotes   ____________________________

“Jangan takut gagal, jangan bergantung atas modal, kuasai ilmu pengetahuan, perluas jaringan ….”

  • Soichiro Honda

 

Dimuat di Harian Wawasan, 15 Oktober 2016

  • view 338