“Cocktail” bagi Perempuan

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Oktober 2016
 “Cocktail” bagi Perempuan

Esai Handry TM

“Singapore Sling” adalah perpaduan antara nasionalisme, feminisme dan Perang Dunia I. Sejak di-launching pada tahun 1915, ramuan cocktail itu telah berusia 101 tahun dan menjadi “minuman nasional” bagi negaranya.

 

JIKA anda sedang berkunjung ke Singapura, maka luangkanlah waktu untuk singgah sejenak di Raffles Hotel lantai dua. Di Long Bar, tenpat di mana dulu Ngiam Tong Boon meracik cocktail yang sangat terkenal itu, silakan duduk santai dan pesanlah “Singapore Sling” pada pramusaji, seperti yang dilakukan para tamu VIP lebih dari seabad lalu.

Ngiam Tong Boon, kepala bartender Hotel Raffles, rupanya ingin membuat sejarah besar bagi Long Bar, tempat dia bekerja. Singapura yang waktu itu masih menjadi wilayah kawasan, merupakan area yang strategis bagi perdagangan. Terutama peran besar Pelabuhan Singapura sebagai kawasan transit kapal-kapal dagang dari Eropa ke Australia, India atau negara timur tengah lainnya.

Ketika itu tahun 1914, Perang Dunia I antara dua aliansi besar di Eropa, yakni sekutu (Britania Raya/ Inggris, Perancis dan Rusia) melawan Blok Sentral (Jerman, Austria/ Hongaria dan Italia) sedang berlangsung. Suasana panas juga berpengaruh pada kawasan Asia Tenggara yang kewilayahannya sedang diduduki oleh sejumlah negara besar Eropa.

Ngiam Tong Boon bermimpi besar menciptakan ramuan cocktail yang mendunia. Ia ingin mendobrak sekat, bahwa kedai minum beralkohol ditabukan bagi perempuan. Maka ia meracik resep Gin Cocktail yang di dalamnya sarat dengan ekstrak buah-buahan segar seperti jus nanas, grenadine, air jeruk nipis dan Dom Benedictine. Warna yang dipilihnya adalah merah merona. Untuk menunjukkan bahwa Gin Cocktail berpihak ke pasar perempuan, maka potongan nanas dipasangkan pada ujung gelas yang bentuknya cantik ramping ke bawah agar terlihat feminin.

Cocktail resep baru itu pada tahun 2015 di-launching sebagai produk Long Bar yang berdiri sendiri dan terpisah dengan Raffles Hotel. Kaum perempuan boleh minum di bar tempat Ngiam Tong Boon menggagas. Hanya di tempat ini pula para peminum boleh membuang kulit kacang di lantai, tanpa teguran.

Resep minuman ini benar-benar menjadi terkenal. Dari yang semula bernama Gin Cocktail, kemudian berubah nama menjadi “Strait Sling” yang terakhir dipatenkan menjadi “Singapore Sling.” Nama yang disebut terakhir ini menjadi ikon minuman di Singapura, dan merupakan minuman nasional.

 

Feminisme

            Apa yang membedakan cocktail ini dengan minuman beralkohol lain? Inilah kecerdasan seorang kreator bar dalam menampilkan gagasan besarnya. “Singapore Sling” disetarakan dengan gerakan anti diskriminasi terhadap pasar perempuan. Tidak hanya di kawasan Asia, bahkan di Australia, pemisahan ruang minum beralkohol antara laki-laki dan perempuan baru lebur sekitar tahun 1970-an.

            Kalau minuman keras beralkohol tinggi cukup pantas diminum kaum lelaki di bar-bar luar rumah, perempuan ditabukan ikut minum di tempat yang sama. Salah satu cara memperjuangkan perempuan mendapatkan “hak kursi”-nya di bar adalah dengan menciptakan sejenis cocktail, bukan bir atau wiski. Padahal inti utamanya, “Singapore Sling” tetaplah mengandung Gin, jenis alkohol yang disuling dari gandum atau malt dengan adonan buah juniper.

            Merujuk pada apa yang diperjuangkan Margaret Fuller (1810-1850), Harriet Martineau (1802-1876), Anglina Grimke (1792-1873), dan Susan Anthony (1820-1906), perempuan membutuhkan kesetaraan perlakuan. Tapi feminism paling moderat yang mereka perjuangkan masih menyisakah perbedaan spesifik yang tidak bisa disetarakan, yakni jika menyangkut reproduksi.

            “Singapore Sling” menjadi produk Perang Dunia yang fenomenal, karena menjembatani kaum Hawa dibenarkan secara etika nongkrong di kedai minum, sebagaimana laki-laki. Kebudayaan melihat paradigma ini sebagai sebuah zaman yang terus bergerak. Keterpihakan produk minuman itu, mulai dari pemilihan warnanya yang kemerahan, hingga bentuk gelasnya yang cantik ramping, menunjukkan bahwa cocktail itu diperuntukkan bagi perempuan.

            Nyatanya “Singapore Sling” tidak hanya untuk perempuan. Kini siapa saja boleh menikmatinya, negara sangat bangga dengan produk minuman ini. Meski “Singapore Sling” merupakan adopsi cocktail Amerika di masa lalu. Secara bawah sadar minuman itu ingin menanamkan kepada siapa saja yang singgah di Singapura, tetap ingatlah negeri itu ketika Anda meminum cocktail dengan merk apapun dan di manapun.

            Pelajaran meramu cocktail yang pertama bagi negeri itu sebelum mencapai kemerdekaannya. Kini resep itu dikenal luas secara internasional, sekalipun rasanya sedikit bergeser. Ngiam Tong Boon telah meletakkan dasar rasa percaya diri, bahwa resep minuman bisa turut menaikkan harkat kemuliaan bangsanya.

            Sejak tahun 2015, secara bisnis Long Bar dan produk yang dikelolanya melejit signifikan.Mata dunia terbelalak, bukan semata-mata karena rasa cocktail itu yang luar biasa, melainkan brand-nya. Sampai-sampai sutradara Yunani, Nikos Nikolaidis pada tahun 1990 merilis film dengan judul sama. Film hitam putih itu temanya merupakan percampuran antara komedi dan erotisme. Berbarengan dengan itu, dunia dibuat bertanya-tanya, rasa dan sensasi apa yang ditimbulkan “Singapore Sling” sehingga dunia tergila-gila.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media

 

Quotes: 

“Singapore Sling” terdiri atas Cherry Liquer, Benedictine, Gin dan Jus Delima. Efek busa ditimbulkan oleh nanas Sarawak yang dikocok ke poco grande. (Ngiam Tong Boon, Peracik pertama “Singapore Sling.”)

 

  • Dimuat di Koran Pagi Wawasan, Sabtu 1 Oktober 2016.

  • view 352