Masa kecil

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Maret 2016
Masa kecil

Dibesarkan di desa terpencil yang jauh dari kebisingan memberikan kenangan yang sangat indah. Kehidupan biasa, normal seperti yang lainnya.. tinggal di rumah yang cukup luas dengan 2 kamar tidur bersama abah yang seorang guru SD dan mama yang lulusan SD. ?Abah seorang PNS Gol rendah tentunya dengan gaji yang sangat minim, hmpir tidak bisa memenuhi kehidupan kami. Mama seorang yang punya kemauan kuat dan gigih. Mama bertani seperti penduduk desa lainnya dan juga berjualan untuk membantu ekonomi leluarga. Dikala ?tidak ada kegiatan bertani mama berjualan macam-macam...musim buah-buahan, mama jual buah, jual telur dan ayam , jual sayur mayur ?dari hasik kebun dan ternak sendiri, ?pakaian . Mama juga menjahit pakaian kalau ada yang minta dijahitkan.

Bagi mama dan abah, pendidikan anak-anaknya yang paling penting. Pagi Aku bersekolah di SD tempat abah bertugas, siang hari aku sekolah madrasah ibtidayah yang hampir semua mata pelajaran agama seperri baca tulis al Quran, bahasa arab, fikih, dll. Malam hari aku masih diharuskan pergi mengaji al Quran ke rumah Kai.

Libur sekolah diisi dengan membantu mama abah di sawah. Membersihkan rumput, menanam padi atau sayuran, memanen atau ikut mama berjualan tak jarang aku seorang diri mengayuh jukung menjajakan sayur mayur hasil petikan dikebun. Alat transportasi yang ada disitu hanya jukung dan kelotok. Jangan membayangkan ada angkot atau sepeda, jalan yang da hanya jalan setapak berlumpur dimusim hujan. Kemana-mana menggunakan jukung alat transportasi paling murah, mengandalkan tenaga mengayunkan tangan mendorong pengayuh. Kami mengenal Pesawat terbang yang melintasi desa kami. Kami sangat senang bila pesawat sedanv melintas, kami melambaikan tangan beramai-ramai seolah orang yang ada di dalamnya bisa melihat kami

Anak-anak di desa ini tidak mengenal sepeda ataupun sepatu begitupun aku. Ke sekolah jalan kaki berkilo-kilo meter dan menyeberangi sungai menggunakan jembatan tali atau berjukung. Kaki belepotan lumpur. Olahrga yang kami lakukan senam sehat jasmani, bermain bola volly atau bola kasti. Permaian bulu tangkis hanya dimainkan oleh orang dewasa.

Disela-sela kesibuka bersekolah ataupun membantu orangtua, aku menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman sebayaku. Kami bermain lompat tali bukan tali dari karet tapi pelepah daun pisang kering yang direndam beberapa jam, kasti dengan bola yang kami buat dari daun kelapa dan berenang di sungai permainan yang tidak kami ketahui sebagai cabang olah raga. Kami juga bermain ayunan, boneka yang kami buat sendiri dari jerami, kelereng, intingan, logo yang dibuat dari batok kelapa. Semua bahan yang ada di alam, kami tidak mengenal permainan seperti ps, game watch, video game apalagi game online. Kami tak pernah mengenal permainan yg bermotor baterai atau listrik. Kami mnciptakan sendiri alat bermain yang sederhana. Aku orang yang tidak bisa membiarkan peluang lepas begitu saja. Seperti pada musim bermain kelereng, selain ikut bermain kelereng, aku juga menjual kelereng.

Kakekku yang biasa kami sapa kai termasuk orang yang cukup kaya di desa kami. Kai pemilik mesin genset satu-satunya disana. Rumah kai diterangi listrik dan juga rumah kami. Kai juga menghadiahi kami sebuah TV hitam putih 14" . Jadi selain kai, kami ?rumah ke dua yang memiliki tv yang menjadi hiburan. Aneka Ria safari, pertandingan bola, film kartun si unyil dan telenovela 'Little Missy acara favorite yang ditunggu- tunggu. Orang-orang di desa kami berbondong-bondong menonton tv di rumah kami yang aku anggap peluang bukan pengganggu. Permen, kerupuk dan kacang goreng menjadi andalanku untuk mendapatkan keuntungan dari mereka.

Beberapa kali dalam setahun ada penayangan film layar tancap gratis dari dinas penerangan dalam rangka sosialisasi KB, dll. Duduk berjejer di lapangan berumput itu sudah merupakan kemewahan bagi kami.?

Aku dan penduduk desa menikmati kehidupan kami yang sangat sederhana, jauh dari kebisingan dan jamahan teknologi. Kami tak perlu merisaukan hari esok, hanya menjalani setiap detiknya.

  • view 112