Keajaiban

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Februari 2016
Keajaiban

alunan nyanyian dari handphoneku membangunkanku disubuh yang dingin. "kesehatan Abah drop lagi" suara kakakku diujung telepon. aku bergegas mandi dan sholat subuh. Sesampai di rumah aku liat abah yang seperti bukan dirinya. tubuhnya begitu ringkih dan beberapa ingatan seolah terbang entah kemana.

"sekarang juga kita bawa abah ke rumah sakit, perlengkapan kita ambil nanti saja"ujarku. Tiba di IGD rumah sakit, paramedis itu dengan sigap memeriksa dan memasang beberapa peralatan. Dokter muda itu menginformasikan Abah harus dirawat di rumah sakit.

Sore itu kakak dan aku berbincang di dpn kmr perawatan karena tidak ingin membangunkan Abah yang sedang tertidur. adzan magribpun berkumandang," Abah...bangun dulu, adzan magrib." tapi tidak ada sahutan hanya suara mendengkur yang cukup keras. aku tepuk-tepuk ringan lengannya, tetap tidak reaksi bahkan badan seperti kaku. "ini seperti bukan tidur" mama mengejutkanku.?

perawatpun berdatangan memeriksa"tekanan darahnya 60/50, hubungi dokter!". selang beberapa menit dokter datang."Bapak ini sudah koma",Dokter memberitahukan. Dia menekan dada Abah dengan kuat tapi tidak ada reaksi. Mama berusaha menghentikan dokter itu"jangan..kasian,nanti dia sakit"."tidak bu, kami berusaha menyadarkan Bapak dari koma"jelasnya. tapi abah tetap bergeming, dokter itu memeriksa mata abah, tidak ada gerakan apapun dimatanya. Dua selang infus dipasang dilengan kanan dan lengan kiri abah. selang oksigenpun kembali dipasang.

Dokter memanggilku"ada yang harus kami sampaikan berkenaan dengan kondisi bapak. Bapak sudah koma dan tekanan darahnya sangat rendah. kami telah memasang infus untuk mengembalikan tekanan darah Bapak. kita akan melakukan pengambilan sampel darahnya untuk dibawa ke laboratorium. tim kami juga sudah menghubungi ruang ICu untuk Bapak, tapi saat ini ruang ICU sedang penuh dan pendaftaran untuk Bapak diantrian nomor tiga. kami telah mengupaya apa yang bisa kami lakukan. kalau bisa, keluarga dikumpulkan. kami masih berharap Bapak bisa sembuh tapi perlu bu Hana ketahui kondisi Bapak saat ini bisa dikatakan 50-50, terus lah berdoa.

suasanapun menjadi begitu mencekam. tangisan mama dan kak uzi pecah diantara ketegangan, kebingungan dan kesedihan kami. airmataku pun luruh. aku berusaha tegar,ku cari nama ivan dari no kontak di Hpku."Abah..... kembali lah ke rumah sakit, Kak. kondisi abah sudah...koma,"dengan suara terputus-putus menahan tangis. Dan entah karena Kak Ivan tidak mendengar teleponku sampai selesai atau karena kekalutannya, dia langsung mengabari kerabat kami bahwa Abah kami meninggal.

abah masih koma dan ICU masih penuh. ingatanku pun mundur beberapa tahun lalu. aku dan gusti dapat giliran menunggui suami salah satu dosen kami,sebut saja pak Bambang di rumah sakit ini. Kami belum mengenal beliau sebelumnya. beliau koma sejak dibawa ke rumah sakit jadi kami tidak pernah berkomunikasi dengan beliau. suhu tubuhnya tinggi, tiap 10 menit kami kompres dengan air dingin. sore itu, jadwal pemeriksaan, dokter yang bertugas saat itu langsung menyuruh kami menghubungi salah satu keluarga Pak Bambang, karena kondisi beliau sudah kritis. kami bingung, tidak tau harus menghubungi siapa, istri beliau sedang berada di Malang. "Pak Bambang sudah tidak tertolong, kami akan melepas semua peralatan ditubuhnya",dokter memberitahu kami. kami hanya bisa menatap?tarikan nafas terakhirnya.

"assalamu alaikum".paman memberi salam. membuyarkan ingatanku" wa alaikum salam."sahutku. kondisi abah belum berubah, tidak ada gerakan hanya dengkuran yang menurut dokter itu hal biasa terjadi pada orang yang mengalami koma. mama tidak semenitpun menjauh dari ranjang tempat abah terbaring.

Aku baca Surah Yaseen ayat demi ayat. ku ulangi sampai 41x dan berdoa "ya Allah hamba ikhlas menerima apapun keputusanMu, jika Engkau memanggil abah saat ini adalah yang terbaik maka berikanlah kemudahan untuk abah dan apabila saat belum waktunya abah menghadapMu, berilah abah kesembuhan." aku terus mengajak abah berkomunikasi walaupun tidak ada reaksi. Jam telah menunjukan pukul 02.30 pagi aku liat ada sedikit gerakan pada kelopak matanya. "Abah, buka lah mata Abah."berulang-ulang kuucapkan. Abah menyahut dengan suara yang amat pelan hampir tak terdengar "gak bisa membuka mata, berat rasanya".?

?segera ku panggil dokter yang sedang jaga. Dokter itupun mengajak abah berkomunikasi sembari memeriksa kondisi Abah. "tekanan darahnya membaik tapi Bapak masih memerlukan transfusi darah." dokter menjelaskan hasil dari laboratorium. "Kalau sudah ada darahnya segera beritahu kami." akupun bergegas ke PMI membawa sample darah Abah.?

Dokter kembali memanggilku dan menjelaskan kondisi abah saat ini sudah melewati masa kritis tapi kita tidak boleh lengah karena tiap saat abah bisa kembali tidak sadar. dan benar saja, sore itu abah kembali koma namun kali ini aku tidak sepanik kemarin. Ruang ICU masih penuh, abah tidak bisa dirawat disana.?

sore ini kami lewati dengan kecemasan akan kondisi abah. Alhamdulillah menjelang adzan magrib abah sadar dari koma. selang- selang infus masih menancap di kedua lengan abah dan selang oksigen juga masih terpasang. "kapan kita pulang?" tanya abah. kami berusaha menjelaskan abah belum boleh pulang. Abah masih membutuhkan semua peralatan dan obat-obatan itu.Entah apa yang ada dibenak abah, dia terus meminta pulang walaupun kondisinya sangat lemah, untuk membalikkan badannya saja harus dibantu.

selepas sholat isya dokter kembali memanggilku. ini sudah ke dua kalinya Bapak bisa lepas dari masa kritisnya, ini sungguh luar biasa, ajaib Bapak bisa melewatinya. Bapak masih harus dirawat sampai kondisi benar-benar stabil. namun kami tetap mengingatkan, walaupun Bapak sembuh tapi kondisinya tidak akan kembali seperti semula.?

sepuluh hari abah dirawat di rumah sakit. abah sudah tidak sabar ?ingin pulang. selama sebulan abah cuma bisa rebahan dan duduk, berjalan harus dipapah bahkan unutk keperluan 'ke belakang'. mama adalah istri yang luar biasa, merawat abah sendirian karna kami anak-anaknya tidak bisa merawatnya terus menerus. lepas sebulan abah sudah bisa berjalan menggunakan tongkat. kondisi abah jauh lebih baik dari yang diperkirakan dokter. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa-doa kami. keajaiban itu ada.

?

?

?

?

Foto diambil disini

  • view 101