Balada Cinta Oedipus Kompleks 4

Balada Cinta Oedipus Kompleks 4

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Oktober 2016
Balada Cinta Oedipus Kompleks 4

Di cermin itu aku melihat bayangan diriku sendiri. Betapa anggun mempesona dengan seulas senyum manis tersungging di bibirku, melebihi senyum pramugari. Tetapi aku merasa masih ada yang kurang. O ternyata wajahku masih belum dirias, masih polos tanpa make up apa-apa, karena aku memang baru saja selesai mandi. Sebenarnya tanpa dirias pun menurut mantan suami dulu wajahku sudah cantik alami. Meski tidak cantik-cantik amat, tapi lumayanlah buat dikagumi dan diidamkan. Itu juga kata mantan-mantan suami dulu. Tetapi namanya juga perempuan selalu ingin tampil lebih cantik di depan lelaki idaman hatinya. Aku juga sama, ingin tampil lebih cantik lebih memukau di depanmu. Maklumlah aku sudah tidak muda lagi. Untungya kau termasuk tipe lekaki yang memang menyukai perempuan yang lebih tua. Dan aku? Aku memahami itu, aku melayani keinginanmu itu. Beres kan?
.
Pelan-pelan kuambil bedak bermerek kesukaanku yang baru saja kubeli beberapa hari lalu. Sambil bercermin kupoles dahiku sedikit, pipi dan dagu sedikit. Sebenarnya tanpa bedak pun wajahku sudah manis bening merona dan menggemaskan. Itu juga kata mantan-mantan suamiku dulu. Kemudian kuambil lisptick yang juga baru kubeli. Apakah bibir ini harus dipoles lipstick juga? Ataukah tidak perlu? Sebenarnya bibirku ini lebih manis tanpa lipstick. Karena kata mantan suamiku dulu bibirku yang tipis selalu basah ini lebih eksotik tanpa lipstick. Tetapi rasanya aku masih kurang PD jika tidak menggunakannya. Bukankah pagi ini aku ingin tampil beda di depan lelaki yang sudah mencuri hatiku ini? Bukankah pagi ini aku ingin kau benar-benar terpukau dan terpesona? Itulah sebabnya mengapa aku perlu memakai kaos oblong dan jeans saja. Karena dengan memakai kaos oblong leher dan tanganku lebih terbuka, dan kau lebih leluasa menikmati betapa beningnya kulitku ini, betapa indahnya lekuk tubuhku ini. Kau suka kan? Meskipun demikian aku tetap harus bersolek, tentu hanya seperlunya saja. Karena aku ini memang suka yang sederhana saja. Aku tidak suka merias wajah begitu norak dan berlebihan.
.
Selesai bersolek aku kembali berputar-putar di depan cermin bagai seorang pragawati. Ternyata masih ada yang kurang. Ternyata daun telingaku yang indah, leherku yang jenjang, pergelangan tanganku yang mulus lembut, jari manisku yang lentik. Semuanya pasti menawan, pasti memukau. Tetapi di sana tak ada apa-apanya, tak ada perhiasan sama sekali. Padahal yang satu ini biasanya tak pernah dilupakan oleh setiap perempuan. Termasuk juga aku. Meski usiaku sudah berkepala empat aku tetap ingin tampil memukau di depanmu.
.
Kulihat sekali lagi ke dalam cermin itu. Jelas sekali di sana tak ada kalung yang menggantung di leherku, tak ada subang atau anting-anting yang menghiasi daun telingaku, tak ada gelang yang melingkar di pergelangan tanganku dan tak ada cincin yang melingkar di jari manisku. Haruskah aku polos begini saja? Haruskah aku tampil begini saja? Tentu saja tidak. Sebagai seorang perempuan tentu aku ingin melengkapi asesoris tersebut pada diriku. Dan itu tidak sulit, karena aku punya semuanya. Emas, intan, berlian semuanya ada. Temasuk juga satu set lengkap perhiasan berpermata batu kecubung ungu elegan kesukaan mantan suamiku yang ke dua dulu. Aku tinggal pilih mana yang aku suka. Sayangnya aku tak tahu mana yang kau suka. Untuk lebih terlihat lebih sederhana aku pilih satu set perhiasan batu kecubung asli berwarna ungu elegan. Perhiasan ini memang jadul tapi hanya inilah perhiasan yang paling aku suka untuk menemuimu. Satu set perhiasan kecubung yang terdiri subang, kalung, gelang dan cincin semuanya perhisan emas dengan permata kecubung asli berwarna ungu elegan. Meski sedikit ragu akhirnya aku pilih memakai perhiasan ini. Dengan penuh percaya diri aku melangkah lembut bagai Puteri Indonesia menemuimu, lelaki idaman hatiku yang barangkali masih termangu sendiri di beranda.
.
“Kak Bram.”
.
Tiba-tiba aku kembali menyapamu dengan sapaan yang tidak seperti biasanya. Kulihat kau terkejut, terkesima dan mematung seraya matamu menatap tajam penuh kekaguman pada diriku yang baru kali ini tampil beda di depanmu. Hatiku pun jadi berbunga-bunga saat melihat kau terpukau memandang dan mendengarku begitu manjanya memanggilmu Kak Bram. Aku sadar, meskipun usiaku lebih tua tetapi dalam posisimu sebagai calon muhrimku kau berada di atasku. Kau adalah calon imamku, jadi aku merasa lebih tepat jika aku memanggilmu Kak Bram.

“Kak Bram,” panggilku sekali lagi.
.
Kulihat kau masih terkesima dan tak mampu bicara. Matamu nampak berbinar-binar takjub terpesona menatapku. Aku pun semakin mendekatimu yang diam bagai patung dengan tatapan matamu yang masih tak berkedip.
.
“Kak Bram. Kak Bram!” panggilku sedikit keras dan semakin manja.
“A .. a apa,” sahutmu bingung terbata-bata.
“Kok Kak Bram bingung gitu? Kenapa?”
“Hehehe, bingung ya?”
“E malah balik nanya? Kenapa Kak Bram?”
“Ya bingung aja. Habis .. pian sih.”
“Pian sih apaan Kak Bram?”
“Nah tu kan?”
“Tu kan apanya Kak Bram?”
“Kak Bram? Kak Bram jar pian?”
“Ya Kak Bram. Kenapa?”
“Ya bingung aja.”
“Kok bingung? Memangnya Kak Bram tidak suka ya dipanggil Kak Bram?”
“Suka, suka banget. Tapi …”
“Tapi apa Kak Bram? Aku lebih tua? Apakah Kak Bram tidak suka karena aku tidak semuda mahasiswi-mahasiswi itu?”
“Bukan. bukan begitu.”
“Lalu masalahnya apa?” tanyaku semakin genit.
“Ya selama ini kan pian kada biasa menyapa ulun kaya itu. Biasanya kan pian menyapa memanggil Bram? Tiba-tiba berubah menjadi Kak Bram. Ada apa ya? Kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa. Cuma …”
“Cuma apa?”
“Ya … anu … anu.”
“Anu apa?”
“Anu … ya anu-anu. Hahaha.”
“Kok anu-anu?”
.
Sementara kau masih bingung aku cepat menarik tanganmu dan membawamu masuk. Dan ternyata kau sama sekali tidak menolak, kau mau saja menuruti ajakanku untuk masuk. Tetapi tiba-tiba saja ibuku yang sudah renta itu telah berdiri memandang ke arah kita. Kulihat kau langsung bungkam bagai api disiram air. Sedikitpun tak menyangka akan tertangkap basah seperti ini.

Aku merasa dadaku berdebar-debar. Aku tak pernah merasa setakut ini. Sudah pasti ibuku dapat melihat bahwa mukaku ini pucat pasi seakan tak beradarah. Begitu juga denganmu. Kau juga takut melihat wajah ibuku yang nampak sedikit sangar. Wajah ibuku ini merah bagaikan api yang berkobar-kobar. Meski nampaknya beliau tidak menghiraukan kami berdua. Tetap saja aku tak berani mengangkat muka. Demikian juga kau. Kau juga sama seperti aku. Kau njuga sama tak berani mengangkat muka kan?Iya akan?.

Ibuku menutup pintu lalu menyalakan AC dan selanjutnya duduk di kursi yang ada di kamar tamu ini. Biasanya di kamar tamu yang merangkap, kios dan warung makan ini hanya kipas angin yang dinyalakan. Karena tidak efektif menggunakan AC di ruangan terbuka. Itulah sebabnya ibu menutup pintu agar AC-nya bisa digunakan.
.
Ibu masih tak bicara apa-apa, dan kami pun masih gugup dan takut. Lebih-pebih lagi saat ibu menatap kami berdua. Aku mencoba mencuri-curi pandang, nampak beliau memperhatikan kami dari kepala sampai ke kaki. Lalu kembali ke bagian atas lagi dan berhenti sambil menatap kedua tangan kami yang masih berpegangan.
.
“Ekhem ekhem,” ibuku berdehem berpura-pura mau batuk.
.
Aku paham bahkan sangat mengerti bahwa itu adalah isyarat pasti ada sesuatu yang kurang layak dipandang mata. Ternyata benar. Aku masih memegang tanganmu yang masih belum kulepaskan saat kumengajakmu masuk tadi. Aku mengerti maksud ibu bahwa kita masih tidak boleh pegang-pegangan seperti ini. Kan belum muhrim? Nanti kalau kau sudah jadi muhrimku, jangankan pegang-pegangan lebih dari ini juga boleh. Bahkan seluruh jiwa dan ragaku akan jadi milikmu. Apapun yang kau mau akan kuberikan. Kapanpun kau mau. Lebih-lebih lagi kalau kita sama-sama mau. Pasti akan lebih seru. Iya kan?
.
Cepat kulepaskan pegangan tanganku. Tetapi baru saja lepas, buru-buru tanganmu kutarik lagi dan mengajakmu duduk. Ternyata kau mau saja kutarik-tarik. Aduh! Alangkah senangnya aku, ternyata kau juga mau kuajak duduk berdampingan dalam satu sofa. Waw! Betapa mesranya duduk berdampinan seperti ini. Aneh ada apa ini? Aku melihat ada linangan air mata membasahi pipi ibuku
.
Aku tahu itu bukan air mata duka, tetapi itu adalah air mata haru. Sepertinya ibu terharu melihat ada sesuatu yang tidak biasa. Selama menjanda ini aku tak pernah berdandan seperti ini. Apakah ibuku terharu karena selama ini tak pernah melihatku memakai satu set lengkap perhiasan dengan permata kecubung ungu ini? Tidak. Aku yakin bukan itu sebabnya. Aku ingat, ya sekarang aku baru ingat. Pasti ibu terharu melihatku duduk bersamamu yang sama persis dengan mantan pacarku sebelum disunting pengusaha kaya itu. Aku tahu, pasti ibuku ini menyesal dan merasa bersalah karena telah memisahkanku dengan mantan pacarku dulu. Pasti ibu merasa terharu karena telah mengawinkanku dengan lelaki seumuran ayahku. Pasti ibu terharu setelah tiga kali aku bersuami lelaki yang jauh lebih tua dariku, barulah sekarang kesampaian keinginanku bersuamikan lelaki muda, bahkan jauh lebih muda dari usiaku sendiri. Dan yang lebih istimewa lagi kau ini sebelas duabelas dengan lelaki cinta pertamaku dulu. Secara fisik sedikitpun tak ada bedanya, demikian juga dengan sifat-sifatnya. Apa yang ada pada mantan pacarku itu, juga ada padamu. Tingkah lakunya, senyumnya, pandangan matanya sampai tatapan matanya juga sama persis. Bahkan namanya pun mirip. Kalau mantanku dulu namanya Bram Baswenda, kau bernama Rickma Branta, tetapi panggilamu juga Bram. Hanya saja kau jauh lebih muda, bahkan usiamu lebih pantas menjadi anakku. Apakah mungkin kau putranya Bram Baswenda itu? Bisa jadi kan?
.
Tak terasa air mata ibu jatuh berlinang membasahi pipi yang sudah keriput itu. Padahal aku yakin ibu telah berusaha menahannya sekuat hatinya, tetapi tetap saja tak mampu membendung linangan air mata yang deras bagai air bah itu. Kau dan aku yang tadinya pasrah kini malah bingung tak tahu mengapa ibu menangis. Iya kan?

“Nek, ada apa nek?” tanyamu memberanikan diri meski kau masih kebingungan.
“Ma, Pian garingkah?” tanyaku ikut-ikutan memberanikan diri.
“Kada, kada apa-apa. Cuma kalimpanan,” jawab ibu berbohong. Padahal yang sebenarnya ibu itu menangis.
.
“Nak, sudah lawaskah ikam datang?” tanya ibu mengejutkanmu.
“Tidak juga, kira-kira seperempat jam saja, Nek,” jawabmu berbohong.

Aku tahu ibu hanya pura-pura tidak mengetahui, padahal ia juga paham dan sangat mengerti bahwa kamu itu berbohong. Karena melihat dandananku yang rapi serasi benar dengan warna T-Shirt dan jeans yang kaupakai ini. Ditambah lagi dengan satu set perhiasan berpermata kecubung ungu yang elegan itu. Tentu pantas dipertanyakan. Masa hanya seperempat jam mampu sesiap dan serapi itu? Itu tidak mungkin kan? Karena memilih dan mempertimbangkan semua itu, bagi seorang wanita pasti tidak cukup setengah jam. Tetapi ia tetap berpura-pura tidak mengetahui itu. Ia mau saja kaubohongi ini. Kenapa? Karena ia juga sudah terlanjur sayang padamu, seperti juga aku menyayangimu. Tentu saja itu karena ibu sangat menyesal telah memutuskan silaturrahmi cintaku dengan Bram cinta pertamaku dulu.
.
Seandainya saja yang duduk ini bukan kau, sudah pasti ia marah besar. Tetapi lelaki ini adalah kau orang yang sudah direstuinya menjadi suamiku yang ke empat. Kini ibu berusaha menenangkan hatinya. Setelah benar-benar tenang setenang-tenangnya, barulah ia sadar, sebaiknya kita bicara dari hati ke hati di sini mumpung warung lagi sepi. Sepertinya ibu ingin memberikan keleluasaan waktu kepada kita. Bukankah ia juga harus mampu ikut melancarkan ikatan cinta kita?
.
“Silakan kalian ngobrol disni, aku mau ke dalam.”
“Ya Nek,” jawabmu takzim.
.
Kulihat ibu berdiri lalu masuk ke ruangan dalam membiarkan kita berdua di warung yang lagi sepi pelangggan ini. Kini hanya tinggal kita berdua, karena memang tak ada pelanggan di sini. Aneh, kenapa aku ingin warung ini sepi seperti ini sampai siang dan sore ini, bahkan kalau perlu sampai malam hari. Kenapa? Karena berduaan bersamamu lebih menyenangkan. Bahkan aku ingin berlama-lama duduk bersamamu. Kenapa? Karena kau adalah lelaki idaman hatiku yang bukan hanya mampu mencuri hatiku, tetapi juga mampu merampok hatiku.
.
“Kaki Bram mau minum apa?” tanyaku memecah kesunyian ini.
“Ulun minum apa saja lah, Cil ai.”
“Lho, Cuma itu? Nggak mau kopi? Susu? Atau mau minum susu asli. Susu yang ini benar-benar asli lho? Boleh diminum, disedot atau kalau Kak Bram mau, diemut juga boleh. Beneran lho? Ini nggak bohong. Pasti mau kan? Iya kan? Mau kah?”
“Ah Acil ngomongnya gitu. Nggak mau ah.” Jawabmu malu-malu.
“Ngak mau atau mau? Jangan gitu ah. Kalau mau bilang mau, kalau nggak mau juga harus bilang mau. Itu yang Abang mau kan? Iya kan Bang?”
“Lho? Kenapa Abang?”
“Lho Ayang Bram nggak suka ya ayang panggil Abang?”
“Aneh aja.”
“Aneh kenapa Bang?”
“Ya aneh aja, baru saja memanggil kak Bram, eh sekarang tiba-tiba saja berubah jadi Abang. Kenapa?”
“Ya giitu dekh.”
“Giitu dekh kenapa?”
“Ya .... merasa enak aja kalau memanggil Abang.”
“Kalau Kakak? Nggak enak? Gitu?”
“Baru kepikiran aja kalau panggilan Abang itu kedengarannya lebih asyik, lebih mesra. Rasa kaya gimanaaaaa gitu?”
“Lalu? Kalau panggilan Kakak?”
“Kalau panggilan kakak, rasanya aneh ja. Lagi pula kesannya seperti bersaudara aja. Ya panggilan bersaudara antara adik dan kakak.”
“Kalau Abang?”
“Itu rasanya lebih intim lebih mesra.”
“Lho? Kalau Acil meanggil ulun Abang, lalu ulun memanggil apa sama Acil?”
. “Yaa apa ya? Panggil apa aja lah.”
“Nggak bisa begitu dong, harus ada juga panggilan yang lebih mesra.”

  • view 309