Balada Cinta Oedipus Kompleks 3

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Oktober 2016
Balada Cinta Oedipus Kompleks 3

Sebagai wanita dewasa yang sudah berpengalaman dalam dunia cinta, bahkan sudah tiga kali menjanda, tentu saja aku dapat menangkap dengan pasti tanda-tanda jatuh cinta itu pada diri si Bram mahasiswa yang telah mencuri hatiku itu. Bahkan aku dapat merasakan ada perasaan lain yang mengarah padaku untuk menjalin hubungan yang lebih serus dan lebih intim lagi. Feelingku juga dapat merasakan bahwa ia bukan hanya menyukaiku tetapi juga nenyangiku dan bahkan mencintaiku. Itu jelas terlihat dalam tingkah lakunya belakangan ini. Bahkan aku dapat melihat dengan pasti ada tatapan kecemburuan di matanya saat ada lelaki lain, lebih-lebih lagi lelaki yang seumuranku mencoba PDKT. Anehnya lagi aku sangat menikmati semua itu. Aku sangat menikmati tatapan kecemburuan yang nampak di matanya. Aku merasa jadi berbunga-bunga saat melihat api cemburu itu panas membara di matanya. Akibatnya aku lupa bahwa aku bukan lagi gadis remaja yang suka dimanja. Aku lupa bahwa aku adalah wanita yang sudah tidak muda lagi. Bahkan aku lupa bahwa aku adalah wanita dewasa yang sudah tiga kali menjanda. Kenapa? Karena saat bersama mahasiswa ini, aku merasa seakan-akan seumuran dengannya, aku merasa jadi muda kembali, aku merasa seperti ABG lagi yang ingin dipuja dan dimanja, bahkan aku sangat membatin merasa melayang di awang-awang karenanya.
.
Sepertinya mahasiswa ini adalah tipe lelaki yang menyukai pasangan wanita yang lebih tua darinya, bahkan wanita yang seumuran ibunya. Mungkinkah mahasiswa ini seorang Penderita Oedipus Complex. Ya itu benar, dia memang seorang Penderita Oedipus Complex. Terkadang ada juga rasa kasihan melihat kelainan pada jiwa mahasiswa itu. Seharusnya ia itu lebih pas jika mencitai wanita seumurannya. Bukannya mencintaiku yang seumuran ibunya? Tetapi di sisi lain aku juga sangat menikmati kelainan jiwanya itu. Jarang-jarang ada orang yang seperti dia. Bahkan aku tak pernah merasakanya selama ini. Karena ketiga mantan suami dulu, semuanya lelaki hampir seumuran ayahku. Kini aku benar-benar tak peduli semua itu. Yang penting aku dapat mengecap kembali saat memadu cinta ABG-ku yang terbuang karena buru-buru disunting pengusaha kaya saat aku masih remaja dulu.
.
Seingatku saat dipersunting pertama kali usiaku masih sangat muda. Bahkan menurut undang-undang yang berlaku aku masih di bawah umur. Tetapi kenapa lelaki yang hampir seumuran ayahku itu bisa terlepas dari jeratan hukum? Ternyata itu akal-akalan orangtuaku saja. Tanggal kelahiranku sengaja dirubah menjadi lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Padahal aku kan wanita normal, sama dengan gadis lainnya. Aku juga mendambakan seorang suami yang seumuran, paling tidah hanya lebih tua dua atau tiga tahun saja. Bukan lelaki bandotan yang seumuran ayahku. Tetapi sebagai anak petani miskin, aku pasrah dengan keinginan orang tuaku. Demikian juga degan suamiku yang ke dua dan yang ke tiga juga lelaki tua yang seumuran ayahku. Akibatnya masa mudaku hilang begitu saja. Aku malu pada dunia, aku malu pada teman-temanku, lebih-lebih lagi aku malu pada lelaki muda yang pernah kutolak cintanya. Akhirnya aku menjadi pendiam.
.
Setelah aku menjanda yang ke tiga kalinya, tiba-tiba saja ada angin segar datang menyelinap dalam hatiku. Tiba-tiba saja ada mahasiswa yang tinggal di bedakanku itu menyukaiku. Tiba-tiba saja ada salah satu anak kuliahan itu yang telah mencuri hatiku. Aku sadar bahwa usianya lebih pantas menjadi anakku dari pada jadi suamiku. Meski demikian aku sangat menyukainya, bahkan aku sudah membatin begitu dalam mencintainya. Ternyata bukan aku saja yang suka dia, tetapi dia juga suka aku, dan bahkan sangat menyukaiku. Itu jelas terlihat pada sikap dan prilakunya akhir-akhir ini.
.
Bukankah ia begitu setia berlama-lama menungguku membuka jendela setiap pagi? Itu sudah cukup bagiku menarik kesimpulan bahwa ia juga tertarik padaku. Aku tidak perduli apakah ia tertarik dengan wajahku yang tidak secantik artis selebritis itu? Ataukah ia sama seperti mantan suamiku dulu tertarik pada kemontokan tubuhku yang menggemaskan ini.
.
Aku masih ingat saat itu ia terlihat malu-malu mengintipku dari balik jendela kamarnya. Aku tahu itu, bahkan aku tahu ia begitu sabar menunggu datangnya pagi yang indah. Aku pun jadi bertanya-tanya di dalam hati. Sebenarnya apa yang membuatnya jadi begitu sabar menungguku membuka jendela setiap pagi? Apakah karena pakaianku yang begitu minim? Ya aku tahu itu. Aku memang sengaja berbuat seakan-akan tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata elang yang sedang mengintipku dari balik jendela. Bahkan begitu bangun tidur aku langsung membuka jendela. Ternyata ia sudah siap mengintipku dari balik jendela. Aku pun pura-pura tidak mengetahuinya. Tetapi saat yang istimewa itu beda, aku tampil lebih seksi dengan pakaian lebih minim dari biasanya. Meskipun seperti baru bangun tidur, tetapi aku tidak lupa bersolek seadanya. Entah kenapa aku jadi norak begitu?
.
Saat itu pelan-pelan kubuka jendela, lalu aku sengaja menggeliat mengarah ke jendela kamarnya. Aku sengaja memeramkan mata seperti masih mau tidur, tetapi di balik meramku itu aku jelas melihat jendelanya terbuka. Kulihat jelas dia menatap tajam ke arahku. Aku pun membuka mata menatap balik ke arahnya. Tiba-tiba saja kami berpandangan kami bertatapan. Lalu sekonyong-konyong dadaku terasa degdegan, jantungku berdetak lebih kencang tak beraturan. Lebih-lebih lagi saat kami beradu pandang saling tatap tanpa berkedip sedikit pun. Waw! Aku merasa ada gemuruh menggelagar dalam dadaku, aku jadi serba salah, Denyut jantugku jadi semakin kencang, nafasku menjadi ngos-ngosan saat kumelihat dia terpesona dan terpukau melihatku dengan keadaan setengah ‘itu’. Kami hanya berpandangan, kami hanya bertatapan tanpa bicara sepatah kata pun. Bicara hanya antara mata, dan bermesraan hanya antara hati. Waw! Jatuh cinta berjuta rasanya. Oi alangkah indahnya, hati ini jadi berbunga-bunga.
.
Sejak saat itu aku merasa perlu membebaskan sewa dan dia tidak perlu lagi membayar untuk tinggal di bedakanku ini. Aku juga telah mengratiskan apa pun ia santap di warung makanku ini. Dia bisa sarapan pagi, makan siang dan makan malam dengan gratis. Apa pun yang dia perlukan di kiosku ini, ia bisa mengambil apapun yang ada di kiosku ini. Kini aku benar-benar menginginkannya. Aku merasa dia adalah belahan jiwaku. Kini aku merasa Bagaikan Siti Khadijah r.a yang sangat mencintai rasululah. Aku juga merasa seperti Siti Khadijah r.a yang rela berkorban apa saja demi perjuangan Nabi Muhammad SAW. Aku juga rela berkorban apa saja demi perjuangan mahasiswa itu menyelesaikan kuliahnya, demi masa depan, demi karir dan usaha di dalam kehidupannya. Apa pun yang ia mau akan aku berikan. Apapun yang ia perlukan akan aku cukupi. Termasuk apa yang diperlukannya di kamar bedakan ini. Aku telah membelikan tempat tidur yang mewah, lemari pakaian yang bagus. Termasuk juga memberikan pelayanan ektra kemudahan dalam hal MCK.

***

Pagi ini kau sarapan pagi di warungku. Seperti biasa kesajikan nasi kuning dengan lauk ayam masak habang porsi jumbo dan gratis. Aku suka, ternyata kau tidak menolak. Bahkan kau telah menambah satu porsi lagi dan menghabiskannya secepat itu. Apakah ini suatu pertanda bahwa doa-doaku dikabulkan Allah? Waw, betapa senangnya aku melayanimu, seperti seorang istri yang melayani suaminya. ternyata kau juga suka layanan gratis ini.

“Acil menjanda lagi ya?” tanyamu ketika kau baru saja selesai makan.
“Ya, ini kali yang ketiga aku menjanda,” jawabku singkat sambil melempar senyum bagaikan seorang cewe ABG yang minta dimanja.
“Oh ya, bagaimana bisa begitu? Hm, apa tidak ada rencana menikah lagi?” tanyamu dengan tatapan mautmu lalu kau melempar senyum manismu yang langsung menembus jantungku. Waw! Aku jadi sumringah hampir saja aku jatuh pingsan mendengar pertanyaan yang berbarengan dengan senyum nakalmu itu.
“Maunya sih begitu, tapi usiaku sudah kepala empat. Mana ada yang mau?”
“Lho, Acil kan masih terlihat muda bahkan masih seperti seumuran Ulun Cil ai. Lagi pula pian masih terlihat cantik dan menggemaskan. Karena penampilan pian juga jauh lebih muda dari usia pian yang sebenarnya.”
“Oh gitu ya? Masa sih?”
“Iya benar Cil ai. Kalau Acil mau, masih banyak lelaki yang mau memperistri pian Cil ai.”
“Menurut kamu begitu?”
“Iya benar itu.”
.
Waw! Dadaku langsung berdebar-debar mendengar pujian yang sudah lama kutunggu-tunggu itu. Mengapa pujian itu baru kau ucapkan sekarang? Sejujurnya aku suka, karena yang kuinginkan itu adalah kamu. sayangnya ucapan itu tidak berlanjut, aku kecewa, bahkan amat sangat kecewa.
.
“Buktinya, nggak ada yang mau kan? Barangkali mereka semua takut meninggal sama seperti suami-suamiku itu.”
“Oh ya? Sepertinya sekarang, tak ada juga yang mau jadi istri seperti Pian ni Cil ai. Hakun balaki tuha seumuran abah pian. Meskipun ada yang mau, barangkali hanya suka sama hartanya saja.”
“Dari mana kamu tahu bahwa mantan suamiku itu seumuran abahku?”
“Kan Acil sendiri yang bilang.”
“Kapan?”
“O Acil lupa ya? Baru tiga hari yang lalu saat ulun makan malam di sini.”
“O Gitu ya? Ya begitulah nasib dari Acil. Maklum lah Acil ini tidak secantik mahasiswi yang sering datang ke kamar mu tu.”
“Cantik memang cantik, tetapi tak ada satu pun yang ulun suka.”
“Memang kamu sukanya yang kaya gimana?” tayaku sambil menatap penuh makna. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya mendengar pertanyaanku itu. Dia tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya diam. Tiba-tiba ia juga menatapku dengan tatapan penuh makna.
.
Waw! Ternyata ia juga menatapku dengan tatapan yang sama. Aduh hatiku jadi kelepak-kelepak kegirangan melihat tatapan matanya yang begitu menggoyang imanku. Tiba-tiba dadaku derdegup kencang, aku gugup, seluruh tubuhku gemetar dan basah kuyup oleh keringat dingin yang mengucur deras dari pori-pori kulitku. Kenapa? Karena tatapan ini sama betul dengan tatapan mantan suamiku dulu saat ia menginginkan sesuatu dariku. Dan akupun paham betul makna dari tatapan yang seperti ini. Waktu itu aku langsung memeluk manja dan menciumi suamiku dengan penuh gairah. Lalu aku minta digendong sama suamiku, Dan suamiku itupun paham betul kemana harus menggendongku. Ya kemana lagi kalau bukan ke tempat peraduan yang sudah siap menanti. O alangkah indahnya saat itu.
.
Sejujurnya saat ini aku juga ingin kau menggendongku dengan gairah yang sama. Tapi sayangnya kau masih belum jadi muhrimku. Aku ingin kau cepat-cepat menikahiku. Meski kuliahmu masih belum selesai, kau masih bisa menyelsaikannya setelah kau menjadi muhrimku.

Aneh, kenapa aku jadi serba salah begini ya? Padahal tak ada apa-apa. Seperti biasa kalau sudah pukul sembilan lewat, warungku ini sudah mulai sepi. Bahkan terkadang tak ada lagi yang mampir di sini. Para mahasiwa yang tinggal di bedakanku ini juga sudah pada pergi kuliah semuanya. Seperti biasa setelah sarapan pagi mereka langsung pergi. Termasuk juga kamu Bram sayang. Tetapi pagi ini aku merasa ada yang kurang. Karena kau tidak sarapan seperti biasa. Padahal aku sudah menyiapkan menu sepesial yang kumasak dengan bumbu rasa cinta. Ada apa ya? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu masih belum bangun? Atau Ayang Bram masih terlelap dalam mimpi indah bersama aku ya?
.
O ya, tadi malam itu aku mimpi sama kamu lho? Mimpi itu, ya mimpi menikmati malam pertama bersamamu. Ah aku jadi malu. Masa harus aku kasih tahu sama kamu? Itu kan rahasia? Oh alangkah indahnya jika mimpi itu menjadi kenyataan. Dan yang lebih membuatku rasa melayang mengawang-awang di udara karena ada sesuatu yang masih terasa sampai pagi ini. Itu adalah saat kaubuat tanda cupang di leherku. Meski itu hanya sebuah mimpi, meski itu hanya bunga tidur tetapi nikmatnya masih terasa sampai saat ini. Beneran lho? Sungguh, aku tidak bohong. Bahkan aku cepat-cepat bangun lalu bercermihn. Siapa tahu tanda merah itu benar-benar ada di leherku. Aku henar-benar bercermin. Kuamati leherku dengan seksama, ternyata tak ada apa-apa. Tetapi mengapa ya? Aku masih merasa tanda merah itu ada di leherku. Kuamati sekali lagi, kalau-kalau ada tanda merah itu, ternyata memang tak ada apa-apa.
.
Aku bingung. Apakah aku harus mandi junub? Menurut ustadzah panutan kami di komplek ini, jika terasa ada lendir di bagian anuku, aku wajib mandi. Sebaliknya jika tidak ada lendir di sana, tidak wajib mandi. Itu berarti aku wajib mandi. Karena aku sungguh amat sangat menikmati mimpi itu. Dan aku juga merasa benar-benar ada lendir di bagian anuku. Cepat-cepat aku ke kamar mandi.
.
Sebelum mengguyurkan air ketubuhku, sesuai pengajian kami di majlis ta’lim aku harus mengambil air udhu. Tetapi tidak sampai membasuh kaki. Langsung disambung dengan mandi junub. Tentu saja tak lupa aku mengkasabkan niat mandi junub di dalam hati. Setelah selesai dan bersih dari hadast besar, aku pun bersiap-siap untuk sholat shubuh.
.
Pagi ini aku sedikit terlambat mempersiapkan nasi dan lauknya buat pelanggan yang biasa sarapan di sini. Dan untukmu sudah kusiapkan menu istimewa seperti biasa. Tapi sayang kau tak ada. Bahkan sampai pukul 09.20 ini kau juga masih tak nampak batang hidungmu. Padahal aku berharap kau sarapan seperti biasa. Atau kau memang sengaja ya berlambat-lambat? Agar kita bisa lebih leluasa mencurahkan isi hati dan rasa cinta yang sudah membara ini. Iya kan? Aku tahu itu. Ya aku suka idea-ideamu itu.
***
Ini sudah pukul 10.00, dan bukan pagi lagi tetapi sudah menjelang siang. Tetapi kenapa kau masih juga belum sarapan di warungku? Ataukah sudah sarapan di kamar? Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Itu tidak mungkin kan? Bukankah sudah berbulan-bulan kau tak pernah membeli sembako lagi di kiosku? Itu berarti kau tidak memasak apa-apa di kamarmu.
.
Tiba-tba saja aku merasa gerah, sepertinya aku ingin mandi lagi. Kenapa? Karena tadi pagi aku terlalu sibuk. Lebih sibuk, aku terlambat menyiapkan segala sesuatu di warung makan ini. Kini aku benar-benar gerah. Aku ingin mandi, mumpung warung lagi sepi. O iya aku harus mandi lagi tetapi bukan mandi junub seperti subuh tadi, ini hanya mandi biasa karena kegerahan.
.
Sehabis mandi aku ingin segera mempersiapkan sesuatu untuk makan siang. Aku cepat memasak nasi buat makan siang. Hanya dalam waktu beberapa menit berasnya sudah masuk ke dalam rice cooker. Lalu aku memanaskan lauk yang masih ada. Dan untuk makan siang ini aku sengaja memasak jarang asam kepala baung. Tidak ketinggalan sambal terasi ba-asam binjai. Untuk itu semua yang kuperlukan ada tersedia di dalam kulkas. Jadi aku tinggal memasaknya saja lagi. Yang itu bukan untuk pelanggan tetapi khusus untukku sendiri dan ... untukmu juga. Semoga saja seleramu sama dengan seleraku. Sedang untuk pelanggan lain aku memasak sayur bayam plus labu kuning berkuah santan. Untuk lauknya seperti biasa ikan gabus goreng plus ikan laut yang juga digoreng. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, semuanya sudah beres.
.
Aku pun siap-siap mau masuk ke warung, tetapi begitu mau keluar dari ruang dalam ternyata pintu depan itu terbuka. Padahal pintu itu tertutup. Aku sendiri yang menutupnya. Mungkinkah pintu itu terbuka sendiri? Ataukah ada seseorang yang membukanya? Tapi aku tak melihat siapa-siapa di kamar tamu itu. Apakah pintu ini sengaja kubukakan buatmu? Ataukah aku sendiri yang lupa menguncinya? Aku masuk ke warung makan, barangkali ada yang masih berserakan. Tiba-tiba aku terpeperanjat melihat kau berdiri di ambang pintu.
.
Astagfirullah! Aku langsung terkesima melihat kau berdiri terperanjat manatap tubuhku yang masih tapih mandada dengan pakaian seadanya. Aku lupa bahwa aku baru selesai mandi karena kegerahan tadi, rambutku juga masih tertutup handuk. Aku mengira tak ada orang yang datang. Karena memang pada jam-jam segini kompleks ini sepi. Itulah sebabnya aku membiarkan tubuhku yang kata sumiku dulu tubuhku ini memang putih bening lagi mulus itu. Aku juga tidak menduga bahwa kau berdiri di ambang pintu terkesima memperhatikan diriku yang masih tapih mandada.
.
Sesaat kita sama-sama terkejut, sama-sama kagum, sama-sama bingung, sama-sama bungkam membisu saat saling beradu pandang. Lalu kita bertatapan cukup lama, bahkan lama sekali. Bicara hanya antara mata, bercumbu hanya antara hati. Tiba-tiba kulihat kau secepatnya ia membalikan tubuhmu. Kau tidak jadi masuk ke warung makanku. Kau hanya berdiri di beranda. Sementara Aku masih terbuka separu dada malah menuju pintu dan berdiri di pintu depan.

“Kak Bram, silakan masuk.”

Kau terkejut, kau terperanjat, kau terkesima berbarengan dengan pandangan dan tatapan mautmu yang menggoncang imanku. Memang beginilah biasanya aku sehabis mandi selalu tapih mandada dengan handuk yang melilit di kepala. Tetapi apakah dadaku yang separu terbuka ini yang membuatmu menatapku begitu antusias? Ataukah karena mendengar aku memanggilmu Kak Bram? Ataukah kedua-duanya itu yang membuatmu jadi tak berkedip saat menatapku? Tapi apapun itu, aku suka. Itu tandanya aku masih mampu membuatmu terpesona dan terpukau saat memandangku. Itu tandanya bahwa kau masih suka aku. Meski usiaku jauh lebih tua darimu.
.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, di usiaku yang berkepala empat ini, aku masih bisa mendapatkan rasa sayang dan rasa cinta dari mahasiswa yang usianya jauh lebih muda dariku. Jadikanlah mahasiwa ini menjadi muhrimku ya Allah. Jadikanlah ia menjadi suamiku ya Allah.
.
Aneh mengapa tiba-tiba saja aku memanggilmu dengan panggilan yang tidak biasa itu? Sepertinya aku sudah tidak sungkan-sungkan lagi memangilmu Kak Bram sambil menutupi sebagian dadaku dengan tanganku yang kata suamiku dulu tanganku ini putih bening lagi lembut. Tentu tidak ketinggalan tersungging seulas senyum di bibirku yang tipis selalu basah merekah ini membuat siapapun yang memandangku akan terpesona dan terpukau. Kata mantan suamiku dulu inilah yang membuatku terlihat cantik alami.
.
“Kak Bram, Silakan masuk mumpung tidak ada orang lain di sini” ajakku sekali lagi.
“Biar di luar saja,” jawabmu sekenanya saja.
.
Sebenarnya aku ingin sekali menarik tanganmu masuk dan berbincang-bincang denganmu di sini. Sejujurnya aku ingin sekali bercengkerama dan bermesra-mesra bersamamu lelaki yang sudah mencuri hatiku. Meski orang lain bilang apa aku tak perduli. Aku pun sadar bahwa jalinan cinta kita bukanlah jalinan cinta biasa. Meski orang lain biang ini adalah jalinan cinta kontroversial beda usia. Aku juga tidak perduli. Karena aku sudah terlanjur mencintaimu. Kaulah idaman masa laluku yang datang di saat aku sudah tidak muda lagi. Kini aku benar-benar merasa bahwa kaulah lelaki terakhir yang bermukim di dalam hatiku. Kaulah dermaga terakhir tempat biduk cintaku bersandar. Tetapi kenapa kau menolak ajakanku masuk? Kau takut? Takut ada orang lain yang memergoki kita? Tak usah khawatir. Tak ada orang lain di sini selain dari ibuku yang sudah tua renta. Lagi pula beliau juga sudah memahami bahwa kita adalah belahan jiwa yang saling membutuhkan dan saling mencintai.
.
Aku baru sadar, kurang pantas rasanya berduaan denganmu hanya dengan tapih mandada seperti ini. Tunggulah aku masuk dulu ganti pakaian yang lebih sopan. Aku pun cepat membongkar, melihat-lihat dan memilih-milih pakaian yang paling kausuka. Entah sudah berapa lembar pakaian yang aku coba, tetapi selalu saja kulepas kembali. Rasanya tak ada satu pun yang istimewa buat kau orang yang sangat spesial di hatiku ini. Kuperhatikan tumpukan baju atasan dan bawahannya, beberapa lembar T-Shirt dan jeans. Ada juga beberapa lembar gamis yang biasa kupakai ke majlis ta’lim dan ke acara keagamaan. Semuanya berserakan di tempat tidurku. Kuteliti kembali satu persatu. Aku merasa pakaian yang paling cocok saat ini adalah t-shirt dan jeans. Kenapa? Karena dengan pakaian itu pasti aku kelihatan lebih fresh. Di samping itu aku ingin memperlihatkan betapa sempurnanya lekuk tubuhku. Bukankah kau suka itu?
.
Kuperhatikan ada tiga lembar jeans dan kaos oblong yang berkenan di hatiku. Yang merah muda, yang hijau daun dan yang merah hati. Aku harus memilih warna yang sesuai dengan T-Shirt merah hati yang kaupakai saat ini. Haruskah aku memakai T-Shirt yang berwarna merah hati juga? Harus. Harus memakai yang berwarna merah hati juga. Barangkali itu dapat mempererat jalinan tali kasih kita. Pelan-pelan kukenakan kaos oblong warna merah hati dan jeans-nya yang berwarna hitam. Sama seperti yang kau kenakan saat ini. Lalu aku pun berdiri dan berputar-putar di depan cermin bagaikan seorang pragawati.

  • view 217