Balada Cinta Oedipus Kompleks 2

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 September 2016
Balada Cinta Oedipus Kompleks 2

Kata teman-temannya mahasiswa yang telah mencuri hatiku ini bernama Rickma Branta. Itu adalah nama seorang kesatria dalam Cerita Wayang Banjar. Termasuk keluarga jauh dari Pandawa Lima. Barangkali oamg tuanya termasuk penyuka dan penikmat wayang kulit Banjar. Tetapi sehari-harinya ia dipanggil Bram, termasuk aku juga suka dengan nama Bram itu. Bahkan nama itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. ya nama Bram itu. Sedang di kalangan mahasiswi ia biasa dipanggil Arjun, karena wajahnya mirip bintang Bollywood yang bermain sebagai Arjun. Itulah sebabnya ia disukai banyak wanita. Sayangnya tak ada satu pun yang disukainya, tak ada satu pun yang menarik hatinya, dan tak ada satu pun yang menjadi pacarnya. Tetapi anehnya sepertinya ia menyukai aku. Kenapa?

Setiap kali ada mahasiswi yang datang menemuinya, setiap kali itu pula kumerasa cemburu pada mahsiswi yang cantik-cantik itu. Padahal aku kan bukan siapa-siapa dia? Aneh, kenapa aku merindukannya yang jauh lebih muda dariku? Sebenarnya akhir-akhir ini ada beberapa lelaki yang mengnginkanku jadi istrinya. Ada pengusaha kaya, ada juga pegawai negeri, juga ada guru-guru, bahkan ada anggota dewan dan kalangan pejabat. Tentu statusnya sama seperti aku yaitu para dudawan. Pas benar dengan akunyang berstatus janda. Jika seorang janda kawin sama duda tentu sangat serasi. Nah jadi sama kan? Kalau aku mau, aku bisa menerima salah satunya. Tetapi tak ada satu pun yang menarik hatiku. Tak ada satu pun yang berkenan di hatiku. Karena hatiku sudah terpaut dengan mahasiswa yang satu itu. Sejujurnya kuakui, hanya mahasiswa itulah yang kuidamkan akhir-akhir ini. Tapi kenyataannya dia bukan pasangan yang cocok bagiku, lebih-lebih lagi buat jadi suamiku. Kenapa? Karena dia adalah remaja idaman masa kini, sedang aku gadis idaman masa lalu. Bahkan aku ini pastasnya jadi ibunya, atau setidaknya jadi kakaknya. Tapi meski begitu aku tetap mengharapkannya menjadi suamiku yang ke empat.

Salahkah jika aku menyukainya? Salahkah jika aku mencintainya? Salahkah jika aku menginginkan dia menjadi suamiku? Bisa saja kan? Tak ada larangan kan? Yang penting tidak melanggar hukum syariah kan? Ya boleh-boleh saja. Dan memang tak ada larangan. Tetapi mereka bilang ada norma kepantasan dan kepatutan yang berlaku di masyarakat. Bukankah tidak pantas seorang wanita dewasa menikah dengan remaja kemaren sore yang masih bau kencur? Siapa bilang? Aku merasa pantas saja menjadi istrinya. Meski aku wanita seumura ibunya. Yang penting sama-sama suka. Aku suka dia, dia juga suka aku. Aku cinta dia, dia juga cinta aku. Itu jelas terlihat dalam sikapnya belakangan ini. Dari pandangan matanya, senyumnya, tutur katanya, bahkan gerak geriknya jelas memperlihatkan bahwa ia juga menyukaiku. Ia juga mencintaiku, bahkan aku merasa dia juga menginginkanku jadi istrinya. Bukankah Siti Khadijah r.a juga lebih tua dari nabi kita? Kalau Siti Khadijah saja boleh jatuh hati kepada nabi kita, kenapa aku tidak boleh? Kalau Siti Khadjah mau saja melamar pemuda Muhammad Al-Amin menjadi suaminya, kenapa aku harus malu? Kalau Siti Khadijah reka berkorban habis-habisan demi perjuangan nabi Muhammad SAW, kenapa aku tidak? Aku juga mau melamar mahasiswa itu menjadi suamiku, aku juga mau habis-habisan berkorban demi perjuagannya. Bahkan sebelum ia menjadi suamiku pun aku rela berkorban demi perjuangan dalam menyelesaikan kuliahnya yang masih berapa semester itu.

Sebagai perempuan yang sudah agak lama menjanda sepertinya aku memang benar-benar sudah kebelet ingin cepat-cepat menjadi istrinya. Meski hanya setahun menjanda, tetapi waktu setahun itu bagiku sudah cukup lama hidup sendiri. Sebagai wanita yang sudah biasa bersuami seperti aku ini, tentu ingin cepat-cepat bersuami lagi. Tak asyik rasanya tidur sendiri, lebih-lebih di musim hujan seperti malam ini.

Setibanya di kamar bedakan, Bram melihat ada sesuatu yang aneh di kamarnya ini. Kasur yang biasa ditidurinya sudah tak ada lagi. Yang ada justru tempat tidur mewah lengkap dengan springbed-nya. Kapan berubahnya? Padahal tadi pagi masih ada. Ia juga hanya dua jam saja berada di kampus, itu juga karena perkuliahan hari ini batal. Dosennya menghadiri Seminar Internasional di kota lain. Itulah sebabnya ia cepat-cepat pulang, karena di bedakan ini ada ibu kost yang biasa disebutnya Acil Warung yang telah mencuri hatinya.

Ternyata ada yang baru di kamarnya ini. Hanya dalam waktu dua jam saja kamarnya sudah berubah total. Yang tadinya di kamar ini yang kosong melompong hanya ada sebuah tempat tidur biasa, sekarang di sini ada tempat tidur mewah lengkap dengan bantal gulingnya. Itu kan springbed? Itu kan tempat tidurnya orang-orang berduit? Dia yakin orangtuanya yang hanya petani kecil, pasti tak akan mampu membelikannya. Selain itu disini juga ada lemari pakaian besar lengkap dengan cermin besarnya. Di dalamnya tergantung rapi semua pakaiannya, anehnya disini juga pakaian yang bukan miliknya. Apakah ada orang lain yang akan menempati kamar ini? Kalau tidak, kenapa ada baju dan celana orang lain? Ataukah akan ada orang lain yang akan tinggal sekamar dengannya?

Di dinding kamarnya juga ada jam dinding baru. Dan yang lebih istimewa lagi di dinding itu terpajang foto selfi Acil Warung dengan senyumnya yang begitu aduhai. Ternyata bukan itu saja. kamar mandi dan WC-nya juga berubah total. Yang biasanya jam-jam segini air di kamar mandi dan di WC sudah tidak jalan lagi. Untuk keperluan mandi dan beristinja sehabis buang air biasanya hanya bisa menggunakan air yang ada dalam bak air. Dan untuk air udhu harus menggunaan air yang khusus di tampung dalam tempat khusus juga. Tetapi sekarang air itu tetap jalan mengalir begitu derasnya. Di sini juga tersedia sabun mandi dan fasta gigi termasuk juga dua lembar handuk baru. Dan yang lebih istimewa lagi di kamar mandi ini juga ada foto selfi Acil Warung yang begitu menawan. Sepertinya ini suatu pertanda atau sinyal dari Acil Warung yang harus ditanggapi Bram dengan serius.

Bram cepat kembali ke tempat tidur dan tanpa buang waktu lagi ia langsung menghempaskan tubuhnya ke springbed yang empuk menyambutnya. Tiba-tiba saja ia terkejut terperanjat melihat senyum Acil Warung dalam foto selfinya yang sengaja dipajang menghadap ke tempat tidur. Jadi kapan pun ia berada di sini, senyum itu langsung menancap tajam ke ujung jantungnya. Luar biasa!

Ia baru kepikiran, mungkinkah ini suatu pertanda atau sinyal bahwa Acil Warung juga menyukainya? Inikah sinyal bahwa Acil Warung itu juga ada hati padanya. Padahal tanpa sinyal ini pun Bram sudah tahu bahwa gayung sudah bersambut, bahwa ia tidak bertepuk setelah tangan. Bukankah selama ini sudah banyak sinya-sinyal lain yang dilayangkan Acil Warung kepadanya? Bukankah akhir-akhir ini ia sudah tidak perlu membayar sewa kontrakannya ini? Bukankah akhir-akhir ini mendapat layanan gratis untuk makan di warung Ibu Kost ini? Jadi ia tak perlu lagi membeli semua keperluan sehari-hari di kios Ibu Kost itu. Ataukah semua itu hanya rasa kasihan dan keprihatinan Ibu Kost terhadap keadaan ekonominya? Sehingga Acil warung itu perlu melayangkan sinyal yang lebih serius lagi. Bisa jadi kan?

Sebagai seorang penderita kejiwaan Oedipus Kompleks ia memang menyukai pasangan wanita yang lebih tua, lebih-lebih lagi wanita yang seumuran ibunya. Ia bukan saja hanya menyukai wanita yang lebih tua, tetapi ia juga bisa mencintainya, bahkan sangat berhasrat untuk memperisti wanita itu. Inilah yang terjadi pada kejiwaan Bram saat ini. Dia telah menemukan idaman hatinya di rumah bedakan ini. Wanita itu adalah Acil warung yang sangat ia sukai dan sangat ia cintai, bahkan ia juga berhasrat sekali menjadi suami Acil Warung itu.

Sebenarnya ia ingin berlama-lama memanjakan tubuhnya di Springbed yang empuk itu, tetapi ia bangkit lagi. Karena ia secepatnya ingin menemui Acil Warung yang tidak hanya telah mencuri hatinya, tetapi juga telah merampok hatinya. Meski Acil warung itu seumuran Ibunya, tetapi ia tidak perduli. Karena memang itulah yang membuatnya jadi mabuk kepayang saat melihat tubuh yang bening montok lagi sintal Acil Warung yang sangat menggoda hasratnya itu.

Berada di bedakan ini jauh lebih menyenangkan dari pada berada di kampus yang menurutnya begitu gersang. Meski di kampus itu ada banyak mahasiswi yang manis cantik dan ada juga genit-genit menggemaskan yang tebar pesona kepadanya. Tetapi ia tidak pernah dan tak akan pernah terpikat, bahkan ia eneg melihat semua itu. Tidak seperti di bedakan ini, walaupun di sini hanya ada seorang Acil Warung yang lebih tua bahkan seumuran ibunya, tetapi ia sangat menyukai itu. Karena di sini ia bisa menikmati senyum manis Acil Warung yang begitu sintal. Kebetulan kamarnya menghadap jendela kamar tidur Acil Warung. Di mana setiap pagi ia biasa mengintip Acil Warung yang berpakaian minim saat membuka jendela. Tubuh yang sintal itu hampir semuanya terbuka. Ditambah lagi dengan senyum Acil Warung tersungging di bibir manis yang selalu basah merekah itu. Lebih-lebih lagi saat berpandangan dengan Bram yang sengaja berdiri di depan jendela kamarnya menunggu saat-saat yang mendebarkan jantungnya itu.

Bram bangkit dari tempat tidur yang sangat empuk itu, ia ingin cepat-cepat ke warung. Bukan hanya untuk makan siang, lagi pula ini baru pukul 11.00, tetapi ia ingin cepat-cepat menemui Acil Warung belahan hatinya itu. Mumpung mahasiswa yang lain belum pulang, jadi ia bisa berlama-lama bercengkrama di warung itu. Jadi ia bisa lebih leluasa dan lebih mesra lirik-lirikan, senyum-senyuman, tatap-tatapan seperti biasa. Seperti dalam lirik lagu jadul Jatuh Cinta Edi Silitonga. Jatuh cinta berjuta rasanya, amboi oh indahnya.

 

  • view 207