Balada Cinta Oedipus Kompleks

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 September 2016
Balada Cinta Oedipus Kompleks

Aneh, ini benar-benar aneh. Kenapa aku selalu teringat dan terbayang-bayang dengan remaja itu. Aku kan wanita dewasa? Tepatnya aku lebih pantas jadi ibunya. Atau sekurangnya jadi kakak perempuannya. Lalu? Kenapa aku bukan hanya membayangkannya? tetapi juga aku menginginkanya. Bahkan aku membayangkannya lebih jauh lagi.
Gila! Ini benar-benar gila. Kenapa begitu bodohnya aku terjebak dalam kasus Odipus Kompleks yang terkutuk ini?

Suatu ketika aku bercermin, ternyata aku biasa-biasa saja. Aku memang tidak terlalu cantik, tetapi kenapa banyak lelaki yang menginginkanku? Padahal tak ada yang istimewa pada diriku. Wajahku, senyumku, tubuhku, biasa-biasa saja. Jika dibandingkan bdengan artis selebritis, aku jauh berada di bawah mereka. Tetapi kenapa banyak orang-orang berduit yang ingin memperistriku. Bahkan kini aku sudah tiga kali bersuami. Tetapi aku masih belum pernah melahirkan seorang anak.

Perkawinan pertama, aku dijadikan istri muda oleh seorang Pengembang KPR BTN. Meskipun usianya agak jauh di atasku tetapi orangnya baik, sabar dan penyayang. Sayang umurnya tidak panjang. Dia kecelakaan. Akibatnya aku jadi janda, istilahnya janda cerai mati. Demikian juga suami kedua dan ketiga, aku juga dijadikan istri muda. Anehnya lagi-lagi suamiku itu meninggal dalam kecelakaan. Mungkin ini sudah takdirku.

Sepeninggal suami-suamiku itu, aku mendapat bagian fasilitas yang memadai. Dan dari salah satu suamiku itu aku mendapatkan sebuah rumah yang ada di komplek ini, lengkap dengan segala fasilitasnya plus sebuah mobil keluarga. Di rumah inilah aku tinggal bersama ibuku. Untuk biaya hidup sehari-hari, ruang tamu kujadikan minimarket plus sebuah warung makan. Selain itu sisa tanah di belakang rumah yang masih kosong kubangun sebuah bedakan, kost-kostan empat pintu khusus buat mahasiswa. Di bedakan inilah tinggal seorang mahasiswa yang telah mencuri hatiku itu.

Ini sungguh sangat menyenangkan hatiku. Kenapa? Karena setiap hari mahasiwa yang tinggal di bedakanku ini selalu membeli keperluan sehari-hari di kiosku ini. Termasuk juga mahasiswa yang satu itu.

Perasaan hati ini bermula saat mahasiswa-mahasiswa di bedakan itu sarapan pagi di warung makanku. Seperti biasa aku melayani para pelanggan dengan layanan standar biasa-biasa saja. Aku selalu bersikap ramah dan tak lupa memberi senyuman kepada siapa saja yang makan di warungku ini. Termasuk juga mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di bedakanku itu. Tetapi saat itu ada yang lain dari biasanya. Salah seorang di antaranya ada yang selalu beda. Entah apa entah mengapa, saat aku melempar senyum kepadanya aku merasakan ada sesuatu yang lain. Lebih-lebih lagi saat ia membalas senyumku dengan senyumnya yang menawan itu, ada sesuatu yang berbeda dengan pelangganku yang lain. Sesuatu yang tidak pernah kurasakan pada pelanggan yang lain.

Ini benar-benar aneh, aku merasa ada sesuatu yang menukik tajam di relung hatiku. Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang dan dadaku jadi berdebar-debar. Seluruh tubuhku gemetaran. Seluruh tubuhku jadi basah kuyup oleh keringat dingin. Aku pun merasa melayang di awang-awang. Kenapa? Aku melihat tatapan dan senyum yang biasa dilemparkan oleh mantan suami-suamiku itu saat mengnginkan sesuatu. Sebagai wanita sewasa dewasa yang sudah berpengalaman tiga kali menjanda, aku tahu betul makna dari pandangan dan senyuman yang menyusup ke dalam hatiku itu. Dan aku tahu betul apa yang diinginkan suamiku itu. Biasanya aku pun langsung merespon keinginan suamiku. Kenapa? Karena keinginan mantan suami-suamiku itu juga sama dengan keinginanku. Tidak siang, tidak malam, bahkan kapan pun suamiku itu ingin, aku juga ingin. Lebih-lebih saat malam Jum’at seperti ini. Tak ada gayung yang tak bersambut.

Setelah sekian lama aku menjanda, sekian lama pula aku tak pernah lagi melihat senyum dan tatapan yang penuh arti itu. Sekian lama pula aku menginginkan senyuman itu. Dan tiba-tiba saja, saat itu aku kembali melihat senyum yang sangat aku dambakan. Biasanya senyum itu datang dari seorang lelaki yang ingin memperistriku. Manakala aku merasakan yang sama dengan perasaanku saat ini. Aku pun kelepak-kelepak menginginka lelaki itu. Dan aku pun langsung menerima lamaran lelaki itu menjadi suamiku.

Tapi saat ini beda. Senyum itu datang dari seorang mahasiswa yang tinggal di bedakanku. Aku jadi serba salah karenanya. Apakah ini suatu pertanda bahwa lelaki yang masih berstatus mahasiswa itu yang akan menjadi suamiku yang ke empat? Bagaimana bisa? Aku kan wanita dewasa yang sudah tiga kali menjanda? Sedangkan dia masih remaja bau kencur, bahkan masih ke ABG-ABG-an. Apa kata dunia?

  • view 187