Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 8)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 8)

Tiba-tiba Ibu kantin itu lebih mendekat lagi sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya melihat situasi kalau-kalau ada yang menguping dan memperhatikan mereka. Setelah merasa aman, Ibu kantin itu mulai berbicara setengah berbisik.
.
“Den Deni. Gimana ngomongnya nih?”
“Ya Bu, apa Bu?”
“Nggak jadi ah.”
“Lho? Kok ngak jadi? Kenapa Bu?”
“Nggak papa. Besok aja kita bicaranya ya?”
“Kenapa harus besok Bu?”
“Waktunya kurang tepat. Nanti kita cari waktu yang agak sepi sedikit.”
***
Sudah berminggu-minggu ini, tiap harinya Deni Komara makan di warung yang ada di perbatasan kampung itu. Kalau tidak makan pagi tentulah makan siang, atau makan malam. Karena warung itu buka sejak pagi sampai pukul sepuluh malam. Kini Deni Komara sudah membaur dengan pelanggan tetap lainnya. Bahkan ia sudah mulai akrab dengan beberapa pelanggan tetap lainnya. Heibatnya pelangan tetap di sini lintas usia dan lintas profesi. Bukan itu saja, ia juga mulai akrab dengan kedua kembang warungnya yang bening dan murah senyum itu. Ei ternyata kembang warung itu juga sangat lihai memainkan kerling nakalnya kepada pelanggan-pelanggan yang iseng. Terkadang sekali-sekali kembang warung itu lihai juga mengedipkan isyarat mata disertai dengan senyum nakalnya.
.
Di sini sudah biasa ada saja pelanggan yang nakal. Kembang warung itu pun dilirik-lirik, digoda-goda bahkan dicolek-colek. Anehnya walau dicoklek-colek kedua kembang warung itu diam saja, tidak marah, karena memang ia suka. Bahkan sekali-sekali dia melempar senyum nakal ke arah mereka. Waw! Merekapun lalu jadi cekikikan ketawa-ketiwi kelepak-kelepak kegirangan. Rupanya inilah daya pikat yang membuat para pelanggan itu tak bisa lagi berpindah ke lain warung. Melihat kambang warung yang genit itu sekali-sekali Deni Komara ikutan juga mencolek-colek kaya orang-orang itu.
.
“Hei, Paman Dani ni umpatan jua sakalinya mangamit. Kacar ya? Hehehe. Kalu ulun aduakan awan Acil Galuh, hehehe” gurau kambang warung itu genit lagi manja.
“Habis, situ sih,” sahut Deni juga ikut terpancing.
“Situ sih, apa Man?” tanya kambang warung itu tambah semakin genit.
“Nggak, nggak apa-apa,” jawab Deni malu-malu tapi senang.
“Gamit ja lagi, Paman ai. Ulun kada sarik jua. Hahaha. Hah, Paman ni pina supan. Padahal sama ja liur kaya urang jua kalu lah?”
.
Tak disangka-sangka ketika banyak-banyaknya pelanggan yang makan di warung itu, tiba-tiba saja ada yang batuk-batuk dan angsung muntah darah. Darah segar itu muncrat ke atas meja yang penuh dengan makanan. Padahal saat itu ramai-ramainya orang di warung. Yang muntah darah itu langsung dibawa pulang oleh dua orang temannya. Pada saat itu juga orang-orang di warung itu langsung bubar. Sedangkan Ibu kantin dan dua orang kambang warungnya terpertanjat, gugup dan bingung tak tahu harus berbuat apa.
.
“Racun, itu pasti racun,” kata seorang pelanggan langsung pergi tak jadi makan.
.
Warung langsung kosong, tak seorang pelanggan pun yang masih bertahan. Setelah warung benar-benar kosong, baru Ibu kantin itu sadar dan cepat membersihkan darah di meja itu. Dan sialnya yang baru datang, begitu melihat Ibu kantin membersihkan darah di meja itu, mereka pun langsung balik belakang dan tak datang-datang lagi.
.
“Racun, itu pasti racun, Cil ai” kata kembang warung.
”Tidak mungkin, aku tidak pernah memelihara racun.”
”Berarti ada orang lain yang melepas racun itu di sini,” sahut kembang warung yang satunya
”Tapi sekarang bukan bulan Safar. Biasanya orang melepas racun pada bulan Safar. Berati itu bukan racun.”
“Kalau bukan racun, lalu apa itu Cil?”
“Kalau bukan racun…… berarti itu adalah TBC, ya pasti TBC”
”TBC? Tidak ada yang percaya! Keyakinan orang di sini, yang begitu biasanya terkena racun. Buktinya? Hari ini mereka tak ada lagi yang mau minum di sini. Wah,gawat! Bagaimana ini?”
,
“Bagaimana ini?” tanya Ibu kantin di dalam hati ketika menyadari bahwa nasi kuning dan lontong yang biasanya sudah habis sebelum jam sembilan itu. Sekarang malah tak ada yang laku. Mau dimakan sendiri saja? Ini terlalu banyak untuk dia yang sudah lama hidup menjanda. Dan anehnya kembang warung yang dua orang itu pun takut memakannya.
.
Aneh, sejak kemaren pagi warung ini sepi. Hampir tak ada orang yang mau makan di sana. Kalau pun ada itu juga tidak lebih dari sepuluh orang. Itu pun bukan pelanggan yang biasanya. Ada juga beberapa orang warga dari kampung sebelah yang kebetulan lewat. Bayangkan lontong dan nasi kuning dengan potongan lauknya yang besar enak dan lezat itu, malah tak ada seorang pun yang menyentuhnya. Dan siangnya menu spesial ikan bakar dan paisan patinnya juga sama. Ini sungguh aneh. Benar-benar aneh. Tidak biasanya seperti ini. Dan puncaknya adalah pada pagi ini.
.
Ternyata sampai esok harinya pun tak ada lagi yang mau datang ke warung ini, kecuali Deni Komara yang sama sekali tidak mengetahui kejadian kemaren itu. Biasanya di warungnya itu, canda sendau gurau menyatu dengan berbagai informasi. Dari masalah pupuk, bibit padi, sampai keperluan sehari-hari ada di sini. Dari masalah terasi, koperasi, reformasi, demokrasi sampai korupsi dan grativikasi ada di sini. Pokoknya hampir semua masalah yang hangat diberitakan dibicarakan juga di sini. Tetapi sekarang tidak ada lagi yang mampir di sini. Orang-orang itu hanya lewat, tak ada yang menoleh apalagi singgah.
.
Diam-diam akhirnya Ibu kantin itu hampir putus asa. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Kalau saja Ibu kantin itu kurang sabar barangkali Ibu itu sudah lumpuh terserang strok. Kini tak ada lagi yang mau makan di warung itu. Takut termakan racun. Bahkan ketika menyambut giliran arisanYasinan, banyak yang tidak berani datang. Yang datang pun hanya berani minum setengah gelas, makan hanya setengah piring, yang setengahnya sengaja disisakan. Mengapa? Kata orang, racun itu tidak mau dimakan orang, dia terus menjauh karena tidak mau membahayakan manusia.
.
Keji benar mereka menuduhnya sebagai pemelihara racun. Cepat sekali tersebar berita fitnah itu. Lalu apa pula hubungannya antara memelihara racun dengan pemilikan harta? Ternyata, katanya orang yang mati terkena racun itu rezekinya berpindah kepada pemilik racun. Astagfirullaahul Azhim. Pemikiran macam apa itu? Orang yang sudah meninggal itu justru rezekinya sudah habis.
Memang dulu Ibu kantin pernah mencari syarat penglaris, bukan mencari racun! Memangnya tidak boleh?

***
“Sungguh tega mereka menuduhku meracuni orang itu,” curhatnya kepada Ustadzah Hafizah panutan ibu-ibu di linkungan sini. “Ibu ustadzah kan tahu, itu fitnah namanya. Apa dasarnya tuduhan itu? Memelihara racun? Itu haram, itu syirik, begitu kan Guru?”
“Sabar, sabar, yang penting kamu tidak meracuninya, kan?”
.
Ustadzah itu mudah saja berkata begitu, karena beliau kuat beragama, teguh imannya. Tidak seperti Ibu kantin yang orang awam, beragama seadanya dengan iman pas-pasan. Dia tidak sanggup mengahadapi fitnah ini.
.
“Semoga Tuhan mengazab mereka, semoga Tuhan menyengsarakan mereka.”
“Astagfirullah, Galuh. Kamu tidak boleh berdoa begitu, berdoalah dengan doa yang baik-baik saja. Lagi pula Madi itu pasien tetap di Puskesmas.”
“Ibu Uatadzah tahu dari mana?”
“Aku kan biasa control tensi ke Puskemas? Katanya dia itu kronis, batuk-batuk, sesak nafas, tidak bisa salah makan.”
“O begitu ya? Tetapi mereka memfitnah aku, kenapa harus didoakan yang baik?”
“Sebenarnya kamu sangat beruntung. Sebab orang-orang satu kampung yang memfitnahmu itu, nanti akan menyerahkan pahala mereka kepadamu”.
“O begitu ya”
“Tapi kamu lebih beruntung lagi kalau kamu memaafkan mereka.”
"Apa? Memaafkan mereka?"
.
Ibu Kantin itu bingung, ia berada pada dua pilihan. Bagaimana mungkin dia harus memaafkan mereka? Fitnah ini sudah membuat hidupnya jadi terpuruk jadi berantakan. Tetapi kalau dipikir-pikir anjuran Ustadzah itu patut juga diperhitungkan. Habis mau bagaimana lagi? Orang-orang itu belum mengerti, bahwa si Madi itu adalah pasien tetap Puskemas . Semoga Tuhan mengampuni kesalahan mereka.
.
“Bagaimana?"
"Kalau begitu aku pilih ……. memaafkan mereka.”
“Alhamdulillah, ternyata pintu maafmu lebih besar dari rasa dendammu. Belum pernah aku mendengar orang seperti kamu.”

***
Betapa terkejutnya Deni Komara ketika membaca SMS dari kembang warung, “Paman Dani, gawat! Lakasi tolongi Acil Galuh.” Langsung Deni Komara melarikan kendaraan bebeknya sekencang-kencanganya segera menolong Ibu kantin yang mungkin sudah jadi bulan-bulanan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Hanya dalam hitungan menit saja ia sudah menjelajahi segenap penjuru masuk gang keluar gang kecil. Dari jauh terdengar suara hingar bingar riuh rendah bersahut-sahutan. Deni cepat menuju kme arah suara itu.
.
Dia tidak tahu bahwa di sana ada perempuan paruh baya yang lari pontang-panting di sela-sela rumah dan pepohonan menyelamatkan diri dari amukan orang-orang yang mengejarnya. Ada apa ini? Ada berpuluh-puluh lelaki kekar buas dan beringas mengejar dan mengepungnya dari berbagai arah. Ada yang berlari, yang berkendaraan mengejarnya dan terus mengepungnya. Riuh rendah teriakan caci maki hujat sumpah dan serapah dari arah-arah. Aduh kasihan benar itu perempuan. Suasana panas itu diperburuk lagi dengan bunyi sepeda motor menderu-deru mengepung dari segala penjuru. Sebagian masyarakat malah bingung, kesalahan apa yang diperbuatnya?
.
Teriakan orang-orang kalap itu bagaikan raungan puluhan serigala lapar yang tengah memburu binatang buruannya. Bagaimana mungkin seorang perempuan paruh baya itu yang tak lain adalah Ibu Kantin itu bisa melepaskan diri dari kepungan orang-orang buas beringas itu? Bagaimana mungkin seorang wanita paruh baya yang kehabisan tenaga itu bisa lolos dari kepungan orang-orang kalap itu? Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada ia mencoba dan terus mencoba menyelematkan diri dari kepungan itu. Tetapi tetap saja tak mampu berbuat apa-apa lagi.
.
Betapa terkejutnya Deni Komara melihat Ibu kantin yang terpelesat jatuh di tanah becek sehabis hujan tadi siang. Dalam keadaan terpojok itu berpuluh tonjokan pukulan tendangan orang-orang kalap itu langsung bertubi-tubi menghakimi dirinya.
.
“Stop! Cukup, cukup! Sudah. Jangan dipukul lagi,” cegah Deni Komara.
“Hei apa-apaan kau ini?! Memangnya kamu ini siapa? Datang-datang mau jadi pahlawan kesiangan. Memangnya perempuan ini apamu? Keluargamu?” tanya sang pemimpin dari orang-orang kalap itu.
“Tidak. Bukan. Aku bukan pahlawan. Aku cuma orang lewat. Lagi pula tempat ini dekat dengan jalanan. Aku Cuma …”
“Cuma apa?” tanya yang lain
“Ya cuma orang lewat yang tak tega melihat ibu ini dihakimi secara masal. Aku juga nggak tahu apa salahnya?”
“Hei jangan ikut campur! Atau? Kamu keluarganya ya?” tanya yang lain lagi.
“Nggak juga,” jawab Deni terpaksa berbohong. “Aku cuma kasihan aja. Masa perempuan tak berdaya ini digebuki ramai-ramai. Apa kalian nggak punya rasa kasihan? Lihat nih, mukanya bengkak-bengkak kepalanya bocor darahnya bercucuran,” kata Deni Komara.
“Biar saja, dia juga nggak punya rasa kasihan sama kami. Ayo kawan-kawan kita pukul lagi!” kata yang lain yang merasa masih belum puas.
“Ei, jangan! Kalian tidak bisa begitu,” cegahnya sedikitpun tak takut.
“Dia ini orang yang memelihara racun. Orang yang sudah meracuni keluarga kami-kami ini,” jelas sang pemimpin orang-orang itu.
.
Betapa Deni Komara terkejut mendengar penjelasan sang pemimpin itu. Diam-diam diamatinya Ibu kantin itu masih menahan sakit duduk di tanah becek sehabis hujan siang tadi. Meski wajahnya meringis menahan rasa sakit tetapi sorot matanya itu tajam menyimpan dendam. Ditatapnya satu persatu orang-orang kalap yang mengerumuninya itu, orang-orang yang tadi menganiayainya itu. Nampak darah segar dari kepalanya yang bocor itu masih bercucuran membasahi sebagian dahi dan wajahnya. Sedikitpun tak terlihat tanda-tanda kejahatan dari wajahnya yang masih menyimpan sisa-sisa kecantikan itu.
.
Sementara orang-orang itu masih kebingungan harus berbuat apa, tiba-tiba saja sang pemimpin dan yang lainnya itu mulai mengganas lagi menganiaya Ibu kantin kembali. Sedangkan Deni Komara tak bisa berbuat apa-apa melihat keganasan orang-orang yang kalap itu. Nampaknya kali ini penganiayaan semakin brutal lebih sadis lagi. Untunglah pada saat itu terdengar “Dar dir dor” bunyi tembakan yang mengejutkan semua yang ada di sana.
.
“Jangan bergerak!” terdengar suara keras dari arah utara.
.
Ternyata tembakan itu adalah tembakan dari beberapa polisi yang datang lengkap dengan senjata. Kedatangan patroli polisi itu juga berkat adanya pemberitahuan dari Ketua RT setempat lewat telepon celular. Untunglah kedatangan polisi itu tepat pada waktu penganiayaan terjadi. Sehingga keadaan itu cepat diatasi.
.
Ketika melihat kedatangan patroli polisi itu para penganiaya itu cepat berlarian menyelamatkan diri masing-masing. Deni Komara cepat memegang tubuh Ibu kantin yang sempoyongan dan langsung pingsan di bopongannya. Sebagian besar para penganiaya itu berasil kabur menyelamatkan diri. Kecuali sang pemimpin dan beberapa temannya yang tertangkap tangan ketika sedang menganiaya wanita paruh baya itu. Untungnya Deni Komara terlihat oleh polisi dalam posisi sedang membopong dan melindungi perempuan itu, jadi ia tidak ikut ditangkap polisi.
.
”Lho kenapa saya yang ditangkap Pak? Saya tidak bersalah Pak,” tanya sang pemimpin.
”Pak, saya jangan diangkap Pak. Saya hanya membela diri Pak,” kata yang lain.
”Iya Pak. Yang salah perempuan itu Pak. Dia itu itu yang sudah meracuni saudara saya sampai mati Pak,” kata yang seorang lagi.
”Kalian tidak ditangkap. Hanya dimintai keterangan atas terjadinya penganiayaan ini,” kata Polisi itu.
”Tidak ditangkap bagaimana Pak? Tangan diborgol dibilang tidak ditangkap,” protes sang pemimpin itu.
”Sudah diam! Nanti kamu jelaskan di kantor polisi saja,” kata salah seorang polisi itu.
.
Polisi-polisi itu memperhatikan perempuan yang habis dianiaya itu pingsan tak sadarkan diri. Dilihatnya lelaki yang membopong perempuan itu. Setelah berpikir sejenak, ia mendekati lelaki itu.
.
”Kamu keluaganya ya?”
”Ya, Pak. Saya keluarga jauhnya, Pak. Saya kebetulan lewat ketika perempuan ini dikeroyok masa Pak.”
”Kamu bawa mobil?”
”Tidak, Pak. Saya hanya bawa sepeda motor, Pak. Tuh ada di tepi jalan itu Pak.”
”Kalau begitu kita tunggu mobil yang lewat saja.”
”Bripda Hasan, kamu ikuti dan urus dia di rumah sakit.”
”Siap Pak.”
.
Tak lama kemudian ada mobil lewat. Komandan polisi meminta mobil itu membawa yang pingsn ke rumah sakit. Polisi-polisi itupun membantu mengangkat Ibu kantin yang pingsan itu membawanya ke dalam mobil. Mobil itu segera menuju ke rumah sakit. Deni Komara ikut mengiringi ke rumah sakit.
.
”Bawa orang-orang ini ke kantor Polisi,” perintah komandan patroli itu kepada polisi bawahannya.
”Siap Pak,” jawab polisi-polisi itu serentak.

Orang-orang yang diborgol itu pun dibawa ke kantor polisi Sektor Kecamatan untuk dimintai keterangan.

  • view 181