Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 7)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 7)

Sejak pertemuannya dengan Ibu kantin yang sebenarnya keluarganya sendiri itu, Deni Komara jadi semakin suka-cita. Siangnya makan di warung itu malamnya inbox-inbox-an. Karena menang hanya lewat dunia maya inilah mereka bisa curhat-curhatan sebanyak mungkin antara dua keluarga yang baru ketemu. Hanya lewat dunia maya inilah mereka bisa curhat-curhatan sebanyak mungkin antara keponakanm dan bibinya yang baru saja dipertemukan-Nya itu. Karena siang memang tidak memungkinkan disebabkan kesibukan Ibu kantin itu melayani pelanggannya yang lebih banyak dari warung-warung yang ada di kawasan Jingah Randah Batuah itu. Itu pun hanya di malam hari menjelang tidur seperti ini mereka bebas fesbukan.
.
“Assalamu alaikum Den Deni. Sedang ngapain sekarang?”
“Wa alaikum salam, Bu. Sedang fesbukan Bu, hehehe.”
“Kok? Sedang fesbukan?”
“Lho? Ibu sendiri juga sedang ngapain?”
“Sedang fesbukan juga, hahaha.”
“Den Deni. Sekarang Ibu mau bicara soal rahasia keluarga kita lagi, nih. Jangan bilang sama siapa-siapa ya? Cukup antara kita berdua saja, ya?”
“Ya, Bu.”
“Sebenarnya Ibu sudah lama mau membicarakan rahasia ini. Dan sebenarnya ada dua rahasia yang ingin Ibu ungkapkan di sini.”
“O, gitu ya? Apa itu, Bu ?”
“Rahasia pertama adalah rahasia yang menyangkut Ibu, Ayah dan Ibu kamu sendiri. Sebenarnya ini adalah cerita asmara segi tiga. Hehehe, jadi malu Ibu membuka rahasia ini. Tetapi Ibu merasa yang ini kamu perlu juga mengetahuinya.”
“O, gitu ya? Anggak apa-apa. Cerita aja. Saya maklum, Bu. Itu kan bagian nostalgia Ibu? Cerita aja Bu.”
“Ya itu dia. Ini cerita lama, Den.”
“Ya, Bu. Pasti seru ceritanya ya Bu?”
“Ya, gitu. Hehehe. Sebenarnya Ayah kamu itu dulu sukanya ya sama Ibu. Tapi Ibu tahu, bahwa almarhumah Ibumu itu juga suka sama Almarhum ayah kamu.”
“Wah! Cinta segi tiga, Bu?”
“Ya, giiiitu dech, hehehe.”
“Wah asyik dong. Lanjut Bu.”
“Wah, malu ibu jadinya.”
“Kenapa jadi malu, Bu?”
“Ya, malu aja. Masa buka-bukaan rahasia di depan keponakannya sendiri?”
“Buka aja ,Bu. Deni siap menyimpan rahasia itu, Bu.”
“Jadi ...... karenanya Ibu tahu diri. Yaaa Ibu mengalah saja.”
“Maksudnya, Ibu mundur? Patah hati dong?”
“Yaa giiitu deh. Habis? Mau gimana lagi? ”
“Lalu Ibu nggak kawin-kawin lagi?”
“Nggak juga. Nggak segitunya juga. Yaa ibu kawin juga.”
“Wah, jadi madu satu rumah dong?”
“Nggak begitu. Nggak bisa begitu. Ibu harus kawin dengan orang lain.”
“Dengan siapa Bu?”
“Ya dengan siapa saja.”
“Kok gitu Bu?”
“Ya, pokoknya siapa aja. Yang penting asalkan bisa bertanggung jawab, Ibu mau aja. Soalnya Ibu sudah nggak enak lagi tinggal satu atap dengan mantan. Ya dengan ayah dan ibu kamu itu. hehehe.”
“Takut kena fitnah ya, Bu?”
“Nggak juga. Nggak ada yang mitnah. Ya takut aja.”
“Kok takut? Takut apa, Bu?”
“Yaaaa takut nggak nahan gitu. Hahaha. Kan Ibu cinta mati sama ayah kamu itu?”
“Kok gitu Bu?”
“Makanya ibu ingin cepat-cepat kawin. Begitu ada yang mau? Langsung ibu mau juga. Hahaha.”
“Lalu? Kelanjutannya gimana, Bu?”
“Ibu langsung diboyong suami Ibu.”
“Ke mana, Bu?”
“Ke rumah bedakan.”
“Rumah bedakan itu apa, Bu?”
“Rumah bedakan itu adalah kost-kostan yang terdiri dari beberapa pintu.”
“Kok gitu Bu? Memangnya suami Ibu itu pekerjaannya apa, Bu?”
“Tukang ojek. Hehehe.”
“Lalu gimana ceritanya bisa jadi Ibu kantin itu, Bu?”
“O, itu? Setelah Ibu cerai, ada tetangga yang minta Ibu mengganti warungan di sana.
“Kok, bisa gantian gitu Bu?”
“Nggak ganti-ganti gitu aja, tapi ada pembayaran pergantian alih hak kantin itu. Asalnya kan tetanga Ibu itu tenaga honor tukang kebun merangkap paman kampus itu, buka warung di luar kampus. Lalu oleh pihak kampus diminta menempati kantin falultas dengan membayar hak pakai sekian juta satu tahunnya. Tiap tahun diperbaharui terus.”
“Lalu, kenapa Ibu yang diminta mengganti?”
“Tetangga Ibu itu diangkat menjadi penjaga sekokah SD Inpres yang baru dibangun. Jadi dia buka warung di sana. Kebetulan ada rumah dinas guru yang kosong.”
“Tetapi kenapa Ibu? Kenapa bukan keluarga dari pegawai kampus itu Bu?”
“Hahaha, itu rahasia?”
“Kok, rahasia? Rahasia apa Bu?”
“Rahasia kedua adalah rahasia tentang asal usul mengapa keluarga kita tinggal menetap di Jawa Barat. Ibu merasa yang ini kamu perlu juga mengetahuinya.
“Sebenarnya asal usul keluarga kita di Jawa Barat itu bukannya karena pindah atau hijrah itu, bukan. Tetapi sebenarnya kabur.”
“Kok kabur, Bu? Memangnya kenapa, Bu?”
“Nah, itu dia, Den. Karena harus..... ya harus kabur.”
“Tentu kan harus ada alasannya, Bu?”
“Nah, itu dia, Den. Karena memang harus kabur.”
“Diusir ya Bu? Kenapa?”
“Diusir sih tidak. Waktu itu ibu dan ayah kamu itu masih remaja, tentunya juga masih belum kawin. Almarhum kakek Deni dua bersaudara itu sedang ada kegiatan di Jakarta. Ya sekalian aja berlibur dengan anak istri. Nah, sejak itu tidak kembali lagi.”
“Kenapa, Bu?”
“Katanya dulu itu demi keselamatan. Karena kalau kembali ke Banjarmasin bisa ditangkap atau dihabisi masa yang marah waktu tu.”
“Kok sebegitu marahnya Bu?Memangnya kenapa, Bu?”
“Nah, itu dia. Itu adalah rahasia keluarga kita, bahkan amat rahasia. Sebaiknya jangan kita bicarakan di sini.”
“Kalau tidak di obrolan ini, lalu di mana, Bu?”
“Ya di warung aja.”
“Lho? Kan di warung banyak orang, Bu? Katanya rahasia?”
“Kan mereka juga asik bicara masing-masing. Kita bisa bicara pelab-pelan.”
“O gitu ya, Bu?”

***
Hari ini pagi-pagi sekali Deni Komara Kartasasmita sudah nongol dan cepat duduk di tempat biasanya. Ternyata saat pagi seperti ini justru ramai-ramainya orang sarapan pagi. Maklum warung ini berada di areal komunitas bubuhan pahuluan yang memang biasa sarapan pagi di warung-warung. Dalam situasi seperti ini memang tidak mungkin ia membicarakan rahasia yang dijanjikan tadi malam.
.
Deni mencoba sabar menunggu beberapa saat, tetapi ternyata yang datang justru semakin bertambah banyak. Lagi pula Ibu kantin itu juga masih sangat sibuk melayani pesanan pelanggan, termasuk juga menyiapkan nasi kuning pesanan Deni Komara.
.
Selesai sudah Deni Komara menyantap sarapan paginya, masih saja Ibu kantin tidak bisa menyempatkan waktu untuk Deni Komara. Nampaknya ia mulai gelisah menunggu di tempat duduknya. Ibu kantin itu memahaminya. Akhirnya Ibu kantin itu memberi tugas kepada dua bawahannya untuk menggantikannya. Kemudian Ibu kantin itu cepat menemui Deni Komara yang sejak tadi sudah menunggunya.
.
“Sudah lama nunggu ya?” tanya Ibu kantin langsung duduk di samping Deni.
“Ya, lumayan lah, Bu. Tapi kalau ibu masih sibuk, Saya masih bisa menunggu, Bu.”
“Nggak juga. Kan ibu juga sudah capai? Sekarang gantian sama Dewi. Biasanya juga begitu. Kami yang tiga orang di warung ini memang selalu bergilliran gantiannya. Yang dua sibuk, yang satu istirahat. Sekarang kan giliran Ibu yang istirahat?”
“O, gitu ya, Bu?”
“Ya, gitu. Masa nggak ganti-ganti? Cape dech. Hehehe.”
“Benar juga ya, Bu.”
.
Tiba-tiba Ibu kantin itu lebih mendekat lagi sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya melihat situasi kalau-kalau ada yang menguping dan memperhatikan mereka. Setelah merasa aman, Ibu kantin itu mulai berbicara setengah berbisik.

  • view 176