Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 6)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 6)

Seandainya Deni Komara Kartasasmita hanya makan dan minum masakan sendiri saja, tentu selamanya tidak akan terkuak sesuatu yang sangat rahasia itu. Seandainya Deni Komara Kartasasmita tidak kelayapan dari warung ke warung, tentu ia tak akan bertemu dengan Ibu kantin yang banyak mengetahui rahasia keluarganya itu. Seandainya Deni Komara tidak bertemu dengan Ibu kantin ini, tentu ia tidak tahu mengapa ayahnya tak pernah pulang kampung walau hanya sesaat. Ternyata Ibu kantin itu bukan hanya sekedar Ibu kantin yang dikenalnya di kampus, tetapi ia juga banyak mengetahui tentang masa lalu keluarga Deni Komara. Lalu siapa sebenarnya Ibu kantin itu?
.
Awalnya Deni Komara hanya mencoba-coba bagaimana rasanya hidup praktis tanpa harus repot-repot menyalakan kompor dan memasak itu ini dan segalanya. Lalu mulailah kebiasaan baru, makan dan minum hanya dari warung ke warung. Ternyata bagi seorang jomblowan seperti Deni Komara ini hidup dari warung ke warung itu memang sangat menyenangkan. Di samping murah meriah, keadaan keuangannya juga masih mencukupi, dan yang lebih penting lagi adalah semua itu mudah didapat. Karena di sekitar sini memang tersedia warung-warung yang selalu buka, bahkan ada yang buka 24 jam. Jadi kapanpun ia mau selalu saja ada warung yang buka buat dia.
.
Melihat keberadaan warung-warung itu, sebagai seorang sarjana ia mempunyai pemikiran yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya bukan makan dan minum di warung-warung itu yang menjadi target utama keluyurannya. Warung-warung itu hanyalah sarana untuk menunjang aktivitasnya. Memang ada sebuah agenda besar yang sedang dipikirkannya. Dalam hal ini harus ia mengacu pada 4 langkah menuju sukses yang biasa disebut dengan POAC. Yaitu Planning, Organizing, Actuating dan Controlling.
.
Sekarang masih dalam penjajakan studi kelayakan. Melalui jalan-jalan keluyuran di lingkungan sekitar tempat tinggalnya inilah ia dapat melihat fakta dan data di lapangan. Sehingga ia dapat mengenal lebih jauh tentang lingkungan sekitar di mana ia tinggal sekarang. Sehingga dapat melihat potensi apa yang bisa dikembangkan. Bukankah dengan mengenal keadaan sekitar, ia bisa membuat planning yang matang ke depannya? Bukankah ia tidak ingin nampak sebagai penganggur selamanya? Bukankah sebentar lagi akan ada seleksi penerimaan CPNS yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia? Sambil menunggu seleksi menerimaan CPNS itu, ia sengaja melakukan studi kelayakan ini. Sehingga seandainya tidak berhasil dalam seleksi penerimaan CPNS itu. ia sudah punya pegangan usaha yang layak buat dirinya dan kalau memungkinkan juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
.
Kata orang-orang di ujung perkampungan rumah warga ini, di perbatasan Desa Jingah Rangdah dan Desa Rambau Palembang ini ada sebuah warung makan yang laris manis. Meskipun warung ini berada jauh di pinggiran kota, tetap saja disuka banyak orang. Karena warung ini murah meriah, enak rasanya dan ramah tamah pelayanannya. Dan yang lebih menarik lagi, di sana selalu saja ada senyum manis si kembang warung yang bening dan cantik lagi rupawan itu.
.
Karena warung ini jauh di ujung sana, maka ia sengaja mengendarai bebek bututnya menuju ke sana. Dalam hitungan menit saja Deni sudah sampai ke tujuan. Dari jauh sudah terlihat banyak kendaraan roda dua dan roda empat yang parkir di halaman sebuah rumah. Semakin dekat semakin jelas bahwa itu bukanlah sebuah rumah biasa, tetapi sebuah rumah yang kamar tamunya disulap menjadi warung makan. Deni Komara terkagum-kagum melihat inisiatif dan kreatif pemilik warung makan itu.
.
Rumah tinggal berdinding papan itu amat strategis. Rumah yang angun di pinggir jalan itu halamannya cukup luas cukup untuk menampung beberapa kendaraan. Lemari kaca yang ditaruh di beranda rumah itu juga mampu memancing selera Deni Komara ketika melihat lauk pauk yang dipajang di dalamnya.
.
Deni Komara terkejut ketika melihat pemilik warung yang sangat dikenalnya itu. Bagaimana tidak terkejut? Ternyata pemilik warung makan itu adalah Ibu kantin di kampusnya dulu. Pantas saja ibu kantin itu lama tidak terlihat di kampus. Ternyata ia sudah pindah di Kota Seribu Sungai ini. Padahal ibu kantin ini dulu adalah salah satu langganan Deni ketika ia kuliah.
.
Setelah memarkir bebek bututnya itu, ia cepat-cepat menuju ke beranda. Ia ingin cepat-cepat segera menyapa ibu kantin kesukaannya itu. Dilihatnya pemilik warung itu lagi sibuk-sibuknya menyiapkan pesanan pelanggannya. Sedang kedua kembang warung itu sibuk melayani pelanggan di meja masing-masing. Pelan-pelan Deni menghampiri Ibu kantin itu.

“Bu, masih ingat saya Bu?”
“Sebentar ya, Ibu ingat-ingat dulu. Siapa ya?”

Ibu kantin itu memperhatikan Deni Komara dengan seksama. Dipandangnya lelaki yang tersenyum macho didepannya itu. Iapun mencoba mengingat-ingat kembali siapa sebenarnya orang ini. Tiba-tiba saja ia tersenyum gembira. Ya ia yakin, ia sudah dapat mengingat lelaki itu sekarang.

“Deni? Deni Komara kan?” katanya dengan ceria begitu yakin.
“Benar Bu, saya Deni Komara, Bu. Kenapa Ibu pindah ke sini Bu.”
“Lho, kamu sendiri kenapa pindah ke sini? Hehehe.”
“Ceritanya panjang, Bu.”
“Ah nggak usah diceritakan. Ibu juga sudah tahu.”
“Lho, kok tau?”
“Ya tau lah. Pokoknya Ibu sudah tahu semuanya. Kan di sini cerita kaya begituan cepat tersiar ke mana-mana?”
“Lho, kok jadi gitu sih Bu?”
“Sudah nggak usah dipikirkan. Nanti juga hilang sendirinya. Nanti saja bicaranya ya. Nah, sekarang kamu pilih mau makan apa? Panggangan? Gorengan? Atau paisan?”
“Ya, apa aja lah Bu. Pokoknya menu spesialnya ya Bu.”
“Lauknya suka yang mana? Suka ayam? Ayam kampung? Daging? Sea food? Ikan air tawar? Atau apa ya?”
“Saya suka ikan bakar Bu. Ya, ikan apapun saya suka, terserah Ibu aja lah. Apapun yang Ibu pilihkan saya tetap suka.”
“Ya, sudah masuk sana. Ibu siapkan dulu ya?”

Deni sengaja menuju bangku panjang yang ada di sebelah kiri bukan yang di sebelah kanan. Karena yang di sebelah kanan tidak bisa langsung melihat ke luar sana, ada kaca etalasi warung yang menghalangi pandangan mata. Sedangkan tempat duduk yang di kiri ini ia dapat langsung menikmati eksotika budaya sungai di Sungai Martapura dengan segala kesibukannya.
Tak berapa lama kemudian Ibu pemilik warung itu datang membawa makanan yang khusus untuk Deni Komara, sedangkan untuk melayani pelanggan yang lain diserahkan kepada asisten yang sekaligus juga merangkap sebagai kembang warung. Ibu kantin itu membawakan ikan mas bakar, nila bakar, dan jarang asam kepala baung, lengkap dengan sambal pedasnya. Semuanya dalam keadaan masih hangat. Setelah menaruhnya di atas meja, Ibu itu pun duduk menemati Deni Komara menyantap hidangan yang disajikan.
.
“Minumnya suka apa?”
“Teh es manis Bu,” jawab Deni sambil senyum hormat.
.
Ibu kantin itu memanggil kembang warung yang satunya lagi, lalu menyuruhnya membuatkan es teh manis buat Deni. Tak lama kemudian kembang warung itu datang lagi membawa segelas teh es manis dan menaruhnya di meja.
.
“Deni, di makan ya?
“Iya Bu.” Sahut Deni yang mulai menyantap makanan kesukaannya itu’
“Bagaimana, Den? Enak ya?” tanya Ibu kantin ketika melihat Deni begitu lahapnya.
“Enak sekali. Masakan ini masih seperti dulu rasanya.”
“Iya, Ibu masih ingat, kan ini makanan kesukaan kamu? Kecuali jarang asam kepala baung, itu khas masakan Banjar. Deni, Ibu suka kamu mampir di warung ini.”
“Saya juga, Bu. Wah, kalau makan masakan ini, saya jadi ingat masa-masa kuliah dulu Bu.”
“Iya, Ibu juga. Ibu jadi ingat kau biasanya makan siang bersama Risda kekasihmu itu, kan?
“Mantan Bu, mantan kekasih. Sekarang sudah jadi miliknya Pak Taufik.”
“Benar-benar keterlaluan Pak Taufik itu. Masa sukanya hanya pada kekasih orang?”
“Kok Ibu tahu juga ya?
“Kan ibu sering dengar mahasiswi-mahasiswi mempergunjingkan Pak Taufik itu? Di kantin itu orang bukan hanya datang untuk makan dan minum saja, tetapi juga datang untuk ngerumpi dan bergosip. Dan gunjingan mengenai kegatalan Pak Taufik itu, termasuk berita utama yang paling hangat.”
“Sudahlah Bu. Barangkali itu memang sudah surat takdir saya harus berpisah. Yang sudah lepas tak usah dikenang lagi Bu.”
“Nggak bisa segitu juga dong.”
“Kan sudah menjadi orang lain, Bu”
“O iya ya? Benar juga ya? Deni, sebenarnya ibu mau cerita banyak, tapi gimana ya? Saya juga harus mengawasi kerja karyawan ibu yang dua orang itu.”
“Ya Bu. Saya ngerti Bu.”
“Deni, bagaimana kalau bicaranya kita lanjutkan nanti lewat fesbuk saja. Kamu punya akun kan?”
“Ya, Bu. Di fesbuk saya pakai nama asli selengkapnya Bu.”
“Namanya lengkap dengan embel-embel gelar sarjana?”
“Nggak ada S.Pd-nya Bu. Deni Komara Kartasasmita saja, Bu.”
“Baiklah, nanti Ibu klik permintaan pertemanan ke akun kamu ya?”
“Ya, Bu. Saya tunggu Bu.”
“Sebentar, Ibu minta nomor HP kamu.”
“Ya, Bu.”
Deni mengeluarkan HP lalu mengeluarkan nomor my number, memperlihatkannya kepada Ibu kantin. Dan Ibu kantin itu menyalin dan menyimpan nomor itu ke dalam HP miliknya. Ibu kantin kembali ke meja etalasi kaca di beranda itu. Kemudian Ibu kantin kembali seperti biasa melayani pesanan pelanggannya disertai dengan senyum keramah-tamahan penjaga warung. Senyum ramah-tamah inilah yang membuat pelanggannya jadi lengket dan terus semakin lengket tak mau lagi pindah ke lain warung. Ditambah lagi dengan layanan senyuman kembang warungnya yang bening dan cantik-cantik itu. Tak terasa semua makanan yang disajikan kini itu sudah habis dilahap Deni Komara. Deni menyimpan kembali HPnya, dan diapun segera berdiri menuju Ibu kantin untuk membayar semua yang sudah ia makan itu.
“Berapa semuanya Bu?”
“Yang ini nggak usah dibayar.”
“Nggak bisa begitu Bu. Kan Ibu bisa rugi?”
“Kali ini anggap saja layanan khusus buat Deni. Di lain hari nanti baru akan Ibu tarik bayarannya. Hahaha.”
“Makasih banyak Bu.”
“Sama-sama. Deni, sering-sering makan di sini ya?
“Ya Bu.”
***

Sesampainya di rumah Deni Komara langsung membuka laptopnya. Ia mencari dan terus mencari permintaan pertemanan dari Ibu kantin itu, ternyata tak ada. Barangkali Ibu itu masih kelelahan sehabis seharian penuh mengurusi warung makannya yang laris manis itu. Tepat pukul sembilan malam ia kembali membuka akunnya, siapa tahu ada permintaan perkenalan dari Ibu kantin itu. ternyata masih belum ada. Malah yang masuk banyak permintaan pertemanan yang lain. Umumnya yang masuk adalah cewek-cewek yang sebagian besar adalah ABG setengah masak. Ada juga wanita dewasa, ibu-ibu kesepian dan tante-tante kegatelan. Hal itu nampak pada foto profilnya masing-masing. Bukankah foto profil itu menunjukkan karakter dan jadi diri pemilik akunnya? Seperti juga Deni Komara yang sengaja memasang foto profil yang memang berwajah tampan dan macho dalam poisisi sendu dan galau. Sehingga foto itu begitu menggoda bagi cewek yang memandangnya.
Kejadian di warung makan siang tadi benar-benar membuat hatinya penasaran. Sampai malam tiba, dia tetap saja tak bisa melupakan bayangan Ibu kantin itu. Ternyata bukan dia seorang saja yang terdampar di Kota Seribu Sungai ini. Karena Ibu kantin itu nampaknya juga sama seperti dia, juga terdampar di Kota Seribu Sungai ini. Tentu saja dengan motif yang berbeda.
Sampai pukul setengah duabelas malam ia masih belum bisa tidur juga. Deni kembali mencoba online melayari dunia fesbuk. Seperti biasa, hanya dalam hitungan detik sudah tampil puluhan bahkan ratusan status dari berbagai komunitas. Hanya dalam hitungan detik sudah tampil beraneka ragam tema dan permasalahan yang bervariasi. Tetapi Deni Komara tidak sedang memperhatikan postingan status yang bervariasi itu. Kini ia tengah menunggu permintaan pertemanan dari Ibu Kantin itu. Tiba-tiba saja ia melihat ada permintaan pertemanan. Barangkali saja itu datangnya dari Ibu kantin. Tak sabar lagi ia langsung mengklik permintaan pertemanan itu. Ternyata benar, itu adalah nama Ibu kantin, meski nama yang ada di layar monitor sedikit berbeda. Di sini tertulis Galuh Permatasari Putri Sumedang Larang, seingat dia nama Ibu kantin itu adalah Galuh Permatasari. Berarti ini adalah benar akunnya Ibu Kantin itu. Tanpa ragu-ragu Deni pun langsung mengkonfirmasi permintaan pertemanan itu. Pada saat itu juga langsung masuk tautan pertama ke dinding Deni Komara Kartasasmita.

“Terima kasih sudah mengkonfirmasi pertemanan saya ini.”
“Sama-sama Bu,”
“Maaf, Ibu baru saja bisa online. Maklum banyak yang harus Ibu selesaikan”
“Iya, Bu. Saya juga dapat memakluminya. Bu, saya suka sudah bisa terhubung link pertemanan kita Bu.”
“Deni, sebaiknya kita lanjutkan bicara di belakang layar saja.”
“Iya, Bu.”
Deni Komara dan Ibu kantin langsung pindah ke fasilitas inbox atau ruang pesan. Biasanya fasilitas inbox ini adalah khusus untuk obrolan. Fasilitas dalam fesbuk yang tertutup buat orang lain. Untuk itulah rupanya Ibu kantin memilih jalur ini. Dalam waktu sekejap saja mereka sudah berada di jalur khusus buat mereka berdua saja.
“Deni, ketika Ibu mendengar kabar angin tentang pendatang baru dari kota Bandung. Ibu berharap, itu adalah kamu Deni. Dan ternyata benar. Ibu sangat gembira bertemu dengan keponakan sendiri. Sekarang Ibu tidak sendiri lagi di kota ini. Yang sebenarnya ini adalah tanah leluhur kita sendiri.”
“Begitu, ya Bu? Mang Didin juga bilang begitu Bu. ”
“Ya Den, sebenarnya kita ini bukan orang lain. Ini adalah sebuah rahasia keluarga kita. Sebenarnya Ibu, ayahmu dan ibumu itu adalah tiga bersaudara sepupu dari tiga orang ayah bersaudara. Hanya saja orang tua Ibu sudah meninggal ketika Ibu masih kecil. Lalu Ibu diasuh oleh keluarga ibumu.”
“Tapi ibu saya kan asli Bandung, Bu?”
“Itu juga sebuah rahasia.”
“Rahasia apa, Bu? ”
“Rahasia keluarga. Kami sepakat akan memberitahumu setelah kamu berusia seperti sekarang ini. ”
“Begitu, ya Bu?”
“Sebenarnya Ibu ingin memberitahumu ketika masih di Bandung dulu. Sayangnya Ibu keburu menikah dan mengikuti suami ibu ke Kalimantan ini dan tak sempat pamitan dengan kamu. Untunglah kita bertemu siang tadi. Ibu kira sekian dulu, nanti kita sambung lagi. Ibu sudah mengantuk, Ibu off dulu ya ”
“Ya Bu. Deni juga mau tidur.”
Malam ini ada sesuatu yang lain dari biasanya pada diri Deni Komara. Ia merasa ada sesuatu yang baru diketahuinya dari obrolannya dengan Ibu kantin di jejaring sosial fasebook itu. Ternyata Ibu kantin itu adalah mamarinanya sendiri. Pantas saja selama di kampus itu dulu Deni merasa begitu dekat dengan Ibu kantin ini. Bahkan sejak dulu ia sudah merasa seakan-akan Ibu kantin itu adalah keluarganya sendiri. Ternyata benar. Sekarang baru terkuak sebuah rahasia. Bahkan ia merasa ada sebuah rahasia besar yang belum terungkap tuntas.
Meski malam semakin larut, Deni tetap saja belum bisa tidur. Ia teringat dan terus teringat dengan Ibu kantin yang ternyata tantenya sendiri. Sebenarnya ia ingin berlama-lama di obrolan, tetapi ia juga sangat memahami bahwa ibu kantin itu juga harus tidur agar bisa segar lagi esok hari.

  • view 199