Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 5)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 5)

Warga yang tadinya tenang tentram dan damai itu, tiba-tiba saja terusik oleh bisik-bisik dan kabar berita keberadaan Deni Komara Kartasasmita yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Paman Dani Kumbara. Entah dari mana datangnya? Bisik-bisik itu kini menjelma jadi buah bibir di mana-mana. Hampir di setiap peembicaraan warga selalu saja kabar kedatangannya di Banjarmasin ini menjadi berita hangat di mana-mana. Di warung-warung, di pasar tradisional, di pasar tungging, di pos-pos kamling, bahkan di langgar dan di majlis-majlis, pokoknya di mana ada kumpulan orang-orang di situ ada pembicaraan dan gosip tentang keberadaan Deni Komara itu.
.
“Katanya Paman Dani Kumbara yang dari Bandung itu, dia bukan orang sembarangan, lho,” kata seorang ibu yang berjilbab biru di majlis yasinan itu.
“Namanya bukan Dani Kumbara, tetapi Deni Komara Kartasasmita,” sela ibu yang berjilbab putih.
“Tapi orang sini taunya ya Paman Dani Kumbara itu, hehehe,” sela yang lain lagi.
“Benar tuh, Namanya Dani Kumbara, tetapi karena ia itu kawannya Paman Kredit itu, maka orang memanggilnya Paman Dani Kumbara,” kata ibu yang membenarkan.
“Kabarnya Paman Dani Kumbara itu, di kampungnya sana adalah pengusaha ayam yang sukses,” sahut ibu yang berjilbab biru.
“Kata orang-orang ia itu punya peternakan ayam yang besar,” sela ibu yang lain.
“Iya benar itu. Usaha ayamnya itu dijalankan oleh mamarinanya sendiri,” sahut yang lain yang tidak mau ketinggalan berita.
“Ssst, ini rahasia lho.” Bisik salah seorang ibu. “Jangan bilang siapa-siapa ya.”

.
Ibu-ibu yang lain pun siap-siap memasang telinganya masing-masing menunggu berita gosip yang begitu rahasia itu. Beginilah biasanya ibu-ibu di jama’ah yasinan itu selalu saja ada yang dibicarakan, selalu saja ada yang digosipkan ketika menunggu acara dimulai.
.
“Apa? Apa?” bisik ibu-ibu yang tidak sabar ingin cepat-cepat mendengarnya.
“Dia itu patah hati.”
“O cuma patah hati? Itu sih bukan rahasia. Kalau yang itu kita-kita semua juga sudah tahu. Dia itu kan sakit hati karena ditInggal pacarnya pindah ke lain hati.”
“Bukan pacar, malah sudah bertunangan.”
“Sungguh tega ya perempuan itu? Masa sudah bertunangan ei pindah ke lain hati?”
“Padahal Paman Dani itu kan orangnya gagah? Tampan. Kurang apa lagi?”
“Bukan itu saja. Paman Dani itu kan Sarjana? Sarjana Pendidikan. Tunangannya juga sarjana.”
“Mantan tunangan, bukan tunangan lagi.” sela ibu yang lain.
“Ya, mantan tunangan. Sialnya mantan tunangannya itu direbut oleh Dosennya sendiri yang seumuran ayahnya.”
“Kok mau ya?” tanya yang lain.
“Bingung kan? Dosennya itu bukan hanya tua, tetapi juga tua-tua keladi. Semakin tua malah semakin menjadi-jadi. Dan satu hal lagi, dosennya itu memang buaya darat yang suka menggarap mahasiswinya sendiri. Dan mantan tunangan Paman Dani itu bukannya tidak tahu. Malah lebih dari tahu.”
\ “Hiy, jijik aku mendengarnya,” sela salah seorang ibu.
“Kok tahu? Memangnya kamu tahu dari mana?” tanya ibu-ibu yang masih bingung.
“Hahaha, aku kan tahu segalanya di sini? Tak ada yang aku tidak tahu di wilayah ini,” kata Ibu yang serba tahu itu.
“O, begitu ya ceritanya? Tadinya saya kira dia itu teroris yang menyembunyikan diri di sini. Kalau teroris itu baru rahasia namanya,” gurau seorang ibu yang lain lagi.
“Betul tuh. Berita patah hati saja dibilang rahasia.” Sahut ibu yang lainnya lagi.
“E, jangan-jangan dia itu memang seorang teroris?” bisik ibu yang lain lagi.
“Ah, masa sih?” sahut yang lain.
“E, jangan bicara sembarangan. Itu bisa menjadi fitnah, lho?” sahut ibu yang sejak tadi tidak bicara apa-apa.
“Saya kan tadi bilang jangan-jangan dia itu memang seorang teroris. Saya juga tidak bilang bahwa ia itu pasti teroris, tidak. Itu cuma perkiraan saya saja, ” sahut ibu yang tadi.
“Ah, jangan bilang teroris ah. Ngeri aku mendengarnya. Salah-salah nanti ada pasukan Densus 88 yang datang ke sini,” sela ibu berjilbab merah.
“Ah, nggak mungkin. Nggak ada tampang teroris,” sanggah salah seorang ibu yang berkaca mata di pojok itu.
“Dari mana ibu tahu kalau dia itu bukan teroris?”
“Ya, feeling aja. Masa orang seganteng itu dibilang teroris?”
“ Mungkin saja.”
“ Mungkin saja bagaimana? Mana mungkin teroris jalan-jalan keluyuran kaya gitu tuh? Tuh lihat orangnya di jalan itu. Nah, nggak ada tampang teroris kan?”
.
Kebetulan pada saat itu Deni Komara lewat di samping langgar tempat majlis yasinan itu. Ibu-ibu itu pun tertegun sebentar dan semuanya langsung menengok keluar. Sementara Deni Komara sendiri bingung, kenapa ibu-ibu itu semuanya menengok ke luar. Apakah ibu-ibu memperhatikannya? Ternyata benar. Ibu-ibu itu memang memperhatikannya.Ada apa ya? Deni terus berjalan tanpa memperhatikan ibu-ibu di majlis itu.
.
“Memangnya tampang teroris itu bagaimana ya?”
“Ya seperti dalam berita di tv-tv itu. Teroris itu biasanya orangnya pendiam, tertutup, tidak mau bermasyarakat. Penampilannya suka pakai baju koko, pakai kopiah putih. Dan sering ada tamu yang datang diam-diam waktu malam lagi.”
“O, gitu ya?”
“Ya, gitu. Nah, yang satu ini? Jauh sekali bedanya. Wajahnya tampan sekaligus maco, murah senyum dan pandai bergaul. Dan satu lagi, orang ini suka memelihara ayam aduan. Mana ada teroris yang suka memelihara ayam aduan gitu?”
“O, bilang saja terus terang bahwa kamu itu suka sama dia, hahaha.”
“Memangnya nggak boleh aku suka sama dia? Gini-gini juga aku kan masih jomblo? Masalah buatmu? Hahaha.”
“Hahaha, kamu ini jomblo apaan? Sudah dua kali menjanda kok masih ngaku jomblo. hahaha.”
“Wah, bagaimana ini? Di majlis kok ngomongan yang begituan hahaha.”
“Ibu-ibu, daripada kita merumpi yang tidak-tidak, sambil menunggu penceramahnya, sebaiknya kita mulai saja ya?” usul Ibu Hajjah Marsiah ketua jama’ah Yasinan itu.
.
Sesuai dengan usul ketua jama’ah Yasinan itu, maka acara pun dimulai dengan membaca surah Yaa sin, lalu dilanjutkan dengan membaca shalawat.
***
Deni Komara terus berjalan mencari tempat beristirahat yang nyaman. Dia terus berjalan tanpa memperhatikan orang-orang yang membicarakan dirinya di belakangnya. Tidak jarang ia melihat gadis-gadis yang melempar senyum nakal ke arahnya. Ada juga gadis yang mengedipkan isyarat mata kepadanya. Ternyata Deni bisa juga sekali-sekali berbuat nakal membalas senyum dengan senyum, membalas kedipan mata dengan kedipan mata juga. Entah dari mana datangnya pikirannya yang agak nakal itu? Entah apa yang menginspirasinya sehingga ia mau saja membalas senyum dan lirikan mata gadis-gadis itu? Selanjutnya sudah dapat dipastikan bahwa gadis-gadis itu tentu kelepak-kelepak kegeeran. Bagaimana tidak kegeeran merasakan balasan pria macho tanpan dan rupawan itu.
.
Tiba-tiba ia sampai pada sebuah warung, dan yang lebih mengejutkan hatinya adalah si penunggu warung itu tersenyum manis kepadanya. Bukan itu saja. Wajahnya juga mirip dengan Risda Aryani mantan tunangannya itu. Yang membuat Deni menganggap perlu singgah di sini adalah si penunggu warung yang mirip Risda itu. Kata orang-orang itu adalah warung kurihing tempat mangkal para remaja di sekitar itu. Dinamakan warung kurihing karena setiap lelaki yang minum dan makan di warung itu selalu mendapat layanan kurihing manis, selalu mendapat layanan senyuman manis dari kembang warung yang ada di warung itu. Di warung ini ada tiga gadis kembang warung, yang semuanya manis-manis dan manja-manja.
.
Deni singgah di warung itu, seperti biasa siapapun lelaki yang singgah di situ pastilah mendapat pelayanan pertama yaitu keramah-tamahan senyum yang menawan dari penjaga warung itu. Tidak terkecuali Deni Komara ini.
.
“Paman mau makan atau minum saja,” tanya gadis penjaga warung sambil senyum-senyum manja.
“Jangan panggil saya Paman ah. Ketuaan,” kata Deni juga sambil senyam-senyum.
“Orang-orang itu manggilnya Paman sih, jadi Dewi juga ikut manggil Paman. Enaknya panggil apa ya?”
“Akang, ya akang aja. Atau panggil Kang Deni saja.”
“O, Kang Deni saja,”
“Jangan pakai saja. Cukup Kang Deni.”
“O iya, Kang Deni mau pesan apa, Kang?”
“Enaknya apa ya? Makan atau minum saja?”
“Lho, Kang Deni malah balik nanya?”
“Kalo susu? Ada nggak ya?”
“Ya pasti adalah. Memangnya Kang Deni mau susu yang mana?”
“Aduh! Bagaimana jawabnya nih?”
“Ya, Kang Deni minta aja. Nggak usah malu-malu. Bilang aja? Susu yang mana?”
“Aduh! Jangan gitu ah, Nggak enak nih kedengaran orang. Hahaha.”
“Lho, Kang Deni nakal. Pikiran Akang jorok. Memangnya suka yang gituan ya?”
“Lho, kok dibilang nakal?”
“Habis, Kang Deni gitu sih. Ditanya ke mana? Jawabnya ke mana? Hahaha. Maksud Dewi itu, susu yang mana? Susu manis, susu kental manis, teh susu, kopi susu, es susu atau es susu soda? Hehehe.”
“O gitu ya? Kopi susu ada?”
“Ya ada lah pastinya. Kang Deni mau kopi yang asli atau yang instan?”
“Memang ada kopi yang asli?”
“Ya pasti lah ada. Yang asli itu kopi buatan sendiri. Kopi rumahan.”
“Itu asli buatan kamu sendiri ya?”
“Bukan. Bukan buatan sendiri. Tapi membeli juga.”
“Ya bolehlah, aku mau coba kopi yang asli itu, tapi tanpa susu ya.”
“Tunggu sebentar ya. Dewi buatkan kopinya yang spesial.”
“Memang ada kopi yang spesial?”
“Ya ada Kang. Bahkan khusus buat Kang Deni yang super spesial juga ada.”
“O gitu ya? Aku baru tahu kalau kopi itu ada yang spesial dan yang super special. Memangnya, apa bedanya?”
“Iya, ada bedanya. Kopi special itu kental, pekat dan manis. Kalo yang super special itu pakai telur ayam. Kang Deni mau yang mana?”
“Saya pilih yang biasa aja. Tapi kental dan manis.”
“Itu bukan yang biasa. Itu yang special namanya, hehehe. Tunggu sebentar ya Kang.”
.
Sambil menunggu si penjaga warung membuatkan kopinya, Deni Komara mengamati wajah yang mirip Risda Ariyani itu. Wajah gadis ini hampir seratus persen mirip dengan dengan wajahnya Risda Ariyani itu. Keduanya memang serupa namun tak sama. Ternyata bukan hanya wajahnya yang serupa, tetapi juga tingkah laku dan gerak geriknya juga sama. Hampir semua yang ada pada Risda Ariyani itu, juga ada pada gadis ini. Satu-satunya yang berbeda hanyalah bahasa dan tutur katanya. Apakah karena ia sudah lama tidak melihat Risda Ariyani itu? Ataukah dia memang sangat kesepian setelah ditinggal mantan kekasih yang pindah ke lain hati itu? Sehingga ia sangat menginginkan penggantinya. Lebih-lebih lagi ketika melihat Dewi penjaga warung kurihing itu yang begitu miripnya dengan mantannya dulu, sehingga matanya tak berkedip sama sekali melihat si penjaga warung kurihing ini.
.
“Kang Deni nih kopi spesialnya,” kata kembang warung sambil meletakkan kopinya di meja.
.
Tapi Deni Komara itu sepertinya sedikitpun tidak memperhatikannya. Karena bukan kopi itu yang dipikirkannya. Kalo lihat kopi justru ia jadi ingat Risda. Karena memang biasanya Risda selalu membuatkan kopi tubruk buatnya setiap ia datang ke rumah Risda. Kembang warung itu bingung melihat Deni Komara masih melamun. Nampaknya sedikitpun Deni Komara tidak memperhatikan kopi yang sudah tersaji di hadapannya. Diam-diam si penjaga warung itu pun mulai memperhatikan ketampanan dan kemacoan lelaki yang sedang melamun itu. Kebetulan waktu itu tak ada yang lain. Mereka hanya berdua saja. Jadi bisa dia sepuasnya memandang wajah tampannya si Deni Komara itu.
.
“Kang, kang. Kang Deni!” panggil Dewi si penjaga warung itu memanggilnya dengan suara yang lebih keras.
“Kunaon, kunaon?” kata Deni Komara terkejut tiba-tiba.
“Kang Deni melamun ya?”
“Waduh! Ketahuan deh, hehehe,” sahut Deni malu-malu.
“Kang, itu kopinya dinikmati dulu. Mumpung masih panas. Kang?”
“Apa,” sahut Deni sambil mengangkat gelas kopinya.
“Kunaon itu apa sih artinya?” tanya Dewi mulai tebar pesona lewat gayanya yang penuh kemanjaan itu.
“Kunaon? Kunaon itu artinya ada apa,” jawab Deni lalu langsung menyeruput kopinya.
“Kang Deni. Boleh nanya nggak?”
“Ya boleh lah, masa nggak boleh.”
“Benar nih?”
“Benar.”
“Tapi Kang Deni nggak marah, kan?”
“Nggak. Nggak marah. Memangnya kamu mau nanya apa?”
“Kan gini, Kang ya …….”
“Terus…”
“Ah nggak jadi ah. Hehehe.”
“Kok nggak jadi? Kenapa?”
“Jagi gini ya Kang ……. ”
“Ya, lalu …”
“Ah, malu ah. Gimana ngomongnya ya?”
“Kok malu? Kenapa jadi malu? Ngomong aja.”
“Anu, dari tadi Kang Deni suka mencuri-curi pandang terus sama Dewi. Memangnya ada apa ya?”
“Lho? Bukannya kamu yang suka melirik-lirik dari tadi?”
“Tapi kan Kang Deni yang duluan melirik Dewi?”
“Masa?”
“Benar. Sumpah mati. Kang Deni yang mulai duluan, Dewi cuma …”
“Cuma apa?”
“Cuma mau membalas lirikan Kang Deni aja, hehehe.”
“O gitu ya? Jadi lirik-lirikan dong kita, hahaha.”
“Iya Kang, kita lirik-lirikan, Kang. Hahaha.”
.
Inilah pertama kalinya Deni Komara bisa tertawa lagi. Inilah pertama kalinya Deni Komara bisa gembira lagi seperti dulu. Padahal belakangan ini ia selalu muram dan selalu galau. Anehnya mengapa mereka bisa seakrab ini ya? Padahal ini adalah pertama kalinya Deni Komara singgah di warung ini. Apakah ini suatu pertanda bahwa ia akan lebih sering lagi mengopi di warung ini? Ataukah memang karena rasa kopinya yang spesial dan berbeda dari kopi yang ia minum di warung lain? Atau karena senyum manis si penjaga warung itu? Ataukah karena penjaga warungnya yang sangat mirip dengan Lisda Ariyani mantan tunangannya dulu?
.
Tak terasa kopinya sudah habis dan gelasnya juga sudah kosong. Tibalah waktunya ia harus pulang ke rumah. Harinya juga sudah mulai menjelang senja. Deni berdiri dan membuka dompetnya karena ia juga harus membayar kopi asli yang baru diminumnya itu. Tetapi baru saja ia ingin menanyakan harga minumannya ternyata gadis penunggu warung itu langsung tersenyum penuh arti kepadanya.
.
“Nggak usah bayar Kang,” katanya sambil melemparkan senyumnya yang manis itu.
“Jangan gitu ah, nanti kamu rugi, lho.”
“Nggak juga, masih banyak untungnya kok.”

Tiba-tiba saja muncul dari dalam seorang kakek-kakek yang menatap tajam ke arah Deni Komara. Bukan main terkejutnya Deni Komara, jantungnya langsung berdebar-debar, seluruh tubuhnya gemetar, badannya jadi panas dingin karenannya. Tetapi anehnya gadis penjaga warung itu malah senyam-senyum gitu. Ada apa aya? Deni Komara langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun pada kakek-kakek itu.
.
Setelah tiba di rumah barulah Deni Komara merasa plong dadanya. Diam-diam ia merindukan kopi di warung itu. Betapa nikmatnya kopi bikinan rumahan itu. Aromanya terasa segar. Ada sedikit aroma kayu manis dan aroma lainnya yang tidak diketahui aroma itu namanya. Deni merasakan ada sesuatu yang lain ketika ia berada di warung kopi sore tadi. Selain kopinya yang terasa begitu nikmat, juga penunggu warungnya itu yang membuatnya gelisah malam ini. Bukan berarti ia jatuh hati pada penunggu warung itu, tetapi penunggu warung itu membuka kembali luka lama kenangan pahit yang hampir terlupakan itu. Sayangnya ada tatapan mata yang tidak menyenangkan itu. Ada apa ya?
***
Seperti biasa, pagi ini Deni Komara Kartasasmita berjalan-jalan keliling lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Kali ini ia sengaja melewati jalan memutar yang jauh, agar tidak melewati pemilik warung yang mencurigaikan kemaren itu. Dan ia sengaja memakai pakaian olahraga agar tidak mencolok bahwa sebenanya ia bukan hanya berolahraga, tetapi ia mencari warung makan yang murah meriah buat sarapan pagi. Dari jauh dilihat ada sebuah warung makan yang ramai dan penuh pelanggannya. Inilah warung yang dicarinya itu. Awalnya ia mendengar dari mulut ke mulut, warung itu adalah warung julak Bayah orang pahuluan yang paling ramai pelanggannya. Julak Bayah orang pahuluan yang meneruskan usaha warung orangtuanya di sini. Lebih istimewa lagi warung ini letaknya strategis, tepat berada di tengah-tengah komunitas warga bubuhan pahuluan yang di kampung asalnya memang biasa sarapan pagi di warung-warung. Itulah sebabnya mengapa warung ini benar-benar ramai. Di samping letaknya yang strategis harganya juga murah meriah. Memang warung seperti inilah warung yang diiginkannya saat ini.
.
Seperti biasa pagi-pagi seperti ini, warung ini penuh dengan langganannya. Tua-muda, kakek-nenek sampai cucu-cucunya semua sarapan di warung. Hampir semua orang di sekitar warung itu tak ada yang sarapan pagi di rumah. Rasanya aneh kalau ada yang sarapan di rumah. Itulah kebiasaan masyarakat bubuhan pahuluan yang secara turun temurun sudah biasa sarapan pagi di warung. Kalau sampai dua atau tiga hari tidak sarapan di warung, ketidak-beradaannya itu tentu akan dipertanyakan. Kenapa? Sebenarnya ada apa? Sakitkah dia? Atau apakah? Memang sarapan pagi di warung sudah menjadi tradisi turun temurun yang mendekati kewajiban tidak tertulis. Menunya juga khas kalau tidak nasi kuning tentu lontong atau ketupat Kandangan.
.
Demikian juga dengan warung Julak Bayah ini. Canda dan sendau gurau itu menyatu dengan berbagai informasi. Dari masalah pupuk, bibit, sampai masalah keperluan sehari-hari ada di sini. Dari masalah terasi, koperasi, reformasi dan demokrasi sampai masalah korupsi dan grativikasi juga ada di sini. Dari masalah perkumpulan yasinan, serikat kematian, masalah partai dan masalah negara, sampai masalah kisruh PSSI juga ada disini. Dari masalah korupsi hambalang, Dari masalah impor daging sapi sampai masalah harga bawang yang tak terkendali yang mengalahkan harga-harga lainnya juga ada di sini. Sehingga dalam waktu satu jam saja semua informasi itu mudah didapat disini. Demikian pula halnya dengan kabar burung berita tak sedap yang beredar belakangan ini. Bahkan masalah Bantuan Langsung Sementara Masyarakat yang salah sasaran, ada di sini. Dalam sekejap saja kabar itu juga sudah menjadi buah bibir di mana-mana.
.
Orang-orang di warung Julak Bayah begitu asiknya menikmati sarapan pagi, ada yang makan nasi kuning, ada yang makan lontong, dan ada juga yang makan katupat kandangan, menu khusus sarapan pagi. Perlahan-lahan Deni mendekati mereka, tiba-tiba semuanya terpaku tanpa suara. Dicobanya menghampiri mereka dengan senyuman, lalu disalami satu persatu, kemudian baru dia memilih tempat duduk. Dia langsung memesan satu porsi ketupat kandangan.
.
“Hei? Tidak biasanya Paman Dani Kumbara sarapan di warung ini. Kan biasa sarapan di warung Paman Ujang sana,” sapa yang duduk disampingku.
“Sekali-sekali makan katupat kandangan bersama kalian boleh kan?” sahut Deni dengan ramahnya.
“Ya boleh lah, masa tidak boleh?” sahut mereka bersamaan.
“Tidak ada rencana kembali ke Bandung lagi Man?” tanya salah seorang remaja.
“Kita ini kan seperti burung jauh-jauh terbang akhirnya ke warung ini juga makannya.”
“Tapi menurut saya, sebaiknya Paman Dani bikin partai baru saja di Jakarta. Saya siap jadi calegnya, kok. Saya yakin, satu kampung pasti memilih saya. Suara terbanyak kan?” gurauan yang lain sambil tertawa.
“Ah kau ini. Jadi sekretaris RT saja tidak becus, mau jadi anggota DPR,” celetuk yang lain. Maka ramailah gelak tawa di warung Julak bayah.
Deni Komara hanya tersenyum mendengar gurauan itu. Julak Bayah pun menyerahkan porsi ketupat pesanannya. Anehnya dia tidak langsung makan seperti yang lain. Ia bingung melihat tak ada sendok di piringnya. Padahal katupat Kandangan itu kan makanan berkuah? Jadi makannya juga semestinya harus memakai sendok.
“Paman Dani Kumbara ni suka katupat kandangan juga ya?” tanya yang lain.
“Ya suka juga. Santan kentalnya ini yang saya suka. Sambal binjainya ini juga saya mulai suka aromanya. Tapi mana sendoknya?”
“Pakai tangan aja, lebih nikmat.” Sahut yang duduk disampingnya.
“O gitu ya?”

Dilihatnya, yang lainnya juga makan ketupat itu tanpa sendok. Deni mengambil sedikit sambal binjai lalu dimasukannya dan diaduknya pada kuah ketupat di piring. Ia mencuci tangannya di kobokan yang tersedia, lalu mencoba meremas ketupatnya sampai terurai menjadi seperti nasi. Setelah berdoa maka ia memakannya tanpa sendok, santapan istimewa itu pun masuk ke mulutku. Luar biasa nikmatnya. Ternyata benar, santan kentalnya jadi makin terasa. Dan aroma binjai itu sangat tajam memancing selera.
.
“Bagaimana? Enak kan?” tanya yang duduk di sampingnya itu ketika melihat Deni makannya begitu berselera.
“Ya, enak juga ya makan ketupat dengan tangan. Sambal binjainya yang khas ini yang bikin saya ketagihan,” jawabnya tersenyum sambil menyapu keringat yang membasahi dahinya.
“Kata orang di Jakarta itu usaha apa saja bisa jadi duit ya?”
“Ah saja sama, asal bisa melihat peluang, bisa jadi duit. Tergantung rezekinya.”
.
Tidak ada yang istimewa dalam pembicaraan mereka, semua biasa saja. Tidak seperti kabar burung kemaren yang sampai ke telinganya. Konon kabarnya, di belakangnya banyak ada macam-macam dugaan. Ada yang bilang bahwa ia itu terorislah, ada juga yang bilang ia itu buronan narkoba lah, pokoknya macam-macam. Padahal mereka kan tahu bahwa ia itu terdampar di Kota Seribu Sungai ini karena putus cinta. Ini malah dibilang itu lah ini lah. Bagaimana ini?

  • view 186