Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 4)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 4)

Rasanya baru kemaren dia meninggalkan kampung halamannya tanah Pasundan itu, tiba-tiba ia sudah terdampar di kota Seribu Sungai ini. Sedikitpun tak pernah terbayangkan bahwa ia akan menginjakkan kakinya di kota ini. Sedikitpun tak pernah terpikirkan bahwa ia akan dapat hidup jauh dari kota kelahirannya. Sedikitpun tak pernah ada rencana bahwa ia akan mencari pekerjaan di kota ini. Mengapa pula ia harus mencari pekerjaan yang tak pasti di kota ini? Bukankah di sana ia sudah mempunyai pekerjaan yang sudah pasti dapat menjamin kelangsungan hidupnya? Bukankah tanpa menjadi pegawai negeri pun ia bisa hidup berkecukupan? Bahkan ia bisa menciptakan lapangan kerja bagi keluarga dan warga sekitarnya.
.
Mengapa ia harus berada kota ini? Baru beberapa hari yang lalu ia berlabuh di kota ini. Yang kata Mang Didin ini adalah tanah leluhurnya sendiri. Waktu itu ia menumpang kapal laut dari Surabaya ke Banjarmasin. Ia ingat waktu kapal itu baru saja bersandar di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Tak lama kemudian para penumpang pun mulai turun, termasuk juga di antaranya Deni Komara Kartasasmita. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga dengan selamat di tanah leluhurnya, Banjarmasin Kota Seribu Sungai. Deni Komara nampak bingung saat menginjakkan kakinya di pelabuhan itu. Ia masih tidak percaya kalau kini benar-benar tiba di tanah leluhurnya. Dan ia masih termangu ketika melihat jauh ke seberang sana yang sama sekali sedikipun tidak memperlihatkan wajah sebuah ibu kota provinsi. Karena yang nampak di seberang sana hanya gugusan hutan semata. Sedemikian ketinggalannyakah Kota Banjarmasin ini? Sehingga tak nampak ada tanda-tanda wajah sebuah kota.
.
Perlahan Deni Komara yang masih asing itu melangkah sambil menarik tas rodanya mengikuti para penumpang lainnya. Sementara penumpang yang ingin cepat-cepat keluar dari pelabuhan itu, Deni Komara malah bingung tidak tahu harus ke arah mana ia berjalan. Bahkan ia masih tidak percaya berada di Banjarmasin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini.
.
Sambil menarik kopernya yang beroda itu, Deni melangkah keluar pelabuhan Trisakti. Dia berhenti sebentar menengok kekiri dan menengok ke kanan, yang ada hanya orang-orang yang sangat asing baginya, orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Tetapi ketika ia akan melangkah lagi, tiba-tiba saja ada orang memanggilnya.
.
“Kang, Akang, Kang Deni,” sapa seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
.
Deni terkejut, suara itu sama sekali tidak dikenalnya. Cepat ia menoleh ke arah mana datangnya suara itu. Ada seorang lelaki berjalan cepat setengah berlari sambil melambaikan tangannya. Deni bingung, apakah memang dia yang dimaksud orang itu? Ataukah orang lain? Karena ia memang sama sekali tidak mengenal orang itu. Tetapi sepertinya orang itu memang datang untuk dia. Tapi siapa? Kalau melihat penampilanya sepertinya itu adalah tukang ojek, pasti ini tukang ojek. Belum tuntas Deni berpikir, tiba-tiba saja orang itu sudah mengambil alih kopernya.
.
“E, itu mau dibawa ke mana?” tanyanya terperanjat seketika. “Lho? Kamu siapa?”
“Saya tukang ojek, Kang,” jawab orang itu.
“O, tukang ojek? Lalu? Saya mau dibawa ke mana?”
“Akang tidak usah khawatir, saya tetangganya Paman Ujang Paman kredit, Kang.”
“Ujang? Ujang siapa?”
“Saya ojek yang dibayar untuk menjemput Akang yang ada di gambar ini. ”
.
Tukang ojek itu memperlihatkan kertas printing. Deni memperhatikan, ternyata benar. Itu adalah gambar dirinya memakai pakaian yang sama dengan yang dipakainya sekarang. Memang sebelumnya Deni mengirim fotonya itu lewat fesbuk kepada Sukarna Permana, teman sekelasnya dulu yang sekarang tiggal di Banjamasin. Dan ia akan memakai pakaian itu waktu tiba di pelabuhan Trisakti. Kini baru Deni percaya bahwa itu memang benar tukang ojek yang dikirim Karna Permana.
.
Baru saja ia duduk, tukang ojek itu sudah bergerak meninggalkan Trisakti menuju Jembatan Trisakti langsung belok kanan memasuki Jalan Sutoyo. S. Sekarang baru ia betul-betul merasa berada di dalam kota. Banyak kendaraan lalu lalang hilir mudik saling kejar saling balap saling dahulu mendahului. Memang beginilah biasanya keadaannya bilamana ada kapal yang baru datang di Trisakti itu. Banyak mobil truk peti kemas yang membuat Jalan Sutoyo.S ini semakin terasa menyempit.
.
Ojek yang membawa Deni melaju dengan lincahnya di sela-sela berbagai kendaraan lainnya. Tak terasa kini mereka sudah melewati Rumah Sakit Dr. R. Soeharsono, Lembaga Pemasyarakatan, SMK Negeri 5 Banjarmasin, yang semuanya berada di sebelah kiri jalan. Selanjutnya mereka melewati Jembatan Faisal, yang di sebelah kiri jalan ada Mesjid Jami Teluk Dalam sedang di sebelah kanan jalan ada pasar tradisional yaitu Pasar Sederhana, yang semuanya itu tentu begitu asing bagi Deni Komara. Tak berapa lama kemudian mereka berhenti dipertigaan jalan muara Jalan Jafri Zamzam sambil menunggu lampu hijau menyala. Di sebelah kiri jalan ada Pom Bensin dan diseberang jalan itu di sana ada Tower yang kata orang-orang itu adalah penampungan air PDMA Bandarmasih.
.
Lampu hijau telah menyala ojek yang membawa Deni Komara bergerak kembali. Tak lama kemudian mereka sampai di pertigaan Jalan Sutoyo dan Jalan Pandansari. Lalu belok kanan melewati jembatan dan masuk ke Jalan Pandansari terus sampai melewati pertigaan Jalan Mawar dan Jalan Dahlia. Ojek itu terus masuk Jalan Dahlia sampai ke Jalan Teluk Tiram. Lalu belok ke kiri sedikit sampai di perempatan jalan bekas Pelabuhan Lama. Kemudian belok ke kanan dan menyeberangi Sungai Martapura lewat Jembatan terbaru di Banjarmasin itu. Sesampainya di seberang sungai, ojek itu terus melaju masuk gang keluar gang akhirnya sampailah di halaman sebuah rumah setengah permanen berlantai dua. Itulah rumah tinggal keluarga Sukarna Permana.
***
Deni Komara memang diterima dengan baik di tengah keluarga Sukarna Permana ini. Terlebih lagi karena Deni Komara ini adalah teman sekelas Sukarna Permana di SMP dan di SMA dulu. Kini Deni baru tahu bahwa di rumah ini bukan hanya keluarga Sukarna tetapi juga ada beberapa tukang kredit barang keliling yang juga menginap di rumah ini. Mereka umumnya para penjual perabotan keperluan sehari-hari. Umumnya mereka itu menawarkan barang pecah belah, termos, rice coocker, kulkas dan keperluan lainnya. Selain itu ada juga memesan baju ABG, jeans, termasuk juga laptop. Pokoknya apapun bisa dipesan sesuai dengan keinginan dan kemampuan masing-masing. Semua ditawarkan secara kredit yang bisa dibayar dengan cicilan sebanyak empat kali angsuran sampai duabelas kali angsuran. Pembayaran cicilannya juga bervariasi. Ada yang bulanan ada yang mingguan bahkan ada juga yang harian.
.
Deni Komara tidak menduga bahwa rumah ini sebenarnya bukan rumah milik Sukarna Permana sendiri tetapi milik bersama. Dulunya rumah ini dibeli secara patungan 15 orang tukang kredit barang pecah belah dan keperluan lainnya. Memang dulunya penjaja ini adalah orang Jawa Barat. Umumnya mereka itu datang dan pergi secara bergantian. Ada yang pulang kampung tiap tiga bulan sekali, ada yang enam bulan sekali, bahkan ada yang pulang kampung hanya pada hari lebaran saja. Sedangkan Sukarna Permana termasuk yang jarang pulang kampung. Karena hanya dialah satu-satunya yang tinggal menetap di rumah ini dengan anak dan istrinya yang asli orang Banjarmasin sini. Selain itu ia juga telah menyulap kamar depan rumah ini menjadi kios dan warung yang melayani orang minum dan makan yang buka sejak pagi hingga pukul sebelas malam..
.
“Deni Rencananya kamu mau kerja apa di sini? Apa mau jadi tukang kridit juga?”
.
Tanya istri Sukarna ketika Deni sedang asik mengopi di warung Istri Sukarna Permana ini. Sedang Akang-akangnya sudah berangkat kerja. Termasuk juga Sukarna Permana itu masuk gang keluar gang menjajakan dan membawakan barang-barang pesanan pembelinya masing-masing.
.
“Masih belum ada rencana. Yang jelas bukan jadi tukang tukang kredit.” Jawab Deni Komara setelah ia menyeruput kopi panasnya. Nikmat sekali rasa kopi hangatnya.
“Ya bagus lah kalau begitu. Tukang kredit itu untungnya memang bisa dua kali lipat dari modalnya. Tetapi resikonya juga besar. Karena banyak juga orangnya pindah sebelum hutangnya lunas. Makanya Abahnya Riri itu hanya mau menjual barang sama yang dikenal beralamat tempat tinggal menetap saja. Biar sedikit langganannya, tetapi untungnya pasti.”
“O gitu ya Bu?”
“Iya, lagi pula hasil kios dan warung makan ini juga cukup untuk menambah-nambah keperluan sehari-hari. Kan hampir semua warga di sekitar sini makannya di warung ini? Termasuk juga Akang-akang di rumah ini juga”
.
Benar juga kata istrinya Sukarna. Warga di sini dan RT-RT di sekitarnya 90 % bukan warga asli kota Banjarmasin. Sebagian besar adalah urang pahuluan yang memang sudah biasa mewarung dari kampungnya. Kata orang-orang di kampung-kampung di hulu sungai itu, dari kakek-nenek sampai cucu-cucunya biasanya sarapan paginya memang di warung-warung. Hampir tak ada yang sarapan di rumah.
.
“Iya, Bu. Termasuk juga saya Bu, hehehe.”
“Nah iya kan?”
“Kang Deni, apa Kang Deni tidak mau melamar jadi pegawai negeri saja? Kata orang-orang sebentar lagi akan ada penerimaan pegawai.”
“Itu juga masih saya pikirkan.”
“E, Kang Deni, boleh nanya nggak?”
“Ya boleh lah, masa nggak boleh. Hahaha.”
“Hmm ….. Ah, nggak jadi ah.”
“Lho, nggak jadi? Kenapa? Tanya aja. Memangnya Ibu mau nanya apa?”
“Bener nih boleh nanya? Ini agak pribadi nih.”
“Bener. Tanya aja.”
“Dengar-dengar katanya Kang Deni baru pagat balarangan ya?”
“Wah, pagat balarangan itu apa Bu?”
“Itu artinya putus bertunangan.”
“Kok, ibu tau?”
“Ya tau lah. Pokoknya satu orang saja yang tahu. Semuanya juga tahu.”
“Waduh, jadi semua warga masyarakat di sini sudah tahu ya Bu?”
“Nggak juga. Yang tahu cuma buhan akang-akang di rumah ini saja.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Kang Deni ……”
“Ya Bu.”
“Kang Deni, kata orang asalnya kapas menjadi benang. Yang sudah lepas jangan lagi dikenang”
“Oh gitu ya Bu?”
“Cari yang baru lagi, Kang Deni. Di sekitar sini juga banyak kalo Akang mau? Yang cantik-cantik yang muda-muda. Biar Abahnya Riri yang mancarikan. Kang Deni tinggal pilih saja mana yang Kang Deni suka?”
“Hahaha, memangnya barang, bisa dipilih-pilih? Hehehe.”
.
Deni Komara tidak menduga ternyata warung ini juga berfungsi sebagai biro jodoh yang menyalurkan wanita yang ingin bersuami. Perempuannya juga bervariasi mulai yang perawan sampai yang janda-janda. Cukup sampai di situ saja, Deni tidak akan melanjutkan lagi pembicaraannya. Kalau dianjutkan bisa-bisa sampai tawaran jasa wanita esek-esek.
***
Tak terasa sudah dua bulan Deni Komara berada di kota Banjarmasin kota seribu sungai ini. Tetapi ia tidak lagi tinggal di rumah Sukarna Permana itu. Tinggal serumah dengan Akang-akang tukang kredit itu memang serasa tinggal di kampung sendiri. Karena bahasa komunikasi di rumah itu sehari-harinya memakai bahasa Sunda. Kecuali dengan istrinya Sukarna Permana yang asli orang Banjar itu.
.
Meskipun ia sudah delapan tahun bersuamikan orang Sunda, tetap saja ia tidak bisa berbahasa Sunda. Masalah lain yang dihadapinya di rumah itu, Deni itu tidak biasa antri masuk kamar mandi dan kamar kecil. Itulah sebabnya mengapa ia cepat-cepat pindah dari rumah itu. Kini ia menempati rumah sendiri meskipun kecil tetapi lebih pas rasanya sebagai rumah tinggal. Sebenarnya Deni ini kan berasal dari Jawa Barat? Namanya adalah Deny Komara Sastrasasmita. Tetapi tetangganya selalu memanggilnya Paman Dani. Maka di sini diapun biasa dipanggil Dani. Bukan Dany Komara tetapi Dani Kumbara. Maka panggilannya berubah menjadi Paman Dani Kumbara.
.
Awalnya keberadaannya di Kota Seribu Sungai tanah Banjar ini adalah karena ingin melarikan dari dari kegalauannya. Karena ingin menghilangkan kenangan pahitnya bersama Risda Ariyani yang lebih memilih Pak Taufik dosen yang buaya itu daripada memilihnya. Ia berada di tanah Banjar ini karena semata-mata tak ingin lagi bertemu dengan perempuan yang sudah menghianatinya itu. Ternyata semuanya itulah yang membuatnya terdampar dan terkapar di tanah Banjar yang penuh pesona ni.
.
Di sini dia tinggal sendiri menempati sebuah rumah sederhana di perumahan kumuh yang juga sangat sederhana. Meskipun sederhana tetapi ini adalah rumah hak milik sendiri, yang dibeli dengan uang hasil peternakan ayam yang ditabungnya sedikit demi sedikit.
.
Di komplek perumahan kumuh ini tidak mungkin dia bisa membangun peternakan ayam seperti di kampung halamannya di Tanah Pasundan itu. Karena di samping lokasinya yang tidak memungkinkan, tetangganya juga pasti tidak mau terganggu oleh bau yang ditimbulkan oleh ayam-ayam itu. Satu-satunya yang bisa dia kerjakan adalah memelihara ayam dalam kandang yang terbatas. Atau lebih jelasnya dalam kandang yang menyerupai sangkar. Sambil menunggu lokasi yang strategis, dia hanya mengambil sebagian kecil uang yang ditransfer Mang Didin, ia hanya mengambil sebatas keperluan harian saja.
.
Walaupun Deni sudah tidak serumah lagi dengan Akang-akang tukang kredit itu, tetapi ia tetap tidak putus komunikasi dengan mereka. Karena Deni Komara tetap sering nonkrong di warung makam Sukarna Permana itu. Khususnya pada saat makan pagi atau makan malam. Karena makan siangnya mereka itu berada di perjalanan masuk gang keluar gang menjajakan barang kreditannya. Pertemuan informal ini menjadi pengobat rasa rindu kampung halaman.
.
Memang begitulah caranya Deni mengurangi rasa rindu kampung halamannya. Kalau rasa rindu itu datang, ia cepat-cepat pergi ke warung Sukarna itu, minimal dua kali dalam seminggu. Selebihnya ia menumpahkan rasa rindunya lewat dunia maya. Atau bisa juga lewat secangkir kopi, seperti saat ini. Karena pada saat menikmati kopi Deni langsung saja teringat setiap kali ia datang menemui neng geulis gadis manis itu, Risda Ariyani itu selalu saja memberinya kehangatan lewat secangkir kopi. Sekarang ini bila ia sedang menikmati secangkir kopi, ia selalu teringat pada perempuan yang pernah bermukim di hatinya. Pada saat-saat seperti ini selalu saja terbayang kembali wajah perempuan yang sangat perempuan itu. Perempuan yang pernah memberikan kehangatan dalam kehidupannya. Perempuan yang pernah membuatnya merasa benar-benar sebagai lelaki paling lelaki di antara lelaki lainnya.
.
Malam ini sehabis sholat Isya sendirian di rumah, Deni benar-benar merasa kesepian. Ia benar-benar merasa terdampar di Banjarmasin kota seribu sungai ini. Serasa baru kemaren saja ia meninggalkan tanah kelahirannya. Tiba-tiba saja ia merasa terdampar dan terkapar di tempat dan begitu asing, di lingkungan yang benar-benar kumuh ini. Padahal sudah dua bulan ia berada di sini. Aneh, malam ini dia mengharapkan semacam ada keajaiban. Yang dapat menghibur hati meski hanya dengan mimpi. Dia mengharapkan akan datang seorang perempuan lain yang akan mengisi hatinya dengan rasa cinta dan kasih sayang sama seperti mantan tunangannya dulu. Perempuan yang dikenalnya di masa kuliahnya dulu, namun sayang dia trauma pada lelaki pengusaha ayam. Sayang takdir sudah memisahkan mereka.
.
Kini ia sadar bahwa hidup di perkampungan kumuh ini, menikmati panorama alam yang sejauh mata memandang hijau dimana-mana, itu hanyalah mimpi yang pasti tak akan terwujud. Karena di sini ke arah manapun kita memandang, pandangan kita pasti terhalang oleh rapatnya rumah penduduk yang hampir bahkan tak ada pembatas di antara rumah-rumah yang berdampingan dan berdempeten itu.
.
Habis mau bagaimana lagi? Karena hanya di sinilah Deni Komara bisa membeli rumah dengan harga miring. Tentu dengan resiko yang riskan terjadinya musibah kebakaran. Pertanyaannya adalah, apakah selamanya ia akan tinggal di sini? Tentu saja tidak. Sama seperti pemilik rumah yang dibelinya ini. Bilamana sampai saatnya nanti, tentu akan pindah juga ke lain tempat yang lebih pas, lebih nyaman dan lebih-lebih semuanya.
.
Hanya dalam waktu yang relatif singkat, Deni Komara sudah bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan warga masyarakat sekitar. Karena bagi Deni Komara berlaku pepatah Dimana Bumi dipijak di situ langit dijunjung. Di sini warga masyarakatnya terdiri dari berbagai etnik. Ada Jawa, Sunda, Bugis, Makassar, Madura, Ambon, Bima, Batak, Minang. Manado, Timor, Papua, Dayak dan orang Banjar sendiri. Sedangkan etnik Banjar sendiri juga terdiri dari kelompok-kelompok yang biasa disebut bubuhan-bubuhan. Ada bubuhan Banjar yaitu sebutan khusus penduduk asli kota Banjarmasin ini, ada bubuhan Martapura sebutan khusus untuk warga kabuapaten Banjar, bubuhan Rantau sebutan khusus untuk warga kabupaten Tapin, bubuhan Kandangan sebutan khusus untuk warga kabupaten Hulu Sungai Selatan, bubuhan Barabai sebutan khusus untuk warga kabupaten Hulu Sungai Tengah, bubuhan Hamuntai sebutan khusus untuk warga kabupaten Hulu Sungai Utara, bubuhan Tanjung sebutan khusus untuk warga kabupaten Tabalong, bubuhan Balangan sebutan khusus untuk warga kabupaten Balangan, bubuhan Bakumpai sebutan khusus untuk warga kabupaten barito Kuala, bubuhan Pleihari sebutan khusus untuk warga kabupaten Tanah Laut, bubuhan Tanah Bumbu sebutan khusus untuk warga kabupaten Tanah Bumbu dan bubuhan Kotabaru sebutan khusus untuk warga kabupaten Kotabaru.
.
Di sini bukan hanya etniknya saja yang Bhineka Tunggal Ika, tetapi profesi warganya juga terdiri dari bermacam-macam lintas sektoral. Mulai dari buruh kerja serabutan sampai pegawai negeri. Mulai dari pengemis jalanan sampai pedagang kelas menengah. Bahkan di sini barangkali juga ada profesi yang meresahkan masyarakat.
.
Inilah lingkungan kehidupan dimana Deni Komara juga ada di dalamnya. Awalnya ia dapat menyesuaikan diri bahkan turut menikmati gaya hidup unik di lingkungan ini. Bahkan ia juga ikut-ikutan hidup praktis makan dan minum dari warung ke warung. Karena di samping harga makanan dan minuman yang cukup merakyat, warungnya juga ada di mana-mana. Jadi di mana pun ia berada jika ingin makan dan minum, tinggal mampir saja. Namun belakangan ini ada salah seorang pemilik warung yang selalu memperhatikannya, bahkan dapat dikatakan selalu mencurigainya. Sebenarnya ada apa ini? Ada apa?

  • view 203