Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 3)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 3)

Sudah tiga bulan ini Deni menahan harga dirinya, sudah tiga bulan pula ia memikirkan dan mempertimbangkannya. Akhirnya jebol juga pertahanannya. Akhirnya dengan berat hati terpaksa ia batalkan rencananya mengelola langsung usaha peternakan ayam itu. Demi memelihara pertunangannya itu, demi memelihara jalinan kasih yang dibinanya sejak SMA itu, ia bersedia menuruti keinginan Risda Ariyani tunangannya itu. Demi memelihara pertunangannya itu, secara resmi ia menyerahkan sepenuhnya manajemen pengelolaan peternakan kepada Mang Didin adik bungsu ayahnya itu. Temasuk juga suntikan dana dari pihak bank untuk pengembangan peternakan ini.
.
Akhirnya Deni memutuskan untuk mengalah dan menuruti keinginan Risda Ariyani itu. Semoga saja belum terlambat. Sore ini dengan penuh harapan Deni Komara menemui Risda. Setelah menghentikan kendaraan bebeknya di halaman rumah Risda. ia pun segera menaiki beranda rumah keluarga Sutisna Subrata Menggala itu. Dengan keyakinan penuh yang kuat ia akan membicarakan pembatalan sepihak pertunangannya tiga bulan yang lalu itu.
.
“Aku harus bertemu dengan Risda, aku harus bicara dengan dia. Pokoknya bagaimana pun Risda tidak boleh memutuskan pertunangan itu secara sepihak. Kalau perlu aku akan meminta maaf. Apapun persyaratannya akan aku terima” bisiknya di dalam hati.
.
Diam-diam Pak Sutisna Subrata Menggala, ayahnya Risda itu, sedang mengamati dan memperhatikan Deni Komara lewat kaca jendela. Sebenarnya Pak Sutisna agak risau juga memikirkan masalah yang menimpa putri semata wayangnya itu. Mengapa Risda Ariyani yang sangat disayangi itu harus berakhir seperti ini? Mengapa masalah yang telah lama dilupakannya itu muncul kembali ketika akan berlangsungnya pernikahan putrinya itu? Semua yang menimpa anaknya itu membuka kembali kenangan dan luka lama yang begitu menyayat hatinya. Meski demikian, dia tidak mempermasalahkan lagi luka lamanya itu asalkan Risda bisa bahagia. Permasalahannya sekarang adalah mengapa Deni Komara Kartasasmita itu baru datang sekarang? Mengapa anak itu tidak datang jauh-jauh hari? Mengapa ia baru datang setelah semuanya sudah terlambat? Mengapa baru datang setelah puteri kesayangannya itu telah menetapkan calon suami pilihannya sendiri, yang jauh lebih tua? Mengapa dia baru datang setelah Risda bersedia diperistri lelaki yang seumuran ayahnya?
.
“Assalamu alaikum,” salam Deni.
“Wa alaikum salam.”
.
Pak Sutisna membukakan pintu. Miris juga hatinya ketika melihat penampilan anak muda yang dulunya smart dan ceria. Jauh berbeda dengan penampilan anak muda yang dilihatnya ini. Kini penampilannya dari kepala sampai kaki nampak tidak terurus layu kumal dan lusuh.
.
“Silakan masuk,” katanya dan mempersilakan anak muda itu duduk di kursi tamu.
.
Deni pun duduk di kursi yang biasa ia duduki ketika berada di ruang ini. Diamatinya diam-diam tata ruang di ruang tamu itu, nampak hampir semuanya berubah tidak lagi seperti tiga bulan yang lalu. Susunan dan tata ruang penempatan meja tamu dan peralatan lainnya hampir semuanya berubah. Semua peralatan dan hiasan yang dulu dibelinya bersama Risda itu, sekarang tidak ada satupun yang dipajang lagi. Ternyata bukan hanya tata ruang yang berubah, tetapi tata cara penyambutan Pak Sutisna juga berubah. Perubahan itu jelas terlihat pada sikap Pak Sutisna yang jauh berbeda. Penerimaan Pak Sutisna tidak sehangat dan segembira dulu. Yang terlihat justru sebaliknya kaku dan serba salah. Diliriknya orang tua itu hanya diam tertunduk layu tidak seperti biasanya. Padahal selama ini tak pernah Pak Sutisna sedingin ini, bahkan biasanya Pak Sutisnalah yang selalu aktif berbicara, sedang Deni hanya menjadi pendengar yang baik. Tidak seperti sekarang ini. Dulu Deni selalu disambut dengan papan catur, sekarang tidak ada papan catur lagi.
.
Deni menunggu Pak Sutisna mulai bicara, karena memang seperti itu biasanya. Tetapi kali ini malah Pak Sutisna tidak bicara apa-apa. Mereka kini bagaikan dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Kini mereka malah diam-diaman dengan pikirannya masing-masing. Setelah cukup lama Deni menunggu dan terus menunggu barulah Pak Sutisna mulai bicara.
.
“Deni,” kata Pak Sutisna membuka pembicaraan memecah kesunyian.
“Ya Abah,” jawab Deni
“Sebenarnya Abah sudah lama mau bicara. Tetapi baru sekarang kita bisa bertemu. Jadi mumpung Nak Deni sudah ada di sini, marilah kita bicarakan sekarang”
“Iya Abah. Deni juga sudah lama mau bicara dengan Risda. Risda-nya ada Abah?”
“Wah, baru saja keluar tadi. Memangnya penting ya Nak Deni?”
“Dibilang penting ya penting. Dibilang tidak, ya ternyata memang penting, hehehe,”
“Oh, ya ya, hehehe,” Pak Sutisna mencoba ikut tertawa, meskipun sedikit terpaksa.
.
Deni Komara manggut-manggut kebingungan sambil berpikir mencoba mencari cara menghidupkan kekakuan suasana. Ia berpikir bagaimana caranya agar suasana bisa mencair dan akrab seperti dulu lagi. Bukankah dulu setiap kali datang ke sini ia selalu menemani Pak Sutisna bermain catur? Kenapa tidak mengajak bermain catur saja seperti dulu lagi?
.
“Abah, main catur yu.” ajak Deni mencoba mencairkan suasana.
“Ayo. Siapa takut? Hahaha.”
“Abah?”
“Ya, Deni.”
“Papan caturnya? Mana, Abah?”
“O iya, Abah lupa nih. Maklum udah tua, hahaha. Sebentar Abah ambil dulu ya.”
.
Pak Sutisna mulai terbawa irama suasana yang dibangun oleh Deni Komara. Tanpa menyadari bahwa papan catur itu sudah tak ada lagi. Karena benda apapun yang berkaitan dengan Deni Komara sudah dibuang oleh Risda. Nampaknya Pak Sutisna ini benar-benar lupa, bahwa barang itu sudah tak ada lagi di rumah ini. Dia juga lupa bahwa Deni Komara ini sudah bukan calon menantunya lagi. Nampaknya Pak Sutisna juga lupa bahwa tadinya ia ingin membicarakan masalah Risda.
.
Deni menunggu Pak Sutisna mengambil papan catur, ternyata lama benar masih belum keluar juga. Ia tidak mengetahui, ia benar-benar tidak mengetahui bahwa papan catur itu sudah tidak ada lagi di rumah ini. Sementara menunggu Pak Sutisna, tiba-tiba saja ia mendengar bunyi mobil berhenti di halaman. Deni Komara sempat bingung mendengar bunyi mobil itu. Bukankah mobil Pak Sutisna sejak tadi sudah ada di halaman? Lalu itu mobil siapa? Mobil tamu?
.
“Assalamu alakum.”
.
Terdengar suara salam berbaringan, suara lelaki dan perempuan. Deni Komara terkejut tiba-tiba mendengar suara yang sangat dikenal dan begitu akrab di telinganya. Bukankah itu suara Risda? Tetapi suara yang laki-laki itu? Suara siapa?
.
”Wa alaikum salam,” sahutnya masih kebingungan.
.
Deni cepat-cepat mengangkat wajahnya ke arah pemilik suara itu. Dia pun kaget begitu melihat laki-laki yang datang bersama Risda. Risda dan laki-laki itupun terperanjat, seakan tak percaya dengan apa yang mereka dilihat. Untuk sementara ketiganya jadi terpukau, diam dan hanya saling berpandangan saja, tak mampu mengeluarkan suara lagi. Deni sungguh lebih bingung lagi ketika melihat lelaki yang datang bersama Risda itu adalah Pak Taufik Jaya Amijaya dosennya sendiri. Ternyata lelaki yang datang bersama Risda itu adalah Pak Taufik yang dulunya saingannya itu. Tetapi mengapa Risda begitu mudah terjerumus masuk perangkap dalam pelukan Pak Taufik dosen yang memang hobinya suka menggarap mahasiswinya itu? Mengapa ia mau saja malah nampak begitu mesra dengan Pak Taufik yang pantas jadi ayahnya itu? Mengapa Risda memandangnya biasa? Mengapa Risda nampaknya menganggap Deni itu hanya seperti orang lain? Apakah cintanya itu sama sekali tak ada lagi di hatinya? Mengapa?
.
“E ada Deni,” sapa Pak Taufik tersenyum dengan senyum yang ramah yang diramah-ramahkan. “Sudah lama ya?”
.
Pak Taufik dan Risda langsung duduk berdampingan bermesra-mesra. Nampaknya sedikitpun tak ada canggung-canggungya Risda duduk di samping Pak Taufik yang lebih pantas jadi ayahnya itu. Keduanya nampak bergaya sepasang anak muda yang sedang kasmaran. Deni Komara bukan hanya cemburu malah merasa jijik melihatnya. Tetapi ia mencoba bersikap dewasa seolah-olah tidak terpengaruh. Cukup lama Deni baru bisa menenangkan dirinya.
.
“Nggak juga. Ini juga baru duduk. Rencananya mau main catur sama Abah.”
“Kan sekarang Deni sudah lulus? Apa rencana selanjutnya? Melanjutkan ke S2? Atau melamar kerja? Kan sebentar lagi akan ada seleksi penerimaan CPNS nih?”
.
“Masih dipertimbangkan Pak.”
“Kalo Risda sih rencananya langsung menikah dan sekaligus juga mau ke S 2.”
“O gitu ya, Pak?”
“Iyya. Gitu kan Yang?” tanya Pak Taufik kepada Risda.
.
Risda masih tidak bisa bersuara, ia tidak menjawab hanya mengangguk malu-malu tapi mau. Betapa pedih hati Deni sekaligus juga geram muak dan jijik melihat ulah Risda yang begitu jinak dan menyebalkan itu. Dia sama sekali tidak menduga Risda Ariyani itu begitu saja melupakannya. Dia tidak bicara apa-apa selain dari senyam-senyum cengar-cengir cengengesan gitu. Apakah dia memang berubah drastis itu memang maunya dia? Dan ketika Deni memperhatikan dengan teliti, ternyata cincin pertunangan mereka dulu telah berganti dengan cincin pertunangan yang lain. Padahal dia datang ke sini tujuannya justru ingin mengeratkan kembali jalinan kasih yang terputus itu. Tetapi setelah melihat kenyataan yang ada, rasanja itu tidak perlu lagi. Sebenarnya ia ingin cepat-cepat pulang, Tetapi dia tetap berusaha bersikap tenang, lebih dewasa dan tidak ingin memperlihatkan kekecewaannya.
“Lho? Bukankah Bapak menikahnya dengan Erna Darmawan anak sejarah itu Pak?”
“Wah itu gosip. Jangan percaya gossip murahan begituan,” bantah Pak Taufik begitu tenang dan percaya diri. “Dia itu kan sudah hamil duluan? Masa orang lain yang berbuat Bapak yang menikahinya. Itu tidak mungkin kan?”
“Benar juga ya? Kan selama ini Bapak tidak pernah makan sisa ya Pak? Maunya barang baru terus ya Pak?” sahut Deni dengan sindiran halus tapi tajam.
“Ah kamu bisa aja. Jangan gitu ah. Kan manusia bukan barang lho? Masa dibilang barang baru. Barang baru itu kan kesannya perempuan esek-esek gituan?”
.
Anehnya Risda juga begitu tenang. Sedikitpun ia sama sekali tidak terusik, sedikit pun ia tidak terkejut mendengar sindiran Deni itu. Padahal kata-kata itu begitu tajam dan menyakitkan. Bagi wanita lain tentu merasa tak enak dengan sindiran itu. Tetapi Risda Ariyani sedikitpun tidak berarti apa-apa. Itu berarti mereka sudah sepakat melangsungkan pernikahan itu. Itu berarti sudah tidak ada harapan lagi bagi Deni Komara merajut kembali cintanya yang putus itu. Tiba-tiba saja terdengar suara Pak Sutisna dari dalam.
.
“Nak Deni, papan caturnya tidak ada!”
.
Pak Sutisna terkejut ketika melihat Pak Taufik dan putrinya itu sudah datang. Rupanya dia tidak mengetahui kedatangan putrinya itu. Akibatnya dia jadi serba salah, bingung mau berbuat apa.
.
“O kalian sudah datang ya? Abah tidak mendengar kedatangan kalian.”
“Iya Abah. Ini juga baru datang, Abah.” Jawab Pak Taufik.
“O papan catur tidak ada ya Pak?” tanya Deni menyela pembicaraan mereka.
“Iya, Abah sudah mencarinya kemana-mana, tetapi tidak ada juga.” Jawab Pak Sutisna.
“Ya, tak jadi main catur dong. Karena kita tak jadi main catur, sebaiknya saya pulang saja Pak.” Kata Deni langsung berdiri mau pulang.
“Kok pulang? Nggak ngopi dulu?” tanya Pak Sutisna kebingungan.
“O makasih Pak. Kan tak ada lagi yang perlu kita bicarakan?”
“Kalo itu maumya Nak Deni, Mangga atuh Nak Deni. Abah bisa berbuat apa? Abah tidak mengusir Nak Deni lho?”
“Assalamu alaikum.”
“Wa alaikum salam.” Sahut Pak Sutisna berbarengan dengan Risda dan Pak Taufik.
.
Deni terus berdiri dan beranjak meninggalkan rumah Pak Sutisna. Hanya Pak Sutisna yang mengikutinya sanpai ke beranda. Sementara Risda pastilah sedang asik berpacaran dengan ABG tua Dosen tua-tua keladi yang kegatalan itu.
.
Deni hampir-hampir tidak percaya. Dengan berat hati dia menggigit bibirnya sendiri. Sambil menahan rasa geram ia mengepalkan genggamannya kuat-kuat menguatkan hatinya yang lagi galau. Sungguh pahit rasanya mengingat masa lalu yang begitu menyenangkan. Sebentar kemudian ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kuat. Deni mencoba untuk menenangkan dirinya kembali.
.
Dengan perasaan gundah Deni menghidupkan kendaraan bebeknya. Kalau pagi tadi Deni berangkat dengan perasaan cerah dan percaya diri, tetapi justru kini sebaliknya. Dia kembali dengan perasaan gundah-gulana dan galau segalau-galaunya. Meski demkian Deni berusaha tenang setenang-tenangnya. Dia ingat betul bahwa banyak terjadi kecelakaan bagi orang-orang yang galau seperti dia saat ini. Dia harus ekstra hati-hati dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang agar jangan sampai berbahaya. Akhirya ia sampai di rumah dengan selamat.

***
Seperti biasa kalau keadaan sedang galau begini ini Deni Komara Kartasasmita cepat-cepat pergi ke peternakan ayam keluarga yang tidak terlalu jauh dari kota. Biasanya dia juga bisa berhari-hari bahkan bisa berminggu mingggu ia berada di rumah ini. Seperti sekarang ini, sejak kemaren sore ia sudah menginap di rumah peninggalan orangtuanya ini. Cuaca di bulan Juni ini memang selalu terasa panas di siang harinya. Meskipun terkadang langit berawan dan cuaca mendung, tetap saja hawa udara terasa panas. Untunglah rumah tinggalnya ini dikelelingi pohon-pohon yang rindang, sehingga hawa sejuk dari pohon-pohon itu cukup menejukkan masuk ke dalam kamar rumah tinggalnya ini. Dengan sejuknya udara di kamar rumah ini, dia berharap bisa menyejukkan hatinya yang sedang galau. Tetapi tetap saja tidak bisa, karena pikirannya selalu saja melayang jauh ke luar sana.
.
Sepintas lalu tak ada masalah dengan Deni Komara Kartasasmita yang kini tengah duduk berleha-leha sambil memandang ke luar lewat jendela. Kandang peternakan ayam potong dan ayam petelur peninggalan keluarganya itu masih tertata rapi. Di sana ada Mang Didin adik bungsu ayahnya itu tengah asik mengamati ayam-ayam peliharaan yang ada di sini. Kalau dulu di sini khusus untuk memelihara kampung, ayam pedaging dan ayam petelur khusus buat konsumsi saja. Sekarang tidak hanya itu, tetapi juga memelihara dan memasarkan ayam-ayam timangan. Disebut ayam timangan karena ayam ini dipelihara bukan untuk dikonsumsi tetapi untuk disukai dan ditimang-timang. Ayam-ayam timangan ini dulunya hanya dimiliki para bangsawan. Sekarang bukan hanya para bangsawan yang memiliki, tetapi juga masyarakat biasa. Tentu saja ayam timangan ini hanya dimiliki kalangan masyarakat menengah ke atas, karena harganya yang cukup mahal.
.
Di sini ada Ayam Pelung yaitu ayam peliharaan asal Cianjur yang terkenal dengan suara kokoknya yang panjang mengalun, beratnya yang sampai 6 kilogram dan tingginya yang sampai 50 centimeter itu. Sehingga sering diadakan kontes ayam pelung ini dengan kriteria penilaian meliputi bentuk tubuh, keindahan warna dan suaranya. Di sini juga ada Ayam Bekisar yaitu ayam hasil kawin silang antara ayam buras betina dengan ayam hutan pejantan. Ayam Bekisar ini banyak disuka karena bentuk tubuhnya yang menyerupai ayam hutan dengan bulu-bulunya indah mengkilap serta suara kokoknya yang tinggi, nyaring bergema dan terdengar sampai jauh. Di sini juga ada Ayam Ketawa yaitu ayam asli dari Makassar yang dikenal dengan suara kokoknya yang mirip orang sedang tertawa. Di samping itu ayam ini disuka tentu karena harga yang mahal dan rata-rata jutaan itu.
.
Sebenarnya di sini masih banyak lagi ayam-ayam timangan yang lain selain dari ketiga jenis ayam timangan itu. Hanya saja sekarang Deni Komara tidak sedang memikirkan ayam-ayam itu, tetapi ia sedang galau karena putusnya pertunangannya yang dibatalkan secara sepihak oleh Risda Ariyani itu hanya karena ayam-ayam ini.
.
Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin hanya karena ayam-ayam ini menyebabkan pertunangannya itu putus begitu saja? Sebenarnya ada apa sih dengan ayam-ayam ini? Sehingga Risda sebegitu bencinya sampai-sampai begitu tega dia memutuskan jalinan kasih yang telah dibinanya senja di bangku SMA itu. Sebenarnya ada apa sih dengan ayam-ayam ini? Sehingga Risda sebegitu mudahnya melupakan semua yang telah menjadi kesepakatan bersama. Padahal selama ini tidak ada masalah. Bahkan jalinan kasih mereka itu sudah mendekati hari H pelaksanaan akad nikahnya.
.
Deni Komara hanya terdiam, lalu mengalihkan pandangannya lurus ke atas. Hatinya terus bertanya-tanya. Mengapa Risda Ariyani begitu membencinya. Mula-mula ia meminta Deni membatalkan niatnya menjadi pengusaha ayam, pada detik itu juga tanpa memberi peluang sedikitpun ia langsung memutuskan pertunangan mereka secara sepihak. Siapapun orangnya jika mengalami nasib seperti ini, pasti kejadian itu akan mempengaruhi kejiwaannya. Ini bukanlah hal sepele yang bisa diremehkan begitu saja. Ini adalah sebuah malapetaka besar bagi Deni Komara.
.
“Kabarnya Den Deni putus sama Neng Risda ya?” tanya Mang Didin.
“Iya Mang. Putus.”
“Aduh, sayang ya Den. Padahal Mamang sudah siapkan ratusan ayam potong. Tuh lihat satu kandang itu khusus buat pesta perkawinan Den Deni.”
“Habis mau bagaimana lagi Mang? Itu kan dia yang mau putus?“
“Lalu ayam-ayam itu, Den?”
“Di jual saja Mamang. Kalau perlu dijual dengan kandang-kandangnya sekalian.”
“Jangan. Kandangnya jangan dijual. Itu kan kandang peninggalan almarhum abahnya Den Deni? Kenapa Aden?”
“Tidak kenapa-kenapa, Mamang. Deni mau pergi jauh Mamang.”
“Tidak kenapa-kenapa tapi mau pergi jauh. Mamang tidak mengerti?”
“Deni mau cari kerja di Kalimantan saja.”
“Tapi tetap jadi guru kan?”
“Ya, pasti lah itu. Kan Deni sekolahnya sekolah guru? Tentu saja Deni akan melamar jadi guru.”
“Kenapa harus ke Kalimantan Den? Apa tidak bisa melamar di sini saja Den? Kalau di sini kan masih bisa mengelola peternakan ayam ini, Den?”
“Nah itu dia, Mang. Justru karena peternakan ini pertunangan kami jadi putus.”
“Lho? Kenapa, Den? Memangnya ada yang salah ya dengan peternakan ayam kita ini?”
“Sebenarnya tidak ada yang salah.”
“Kalau tak ada yang salah mengapa harus putus?”
“Yang salah adalah mengapa Deni mau jadi pengusaha ayam.”
“Kenapa Den?”
“Dia itu trauma dengan pengusaha ayam. Dia benci dengan pengusaha ayam. Karena ibunya itu dulu meninggal karena selingkuh dengan pengusaha ayam.”
“O gitu yang Den? Kasihan ya?”
“Iya Mang. Tetapi yang Deni tidak habis pikir, mengapa ia mau saja menjadi istrinya Pak Taufik?”
“Pak Taufik Jaya itu?”
“Iya Mang. Pak Taufik Jaya Amijaya itu.”
“Pak Taufik Jaya yang Doktor itu?”
“Iya Mang. Profesor Dr. Taufik Jaya Amijaya M.Sc. itu.”
“Pak Taufik itu kan sudah menduda dua kali.”
“Iya Mang. Istri yang diceraikan itu dulunya juga mahasiswinya sendiri.”
“O gitu ya Den? Mamang baru tahu kalau Pak Taufik itu sukanya memperistri para mahasiswinya sendiri. Memang dosen-dosen itu suka yang begitu-begituan ya Den?”
“Tidak juga. Hanya ada satu dua orang saja yang sama seperti Pak Taufik itu.”
“O jadi itu masalahnya yang membuat Den Deni mau hijrah ke Kalimantan?”
“Iya Mang. Kalau Deni masih di sini, Deni nggak bisa tenang Mang. Deni nggak mau ketemu lagi dengan mereka.”
“Mereka siapa, Den?”
“Ya mereka si Risda dan Pak Taufik itulah. Lagi pula Pak Taufik itu dosennya yang sudah mengincar Risda sejak tahun-tahun kemaren.”
“Lho? Dosennya Neng Risda itu dosennya Den Deni juga kan?”
“Iya Mang. Gara-gara Risda trauma dengan pengusaha ayam itulah, makanya niat dosennya memperistri Risda segera kesampaian.”
“Begini ya Den. Kalo Den Deni mau hijrah ke Kalimantan, ya hijrah aja. Tapi kandang ternak ini jangan dijual. Biar Mamang yang jalankan usaha peternakan ini. Ya seperti yang sekarang inilah. Kan sebagian besar modalnya juga berasal dari Den Deni? Jadi biar nanti keuntungan bagian Den Deni tiap bulan Mamang transfer ke rekening Den Deni.”
“Iya Mang. Maksud Deni juga maunya ya begitu, Mang.”
“Oke, Den. Deal. Siapa takut? Hehehe.”
“Kok Mamang bisa juga ngomong kaya ABG gitu? Hahaha.”
“Iya Den. Saking gembiranya Mamang jadi ikutan kaya ABG gitu. Hahaha.”
.
Mang Didin menyambut gembira keinginan Deni Komara yang ingin ke Kalimantan itu. Karena bagi Mang Didin rencana kepindahan Deni Komara keponakannya itu bukan kepindahan biasa. Tetapi itu berarti Deni akan kembali ke tanah leluhurnya sendiri. Bukankah kakek dan neneknya itu berasal dari Kalimantan Selatan? Berarti ayahnya juga asli keturunan Banjar. Sedangkan ibunya asli Jawa Barat. Hanya saja karena kakeknya tidak pernah pulang kampung, maka Deni pun juga tidak pernah ke tanah leluhurnya itu.
.
Sampai larut malam, Deni Komara tidak bisa juga memejamkan matanya. Ingatannya senantiasa melayang pada sosok Risda mantan tunangannya itu. Jika bukan karena trauma yang dialami Risda. Tentulah Risda itu tidak akan masuk kedalam mulut buaya darat itu. Sebenarnya Risda Ariyani itu bukan tidak tahu siapa sebenarnya Pak Taufik Jaya Amijaya itu. Sebenarnya ia itu sangat mengenal si buaya darat itu. Seorang dosen gatal yang biasa mengarap mahasiswinya. Seekor buaya darat yang berprofesi sebagai dosen itu sudah banyak menggarap mahasiswinya. Sebenarnya pihak fakultas juga sudah mengetahui hal itu. Hanya saja sampai saat ini tak ada mahasiswi yang mengeluh dan melaporkannya. Hanya saja sampai saat ini Profesor Dr. Taufik Jaya Amijaya M.Sc. MM, PhD. itu masih berstatus dosen senior yang sangat diperlukan di mana-mana. Khususnya beberapa perguruan tinggi swasta yang wajib memiliki beberapa guru besar setingkat profesor.

  • view 130