Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 2)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 2)

Sore itu sepulangnya dari pertengkarannya dengan Deni Komara, Risda Ariyani pulang dengan wajah lesu resah dan gelisah, sehingga kecantikannya itu nampak terganggu karenanya. Sesampainya di rumah Risda pun langsung memberi salam pada Abah yang sejak tadi sudah lama menunggunya.
.
“Assalamu alaikum.”
“Wa alaikum salam,” jawab Abah sambil menengok ke arah pintu di mana putri semata wayangnya itu berada.
“Kok kamu baru pulang, Ris?” tanya Abah saat putri semata wayangnya itu mencium tangannya.
“Iya Abah,” jawab Risda lesu resah dan gelisah. Sementara di wajahnya yang cantik itu nampak tergambar semacam rasa kekecewaan.
“Wajahmu nampak lusuh gitu. Ada apa, Ris?”
“Tidak ada apa-apa Abah.”
“Benar tidak ada apa-apa?”
“Benar, Abah.”
“Kok Abah lihat wajahmu itu beda dari biasanya.”
“Cuma capek aja, Abah.”
“Ada masalah?”
“Tidak, Abah.”
“Kamu tidak kenapa-kenapa, kan?”
“Tidak, tidak kenapa-kenapa,” jawabnya berbohong.
“Ya baiklah kalau tidak kenapa-apa. Kamu sudah sholat ashar?”
“Belum. Abah.”
“Sudah sana ganti pakaian dulu baru sholat ashar. Jangan sampai ketiduran ya?”
“Iya, Abah.”
.
Risda masuk ke kamarnya, setelah ganti pakaian lalu keluar mengambil air udhu dan selanjutnya ia sholat di kamarnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakan ayahnya, tetapi mengingat kondisi putrinya yang kelehan itu, untuk sementara ia harus bersabar dulu. Setelah selesai makan malam barulah pembicaraan itu dilanjutkannya kembali.
.
“Risda.”
“Ya Abah.”
“Abah lihat kamu sepertinya ada masalah. Kenapa?”
“Tidak, tidak kenapa-kenapa, Abah.”
“Abah tidak percaya.”
“Kenapa Abah tidak percaya?”
“Ya karena Abah merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari Abah.”
“Menyembunyikan apaan Abah? Risda tidak menyembunyikan apa-apa Abah”
“Abah tetap tidak percaya.”
“Suer, Abah.”
“Suer, suer. Memangnya Abah ini orang lain?”
“Lha? Kenapa Abah?”
“Karena Abah merasa kamu tidak jujur pada Abah. Abah tahu semuanya tentang kamu. Abah juga tahu kalau kamu itu tidak jujur. Kamu itu sebenarnya tidak pandai berbohong. Makanya Abah tidak percaya.” jawab ayahnya yang membuat Risda tertunduk seketika.
.
Kini Risda tak mampu lagi berbohong. Ternyata kepura-puraannya itu terbaca juga oleh Abah. Ia tak berkutik sama sekali. Kini ia hanya bisa tertunduk layu.
.
“Nah tu kan? Sebaiknya kamu terus terang saja. Sebenarnya masalah apa yang kamu hadapi?”
“Risda sedang kacau, Abah,” jawabnya hampir tak terdengar.
“Ada masalah dengan Deni?”
Risda tak menjawab ia hanya mengangguk.
“Dia selingkuh?”
Risda juga tidak menjawab ia hanya menggeleng.
“Dia berlaku kurang ajar sama kamu?”
Risda juga menggeleng.
“Selingkuh tidak, berbuat kurang ajar juga bukan. Lalu apa? Atau jangan-jangan kalian putus ya?”
“Ya, Abah.”
“Apa? Putus?”
“Ya, Abah. Kami putus.”
“Dia? Yang memutuskannya?”
“Bukan. Justru Risda yang memutuskannya. Abah.”
“Kenapa?”
“Lisna juga sudah membatalkan pertunangan, Abah.”
“Lho, lho, ini ada apa? Kenapa?”
“Risda sebal, dia itu sangat menyebalkan. Risda benci dia, Abah.”
“Lho? Tidak bisa begitu. Tidak bisa batal begitu saja. Alasannya juga harus jelas. Sebenarnya ada apa sih di antara kalian itu?”
“Dia mau menjadi pengusaha ternak ayam, Abah.”
“Bagus itu. Kalau dia mau menjadi pengusaha ternak ayam, itu bagus.”
“Dia itu kan calon guru? Jadi harus jadi guru, kan?”
“Ya ia harus jadi guru. Lalu apa salahnya jika ia mau menjadi pengusaha ternak ayam? Berarti dia itu kan sudah punya rencana buat masa depan di samping menjadi guru.”
“Risda maunya ia harus jadi guru saja. Masa malah mengurusi ayam-ayam yang menyebalkan itu.”
“Wah, bagus itu.”
“Kok Abah bilang bagus-bagus melulu? Bagus apanya? Apa bagusnya rencana yang menyebalkan itu? Pokoknya Risda tidak mau!” protesnya terus berdiri langsung masuk kamar dan tidak keluar-keluar lagi.
.
Pak Sutisna Subrata Menggala bingung melihat kegelisahan anaknya itu. Sebenarnya ada apa dengan putri semata wayangnya itu? Kali ini ia benar-benar bingung, dahinya berkerut dan pandangannya lurus ke atas seakan menembus atap rumahnya. Sebuah tanda tanya besar sedang berkecamuk di dalam hatinya. Dia mencoba mengingat kembali apa yang diucapkan Risda tadi. Beberapa saat kemudian Pak Sutisna itu terkejut seketika. Bukankah Risda mengatakan bahwa Deni mau menjadi pengusaha ternak ayam? Benar, tidak salah lagi. Itulah yang sangat menganggu pikiran anaknya itu.
.
Pak Sutisna teringat sesuatu yang hampir dilupakannya selama ini. Dia ingat semua yang telah terjadi enambelas tahun yang lalu ketika Risda masih anak-anak. Bukankah mendiang istrinya itu dulu minggat karena berselingkuh dengan Ganda Sutatmaja? Bukankah istrinya itu meninggalkan Risda yang masih kecil, karena terpikat oleh bujukan Suganda Atmaja? Bukankah Ganda Sutatmaja itu adalah seorang pengusaha ayam? Ia ingat semuanya ketika hidup susah dulu. Dia hanya pengusaha kecil-kecilan dengan asset paspasan. Mana mungkin bisa bersaing dengan Ganda Sutatmaja pengusaha ayam yang sukses itu? Di samping kalah dalam hal ekonomi, dia juga kalah tampan dengan Ganda Sutatmaja itu. Risda itu pasti trauma dengan lelaki pengusaha ayam. Pokoknya siapapun itu, dia benci.
.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya putrinya itu berbuat seperti ini, tetapi inilah yang terparah selama ini. Dia takut terjadi kenapa-kenapa dengan putrinya itu. Di takut putrinya itu terganggu kejiwaannya. Bukankah dulu ada sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi di rumah ini? Bukankah mendiang istrinya itu hampir saja bunuh diri karena dikecewakan lelaki selingkuhannya itu?
***
Awalnya Sutisna Subrata Menggala, Ganda Sutatmaja dan Dahliana Sukaesih sudah terkait cinta segitiga sejak dari SMA. Memang awalnya mereka itu hanya sahabatan. Tapi seiring berjalannya waktu dan karena seringnya berjalan bersama nonton bersama, dan perlahan tapi pasti, mereka telah masuk dalam lingkaran cinta segi tiga. Pak Sutisna memang menyadari bahwa Ganda Sutatmaja itu banyak lebihnya dibanding dia. Ganda Sutatmaja sewaktu muda wajahnya tampan bodinya atletik dan anak dari keluarga mapan. Sedangkan Sutisna muda, wajah paspasan bodi kurang gizi dan anak dari keluarga kelas rendahan. Pokoknya ditinjau dari segi apapun pemuda Sutisna itu pasti kalah.
.
Dahliana Sukaesih itu dulunya adalah gadis remaja cantik jelita yang disuka dan diidamkan banyak lelaki remaja maupun dewasa itu. Gadis ayu yang murah senyum dan kerling mata yang nakal penuh pesona itu. Yang mampu memikat siapa saja yang memandangnya. Maka tentu saja banyak remaja sampai duda-duda dewasa yang tergila-gila padanya. Sayangnya Dahliana Sukaesih itu juga menyukai semua lelaki. Akibatnya sering terjadi pertengkaran seru dan perkelahian gara-gara bersaing mendapatkan cintanya. Walau ketika di SMA nampaknya ia hanya terlibat dalam cinta segitiga, ternyata diam-diam ia pun masih memberi harapan pada setiap lelaki yang tergoda.
.
Banyak sudah yang datang meminang dari kalangan petani, peternak, pengusaha, pegawai negeri. Bahkan ada juga dari kalangan pejabat dan tokoh masyarakat yang ingin menyuntingnya. Namun pada akhirnya ia harus memilih satu diantara mereka. Yaitu Sutisna Subrata Menggala remaja cinta segitiganya itu. Entah apa yang menjadi bahan pertimbangannya sehingga menjatuhkan pilihannya kepada Sutisna Subrata Menggala yang notabene ia hanya dari keluarga pengusaha tani biasa. Ternyata Sutisna Subrata Menggala itulah yang menjadi suami pilihan Dahliana Sukaesih. Mengapa?
.
Dia memilih Sutisna Subrata Menggala bukan karena ia sangat mencintainya. Tidak. Tidak sama sekali. Lalu apa alasannya? Karena ia sangat mengetahui, sangat memahami betapa besar cintanya Sutisna Subrata Menggala itu. Ia juga tahu bahwa Sutisna Subrata Menggala itu sangat takut kehilangan dia. Ia juga tahu Sutisna Subrata Menggala itu sangat mencintainya, apapun yang diperbuatnya Sutisna Subrata Menggala itu selalu saja mengalah. Bahkan ia tidak berani memarahinya. Itulah alasan utamanya mengapa dia lebih memilih Sutisna Subrata Menggala menjadi suaminya.
.
Meskipun sudah bersuami, Dahliana itu nampaknya masih suka bermain api dengan lelaki yang terpikat olehnya. Meskipun sudah bersuami, ia nampaknya masih tidak bisa meningalkan kebiasaan lamanya itu. Yaitu tetap saja diam-diam ia suka melempar kerling nakalnya itu. Meskipun sudah bersuami, ia masih tidak membuang kebiasaan buruknya itu. Sehingga masih banyak saja laki laki yang terpikat olehnya. Utamanya bapak-bapak lelaki hidung belang. Bahkan sampai Risda sudah berusia 7 tahun pun ia masih saja suka selingkuh.
.
Sebenarnya ada juga rasa kecewa di hati Sutisna Subrata Menggala. Sempat juga terbetik di hatinya untuk mengakhiri semua itu, tetapi ia tak bisa. Ada juga terbetik di hatinya untuk mencari istri yang baru, tetapi ia tak bisa. Bahkan sempat juga terbetik di hatinya untuk menceraikan istrinya itu, tetapi ia tak bisa. Karena ia sudah cinta mati, ia sudah tak bisa berpisah lagi dengan istrinya itu. Selain itu ia juga merasa masih mampu membina istrinya menjadi lebih baik dan lebih setia. Bahkan ia punya harapan besar akan bisa membina rumah tangga keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Tapi kenyataanya? Jauh pangang dari api. Kenyataanya, harapan tinggal harapan. Keadaan rumah tangganya jadi semakin membara. Bahkan Hampir setiap hari selalu saja ada amukan badai dan terjangan gelombang. Akhirnya pecah juga perang dunia ketiga di rumah tangga yang telah lama berantakan itu.
.
“Istri macam apa kamu ini yang telah menghancurkan pernikahan suci kita?”
“Pernikahan suci? Suci apanya?”
“Ya, suci. Bagiku pernikahan itu adalah sesuatu yang suci dan sakral. Karena ini adalah salah satu sunah Rasul yang nilainya adalah ibadah.”
“Kamu jangan bawa-bawa rasul dalam masalah ini. Bukankah sejak awal aku sudah bilang bahwa aku tidak bisa mencintaimu sepenuh hati. Dan kau tahu itu. Hatiku ini juga bukan sepenuhnya milik kamu. Tapi juga miliknya Ganda Sutatmaja.”
“Begitu ya? Jadi sampai sekarang kamu masih mencintai dia?”
“Ya, kamu juga tahu kan? Kenapa? Bingung?”
“Jadi selama ini?”
“Lha? Kan dulu kamu yang berjanji? Apapun yang kau mau pasti aku kabulkan. Asal kau mau jadi istriku. Begitu kan katamu dulu?”
“Itu kan .. ? Itu ..?”
“Itu apa?”
“Tapi kan tidak termasuk yang selingkuh ini.”
“Itu sudah tidak penting lagi. Sudah cukup lama aku hidup dalam kebohongan ini.”
“Baguslah kalau kau sudah menyadari sendiri. Aku juga sudah cukup lama bertahan dan bersabar. Dalam kepalsuan cintamu itu. Baiklah kita akhiri semuanya cukup sampai di sini saja. Kalau begitu kita cerai saja.”
“Cerai? Apa bedanya? Bagiku cerai dan tidak cerai sama saja. Bukankah selama ini kita sudah tidak seranjang lagi? Lagi pua, bagiku ranjang Ganda Sutatmaja jauh lebih hangat dari ranjang di rumah ini. Dan aku akan pergi dari rumah ini.”
“Kamu tidak bisa pergi begitu saja.”
“Apa lagi yang bisa aku lakukan di rumah ni, aku sudah lama tidak mencintai kamu. Dan aku sudah memutuskan, aku harus pergi untuk selamanya dari rumah ini,”
“Baiklah kalau itu keputusanmu. Pergilah. Lalu bagaimana dengan Lisda anak kita?”
“Anak kita? Dia bukan anak kamu!”
“Lha kok gitu?”
“Kamu lupa ya? Lisda yang katamu lahir primatur itu? Itu bukan primatur, tetapi aku memang sudah hamil duluan sebelum menikah dengan kamu!”.
“Apa? Dia bukan anak aku! Lalu anak siapa?
“Aku juga tidak tahu!”
“Lho? Kok tidak tahu? Perempuan macam apa kau ini?”
“Kenapa baru sekarang bertanya begitu? Bukankah sejak awal kamu sudah tahu?”
.
Betul, Pak Sutisna baru menyadari bahwa Risda anaknya itu lahir delapan bulan setelah pernikahannya. Dia ingat waktu itu. istrinya selalu aman-aman saja. Mengapa begitu bodohnya dia percaya begitu saja dikadali istrinya. Sedikitpun dia tidak pernah menduga bahwa istrinya itu bohong. Bahkan kelahiran Risda yang katanya lahir prematur itupun, ia percaya saja. Sedikitpun tak ada keraguan. Sekarang semuanya terkuak begitu saja. Tapi harus bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sadah terjadi. Apakah Risda itu darah dagingnya atau bukan, itu sudah tidak penting lagi. Apakah DNA Risda itu berbeda dengan DNA dia, itu juga sudah tidak penting lagi. Kini dia sudah terlanjur sayang. Lagi pula menurut agama dia sudah benar. Karena Imam Syafi’i agama menjamin bahwa setiap anak yang lahir di atas enam bulan setelah penikahan, itu dinyatakan resmi dialah ayah kandungnya. Sedangkan Lisda ini lahir pada bulan yang ke delapan setelah pernikahannya. Berarti dia jugalah nantinya yang bertindak sebagai walinya yang sah jika anak perempuan itu menikah kelak. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah jika ia berpisah, apakah Risda ikut ibunya, ataukah masih harus tinggal di rumah ini?

  • view 172