Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 1)

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
Terdampar di Kota Seribu Sungai (bagian 1)

Matahari di ufuk timur itu masih belum begitu tinggi, dan hari pun baru sekitar pukul tujuh pagi. Berarti inilah saat ramai-ramainya orang berolahraga. Kalau di Jakarta pada saat-saat seperti ini, aktivitas olahraga banyak dilakukan sekitar Monas. Sedang di Banjarmasin saat ini ramai-ramainya orang berolahraga di jalan-jalan sekeliling Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Mesjid yang menjadi kebanggaan masyarakat kota Banjarmasin dan sekitarnya. Bukan berarti olahraganya dilakukan di lingkungan mesjid, tetapi memang mesjid ini berada di jantung kota yang strategis. . Di samping kiri mesjid ada taman maskot taman kota yang indah, sejuk dan nyaman. Keindahan taman ini ditandai dengan rindangnya pepohonan yang begitu menyejukan. Dikatakan taman maskot karena di sini ada munomen maskot Kalimantan Selatan yaitu pohon kasturi dan kera bekantan yang berhidung mancung bergelantungan di sana. Udara di sekitar mesjid juga terasa segar karena ada taman hutan kota di dalam linkungan mesjid. Di sini biasa ada diskusi kecil yang memanfaatkan kesejukan dan kesegaran udara hutan kota ini. . Mesjid yang indah ini berdiri megah menghadap bantaran Sungai Martapura yang diperindah dengan siring Sudirman memanjang dari muara Anak Sungai Tatas sampai ke Jembatan Merdeka. Dan di seberang sana ada Siring Tendean yang di ujuug kiri sana ada Menara Pandang turut memperindah siring. Dan di ujung kanan di sebelah Jembatan Merdeka ada Patung Bakantan kera pemalu berhidung mancung berukuran besar yang saat-sasat tertentu ada semprotan air yang keluar dari mulutnya. . Selain itu Mesjid Raya ini juga dikelilingi jalan raya, sehinggga sekitar lokasi ini sangat cocok untuk olah raga pagi. Baik itu lari pagi, jalan cepat atau hanya jalan santai biasa. Itulah aktifitas yang biasa dilakukan oleh warga Banjarmasin setiap Minggu pagi. Setelah agak capai orang-orang itu pun santai melepas lelah di sepanjang siring di bantaran Sungai Martapura. Salah seorang di antaranya adalah lelaki pendatang yang juga tak mau ketinggalan berolah raga di pagi ini. Sama seperti yang lainnya itu. Ia juga berlari pagi santai mengelilingi areal Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini. Terkadang berlari-lari, lalu jalan cepat bahkan kadang-kadang juga hanya jalan santai biasa saja. Dan akhirnya juga sama seperti yang lain. Ia pun santai melepas lelah di sepanjang siring. Kalau tidak di siring di depan Mesjid Raya ini, tentulah ia di Siring Tendean di seberang sana. . Sungai Martapura ini tepat berada di tengah-tengah Kota Banjarmasin. Dilihat dari udara betapa indahnya sungai ini meliuk-liuk membelah Kota Banjarmasin. Lalu beranak dan bercabang-cabang menghubungkan kampung-kampungnya. Banyaknya anak-anak sungai inilah yang membuat Kota Banjarmasin dikenal dengan sebutan Kota Seribu Sungai. Bahkan karena banyaknya anak sungai itu juga yang membuat Kota Banjarmasin ini juga dikenal dengan sebutan kota seribu jembatan. Sebenarnya jumlah anak sungai dan jembatan itu tidak sampai seribu, itu hanyalah ungkapan majas hiperbola yang tidak perlu kita buktikan. Memang diperkirakan ada lebih dari seratus anak sungai dan lebih dari duaratus buah jembatan di Kota Banjarmasin yang hanya seluas 72 km ini. . Sudah tiga minggu ini lelaki pendatang ini santai di Siring Tendean. Awalnya hanya mendengar dari mulut ke mulut, dari orang ke orang bahwa di Siring Tendean ada tempat santai cuci mata. Utamanya di Menara Pandang yang memesona itu sambil berbelanja kuliner khas Banjar. Ternyata benar. Di siring ini ada Pasar Terapung mingguan. Dikatakan pasar mingguan karena pasar ini hanya ada di minggu pagi saja. Dan pasar Terapung ini punya daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata. “Sering ke siring ini juga ya?” tanya wanita cantik berjilbab biru yang ada di samping lelaki itu. “Nggak juga. Ini juga baru yang ketiga kalinya.” “Kalau yang ada di muara Kuin itu?” tanyanya lagi sambil melempar senyum ramahnya “Wah, yang itu malah belum penah sama sekali. Kamu?” katanya balik bertanya. “Sering. Kapan-kapan nanti kalau ada waktu saya juga mau ke sana lagi.” “Itu kan pasar terapung yang asli?” “Benar sekali. Aslinya Pasar Terapung itu adalah yang ada di muara Kuin bantaran Sungai Barito itu. Dan yang satunya lagi ada di Lokbaintan Kabupaten Banjar.” “Pernah ke sana juga ya?” tanyanya sekenanya saja. “Iya. Tapi nggak sering juga. Di pasar terapung yang di muara Kuin dan yang di Lokbaintan itu, wisatawan berupaya datang menyaksikan aktivitas unik transaksi jual beli di atas jukung. Ke pasar terapung itu mereka sekaligus juga berburu kuliner lokal khas Banjar. Sayang waktunya hanya berlangsung singkat berlangsung singkat. Kalau ingin menikmati uniknya pasar terapung itu, berangkatnya juga harus pagi-pagi sekali. Karena terlambat sedikit saja pasarnya sudah tak ada lagi dan kembali sepi tak ada jual beli lagi.” “O gitu ya?” “Iya, Untungnya Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Pariwisata sudah mengupayakan Pasar Terapung di Siring Tendean ini. Jadi kalau ingin merasakan suasana pasar terapung, mau melihat dan berbelanja ke pasar terapung, maka pasar terapung yang ini adalah kunjungan alternatif yang tidak kalah menariknya. Terkadang sesekali Pemko Banjarmasin juga menggelar hiburan Musik Panting dan penyanyi lokal di atas siring. Terkadang di sini juga digelar tarian Banjar yang penuh pesona itu. Hanya saja di sini, para penjualnya saja yang berada di dalam jukung. Sedangkan pembelinya berada di atas siring. Tentu saja berbeda dengan Pasar Terapung yang ada di muara kuin dan di Lokbaintan itu. Di sana dijual aneka buah-buahan, sayuran, dan aneka makanan, yang semuanya itu dijual di dalam jukung. Di sana pembeli dan penjual sama-sama berada di jukung. Uniknya lagi transaksi lebi banyak dilakukan secara barter barang dibayar dengan barang juga. Kapan-kapan bila ada kesempatan, aku juga ingin pergi ke sana merasakan keunikan pasar terapung di Muara Kuin dan di Lokbaintan itu.” “Ibu dari Dinas Pariwisata ya?” “Ah, jangan pangil Ibu ah,” sanggah wanita cantik berjilbab biru itu sembari melempar lirikan nakalnya. “ Kenapa?” “ Ketuaan.” “ Lho? Ketuaan apanya?” “ Kita kan seumuran? Sebut aku atau kamu saja. ” “ O gitu ya?” “ Ya iyalah, pastinya.” “ Hmmm. kamu dari Dinas Pariwisata ya?” “ Kok tau?” “Ya tau lah. Kan kamu banyak ngomong tentang pariwisata?” jawabnya sambil tersenyum. “Sebenar ya aku bukan dari Dinas Paiwisaa, tetapi dari kelompok yang biasa melaksanakan kegiatan wisata.” “Semacam EO ya?” “Ya semacam itulah. Hm Bapak sendiri dari mana? Bapak ini kan bukan orang Banjar?” “Wah! Kenapa Bapak? “Oh iyya? Lupa, hehehe. Kamu sendiri dari mana? Kamu ini bukan orang Banjar kan?” “Kok tau?” “Ya tahu lah, kan kamu nggak tahu? Bahwa pasar terapung itu bukan hanya ada di sini saja. Iya kan?” “Iya, saya nggak tahu itu,” jawabnya juga masih senyum-senyum gitu. “Sebenarnya kamu ini aslinya orang mana sih?” “Saya?” “Iya.” “Saya dari Jawa Barat. Tapi sebenarnya saya ini blasteran. Kakek dari pihak ayah asli orang Banjar, dan ibu asli Bandung.” “Pantas saja kamu terlihat sangat menyukai sungai ini.” “Iya, aku suka sungai ini.” “Jangankan kamu yang baru di Banjarmasin ini, aku yang lahir dan besar di sini juga sangat menyukai sungai ini. Kata orang-orang yang pernah datang ke Kalimantan Selatan, Sungai Martapura ini selalu saja mengagumkan dan memesona. Dari muara sampai ke hulu dan terus ke hulunya lagi, tetap saja menawarkan berjuta pesona eksotika Banua Banjar.” “Waw, luar biasa!” “Bagi kami memandang sungai ini mengingatkan pada seluruh keluarga kami turun-temurun sepanjang hidup sangat bergantung pada sungai ini. Ada yang membawa barang pecah belah dan berbagai jenis gerabah, hasil kayu olahan bahan bangunan rumah, hasil tanaman seperti labu, semangka, bahkan bibit anakan palawija yang siap tanam, dan lain-lain barang jualan. Seluruh keluarga kami bisa dikatakan manusia sungai yang sepanjang hidup bergantung pada sungai-sungai ini. Karena bagi kami sungai ini adalah urat nadi kehidupan seluruh keluarga. “Aku jadi tertarik. Kapan-kapan aku juga ingin menyusuri sungai ini sampai ke hulunya.” “Ya, nanti kalau ada event menyusuri sungai ini kamu bisa ikutan.” “Kapan?” “Ya nanti lah, kita programkan dulu.” “Mendengar penjelasan kamu, berarti sungai ini juga asset budaya yang menyimpan banyak potensi.” . Tiba-tiba ponsel wanita cantik itu berbunyi. “Maaf ya, ada telpon nih,” katanya terus menjauh dan selanjutnya ia sibuk sendiri dengan HPnya. Kini lelaki itu kembali sendiri lagi seperti waktu datang tadi.  Awalnya dia santai di Siring Tendean ini bukan tujuan wisata, tetapi hanya untuk berhibur diri melupakan duka lara yang ada di hati. Baginya di siring ini adalah tempatnya bergalau-galau. Baik pagi siang sore ataupun malam, kalau dia sedang galau di sinilah dia menumpahkan kegalauannya itu. Sebagai warga pendatang di tanah Banjar ini, tentu keberadaan pasar terapung ini sungguh sangat menghibur. Tetapi kali ini ada yang aneh, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang melempar senyum ke arahnya. Senyum itu sangat familiar baginya. Senyum itu sama persis dengan senyum yang pernah mencuri hatinya. Kerling itu sama persis dengan kerling seseorang yang pernah menawan hatinya beberapa tahun yang lalu. Wajah itu sama persis dengan wajah yang pernah bermukim di hatinya. . Ah tidak mungkin, itu sama sekali tidak mungkin. Itu sunguh benar-benar sama sekali tidak mungkin. Karena perempuan itu tidak mungkin berada di kota Banjarmasin ini. Perempuan itu tingal jauh di luar dari Pulau Kalimantan ini. Kenapa? Karena perempuan itu mantan tunangannya di tanah Pasundan sana. Mereka juga sudah lama putus. Tus tus tus. Jadi tidak mungkin kan yang tersenyum itu mantan tunangannya? Lagi pula buat apa ia berada di Siring Tendean ini? Buat apa senyum-senyum? Padahal mantan tunangannya itu kan sangat membencinya? Bahkan seluruh keluarganya juga sangat membencinya. . Walaupun demikian, sebenarnya wanita itu masih bersemayam di hatinya. Sebenarnya sampai sekarang dia masih memendam rindu. Dan sampai sekarang pun dia masih menyukainya. . “Tapi mau bagaimana lagi? Aku kan laki-laki? Sebagai laki-laki sebenarnya aku sudah merendahkan martabatku. Aku sudah meminta maaf, tetapi dianya saja yang keras kepala. Masa aku yang harus minta maaf berkali-kali? Itu tidak lucu kan? Lagi pula yang salah kan bukan aku? Masa aku harus mengemis-ngemis cinta terus-menerus di hadapannya? Itu tidak mungkin kan? Itu tidak lucu kan? Lagi pula yang dulunya memutuskan kan dia sendiri? Bukan aku? Mau ditaruh di mana mukaku ini? Mau ditaruh di mana harga diriku ini?” tanyanya di dalam hati. *** Kejadian di Siring Tendean pagi tadi benar-benar membuat hatinya tergoncang. Sampai sore ini bahkan sampai malam tiba, dia tetap saja tak bisa melupakan bayangan perempuan yang melempar senyum di Siring Tendean pagi tadi. Meski berulang kali dia membuang bayangan perempuan yang tersenyum itu, tetapi tetap saja bayangan itu tak mau hilang. Semakin kuat dia berusaha menghilangkan ingatannya pada perempuan itu semakin kuat pula bayangan itu menggurat di dalam pikirannya. Mengapa? Mengapa ingatannya selalu saja teringat mantan tunagannya itu? Semakin dilupakan semakin anggun bayangan wajah itu. Lelaki itu berkali-kali menghela nafas panjang. Sementara ingatannya jauh menerawang ke luar sana. . Terbayang kembali wajah si pelempar senyum di Siring Tendean itu. Wajahnya itu mirip dengan Risda Ariyani mantan tunangannya dulu. Dia memang benar-benar bodoh saat itu. Dan mantannya itu malah bodoh lagi. Mereka itu memang sama-sama egois, sama-sama keras kepala. Padahal semua permasalahan bisa saja dibicarakan baik-baik dengan pikiran yang jernih. Sesulit apapun itu tentu ada jalan keluarnya. Padahal dulu mereka pernah mendapat julukan pasangan mahasiswa paling serasi di kampus. Bahkan pernah dinobatkan sebagai pasangan paling harmonis. Semua mahasiswa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan itu juga tahu bahwa mereka adalah pasangan yang saling cinta-menyintai satu sama lain. Itulah sebabnya, di mana ada dia tentu di sana juga ada gadis itu. Jadi bisa saja kan seharusnya mereka bicara baik-baik? Tidak perlu keras kepala kan? Tidak malah sebaliknya saling tuding saling tuduh seperti itu. . Selanjutnya tiba-tiba saja semuanya sudah berubah drastis. Tidak ada lagi keharmonisan, tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi keserasian. Yang ada hanya percekcokan, pertengkaran dan persetruan. Bahkan tiada hari tanpa pertengkaran. Padahal kata orang-orang, di dalam cinta itu harus selalu saling pengertian, saling percaya-mempercayai, dukung-mendukung dan saling melengkapi satu sama lain. “Tetapi dia malah tidak mau mengerti, bahkan menentang keras obsesiku. Aku ini kan laki-laki? Jadi wajar kan kalau aku merencanakan sesuatu untuk masa depan kami? Tapi belum apa-apa dia sudah tiak setuju. Andaikata sedikit saja ada rasa saling tenggang rasa, tentu tidak akan begini jadinya. Kini di usia kepala tiga ini aku masih sendiri. Dan aku berharap dia juga masih sendiri. Jadi masih ada kemungkinan kami bisa bersatu kembali. Asalkan dia yang menyatakan mau kembali lagi padaku. Gampang kan?” gumam lelaki itu di dalam hatinya, Tetapi yang paling tidak dia mengerti mengapa ayam-ayam itu yang menjadi penyebab pertengkaran mereka? Padahal seluruh keluarganya turun-temurun sepanjang hidupnya sangat bergantung pada ayam-ayam ini. Ada yang memelihara, membesarkan ayam ras kemudian menjualnya kembali setelah sampai berat timbangannya. Ada yang memelihara ayam petelur dan menjual hasil telurnya. Ada juga yang memasok dan menjual ayam pedaging atau ayam potong. Ada juga yang khusus memasok dan menjual bibit anak ayam ras. Ada yang menjual soto ayam, sate ayam, ayam panggang, ayam goreng, semua berkaitan dengan ayam. . “Padahal dia kan seharusnya tahu? Bahwasanya aku juga bagian dari mereka kan? Seluruh hidupku dibiayai oleh usaha per-ayaman itu. Seluruh biaya pendidikanku selama ini juga berasal dari hasil usaha dari ayam-ayam itu. Bagiku ayam itu bukan hanya sekedar masalah ternak, tetapi ayam-ayam itu adalah urat nadi kehidupan seluruh keluarga kami. Aku pun tak bisa jauh-jauh dari ayam-ayam itu. Aku juga ingin berinvestasi di sektor perayaman ini, tetapi tentu dengan caraku sendiri. Bagiku ayam-ayam itu juga merupakan asset peluang bisnis yang menjanjikan. Karena ayam-ayam ini juga banyak menyimpan potensi yang bisa dikembangkan. Mengapa aku membiarkan potensi itu berlalu begitu saja?” katanya pula di dalam hatinya. “Jadi kamu ini keluarga pengusaha ayam ya?” tanya Risda begitu ia baru mengetahui. “Iya. Kok tanyanya gitu?” “Kamu benar-benar keluarga pengusaha ayam, kan?” “Iya, kenapa?” “Mengapa kamu nggak pernah bilang bahwa kamu keluarga pengusaha ayam?” “Iya, itu, itu karena aku hanya menerima hasil keuntungannya saja. Aku tidak terjun langsung di dunia usaha peternakan ayam itu. Aku hanya pemilik kandang peninggalan orangtuaku. Dari kandang-kandang itulah aku dapat bagian dari keuntungannya. Semua sudah dikerjakan oleh pamanku.” “O gitu ya?” “Iya, memangnya kenapa?” “Menurutku idemu itu omong kosong belaka,” begitu kata tunangannya saat itu. “Omong kosong katamu?” “Iya omong kosong.” “Omong kosong bagaimana? Ini adalah obsesiku sejak lama. Bahkan sudah jadi tekadku untuk segera mewujudkannya.” “Caranya?” “Dengan Kandang Peternakan Ayam peninggalan keluargaku itu, aku bisa menggelar galeri peternakan ayam. Dengan galeri itu aku akan mengelar kandang-kandang berbagai aneka jenis ayam. Mulai dari ayam kampung, ayam pedaging atau ayam potong, ayam sabung, ayam pelung, ayam bekisar, ayam kate, ayam kedu, ayam nunukan, ayam walik, ayam ketawa, ayam bali, ayam bantam dan ayam-ayam lainnya. Pokoknya berbagai jenis ayam semuanya akan ada di sana.” “Tapi kamu harus membuat kandang peternakan yang lebih luas lagi kan? Itu memerlukan modal besar.” “Wah, kalau modal tak ada masalah.” “Tak ada masalah gimana? Justru modal itu yang jadi masalah utama. Tak ada modal sama saja dengan omong kosong. Sebab tidak ada usaha yang tak perlu modal. Apalagi usaha baru yang akan kau rintis itu.” “Itu tidak perlu kuatir, karena proposal yang kuajukan sudah mendapat respon dari pihak bank. Bahkan ada pemilik modal yang siap berinvestasi. Lagi pula kandang ternak peninggalan orangtuaku ini kan sudah lama menganggur? Jadi hanya perlu perbaikan seperlunya saja. Lagi pula kami di sini sudah biasa memelihara dan mengusahakan peternakan ayam itu. Aku juga sudah biasa membantu almarhum orangtuaku mengelola peternakan ini.” “Membatalkannya? “Ya, kau harus membatalkannya. Harus!” “Tetap saja itu adalah omong kosong.” “Omong kosong bagaimana?” “Kita ini kan Sarjana Pendidikan?” “Lho? Maksudmu apa sih?” “Meskipun baru lulus tetapi kita ini calon guru?” “Iya, itu memang benar. Lalu?” “Ya mestinya kita juga nantinya akan jadi guru di sekolah atau bekerja di instansi dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.” “Lho? Salahnya di mana?” “Mau tahu salahnya?” “Iya.” “Salahnya adalah kenapa kamu malah ngawur mengurusi ayam-ayam yang bau kotor itu? Pemikiran macam apa itu? Kita ini kan calon guru?” “Betul, kita adalah calon guru. Aku juga sudah siap menjadi guru. Bahkan aku juga sudah merencanakan mendirikan yayasan dan lembaga pendidikan. Tetapi aku juga punya obsesi dengan bisnis sektor perayaman ini.” “Aku tidak setuju!” “Kenapa?” “Ya tidak setuju aja.” “Tidak setuju? Harus ada alasannya dong.” “Aku benci semua pengusaha ayam, aku benci kamu!” “Lho, kenapa jadi begitu? Tiba-tiba jadi benci pengusaha ayam. Aneh!” “Pokoknya aku tidak setuju. Kita harus fokus pada pendidikan saja! Dan kau harus membatalkan rencana ayam-ayam yang tak jelas itu.” “Apa-apaan kau ini? Mana mungkin membatalkan begitu saja. Padahal ini adalah obsesiku sejak lama. Kita bisa mengelola peternakan itu tanpa mengabaikan pekerjaan kita. Kita bisa saja memperkerjakan orang lain kan? Jadi, profesi guru jalan, dan bisnis ternak itupun juga jalan. Tidak ada masalah kan?” “Pokoknya aku tetap tidak setuju! Dan kau harus membatalkannya!” “Tidak bias. Justru aku harus mewujudkannya.” “Tidak bisa, aku tidak setuju.” “Iya, kenapa?” “Batalkan!” “Tidak!” “Batalkan!!” “Tidak!!” “Baik? Kalau begitu kita putus! Us tus tus!” “Lho? Kok putus?” “Batalkan pertunangan kita!” “Lho? Kok gitu?” “Sudah! Aku tidak mau berdebat lagi!” bentak Risda langsung berdiri hendak pergi. “Ris! Ris! Tunggu dulu Ris.” . Nampaknya Risda betul-betul berang, ia langsung pergi tanpa memberi kesempatan sedikitpun untuk bicara lagi. Padahal selama ini ia tak pernah segusar itu. Padahal Risda yang dikenalnya selama ini aslinya tidak separah itu. . Itulah awal dari perpisahan mereka. Sungguh di luar dugaan ternyata Risda benar-benar membatalkan pertunangan itu. Membatalkan pertunangan itu sama dengan membatalkan perkawinan. Padahal tidak lama lagi perkawinan mereka sebentar lagi akan dilaksanakan. Apakah ini hanya tinggal kenangan pahit? Apakah jalinan kasih sayang yang mereka bina sejak di SMA itu sudah tidak berarti lagi? Apakah ini akan berakhir bagaikan sebuah pelayaran diterjang amukan badai dan kandas di tengah karang sebelum sampai ke tujuan? Lelaki itu tidak habis pikir, mengapa calon pengantinnya itu begitu egois? Hanya gara-gara berbeda pendapat kenapa harus berpisah?

  • view 216