Kesepakatan

H. Farida Th.
Karya H. Farida Th. Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Maret 2016
Kesepakatan

Deg-degan dan grogi ketika aku memasuki halaman sekolah. Hari itu adalah hari pertama aku akan berhadapan dengan siswa berpakaian putih abu-abu yang mayoritas siswa laki-laki.?

Jam pertama hingga keenam berlalu tanpa kendala. Bel jam ketujuh berbunyi. Aku siap2 menuju ruang kelasku. Kelas disini moving class siswa masuk ke kelas sesuai dengan ruang dan jadwalnya. Ini jadwal kelas 2 TKB (aku lupa kepanjangannya yang pasti jurusan bangunan), hanya ada beberapa siswa di dalam kelas. Ku tanyakan kemana yang lainnya tapi mereka cuma bilang tidak tahu. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Kalau aku lapor ke kepala sekolah, aku kuatir kepala sekolah akan menghukum mereka, aku tidak suka hukuman kekerasan seperti itu. Sambil berpikir mencari cara menaklukan mereka, aku kumpulkan imformasi tentang tiap siswa di kelas itu.

Akhirnya aku tau di kelas itu ada trouble maker yang memprovokasi siswa kelas itu untuk menolak belajar denganku. Entah apa yang menjadi alasannya. Apakah tidak menyukaiku tapi aneh karna aku belum pernah bertemu mereka atau kah tidak suka dengan pelajarannya.

Setelah perbincangan dengan beberapa siswa, aku minta salah satu siswa memanggil teman-teman. Aku berjanji tidak akan marah dan tidak melaporkan mereka. Aku hanya ingin mereka masuk ke kelas dahulu dan berkenalan denganku.

Perkenalan yang sedikit canggung. Ada kekuatiran pendekatanku tak akan berhasil. Setelah perkenalan yang kaku itu lalu aku membuat pernyataan yang mengagetkan mereka. "SAYA INGIN KITA MEMBUAT KESEPAKATAN DAN SAYA JAMIN KALIAN TAK KAN RUGI."

Ku mulai dengan mengucap bismillahirrahmannirrahim dan kalimat panjang "saya dan kalian belum saling mengenal dengan baik. Kalian belum tau saya seperti apa dan begitupun sebaliknya. Saya mengerti pelajaran sa?a mungkin sedikit sulit dan membosankan menurut kalian. Tapi kan kalian belum memulai pelajaran ini bersama saya. Mungkin saat ini kalian mengganggap pelajaran saya ini gak penting, gakpapa. Saya juga tidak ingin kalian dihukum hanya karena tidak suka dengan saya atau pelajaran saya. Saya yakin kalianpun tidak mau dihukum."?

Aku tawarkan kesepakatan:

1. Harus disiplin masuk kelas. Saya dan mereka boleh telat masuk paling lama 10 menit. Dengan mempertimbangkan jarak dan waktu yang mereka perlukan untuk berpindah kelas?

2. Tidak boleh bolos, kalau ada keperluan penting harus izin terlebih dahulu.

3. Jika dalam waktu 1 bulan mereka tidak suka dengan saya atau pelajaran saya maka saya akan mengundurkan diri dari sekolah ini tanpa memberitahu kepala sekolah tentang masalah yang terjadi.?

Tiga kesepakatan yang merubah semuanya menjadi menyenangkan.

Satu bulanpun tiba. Lalu aku tanyakan bagaimana dengan kesepakatan kami. Apakah aku harus mengundurkan diri atau bertahan. Mereka mengatakan "ibu tetaplah mengajar kami, kami suka ibu dan pelajaran ibu."?

Dua tahun berlalu dan tak ada lagi cerita siswa membolos rame-rame. Kali ini aku harus mengundurkan diri dari sekolah ini bukan karena perjanjian itu tapi aku diterima bekerja di tempat lain. Untuk kedua kalinya aku harus mengucapkan perpisahan dengan siswa-siswaku. Yang pertama dengan siswa kelas IV ku dan kini dengan Siswa putih abu-abu ku.

Aku berpamitan dan meminta mereka menerima guru penggantiku dan terus semangat belajar. Tak ku duga, mereka menolak kepindahanku. Mereka ingin aku tetap bersama mereka dan penggantiku saja yang mengambil pekerjaan ditempat lain. Tak terasa mataku basah oleh keharuanku.

Maafkan aku....bukan aku tak ingin lagi bersama kalian tapi aku harus pergi tuk meneruskan karierku ditempat lain.?

Gambar diambil dari google

?