Naluri Takkan Bisa Berbohong

Ilham Wahyudi :D
Karya Ilham Wahyudi :D Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 25 Mei 2016
Naluri Takkan Bisa Berbohong

Tanggal14-15 Mei 2k16, Rumah Allah SWT bersama mereka, aku diberi tahu tentang gerak pola pikir seseorang yang menjadi akar dari aktivitas yang dilakukan.


Disini, bersama mereka, aku mendapatkan pengetahuan tentang naluri yang merupakan bagian dari fitrah manusia yang menggerakkan dia untuk melakukan sebuah aktivitas.


Al-Gharaa’iz adalah naluri-naluri yang tidak dapat di indera mata, namun terdapat pada manusia dan ia menuntut pemenuhan. Terdapat 3 naluri pada manusia, (ghaziirah baqaa’) Naluri untuk mempertahankan eksistensi dan berorientasi pada diri sendiri; (ghaziirah nau’) Naluri untuk melanjutkan keturunan; (ghaziirah tadayyun) Naluri untuk menyucikan sesuatu. [Felix Siauw, 22]


Pemenuhan yang berlebihan pada naluri tanpa memahami aqidah terlebih dahulu dalam melakukan sesuatu (aktivitas apapun) akan menjadikan seseorang terjerumus pada tingkah laku yang rendah.


Ghaziirah Baqaa’ merupakan salah satu yang paling unik dimiliki oleh manusia, karena manusia memiliki caranya sendiri untuk meng eksistensikan dirinya, ada yang bersifat keras, lembut, atauapun melankonis, dll. Pemenuhan pada naluri ini yang berlebihan dan tidak berlandaskan pada aqidah, akan menyebabkan seseorang menjadi sombong, dan acuh tak acuh terhadap orang lain ataupun lingkungan sekitar, dll.


Ghaziirah Nau’ seperti yang telah dijelaskan diatas, pemenuhan pada naluri ini sangatlah baik untuk menumbuhkan motivasi manusia untuk menjadi lebih baik karena dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menjelaskan bahwa orang baik untuk orang baik, dan orang tidak baik untuk orang tidak baik pula. Namun tidak sedikit orang baik mendapat pasangan tidak baik, itu karena ayat tersebut merupakan penjelasan yang terjadi pada saat itu dan orang baik tidak otomatis mendapat pasangan yang baik. Mungkin tepatnya ayat tersebut memberi tahukan kita untuk berproses menjadi orang yang lebih baik dengan taat pada aturan-Nya dan mencari pasangan yang baik pula. “bukan berpura-pura menjadi orang baik untuk mendapatkan pasangan orang baik, karena itu merugikan orang lain.”
Ketika naluri ini menginginkan pemenuhan, dan pemenuhan yang diberikan berlebihan maka teringat pesan seorang ustadz dalam bukunya Udah Putusin Aja: “memang tidak semua pacaran berujung zina | tapi semua zina berawal dari maksiat yang dibungkus pacaran.”


Ghaziirah Tadayyun merupakan faktor paling penting dalam setiap aktivitas yang dilakukan manusia sehingga perilaku yang dilakukan menjadikan manusia berperilaku luhur, pemahaman dalam berperilaku luhur didapat dengan cara merubah mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. Disampng itu, menusia selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahim-nya terhadap kehidupan. Sebagai contoh, mafahim seseorang terhadap orang yang dicintainya, orang yang dibencinya, berbeda dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya karena dia tidak memiliki mafhum apapun terhadap orang tersebut.
Satu-satunya jalan untuk mengubah mafahim seseorang adalah dengan mewujudkan suatu pemikiran yang terbentuk dalam dirinya tentang alam semesta, manusia, dan hidup. Pemikirn ini dapat di tempuh dengan al-fikru al-mustanir (pemikiran cemerlang) sehingga sesuai dengan fitrahnya, memuaskan akal, serta memberikan ketenangan jiwa. Baca PERATURAN HIDUP dalam ISLAM Karya Syekh Taqiyuddun An-Nabhani.

Oleh karena itu, aktivitas apapun yang mau kau lakukan, ketahuilah naluri apa yang sedang kau lakukan agar kau bisa mengendalikannya sesuai fitrah manusia berlandaskan aqidah. Allahu A'lam bisshowab, Jazakumullah khairon..

.

#YukNgaji

Sumenep, 25 Mei 2016