Cinta Senja itu.

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 April 2017
Cinta Senja itu.

                 Cinta Senja itu.

 

           Selarik cahaya mentari senja menerobos gubuk tua itu, merambat halus menuju satu-satunya kamar yang menjadi saksi peristiwa-peristiwa dan percakapan istimewa si empunya.
Perempuan tua itu memandang diri sendiri dalam bayangan cermin yang juga sama tuanya, di ujung kanan cermin ada retakan putih menyerupai uban tua, persis seperti uban putih milik si empunya. Ah, Tuhan selalu saja bisa membuat dunia tertawa dengan detail-detail kecil kreatif nan indah.
Dari bayangan cermin terlihat samar laki-laki tua dengan sisa bau asap jalanan dan keringat datang menghampirinya, menyentuh halus pundak si perempuan, mereka saling memandang dalam bayangan dan tersenyum, bentuk terima kasih pada semesta atas kesempatan untuk tetap bersam hingga usia senja.

"Seandainya saja kita punya sisir dirumah, mungkin aku bisa merapikan rambut dan uban tuaku yag berantakan ini" bisik si perempuan pada laki-lakinya, nadanya seperti meminta.
Laki-laki itu menatap dalam bayangan mata istrinya dari cermin, itu tatapan sedih. "Maaf, aku belum punya. Bahkan untuk memperbaiki jam tangam warisan ini saja aku belum bisa" bisiknya pelan pada si perempuan sembari menundukan muka, ia tak kuasa, hatinya menangis.
"Tak apa, nanti kita pasti punya" jawab si perempuan dengan senyum, senyum yang penuh rasa tulus dan terima.

*****

              Keesokan harinya dengan senja dan cuaca yang berbeda, gerimis sore dengan latar langit berwarna sendu, seperti ada yang sengaja membuatnya terharu hari ini. Laki-laki tua itu berlari kecil membelah rintik bulir gerimis, menyelipkan plastik hitam lusuh berisi sisir baru yang ia dapat dari hasil menjual jam tangan warisan dengan harga seadanya.
Lelaki tua itu bergegas memasuki gubuk, tak ada sisa asap jalanan dan bau keringat untuk hari ini, hanya ada sisa becek gerimis yang melekat rata di sandal jepit dan ujung celananya.

*****

                 Bertepatan dengan derasnya hujan mengungkung bumi. Senyum mengembang di wajah yang tadi telah disiapkan selama perjalanan pulang oleh laki-laki tua itu mendadak hilang saat pertama kali menginjakan kaki di gubuk. Semua mendadak hening, langit solah menangis tanpa suara.

      Dua insan tua saling bertatapan, bulir-bulir air mata juga mulai mengalir dari kelopak mata mereka. Laki-laki tua yang menggenggam erat sisir baru itu tak kuasa melihat perempuanya yang sengaja memotong pendek sekali rambut putihnya. Mereka menangis lewat tatapan yang kemudian dilanjutkan dengan pelukan halus, masih dengan aliran air mata, tanpa sura, tanpa kata-kata.

Bukan. Itu bukan tangisan sedih.

Mereka bukan bersedih karena apa yang telah mereka korbankan berakhir sia-sia. Jam tangan warisan atau pun mahkota rambut di kepala, itu tak pernah menjadi masalah.

Itu tangisan haru.

Juga tangisan syukur.

Syukur kepada Sang Pencipta atas kesempatan untuk saling mencinta sampai ujung usia dengan rasa cinta yang masih sama besarnya.

Juga tangisan saling syukur kepada pasangan, yang telah memilih kebahagiaan pasangan sebagai harga pasti untuk rasa cinta.

*****

          Kini, dan mungkin sampai kelak nanti, mereka akan terus meyakini bahwa kerasnya roda zaman mungkin bisa menggilas tubuh dan jiwa setiap manusia, tapi tidak akan pernah sedikitpun bisa mneyentuh kokohnya rasa cinta.

 

-------------

Sumber dan gambar

Senja pukul 17:27. Sabtu 19-04-2017
Cianjur, negri rantau yang jauh dari pangkuan ibu