Harga "Harga-diri"

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2017
Harga

Harga "Harga diri"

 

"Harga diri itu barang paling berharga yang dimilik manusia setelah nikmat islam dan iman. Tapi sayang, sekarang kita melihat betapa murahnya harga diri itu di lelang, di gedung-gedung tinggi, di madrasah dan instansi negara, di pasar dan gang-gang sempit, bahkan kita bisa memukan orang dengan tanpa malu menjual harga diri di masjid, tempat yang seharusnya suci dari akad jual beli".

Tadi sempat terdengar sayup-sayup suara lantang Mas Faqih menjelaskan, ketika aku berlari dari gerimis menuju majlis. Aku berjalan sambil merunduk-runduk se santun mungkin agar tidak mengganggu kesyahduan majlis sambil sesekali melempar senyum ke sekitar.

*****

"Mas Faqih adalah putra ke tiga dari Kiai Ahmad Jazuli, beliau pernah nyatri 4 tahun di Ma'had Al Fath Al Islami di Damaskus, tempat berkumpulnya para santri pilihan dari belahan dunia, salah satu tempat menempa ilmu agama paling berkelas di dunia yang sempat membuat ketir-ketir para musuh islam. Tapi sayang, Mas Faqih di pulangkan ke Indonesia sebelum beliau menyelsaikan nyantrinya, karena ada gonjang-ganjing perang saudara (rakyat sipil melawan negara) di Syiria. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan formal di Indonesia, dan sekarang belaiu tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana disalah satu Kampus ternama di kota" itulah profil singkat Mas Faqih yang aku dengar dari Abdul, teman kuliahku yang merupakan santri di pondok Kiai Ahmad Jazuli, Ayahanda Mas Faqih. Dan Abdul pula lah yang mengajakku ikut majlis kajian kitab Al Adzkar bersama Mas Faqih. Setaip jumat sore, sekitar 40 sampai 50 pemuda tanggung, yang rata-rata merupakan mahasiswa dan sebagian lagi masih satri, berkumpul di perpustakaan milik keluarga Kiai Jazuli yang disulap oleh Mas Faqih menjadi aula untuk pengajian. Perpustakaan dengan luas 20x15 meter persegi, disetiap dinding berjejer rapi lemari berisi penuh kitab dan buku yang telah di kodifikasi sesuai fann dan genre masing-masing, tak ada meja dan kursi di dalamnya, hanya terhampar karpet lembut berwarna abu-abu dan tiga tiang penyangga, lampu peneranganya terpasang merata dengan salah satu paling besar menggatung di tengah, sudah lebih dari cukup untuk dikatakan memadai. Dan bagiang paling indahnya, terkadang jika sedang tidak ada jadwal pengajian, Mas Faqih sengaja memutar nashid Burdah karangan Imam Bushiri dengan tempo alunan lambat berpadu dengan volume yang tepat. Menenangkan dan menetramkan. Siapapun akan betah menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya di perpustakaan semi aula ini.

*****

"Aku teringat suatu kisah, yang mungkin jika kita tidak menyaksikan langsung dan hidup dengan para pelaku kisah tersubut kita tidak akan pernah mempercayainya" Mas Faqih melanjutkan pengajian bertepatan dengan aku duduk dan memasang kuat-kuat indra pendengaran dan penglihatan. Selalu menyenangkan memandang wajah teduh beliau, warisan lansung dari para pengemban dakwah, keturunan mulia. Dengan baju koko putih polos wajah bersih tempaan air wudhu itu jelas sekali bagi siapapun yang melihat, berpadu dengan kaca mata tipis yang beganggang coklat gelap dan rambut bergelombang yang tertutup rapat oleh kopiah khas mahasiswa al azhar kairo. Buah memang selalu jatuh dekat dengan pohonya, Mas Faqih dan Kiai Ahmad Jazuli.

"Dan sungguh," Mas Faqih masih melanjutkan. "Jika aku tidak mendengarnya langsung dari orang-orang yang aku yakini bahwa mereka tidak mengenal kata dusta aku juga berpikir lima kali untuk mempercayainya. Kiai Jazuli sendiri yang mengisahkan padaku.
"Kisah nyata ini terjadi sekitar akhir tahun 1950an, ketika kampung ini masih sangat asri. Jangankan gedung menjulang tinggi, rumah berdinding batu bata saja masih bisa dihitung jari. Pun, kehidupan disini masih sangat sederhana dan bersahaja dengan balutan kental agama. Entah seperti apa usaha keras para pengemban dakwah pada waktu itu, sehingga kau masih bisa melihat Si Petani duduk damai di dangau membaca lirih al qur'an sambil menjaga padi kuning yang mulai merunduk berat dari gangguan burung prenjak sawah. Kau juga masih bisa merasakan hangatnya maghrib di surau bersama riuh anak-anak mengaji, mendengar pengajian rutin bakda subuh di surau, yang andai taulanya kalian tau, pengajian itu penuh dengan pemuda tanggung, khusyu' menyimak dan bahkan ada yang satu dua karena sangking khusyu'nya, lama sekali mereka merunduk dan bangun ketika ngaji, seperti persis saat hari ahad kalian ngaji shubuh bersama Kiai" para santri tertawa pendek atas gurauan Mas Faqih.
"Dan di pasar, lumrah sekali kalian temukan musfhaf Al Qur'an dan kitab Riyadhussholihin terduduk rapi di rak meja para pedagang, satu dua dari mereka membaca khusyu' menunggu pelanggan atau mengisi waktu kosong dengan sholat dhuha. Tangan-tangan yang tak lelah memutar lembut tasbih, mulu-mulut yang selalu basah dengan bacaan wirid dan dzikir pagi, wajah-wajah menyenangkan para pedagang, riuh tapi murah senyum, terkadang gaduh tapi masih penuh dengan sopan santun, dan pasar akan mendadak sepi ketika waktu sholat tiba, berduyun satu dua menuju masjid atau mushollah. Dan disitulah semua kisah bermula." Mas Faqih, berhenti sejenak, mencoblos Aqua gelas dan meminumnya sedikit, sedikit sekali. Mungkin sengaja mencari jeda untuk memilih kata dan jalan cerita yang tapat.
"Iya benar, di pasar Kepuh Permai pagi itu, 67 tahun yang lampau. Seorang suami dengan wajah berseri berjalan sendiri menyisir pasar. Orang-orang di kampung biasa memanggilnya Abu Abdul Aziz, ia mencari satu ruko, lebih tepatnya mengingat-ingat dimana letaknya. Satu dua kali bertanya, masih mencari-cari. Dia bukan hendak membeli sesuatu atau menjual apapun, ia hendak menitipkan 150 keping emas milikinya, sisa uang tabungan haji. Tahun ini ia akan pergi haji bersama sang istri, dengan uang tabungan 12 tahun ditambah hasil penjualan tanah warisan ternyata menyisahka keping emas sebanyak itu. 150 keping bukan uang yag sedikit, membutuhkan orang yang tepat untuk menjaganya selama berbulan-bulan, atau untuk menjalankan wasiat dan amanat jika terjadi kemungkan terburuk bahwa ia tak pernah bisa pulang.
"Ia mulai mengingat gang ia susuri kini, tepat sekali. Hanya membutuhkan beberapa menit akhirnya ia bertemu orang yang dituju, lebih tepatnya tuan rumah tersebut yang menemukanya yang sedang mondar-mandir dan ruko dengan sedikit ragu. Karena ia benar-benar ragu benarkah itu rumah yang ia tuju, rumah dari kawan dekat almarhum ayahandanya. Setelah berpelukan erat, diopersilahkan duduk, mebicarakan ini itu, akhirnya ia menyampaikan tujuan dan maksudnya, menyerahkan satu kantong berisi 150 keping emas beserta sepucuk surat berisi wasiat. Pedagang itu merundukkan kepala, memikirkan beberapa hal, sebelum akhirnya tersenyum dengan berat hati menerima amanat itu.
"Hari-hari melaju cepat sekali, 13 bulan melaju begitu saja, seperti terbangnya burung bangau, terlihat lambat tapi hilang tanpa terasa. Abu Abdul Aziz sudah dua minggu pulang dari haji, tamu-tamu dan kerabat yang berkunjung atas kepulagananya dari haji sudah mulai sepi. Berkali-kali istrinya mengingatkan untuk mengambil titipan emas di pasar, "tidak baik membuat orang berlama-lama menjaga amanah" itu kata istrinya.
"Sampai akhirnya, Abu Abdul Aziz berangkat ke pasar, mengambil amanah yang selama ini dititipkan di pasar. Berjalan tanpa ragu, memasuki gang yang ia yakini itu menuju rumah yang ia tuju, dari kejauhan melihat ruko itu penuh, pelanggang yang berjejer dilayani oleh pegawai, sang empunya berdiskusi ringan dengan saudagar lain dan kolega bisnisnya di sekitar ruko, dengan mantap Abu Abdul Aziz mendekat. Tapi celakanya, ternyata ia salah, gang yang seharusnya ia tuju terletak tepat di gang setelahnya, tapi kesalahan yang lebih besar adalah ia tak sadar bahwa ia salah.
Setelah memeluk erat dan berjabatan kuat, Abu Abdul Aziz berkata sopan, "Aku hendak mengambil kepingan emas yang aku titipkan padamu"
Kepada siapa Abu Abdul Aziz mengatakanya? Kepada orang yang salah, orang yang belum pernah mengenalnya. Orang itu hanya diam, berfikir beerapa saat, melihat sekitar sedikit bingung. Dan akhirnya berkata "oh, ya tentu saja, tapi maaf, mungkin aku sedikit lupa, berapa kiranya kepingan emas itu?" si saudagar menjawab sopan sekali dengan senyum.
"150 keping emas" Abu Abdul Aziz menjawab. Itu bukan nominal yang kecil, dengan emas sebanyak itu kau bahkan bisa memenuhi kamar kosmu dengan mie instan. Saudagar itu menelan ludah, lantas berkata "tentu saja 150 keping emas, mana mungkin aku lupa, kau tunggu disini sebentar akan aku ambilkan"

"15 menit berlalu sampai akhirnya pedagang itu menyerahkan kantong berisi 150 keping emas pada Abu Abdul Aziz, tak kurang sepeser pun. Setelah memeriksa kantong dan menghitung keping emasnya Abu Abdul Aziz pamit dan mengucapkan beribu terima kasih pada si saudagar, bahwa ia tidak salah menitipkan hartanya pada si pedagang yang ia kira adalah sahabat dari ayahnya. Abu abdul Aziz keluar pasar tanpa pernah merasa bersalah, atau sadar ada yang keliru, mengambil uang sebanyak itu dari orang yang tak tau menau. Si saudagar hanya mengangguk santun.
"Terhitung 4 hari setelah kejadian itu, Abu Abdul Aziz pergi ke pasar. Saat itulah terang benderang semua masalah. Tepat beberapa langkah memasuki pasar Abu Abdul Aziz bertemu dengan pedagang tempat ia menitipkan emas, kawan dari ayahnya yang asli. Si pedagang langsung memeluk erat Abu Abdul Aziz, "Kapan anda tiba? Anda hendak mengambil emas anda? Oh tentu saja" Abu Abdul Aziz hendak menyela tapi masih ragu dan bingung, hanya mengangguk patah. "Bagaimana perjalan hajimu? Semoga hajimu menjadi haji yang mabrur dan penuh berkah" Si pedagang terus bertanya ini itu saat menuntunya menuju rumah, Abu Abdul Aziz hanya menjawab se pendeknya, ia masih berfikir dan menyambungkan jalan cerita. Sampai sesaat setelah menerima titipan emasnya, Abu Abdul Aziz pamit dan berlari kecil menuju rumah yang harus ia tuju. Dua kali memasuki gang yang salah, memutar arah lagi, ia kacau, terus bergumam dalam hati, "bagaimana mungkin aku ngambil uang sebanyak itu dari orang yang tak ku kenal dan ia tak mengenalku"
Mencoba satu gang lagi, berharap semoga tak salah, menilik ruko satu persatu, ia sudah lupa tujuan kenapa ia tadi pergi ke pasar. Tapi sayang, ia masih salah memasuki gang. Mencoba lagi, sedikit lunglai, hati dan pikiran yang kacau ditambah kaki yang lelah. Dan sampai akhirnya ia melihat keramaian dari jauh, tak salah lagi, itu ruko yang ia cari. Abu Abdul Aziz menambah kecepatan, sedikit lari, menyerubak keramaian, menerobos antrian. Ia masih ingat wajah pedagang itu, menarik tanganya, mencium tangan itu berkali-kali, memeluk pedagang itu erat sekali, membisikkan ribuan kata maaf. "Aku bersumpah dengan Nama Allah, ceritakan kenapa kau memberikan emas itu padaku dan kau sama sekali tak mengenalku, kenapa?" Abu Abdul Aziz bertanya, sedikit berteriak. Si pedagang tersenyum getir, lantas berkata, "anda ingat ketika anda meminta emas itu?, kala itu rukoku penuh dengan pelanggan, di sekitarku berkumpul para kongsi dagangku, dan jika aku menolak bahwa kau menitipkan emas padaku, orang-orang disekitarku akan menuduhku penghianat dan tak bisa diberi amanat, hancur semua harga diriku yang ku bangun puluhan tahun. Maka aku memutuskan membeli harga diriku sendiri dengan 150 keping emas, aku rasa itu tidak tidak terlalu mahal untuk sebuah harga diri".

*****

Mas Faqih masih melanjutkan majlis dengan beberapa penjelasan lagi. Tapi pikiranku masih terngiang dengan kisah harga "harga diri" itu, aku tak bisa fokus lagi. Hah, 150 keping emas? Bayangkan saja, sekarang dengan uang sebanyak itu kau bahkan bisa membeli harga diri orang satu kampun penuh. Dan dengan uang sebanyak itu pula, aku tak bisa membyangkan betapa penuhnya kamar kosku jika kugunakan untuk membeli mie instan.

 

Cianjur. 03-03-2017

Gambar