Mereka (yang bukan) Guru dan (tak) Berguru

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 November 2016
Mereka (yang bukan) Guru dan (tak) Berguru

 

Orang-orang yang sotoi (sok tau dan sok pandai) itu bebalnya sama seperti bebalnya orang yang menanam kaktus kemudan berharap akan memanen buah anggur. Mereka menanam duri kebodohan dan berharap memanen manisnya pujian atas luasnya pengetahuan.
Atau mungkin kerana sangking bebalnya, kebesaran sifat congkak dan gengsi mereka membutakan hati dan mata untuk menerima kenyataan bahwa seluruh anak adam terlahir bodoh, lemah dan papa.

Mereka selalu berasumsi bahwa menjawab pertanyaan itu bukti atas luasnya ilmu, dan diam atas jawaban itu berarti dalil bahwa ia memang dungu.
Mereka juga meyakini bahwa menjawab tapi salah itu lebih mulia daripada diam karena sadar dan belum bisa.
(Memang, bebal terkadang bisa membuat manusia lebih dungu daripada seonggok batu)

Lupakah mereka makna dari pepatah "[tong kosong, nyraring bunyinya]". Juga makna dari pepatah"[jawabanmu "aku tidak tau" itu setengah dari ilmu]"
Atau mereka juga lupa kisah Sayyidina Imam Malik yang ketika ditanya puluhan kali beliau menjawab "Maaf, aku tidak tau". (Entah, karena beliau hanya merendah atau karena memang masih ragu)

Mereka sama sekali tak pantas masuk dalam golongan mulia para Penuntut Ilmu, apalagi berbaris di jajaran terhormat para Guru.

Kemuliaan Penuntut Ilmu itu lahir dari jiwa rendah tak malu bertanya ketika tidak tau.
Kehormatan Guru itu tumbuh dari bibit jiwa lapang seorang yang gagah berkata "Maaf, aku tidak tau"

Bukan dari orang yang ketika tidak tau, jangankan bertanya, diam pun malu.
Juga bukan orang yang selalu menjawab pertanyaan tanpa ragu meski tak tau.

Semoga kita senantiasa dijauhkan dari kawan-kawan yang tak tau malu, juga dari guru-guru yang sok tau.


Cianjur, Hari Guru.
Jum'at 26-November-2016

 

Sumber Gambar

 

  • view 176