Pergi

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 November 2016
Pergi

PERGI

Mana mungkin aku bosan dengan kampungku ini. Semua kedamaian yang didamba-dambakan anak adam bisa kau temukan disini.
Bentangan sawah beserta suangainya, lebat hutan beserta riuh penghuninya, senyum warga yang saling tegur sapa, gelak tawa bapak-bapak dan pemuda di pos ronda, riuh ramai anak-anak bermain ketika malam bulan purnama, guyup rukun masyarakat ketika tiba waktu jama'ah, menghormati dan tenggang rasa, saling bertatap mata ketika bicara. Semua kedamaian yang tak bisa kau temukan di kota bisa kau dapatkan disini dengan cuma-cuma. Semuanya.

***

"Kau yakin dengan keputusanmu itu mus?" tanya bapak setelah menutup kitab kuningnya memecah kesunyian malam itu. Kami sedang menikmati kopi buatan mamak di teras rumah, ritual kami setiap habis jamaah isya' disurau.
Aku menggela nafas jauh kedalam, mencoba meruntuhkan keraguan yang sedang dibangun bapak.
"Sejauh ini aku tak melihat alasan yang bisa membuatku tak yakin pak" aku menjawab sopan, membangun keyakinan.
Bapak terkekeh kemudan ditutup dengan tertawa getir sambil menepuk-nepuk pundakku, sepertinya beliau tau apa yang sedang berkutat di kepalaku. Kami kembali menyeruput kopi, kami berdua sama-sama tak menyukai topik pembicaraan ini. Sepertinya diam lebih baik.
Bapak beranjak berdiri, pukul 9, kopinya juga sudah habis.
"Mamakmu memang sudah merestui keputusanmu itu, tapi kau tak tau apa yang ada dilubuk hatinya. Coba pikirkan lagi, Istikhoro lagi" ucap bapak sebelum masuk rumah, meninggalkanku sendiri bersama setengah cangkir kopi yang mualai pudar hangatnya.

Kusruput sekali lagi.
Ah, sial. Semakin dalam aku menikmati sisa-sisa sedap kopi ini, semakin dalam pula sesak dadaku rasanya.
Bukan, bukan karena keraguanku atas keputusanku ini, sedikitpun tak terbesit adanya keraguan, bahkan sudah bertahun tahun aku menunggu untuk keputusanku ini. Aku hanya merasa sesak ketika tak mampu meyakinkan orang-orang disekitarku bahwa aku tak sedikitpun ragu. Andai saja aku pandai berbicara dan beretorika, akan kubuat mereka yakin dan percaya bahwa aku memang diciptakan untuk ini.

Kusuprut sekali lagi dan untuk yang terakhir kali.
Ah, ini lebih sial lagi. Yang terakhir ini semakin membuat dadaku serasa terhimpit oleh sempit. Sekarang pikiranku berganti sibuk dengan apa yang harus kulakukan besok pagi, Minta restu ke Kiai. Tak ada waktu lagi untuk menunda, hanya tersisa esok pagi. Aku harus sowan ke Kiai, memohon restu serta menghaturkan beribu maaf dan terimakasih. Sialnya, aku sama sekali tak punya ide bagaimana caranya untuk menghaturkan maksudku kepada Kiai, bahkan untuk memulai percakapanpun aku tak tau. Semoga saja Tuhan besok berkenan memberiku sedikit tambahan kekuatan dan keberanian untuk semua itu.

Jika kalian ingin tau Kiai, beliau adalah gurunya para guru di kampungku. Namanya Kiai Madjid, manusia paling dihormati dan dicintai di kampung ini, bahkan jika aku bilang seluruh warga kampung akan merelakan apapun yang mereka miliki untuk melindungi dan membela Kiai aku sama sekali tak berlebihan. Wajahnya teduh, ada semacam cahaya di sorot matanya. Kalimatnya mantap, menenangkan sekaligus mengendalikan. Di Madrasah dan Pesantern wibawa beliau mengalahkan Raja, tegas dan disiplin, jangankan menyapa menatap wajahnya pun tak ada yang kuasa. Tapi ketika di masjid atau di rumah beliau layaknya malaikat yang menjelma menjadi sosok ayah, mengayomi dan meberi solusi, senyum teduh dangan sorot mata yang khas itu amat menenangkan hati. Semua akan berebut menyapa dan bersalaman menyium pungung telapak tangan beliau dua kali.

***

Pukul enam lewat sepuluh pagi, ini hari juma'at, pesantren libur, semoga aku tak mengganggu jadwal istirahat Kiai. Aku sudah berada di ndalem (rumah Kiai) setelah tadi dipersilahkan masuk oleh Bu Nyai. Aku selalu gugup ketika harus melakukan hal-hal penting sendiri seperti ini, sebenarnya aku sudah berkali-kali sowan ke Kiai, tapi tak pernah satupun dari moment itu ku lalui tanpa gugup dan grogi. Aku juga tak tau kenapa.

"Assalamualaikum" sapa Kiai ketika memasuki ruang tamu, sedikit mengagetkan lamunan ngawurku.
"Waalaikum salam" jawabku sedikit gugup seraya berdiri, mencium punggung tangan Kiai dua kali, harum khas minyak wanginya merontokkan seluruh rasa gugupku, ah, menenangkan sekali harum ini.
"Bagaimana kabarmu Mus?" tanya Kiai membuka percakapan. Tatapan mata dengan senyum teduh itu, andai kalian disini, kalian akan melihat seperti apa wajah yang mirip purnama itu.
"Alhamdulillah Kiai" jawabku sesopan mungkin, wajahku tertunduk menghadap karpet, sambil sesedikit melihat wajah teduh itu.
"Bapak dan Mamakmu bagaimana kabarnya? sudah selesai panenya?"
"Alhamduillah, Bapak dan Mamak sehat Kiai, panennya juga sudah selelsai, Bapak juga menitipkan sedikit hasil panen ini untuk Kiai"
"Ah, Bapakmu itu selalu saja merepotkan dirinya sendiri, sampaikan terima kasih ya pada Bapakmu"
"Iya Kiai, Insha allah"
"Dengar-dengar kau akan berangkat besok Mus?" pertanyaan itu begitu saja keluar dari Kiai. Dari mana Kiai tau aku besok aku berangkat. Aku merasa jadi serba salah.
"Eh, iya kiai, besok bakda sholat shubuh" jawabku terpatah-patah.
"Maaf Kiai, saya baru sempat pamit hari ini" lanjutku, masih terpatah-patah.
Kiai tertawa renyah, "tak ada yang harus dimaafkan Mus" jawab Kiai dengan santainya.
"Oh ya, kau tunggu disini sebentar ya, sambil kau minum tehnya" pinta Kiai sebelum meninggalkanku di ruang tamu sendiri.

Lima menit berlalu, sudah dua kali aku mencicipi teh suguhan Bu Nyai.
Kiai kembali memasuki ruang tamu kemudian duduk sambil meletakan amplop besar berwarna coklat.
"Ini jatahmu selama dua tahun tetrakhir Mus, sengaja aku simpan untuk hari ini" kata Kia sambil menyodorkan amplop itu kepadaku.
"Eh, maaf Kiai. Ini, ini untuk apa?-" aku menolaknya halus.
"Musthofa" beliau memotong kalimatku yang patah-patah sambil menatap dalam mataku. Dengan tatapan mata khas itu.
"Kau sudah membantu mengajar di pesantren ini lebih dari dua tahun, apa kau pikir ketika aku memberi jatah bisyaroh (gaji) bagi para pengajar aku tak memberi jatah itu untukmu. Aku tau kau akan pergi, maka aku sengaja menyimpan jatah itu untuk hari ini" beliau berhenti sejenak, kembali tersenyum.

Aku jadi lebih merasa serba salah, bodohnya aku sampai-sampai pernah berperasangka buruk pada Kiai yang tak pernah memberiku Bisyaroh mengajar di persantren, ternyata beliau menyimpanya untuk hari ini.

"Apa lagi yang kau pikirkan, terima ini," beliau kembali menyodorkanya, aku menerima patah-patah.

"Terima kasih Kiai" ucapku pelan sekali.
"Dan kalau Kiai berkenan saya minta doa restu dan nasihatnya" lanjutku setelah berhenti sejenak, mengatur kalimat sesopan mungkin.

"Orang tua ini sama sekali tak pantas mmberi nasihat Mus, tapi aku hanya ingin kau mengenang salah satu kisah dari teladan Sahabat Nabi yag satu ini. Aku yakin kau pasti sudah hapal betul dengan kisah epik Sayyidina Salman Al-Farisi, Sahabat Nabi yang mencari kebenaran hakiki. Waktu itu dia masih amat muda, pergi meninggalkan kampung dan keluarga, meninggalkan kenyamanan sebagai putra Tetua Desa menuju negri entah berantah. Berpindah dari rahib ke rahib, berganti dari guru ke guru, tak sedikitpun semangatnya runtuh. Berkelana dari negri Persia ke tanah Syam ratusan kilo meter jaraknya, tak sedikitpun ia putus asah. Tersesat, tertipu, diperbudak oleh yahudi, dan itu tak sedikitpun membuatnya patah hati. Ia terus berjuang, menyambung hidup dari hari ke hari, tetap belajar dan terus mencari. Sampai akhirnya takdir menemukanya dengan Nabi Agung Sang Pengemban Risalah dan kemudian digolongkan menjadi bagian dari Para Sahabat Mulia. Takdir takkan pernah menemukan Salman dengan Sang Pengemban Risalah jika tak keluar dari kampungnya. Sejarah juga tak kan pernah mengenalnya jika ia akhirnya menyerah. Hijrah dan berjuang di negri orang menyimpan banyak pelajaran, kau pasti sudah tau itu Mus." Kiai berhenti sejenak. Meminum sedikit teh hangatnya, sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya.

"Kau sudah belajar di pesantren ini bahkan sejak jari-jemarimu masih lembut, aku tau kau pasti akan pergi dari kampung ini, kau tidak pernah diciptakan untuk berjuang dikampung ini. Berangkatlah dengan segala restuku, jangan pernah ragu. Ada singa dalam jiwamu yang tidak akan mendapatkan mangsanya jika ia tak keluar dari sarang nya. Juga ada anak panah dalam dirimu yg tidak akan megenai sasaranya jika ia tak terlepas dari busurnya. Pergilah nak. Ajak singa itu keluar dari sarangnya, lepaskan anak panah itu dari busurnya. Kau akan membuatnya tak berguna jika kau masih di kampung ini. Sungguh sia-sia hidupmu jika kau meninggalkan keyakinanmu hanya untuk memenuhi hasrat keraguan orang-orang disekitarmu. Pergilah, Aku selalu merestuimu"

Aku masih terdiam, menunduk menatap karpet merah diruang tamu ini. Mataku mulai terasa panas. Hatiku merinding mendengar kata-kata bertenaga dari Kiai.

"Terima kasih Kiai dan maafkan saya selama ini" aku masih tertunduk, tak mampu rasanya menatap wajah teduh Kiai.


Kiai hanya menjawab dengan senyum
"Pergilah nak, sampaikan salamku kepada Mamak dan Bapakmu, bilang pada mereka untuk sering-sering membaca surat An-Nisa ayat 100, agar hati mereka rela melepasmu pergi"

****

Benar, mana mungkin aku bosan dengan kampungku ini. Semua kedamaian yang didamba-dambakan anak adam bisa kau temukan disini.
Bentangan sawah beserta suangainya, lebat hutan beserta riuh penghuninya, senyum warga yg saling tegur sapa, gelak tawa bapak-bapak dan pemuda di pos ronda, riuh ramai anak-anak bermain ketika malam bulan purnama, guyup rukun masyarakat ketika jama'ah, menghormati dan tenggang rasa, saling bertatap mata ketika bicara. Semua kedamaian yang tak bisa kau temukan di kota bisa kau dapatkan disini dengan cuma-cuma. Semuanya.

Tapi sayangnya hidup ini tak selalu berjalan atas apa yang kita inginkan, melainkan bejalan sesuai apa yang Dia Ingin dan Hendakkan, Maha Agung Dia dengan segala keputusan-Nya.

Aku memang tak bosan, tapi aku tetap harus pergi. Mengajak singaku keluar dari saranganya, melepas anak panahku dari busurnya.

 

-----

Sabtu 05 November 2016

Bumi Rantau, Cianjur.

 

Sumber Gambar

  • view 271