Syukur Nikmat Cahaya

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Syukur Nikmat Cahaya

Nikmat Cahaya

 

"Pejamkan matamu lima menit saja, maka kau akan sadar bahwa nikmat mata dan cahaya lebih dari cukup bagimu untuk bersyukur sepanjang hari"

"Klise sekali"

           Itu adalah taggapanmu pertama kali saat mendengar kata-kata itu, aku tau. Ah , sial. Kau sama saja seperti mereka, bahkan kau sudah memberi komentar sebelum berfikir untuk mencobanya.

                   Aku tau, sebenarnya aku tak berhak berkata seperti itu padamu atas segala tanggapanmu tadi. Menilai tanpa perlu melihat dari sisi yag lebih jauh dan dalam, itu sudah menjadi sifat dasar anak cucu adam. Mungkin jika aku berada di posisimu aku juga akan sepertimu, atau lebih parah dari itu. Tapi sayang, aku tidak akan perna bisa berdiri di posisimu, mejamkan mata kemudian mbukanya lagi yang seharusnya bisa menjadi alasan untuk bersyukur setiap hari.

Aku buta. Itu adalah jawabanya jika kau bertanya "kenapa?.
Aku sudah memejamkan mataku sejak dua puluh tahun yang lalu (meskipun itu bukan aku yang sengaja mlakukanya, tapi takdir yg memaksaku), dan sampai detik ini aku belum bisa membuka lagi mataku.

*****

         Kala itu umurku masih sebelas tahun, selasa pagi 13 februari 1996, aku masih ingat sekali hari itu, hari terakhir aku meihat makhluk Tuhan yang bernama cahaya dan warna.

Pelajaran olahraga, aku terjatuh ketika bermain bola, kepalaku terbentur tiang gawang, awalnya tidak terjadi apa-apa, sampai ketika semua yang kupandang berubah menjadi merah sebelum akhirnya gelap, dan aku dinyatakan buta.

Benar katamu, kisah ini terlalu sederhana untuk menggambarkan sebuah luka. Tapi asal kau tau, tentang betapa rumitnya kehidupanku setelah kejadian itu.

Apa katamu? Oprasi mata?

Tak usah lah kau sok mendikte! Sudah tiga kali aku oprasi, semuanya gagal, nihil.

               Aku depresi, sakit hati terhadap takdir. Setiap hari aku hanya mengurung diri di kamar. Kata para dokter, aku sedang berada pada episode yang disebut skyzoid, (aku tau, ini istilah yang baru masuk di telingamu). Skyzoid adalah keadaan dimana hati tak bisa lagi merasa. Emosiku tumpul, tak ada lagi sedih atau bahagia, tak ada lagi beda antara tangis dan tawa, aku tak punya lagi rasa takut, tak bisa lagi merasa kecewa. Aku juga menjadi anti sosial.

       Ini lebih menakutkan daripada sekedar buta mata, aku tak bisa meliaht dan merasa, aku seperti seonggok batu yang bernyawa. Aku juga tak menyangka, ternyata Tuhan menciptakan satu penyakit yang bisa lebih menyiksa dari pada siksaan itu sendiri.

                Berbulan-bulan lamanya, hidupku hitam gelap tanpa cahaya, berbulan bulan itu juga hidupku sepi sunyi tanpa rasa. Aku tak mengerti kenapa rasa sepi bisa semenyiksa ini, bukan kah sepi itu identik dengan damai? Tak usah kau jawab, ini pertanyaan retorik. Ah, pertanyaanya saja kau belum tentu paham, mengapa pula aku sibuk melarangmu untuk menjawab.

       Sampai pada saat, untuk ke sekian kalinya Tuhan berkenan menunjukan pada hambanya, bahwa janji hadiah kebahagiaan setelah sabar akan paitnya kesusahan itu janji pasti, sepasti esok akan terbit mentari.

       Itu hari yang ke 76 sejak aku memejamkan mata, tak ada yang istimewa, aku masih mengurung diri dikamar menikmati sepi (kalau itu pantas disebut menikmati).

                   Dua orang masuk kamarku, salah satu dari mereka adalah ayahku, aku bisa merasakan dari derap langkanya, satunya lagi aku tak kenal, langkanya masih sedikit ragu, itu derap langkah yang baru kudengar.

2 bulan lebih sudah lebih dari cukup bagiku untuk belajar mendengar mengenali dan memahami derap langkah.

               Mereka berhenti tepat didekat ranjangku, hanya beberapa saat sebelum salah satu daru mereka pergi, dan itu sepertinya derap langkah ayahku, dan orang dengan derap langkah yang baru ku kenal itu semakin mendekat dan kemudian duduk didekatku, tanpa sura, tanpa menyapa, aku tak peduli, tepatnya tak mau tau.

                           Esoknya, orang dengan lagkah yang baru ku kenal itu datang lagi, pada jam yang sama, dengan ritme langkah yang sama, kali ini ia sendiri, tanpa suara, tanpa menyapa, aku msih tak peduli, tepatnya aku masih tak mau tau.
Aku tak punya ide tentang apa yang sedang ia lakukan didekatku, ia sama sekali tak bersuara, hanya duduk menemani sepiku, hingga siang datang dan kemudian ia melangkah pergi, masih tanpa suara, tanpa pamit dan sapa.

           Esoknya ia daang lagi, lusa, esok lagi, lusa lagi, lagi dan lagi. Masih pada jam yang sama, dengan derap lagkah yang sama, ritme kunjungan yang sama.
Datang, duduk menemani kemudian pergi.

Akhir-akhir ini aku mulai merasa ada sesuatu yang entah itu apa pada setiap kedatanganya. Aku sedikit merasa lega ketika ia didekatku, sepiku juga tak semenyakitkan dulu ketika ia ada didekatku, aku merasa ada sesuatu yang mengobatiku, entah apa itu, aku juga tak tau. Yang aku tau, emosiku sudah mulai tumbuh, bangun dari tidur panjangnya.

          Ini hari yang kutunggu, sudah ku siapkan segenap keberanian untuk menanyakan beberapa pertanyaan padanya.
Ia sudah datang, aku bisa merasakan derap langkahnya, ia semakin dekat. Dan sial, keberanianku runtuh tepat saat ia duduk. Tak ada percakapan hari itu, lagi-lagi kami hanya membisu. Bodoh sekali aku.

                   Seminggu aku mencoba bertanya, seminggu itu pula aku gagal, suaraku tersendat di kerongkongan sebelum ia benar-benar keluar. Aku tak tau kenapa aku sebodoh ini, apa susahnya bertanya "maaf, sebenarnya kau ini siapa?" atau "kau siapa? kenapa kau selalu menemani sepiku?". Ah, untuk urusan ini aku benar-benar bodoh.

            Pagi sudah beranjak naik, sepertinya hari ini akan berlalu tanpa percakapan lagi. Ia sudah beranjak berdiri, aku bisa merasakanya.


"Aku keluar dulu ya kak".

              Tiba-tiba ia bersuara pelan, sedikit ragu. Sial, ada yang berdesir di dadaku, ragaku mendadak lumpuh. Aku kenal suara itu, aku benar-benar kenal suara gadis itu.


Suaraku tercekat di kerongkongan, "terima kasih telah menemani" kataku dalam hati, ia pergi tanpa sempat mendengarkanya.

                          Ah, kenapa semua menjadi seperti ini?, Kenapa ia bisa berada disini?, selama ini?. Kenapa dia melakukan semua ini?, dan kenapa harus dia?. Pertayaan-pertanyaan ini membuat kebas mulut dan otakku.

               Aku tak tau perasaan apa ini namanya, aku merasakan bahagia dan sakit dalam satu hela nafas, kemudian merasakan takut dan damai dalam satu hela nafas setelahnya. Sendi-sendiku seperti luruh tak berdaya, habis sudah tenagaku hanya untuk menahan perasaan ini.

Gadis itu. Ah, aku tak bagaimana menceritakanya padamu.

             Yang paling penting untuk kau ketahui adalah, bahwa gadis itu hari ini masih menemani sepiku. Ia buta sepertiku, bahkan sebelum ia sempat kenal seperti apa indahnya warna. Ia terlahir tunanetra. Aku mengenalnya di panti asuhan, tempat tinggalku dulu, sebelum aku pindah ke rumah ini bersama keluarga baruku. Ia pula yang membuatku masih bisa bersyukur, walau sampai detik ini aku belum mampu membuka mata untuk menikmati cahaya.

 

******

Ah, cukup sudah. Kau hanya membuatku semakin sesak dada dengan mengingat hari-hari penuh kenangan dan luka itu. Apa susahnya kau sambungkan sendiri potongan-potongan kisahku tadi agar menjadi kisah utuh dan bisa kau pahami.

 

Sabtu-13-08-2016, Bumi Khumul, Cianjur.

 

Thumbnail


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    tanpa memejamkan mata, menyadari bahwa kita masih bisa bernapas adalah nikmat yang juga tidak kalah besar untuk disyukuri.
    *komen sebelum baca isi*