Tentang Keadilan, Kepedulian, Kejujuran dan Memaafkan.

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 30 Juni 2016
Tentang Keadilan, Kepedulian, Kejujuran dan Memaafkan.

       

 

Bapak-bapak itu digandeng dua pemuda tanggung yang badanya jauh lebih besar dari badanya, diseret menuju ke Masjid Nabawi menghadap Sang Khalifah Sayyidina Umar bin Khatthab untuk meminta keadilan dan penghakiman.

Mereka menghadapkan si bapak di depan Khalifah.

"Ada apa ini?" tanya Khalifah.

"Bapak ini telah membunuh ayah kami" jawab salah satu pemuda.

"Apa benar kata mereka, kau membunuh ayah mereka" tanya Sang Khalifah pada Si Bapak.

"benar, wahai Khalifah" jawab si bapak tertunduk.

"Bagaimana kau membunuhnya?" tanya Khalifah lagi

"Dia memasuki kebunku bersama ontanya, aku mencoba mencegahnya tapi dia enggan berhenti, kemudia aku belemparinya dengan batu, dia terjatuh dan mati" si bapak mencoba mejelaskan.

"Jika memang seperti itu, kau harus di qishos, hukum mati" jawab Khalifah tegas.

 

Ini bukan tentang kesewenang-wenangan ataupun kekejaman tirani pemerintahan, tapi ini tentang Syariat Tuhan, hukum yang telah ditetapkan dalam al qur'an, Sang Khalifah tak pernah main-main denganya. Juga tentang keadilan, Khalifah tak perlu tahu siapa itu si bapak pembunuh, juga siapa itu bapak yang dibunuh, keadilan harus tegak tanpa pandang bulu. Ini juga tentang idiologi, berjalan di jalan yang diterapkan Sang Nabi, hukum harus ditegakkan, meskpun, jika sang pembunuh adalah putra khalifah takan ada toleransi.

 

"Tapi wahai khalifah" suara Bapak itu terhenti, tak tau bagaimana mengungkapkan apa yang difiirkan.

"Tapi kenapa? lanjutkan, katakan apa yang ingin kau katakan" perintah Sang Khalifah.

"Atas nama Tuhanmu, aku memohon agar kau memberi aku waktu satu hari agar aku bisa pulang ke rumah dan memberi tahu anak istriku bahwa esok aku akan dihukum mati, sungguh mereka tak punya orang yang akan menafkahi mereka selain aku" si bapak memohon dan menjelaskan pada Khalifah.

"Siapa yang akan menjadi penanggungmu?" tanya khalifah.

Si bapak terdiam, ia tak tahu, siapa yang mau.

"Siapa yang mau menjadi penaggung bapak ini?" sang khalifah bertanya pada hadirin, tak satupun berani menanggungnya. ini bukan tentang menanggung harta ataupun tanah, ini tentang menanggung jiwa dan nyawa. Dan juga, tak seorangpun mengenal si bapak, siapa keluarganya dan dimana rumahnya.

Sang Khalifah menatap kedua pemuda, mengisyaratkan agar memaafkan si bapak

"Tidak, kami tidak akan memaafkan orang yang membunuh ayah kami" jawab si pemuda, seolah paham isarat Khalifah.

Bagaimana ini, batin sang Khalifah, ia tak mungkin mebiarkan bapak itu pulang tanpa penanggung, juga tak tega membiarkan anak istri si bapak kelaparan di rumah tanpa pernah tau Sang Bapak telah dihukum mati.

 

"Wahai khalifah, biarkan aku yang akan menjadi penanggungnya" salah satu hadirin berakata mantap, maju kedepan. Dan jika kalian tahu, ternyata dia adalah Sahabat Abu Dzar Al Ghifari, salah satu sahabat yang mashur.

"Anda bersungguh-sungguh?" Khalifah mencoba memastikan. 

"Iya aku bersungguh-sungguh" jawab Abu Dzar.

"Tapi ini tentang nyawa, apa anda fikir aku akan mentolelir anda jika bapak ini tak menepati janjinya" sekali lagi Khalifah mencoba meyakinkan.

"Allah Maha Penolong, aku tau apa yang aku lakukan wahai Khalifah" jawab Abu Dzar.

 

Pemuda itu pun pulang dengan waktu tenggang tiga hari.

 

Tiga hari berjalan cepat sekali, sang Khalifah tak mungkin lupa hari ini, selepas sore tadi dua pemudah telah tiba untuk menagih janji.

hari semakin petang an si bapakntak kunjung datang, peluh mengalir dari pening sang Khalifah begitu juga Abu Dzar, masalah ini menjadi rumit sekali.

 

Dan sebelum matahari benar-benar tenggelam, akhirnya Si Bapak itu datang, para hadirin bisa berafas lega. Sang khalifah bertakbir bangga, dan disusul takbiran para hadirin yang terbawah suasana.

 

"Wahai bapak, sungguh jika kau tak datang dan tetap di rumahmu, kami tak akan tau dan tak bisa mencari dimana rumahmu" kata sang Khalifah pada Si Bapak sesaat selepas tiba.

"Wahai khalifah, aku datang bukan karena takut padamu, tapi karena takut pada Tuhanmu, Dzat Yang Maha Tahu, dan ini aku datang agar dihukum, aku meninggalkan anak istriku sendiri tanpa ada yng menafkahi, jika aku tak datang hari ini, aku takut orang-orang akan berkata "telah hilang sifat jujur dan menepati janji pada ummat muslim" jawab Si Bapak pada khalifah.

 

"Wahai Abu Dzar, kenapa anda mau menanggung qishos bapak ini?" tanya khalifah pada sahabat Abu Dzar.

"Aku tau dia mukmin, dan mukmin tak pernah berdusta. Jika tak ada yang menanggungya, aku takut orang-orang akan berkata "telah hilang kebaikan dan sifat peduli pada ummat muslim" jawab abu Dzar pada Khalifah.

 

Sang khalifah menuju ke dua pemuda dan mendapati sang pemuda menangis. 

"Kami telah memaafkan Bapak ini dan telah membebaskanya karena kejujuranya, kami takut orang-orang akan berkata "telah hilang sifat pemaaf pada ummat muslim" jawab si pemuda, membuat air mata Sang Khalifah mengalir hingga membasahi pipinya dan jenggotnya, para hadirinpun terbawah suasana, menangis haru.

 

Semoga rahmat Tuhan senntiasa bagi Si Bapak atas kejujuran dan janji yang ditepatinya.

Semoga rahmat Tuhan senantiasa bagi Si Pemuda atas sifat pemaafnya.

Semoga rahmat Tuhan senantiasa bagi Sang Khalifah atas belas kasih dan keadilanya.

Semoga rahmat Tuhan senantiasa bagi Abu Dzar atas kebaikan dan husnudzonya.

 

 

*sebarkan kisah ini pada orang terdekat kalian, agar orang-orang tak berkata "telah hilang sifat suka menebar kebaikan pada ummat muslim.

30 juni 2016

  • view 332