Tentang Ramadhan (yang dulu)

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Juni 2016
Tentang Ramadhan (yang dulu)

Kemarin  Waktu di Sekolah,

Guru sejarah bilang kau adalah saksi bisu kemenangan agung di lembah badar 14 abad lampau,  312 pejuang melawan 1000 penentang islam.

Ustadz juga bilang kau adalah bulan agung yang mendapat keistimewaan menjadi waktu turunya kitab suci Al Qur’an.

Ustadzah juga bilang kau adalah harta karun mulia ummat islam yang salah satu malammu menyimpan keutamaan seribu bulan.

***

Tadi Waktu di Rumah

Kakek berkata, dulu ketika kau datang, hari jadi tenang,

Di pasar pun para pembeli malu untuk menawar, (katanya) karena yang paling pelit pun akan menjadi raja derma di Ramadhan.

Nenek juga berkata, dulu ketika kau datang, rumah-rumah akan jadi lebih asri dan menawan,

Di setiap jengkal desa tak ada lagi suara keras dan bentakan, (katanya) karena si pemarah sudah berubah jadi raja penyayang di Ramadhan.

***

Barusan Waktu di Surau.

Pak Kiai cerita, dulu ketika kau datang, masjid jadi lebih ramai dan riang,

Di teras masjid pun banyak yang tadarrus al qur’an, (katanya) karena yang dulu buta aksara akan jadi penghafal al quran di Ramadhan

Ibu Nyai juga bercerita, dulu ketika kau datang terminal jadi lengang,

Tak akan kau dengar lagi teriakan dan umpatan, (katanya) karena Pak supir dan mas kondektur lebih sibuk dengan mushafnya di Ramadhan.

 

***

 

Sekarang, dan andai taulanya kau tau.

Aku pikir, aku pernah bahagia, tapi tak pernah se indah menerima takdir untuk bertemu lagi denganmu.

Aku rasa, aku  juga pernah punya harap, tapi tak pernah sebesar agar ini menjadi pertamuan  yang  lebih berkesan bermutu.

Aku kira,  aku juga pernah takut, tapi tak pernah se kelam jika membayangkan  ini adalah pertemuanku yang terakhir dengan mu.

Dan mungkin aku juga pernah rindu, tapi aku tak pernah aku rindu dengan sesuatu yang hanya ku dengar lewat telinga tanpa pernah bertemu.

Aku rindu kau (katanya) yang jika datang akan membuat hari jadi tenang.

Aku rindu kau (katanya) yang bisa membuat rumah menjadi asri dan menawan

Aku rindu kau (katanya) yang dapat membuat masjid menjadi lebih ramai dan riang

Aku rindu kau (katanya) yang bisa menyulap terminal jadi lengang.

Aku rindu kau yang dulu.

***

 

Berbek, Waru, 1 Ramadhan yang baru.


  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Rindu memang selalu punya alasan untuk membanding-bandingkan...

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    semoga kerinduan tentang yang 'dulu' bisa terwujud sekarang, ya.

    • Lihat 18 Respon