Mentari untuk Esok Pagi

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Motivasi
dipublikasikan 04 Juni 2016
Mentari untuk Esok Pagi

 

Mentari Esok Pagi

 

 “APA YANG AKAN KITA PERJUANGKAN?” tanya Pak Soekarno dalam pidatonya pagi itu, berteiak lantang.

“KEMERDEKAAN INDONESIA” setengah juta manusia menjawab lantang, menggetarkan, memekakan.

“DENGAN APA KITA AKAN MEMPERJUANGKANYA?” Pak Soekarno bertanya lagi, lebih lantang.

“DENGAN NYAWA KITA” jawab mereka serentak, lebih membahana, membuat para malaikat di langit sana saling bertanya.

“TAPI, KEKUATAN MUSUH KITA SANGATLAH BESAR?” tanya Pak Soekarno lagi. Mencoba beretorika.

“ALLAHU AKBAR” (Allah Maha Besar) jawab mereka, kali ini langit benar benar bergetar. Setengah juta manusia mengucap takbir, serentak dan lantang. Tapi kalian tahu, apa yang menggetarkan langit di pagi itu?. Bukan, yang menggetarkan langit di pagi itu bukanlah suara lantang para pejuang, melainkan semangat mereka, ikhlas mereka, dan terutama, air mata mereka lah yang benar-benar menggetarkan langit pagi itu.

             Ruang kelas lima itu mendadak hening. Pak Ali sengaja berhenti bercerita, memandangi satu persatu wajah anak-anaknya, wajah-wajah antusias dengan mata berbinar-binar, menunggu kelanjutan cerita.

TEETTT…. TEETTT…..

             Bunyi bel itu melengking, membuyarkan konsentrasi anak-anak, mereka mengeluh kecewa. Tentu saja kecewa, siapa coba yang tak suka pelajaran sejarah, apalagi yang mengajar Pak Ali, terlebih anak kurus itu, Wikana namanya, bertubuh kecil dibawah rata-rata dengan baju pramuka yang sudah hilang warna coklatnya dimakan usia. Nampak sekali rasa kecewanya dari sorot melas matanya

           Pak Ali hanya tersenyum simpul lantas pamit dan keluar. Sukron si anak gendut duduk disebelah Wikana akhirnya terbangun, basah semua pipi, meja dan buku-bukunya. Ia masih setengah sadar, dan hendak bertanya “apa yang ia lewatkan sehingga teman sebangkunya ini menatap Pak Ali yang keluar dengan tatapan melas campur kecewa?”. Belum sempat Sukron membuka mulut dan bertanya, Bu Fitri sudah memasuki ruang kelas, pelajaran Matematika. Sekarang giliran Sukron yang kecewa, mengeluh pelan, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur lagi.

***

        Orang-orang kampung biasa menyebut sekolah mereka dengan sebutan “MINU”  singkatan dari Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama’. Sekolah yang sederhana, dengan bangunan yang sederhana, guru-guru yang sederhana, semuanya serba sederhana. Sekolah tersebut berada tepat di tepi jalan raya kecamatan kota yang selalu ramai di akhir pekan, bangunan yang sederhana itu terlihat sangat kontras dengan mulusnya aspal jalan raya.

               Matahari mulai terik, terdengar sisa-sisa sayup adzan dzuhur dari kampung sebelah. Pak Ali memasuki ruang kelas lima lagi. Anak-anak mulai antusias, sekarang waktunya pelajaran Bahasa Indonesia bertemakan “Cita-Cita”. Pak Ali bertanya kepada setiap anak, satu persatu, “apa cita-cita mereka?”.

         Sebenarnya, jawabanya mudah ditebak, hanya ada 4 jawaban yang keluar dari mulut anak-anak yang masih polosn ini, hanya berkutat pada guru, pilot, dokter dan polisi. Tidak ada jawaban yang lain, mana peduli mereka. Pak Ali tetap saja tersenyum bangga setiap mendengarkan jawaban dari anak-anaknya yang monoton itu, tak sedikitpun beliau bosan, tetap bangga memebsarkan hati mereka.

 

“Wikana ingin jadi Tentara Pak…!!!”

          Jawab Wikana mantap, ketika giliranya ditanya oleh Pak Ali, mendadak kelas menjadi lenggang sejenak  dan disusul tawa anak anak. Bayangkan saja, Wikana si anak kurus kering berkulit hitam itu ingin menjadi Tentara? Yang benar saja? “Seperti apa jadinya Indonesia kalau punya Tentara seperti dia?”

          Tapi, yang ditertwakan malah bingung, “Apanya yang lucu?” Tanya Wikana dalam hati. Pak Ali tersenyum mendengar jawaban Wikana, menyuruh anak-anak diam.

 “kenapa kau ingin menjadi Tentara Wikana?” tanya Pak Ali beberapa detik kemidian. “Wikana ingin membela Indonesia, Wikana ingn melihat Bendera Merah Putih berkibar gagah, agar tidak diinjak-injak lagi oleh Bangsa lain Pak”. Jawab Wikana mantap, seolah ia paham apa yang ia ucapkan barusan.

Pak Ali menatap wajah Wikana penuh bangga lantas membesarkan hatinya, “Cita-cita yang sangat mulia Wikana, Bapak yakin kau pasti bisa jadi Tentara”.

***

            Pukul 13:00 tepat, waktunya anak-anak pulang, setelah bersalaman dan mencium tangan Pak Ali anak-anak berhamburan pulang, lari dan saling kejar, tertawa. Tapi, Wikana masih menunggu di depan pintu kelas ditemani Sukron, ingin bertanya sesuatu kepada Pak Ali.

“Apakah benar-benar mungkin saya bisa jadi tentara?” tanya Wikana ketika Pak Ali menghampirinya.

“Tentu saja Wikana, bapak yakin kau bisa” jawab Pak Ali tersenyum sambil menatap lamat-lamat mata Wikana, mencoba meyakinkan, Sukron juga menatap Wikana, datar, dan ia tak paham.

“seyakin apa Bapak meyakininya?” tanya Wikana lagi, belum puas nampaknya.

Seyakin besok pagi akan terbit Matahari untukmu dan untuk kita semua” jawab Pak Ali  lebih meyakinkan, tersenyum dengan tatapan mata yang meneduhkan.

               Seolah paham, wajah Wikana seketika mengembang penuh keyakinan. Seandainya aku bisa menggambarkan ekspresi wajahnya dengan dengan detail, kalian akan bisa melihat wajah penuh semangat dan keyakinan dengan senyum yang mengembang, seperti di film-film yang pernah kalian tonton itu. Dan si Sukron masih dengan wajah datarnya, sama sekali tak paham. Mereka bergegas pamit dan pulang, bercanda dan saling kejar.

         Wikana sangat yakin Pak Ali tidak sedang membual di  siang itu, bahkan setahu dia Pak Ali tak pernah sekalipun membual.

                Benar sekali, siang itu Pak Ali tidak sedang membual atau sekedar membesarkan hati Wikana. Beliau benar-benar yakin atas apa yang dia ucapkan barusan. Pertama karena Pak Ali memang tidak pernah membual. Kedua, karena beliau kenal betul siapa Wikana.

***

          Si jenius Wikana, anak kurus kering yang tinggal berdua bersama neneknya di rumah kecil di ujung gang desa adalah cucu dari salah satu pejuang Indonesia yang gugur dalam perang melawan Belanda, meninggalkan seorang istri yang hamil tua, nenek Wikana, yang kemudian melahirkan putri cantik, Ibu Wikana.

                Wikana tak pernah mengenal Ibunya, bahkan melihatnya sekalipun Wikana tak pernah. Ibunya meninggal ketika melahirkan Wikana. Ayah Wikana yang terkenal jenius malah terlebih dahulu meninggalkan WIkana. Gugur ketika berjuang di Timor leste sebagai dokter militer, menjadi korban peluru nyasar ketika ia bertugas dirumah sakit.

            Tak ada yang mengetahui kisah heroik memilukan milik keluarga Wikana itu, kecuali orang-orang tertentu, sesepuh kampung, dan tentunya salah satunya adalah Pak Ali. Maka dari situ lah Pak Ali yakin, bahwa dalam tubuh kurus Wikana, mengalir darah dan semangat pejuang kakeknya, juga ada jiwa kuat sabar ibu dan neneknya yang selalu menginspirasinya. Juga ada titisan otak jenius yang dawariskan oleh ayahnya.

     

***

     Tapi sayang, malang memang tak bisa ditolak. Seolah takdir keras selalu mengintari keluarga Wikana. Kabar bahagia dari Pak Ali itu mahal sekali harganya. Ketika perjalanan pulang, Wikana dan Sukron saling kejar dan tertawa,  bahagia sekali mereka, walau tak tau kenapa mereka harus bahagia, bahagia memang tak selalu membutuhkan alasan.                                         

            Dan mereka berdua sama sekali tak sadar kalau di atas sana langit punya rencana yang cukup keras untuk mereka terima, rencana yang akan merenggut masa-masa kecil bahagia mereka

                 Kejadian itu cepat sekali. Di belakang mereka 2 pemuda tanggung mabuk sedang mengandarai motor RX-King, dengan kecepatan penuh. Dan lihatlah, motor itu oleng, semakin dekat saja  jaraknya, hanya sepelemparan batu dari Sukron dan Wikana. Dan celakanya 2 anak kecil itu masih belum sadar sepenuhnya apa yang sedang terjadi debelakangnya. Maka terjadilah rencan langit siang itu, benar-benar celaka. 2 anak kecil ditabrak motor RX-King kecepatan penuh, berdebumnkeras. Hanya menunggu sepersekian detik akhinya orang-orang di sekitar kejadian sadar dan mengerubungi TKP.

          Pengendara motor itu terjerembab setelah kepalanya terbentur aspal, berdebam keras sekali. Sedangkan kawanya terpental jauh keselokan, lehernya patah. Keduanya mati di tempat. Sedangkan 2 anak kecil itu dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah menunggu kedatangan Ambulan yang benar-benar terlambat. Si gendut, Sukron setengah badanya penuh darah,  merintih kesakitan,  hampir dari setengah kepalanya pecah terbentur trotoar dan akhirnya meninggal ketika perjalanan menuju rumah sakit, kehabisan darah. Sedangkan Si Kurus, Wikana hidungnya patah, dagunya robek, harus dijahit 7 jahitan,  kaki kirinya patah, parah sekali, dan terpaksa harus diamputasi, menyedihkan sekali melihatnya. Dan kabar baiknya (meskipun sama sekali tak pantas disebut “baik”) dia masih bernyawa.

 

*****

 

          2 bulan berlalu begitu saja, seperti busur panah yang dilepas waktu melesat cepat sekali. Tapi sisa-sisa kesedihan itu masih melekat di wajah Wikana.

 

               Sejauh ini ada banyak sekali perkembangan, fisiknya mulai membaik, bahkan ia sudah bisa berjalan sejak sebulan lalu dengan bantuan tongkat di tangan kirinya. Dan selama 2 bulan penuh itu, tak seharipun Pak Ali absen menjenguk Wikana. Mengajaknya bicara, bercerita tentang janji-janji masa depan, mencoba membesarkan hatinya.

“Kau pasti kuat Wikana” itu adalah kata-kata yang selalu dibisikan Pak Ali ketika menjenguk Wikana.

        Dan lihatlah, Wikana selalu terisak ketika mendengar kata-kata Pak Ali itu. Bukan, Wikana bukan menangisi kakinya yang teramputasi, tapi dia menangis karena takut, sungguh takut tak bisa memenuhi janji-janji masa depan yang diyakini Pak Ali selama ini, dia takut membuat Pak Ali-nya kecewa

***

             Dan pagi ini, entah pagi yang ke berapa dari kejadian yang menyakitkan itu. Janji-janji tentang masa depan yang selalu dibisikan Pak Ali mulai tumbuh dan mekar di hati Wikana.

“Kau tahu Wikana, sampai kapanpun Bapak akan tetap yakin kau pasti jadi tentara, dan keyakinan bapak itu tidak akan pernah pudar, sampai kapanpun” Pak Ali memulai percakapan pagi itu.

Wikana yang duduk di sebelah menatapnya ragu, seolah ekspresi wajahya berkata. “Bagaimana mungkin?”.

“Toh, untuk jadi tentara kau tak harus berdiri dengan dua kaki, kau tak harus pegang senjata melawan penjajah. Kau tetap bisa berjuang walau hanya dengan satu kaki. Kau tetap bisa jadi tentara walau hanya bersenjatakan pena”. Pak Ali berhenti sejenak, mengatur nafas, menjaga agar air matanya tak terlanjur menetes didepan Wikana. Dan Wikana mulai paham arah pembicaraan pagi itu.

“dengan belajar kau tetap bisa berjuang, munjungung tinggi martabat bangsa. Dan dengan penamu, kau tetap bisa berperang, melawan kebodohan”. Mata Pak Ali mulai terasa panas dan akhirnya berkaca-kaca. Wikana hanya diam, menangis dalam hati, menatap kosong, mencoba memahami kata-kata Pak Ali.

“Dan bukankah Rasulullah pernah bersabda “tinta seorang pelajar itu lebih mulia daripada darah para pejuang”. Pak Ali mendongakkan wajahnya ke langit, mencegah air matanya benar-benar menetes.

         “Benar sekali, tinta pelajar lebih mulia daripada darah para pejuang” gumam Wikana dalam hati, diulang-ulang, kata-kata itu seperti menjadi mantra baginya.

       Dan benar-benar seperti embun pagi yang menghapus bersih debu-debu sisa hari kemarin yang melekat di dedaunan, begitu juga nasihat Pak Ali pagi itu, menghapus bersih sisa-sisa kesediahan hari kemarin di hati Wikana.

        Nasihat Pak Ali pagi itu tertanam rapi di hati Wikana. Dan seiring berjalannya hari, nasihat itu mulai tumbuh, mekar, harum, dan kelak kalian akan bisa melihatnya berbunga dan berbuah, indah sekali.

*****

Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku.

Disanalah, aku berdiri. Jadi pandu Ibuku.

Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan tanah airku.

Marilah kita berseru.

Indonesia bersatu.

Lagu Indonesia Raya terdengar penuh energy, menggetarkan jiwa dan hati.

            Ini 7 tahun setelah kejadian menyedihkan itu, di tanah yang jauh sekali dari Indonesia, Wikana yang berdiri dengan satu kakinya tak mampu menahan air matanya  saat lagu itu di nyanyikan. Dasaksikan ratusan orang. Ditambah lagi belasan wartawan berebut mengabadikan momen itu. Wikana tak peduli, ia masih menangis, haru, bahagia.

                      Sore itu, pukul 14:30 waktu setempat, di Leiden University Belanda, Wikana menjunjung tinggi Merah Putih. Di Negara yang dulu pernah menjajah Indonesia itu, Sang Saka Merah Putih berkibar gagah diiring lagu Indonesia Raya. Dan Wikana benar-benar menjadi pahlawan di sore itu, ia menjadi wakil Indonesia  dalam Olimpiade Sains yang dilaksanakan di universitas ternama Eropa itu. Dan Wikana si anak jenius itu berhasil menyabet juara satu, mengalahkan wakil-wakl dari Eropa lainya, bahkan wakil dari tuan rumah, Negara Penjajah.

          Pak Ali yang juga menyaksikan acara itu, disiarkan secara langsung oleh TVRI, tak kuasa menahan tangis, berkali-kali menyeka ujung mata, haru, bangga.

              Benar sekali katanya dulu, Wikana pasti bisa. Lihatlah Wikana Si anak jenius itu berhasil, dia berhasil menjunjung tinggi Merah Putih walau hanya dengan satu kakinya. Si anak ajaib itu ternyata benar-benar mampu menjunjung tinggi martabat Indonesia walau hanya dengan sebatang pena, bahkan jauh sekali di sana, Belanda, negri yang dulu pernah menjajah.

***

Teruntuk para pejuang pendidikan di Nusantara.

Bapak Ibu Guru.

Termakasih atas setiap tetes keringatmu, juga setiap rintih doa-doa dimalam sunyimu.

  • view 252