Menghormati ke"santrian"

Hammad abdrchmn
Karya Hammad abdrchmn Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 31 Mei 2016
Menghormati ke

   Saya teringat satu kisah menarik, dulu waktu saya berkunjung ke Jombang. Saya bertemu banyak kawan yang berlatar belakang santri disana. Bahkan sebagian besar masih nyantri.

Saat itu saya sedang berada dalam mobil yang penuh berisi santri menggunakan pakaian lengkap santri dan berpeci. Tiba-tiba seorang pemuda bermotor seenaknya memotong jalan dan menyenggol spion mobil, seisi mobil pun terpancing emosi. Dan ketika mobil bedampingan dengan motor pemuda, serentak tanpa di komando jendela mobil di buka seisi mobil mencopot peci dan mengumpat tepat di samping pemuda (maaf) “asu” teriak seisi mobil denga kompak.

               Perhatikan kisah tersebut, bukan tentang umpatan para santri, tapi ketika mereka mencopot peci ketika hendak mengumpat, mereka tahu mengumpat itu dosa, maka dari itulah mereka tidak akan melakukanya denga berpeci. Karena peci adalah seragam khas santri, mereka tidak akan melakukan hal-hal kotor di depan umum ketika mereka sedang menyandang alamamater santri, begitulah cara mereka menghormati kesantrian mereka.

         Tidak sampai disitu, di suatu malam, ketika kami berkumpul membahas obrolan-obrolan ringan. Salah satu kawan kami tanpa sengaja mengeluarkan kata (sekali lagi maaf) “Jan*uk”, semua pasang mata seketika itu langsung tertuju padanya. Salah satu kawan kami yang dituakan mendekatinya dan menghardiknya dengan dialek jawa timur “heh,, Jogoen Cangkemmu..!! aku gak masalah nek kon misuh nang ngarepku, tapi kaosmu karo pecimu coplok,en disek..!! kon gak isin ta karo KH Wahab Hasbullah?” (hei. Jaga mulutmu..!! saya gak ada masalah kalau sampean mengumpat di depan saya, tapi copot dulu kaos dan peci sampean, emang sampean gak malu sama KH Wahab Hasbullah ?) yang ketika itu memang dia sedang berpeci dan memakai kaos bergambarkan KH Wahab Hasbullah (salah satu kiai karismatik di Jombang pendiri NU).

           Sudah sangat jelas pelajaran dari dua kisah menarik tersubut. Okelah kalian mengumpat di tempat umum, bermain kartu di tempat umum bahkan pacaran di tempaat umum. Tapi jika anda adalah santri, copot dulu peci anda, lipat dulu sarung anda. Itu seragam suci khas santri, jangan anda kotori denga akhlak-akhlak hewani anda.

    Dan semoga secuil kisah ini bisa memberi pelajaran bagi kita, untuk belajar "MENGHORMATI KESANTRIAN".

 

  • view 110