Menulis atau Tidak Menulis, Pilihan Bagi Guru

Hamli Syaifullah
Karya Hamli Syaifullah Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 19 Juli 2017
Menulis atau Tidak Menulis, Pilihan Bagi Guru

Menjadi guru penulis ataupun guru yang tak penulis, merupakan pilihan yang boleh ditempuh oleh seorang guru. Hanya saja, setiap pilihan yang ditempuh, akan ada konsekwensi tersendiri. Dan kensekwensi tersebut, sebagai bentuk hukum kausalitas yang berlaku di alam raya ini.

Konsekwensi plus bagi seorang guru yang memilih menjadi guru penulis, misalnya: memiliki pendapatan tambahan berupa honorarium, banyak dikenal orang (minimal di komunitasnya), memiliki wawasan luas, seorang pembelajar, dan lain sebagainya. Konsekwensi minus bagi seorang guru yang memilih menjadi guru penulis, misalnya: waktu banyak digunakan untuk menulis dan membaca, waktu istirahat tersita, letih, lelah, terkadang sakit karena dikejar-kejar date-line, dan lain sebagainya.

Pun begitu juga bagi guru yang memilih menjadi guru yang tak penulis, konsekwensi plus, misalnya: memiliki banyak waktu, banyak waktu untuk istirahat, waktu kosong bisa untuk bersilaturrahmi, dan lain sebagainya. Konsekwensi negatif bagi guru yang memilih tak menjadi guru penulis, misalnya: tidak memiliki ketenaran nama, tidak memiliki tambahan pendapatan dari aktivitas menulis, kurang baca buku, dan lain sebagainya.   

Mungkin, masih banyak lagi plus-minus yang belum saya uraikan, sebagai konsekwensi dari pilihan yang akan ditempuh oleh seorang guru. Intinya, konsekwensi tersebut harus diterima dengan lapang dada. Kemudian, kita jalankan dengan penuh ketulusan hati.  

Mempertimbangkan Konsekwensi

Memang benar, pilihan untuk menjadi guru penulis ataupun guru yang tak penulis adalah pilihan masing-masing dari seorang guru. Hanya saja, jika saya boleh memberikan saran bagi Anda  yang saat ini menjadi seorang guru, pilihan menjadi guru penulis adalah pilihan yang paling tepat.

Mengapa bisa demikian? Karena pengertian guru itu sangat luas cakupannya. Menurut Ramayulis (2015: 107), guru bukan hanya menerima amanat dari orang tua untuk mendidik, melainkan juga dari setiap orang yang memerlukan bantuan untuk mendidiknya.

Pendapat Ramayulis, memberikan implikasi bahwa tugas guru bukan hanya sebagai pendidik dan pengajar di sekolah/perguruan tinggi. Akan tetapi, tugas seorang guru cukup luas, yaitu memiliki tanggung jawab untuk mendidik masyarakat umum. Paling tidak, masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Dan syukur-syukur, masyarakat Indonesia pada umumnya.

Nah, salah satu media yang dapat digunakan untuk mendidik masyarakat secara umum, yaitu berbentuk tulisan. Karena tulisan merupakan media yang dapat menampung pemikiran seseorang, kemudian bisa disebarluaskan ke seantero alam raya ini, tanpa mengenal waktu.

Sebagai contoh, Buya Hamka merupakan seorang guru yang penulis. Salah satu karya fenomental beliau, yang hingga saat ini masih digunakan ialah Tafsir Al-Azhar. Beliau juga banyak menulis novel dan tasawuf modern. Melalui tulisan dari beberapa buku yang beliau hasilkan, telah memapu mendidik masyarakat.

Walaupun beliau telah lama meninggal dunia, proses pendidikan yang diberikan oleh beliau kepada masyarakat melalui media tulisan, masih berlangsung hingga saat sekarang ini. Bahkan, pandangan beliau yang dituangkan dalam tulisan, seolah tak lapuk dimakan zaman. Itulah kekuatan pendidikan melalui tulisan.

Jika saya diberi kesempatan untuk memberikan pertimbangan dalam memilih, maka saya menganjurkan kepada para guru, agar menjadi guru yang penulis saja. Karena, dengan menjadikan diri kita sebagai guru penulis, secara tidak langsung kita sebagai pendidik, telah berusaha menunaikan kewajiban moril untuk mendidik masyarakat, melalui tulisan yang kita hasilkan.

Berani Memilih

Keputusan memilih menjadi guru penulis, membutuhkan keberanian yang cukup maksimal dari seorang guru. Karena, keberanian yang setengah-setengah, akan berdampak pada pengorbanan yang setengah-setengah. Pengorbanan setengah-setengah, juga akan berpengaruh pada hasil yang setengah-setengah.

Maka dari itu, jika kita sebagai guru sudah membulatkan tekad dan memutuskan diri menjadi guru yang penulis, maka kita harus memiliki keberanian tingkat tinggi. Kita harus mau memberanikan diri, untuk memperjuangkan hingga kita benar-benar menjadi guru yang produktif menulis.

Karena, ada juga jenis guru yang memilih menjadi guru penulis, kemudian dirinya merasa puas atas pencapaian dari beberapa tulisan yang dihasilkan, entah berbentuk tulisan pendek di media massa (online atau cetak), ataupun tulisan berbentuk buku. Rasa puas, akhirnya mampu membunuh produktivitas menulis. Sehingga, dirinya tak hasilkan tulisan lagi.

Dengan kata lain, dirinya telah menjadi guru yang penulis. Cuman, setelah menjadi guru penulis, mandul dan tak hasilkan tulisan lagi. Inilah yang dimaksud dengan guru yang penulis, namun tak  produktif menulis.

Sedangkan bagi kita, yang saat ini telah memilih menjadi guru yang penulis, maka pilihan kita harus menjadi guru penulis yang produktif hasilkan tulisan. Setidaknya, setiap hari kita bisa hasilkan tulisan, yang kita  coba persembahkan untuk mendidik masyarakat secara luas.  

Dengan demikian, kita telah memiliki tujuan yang jelas (goals). Menurut Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu (2014: 50) tujuan memperkuat seseorang dalam mencapai yang dicita-citakan. Keberadaan tujuan membuat seseorang memiliki arah kemana, bagaimana dan apa yang harus dilakukan demi terwujudnya tujuan yang telah ditetapkan.

Itulah mengapa, penting bagi kita memiliki tujuan yang jelas. Sedangkan bagi kita yang saat ini memilih menjadi guru yang penulis, telah memiliki tujuan yang sangat jelas. Yaitu menjadi seorang guru penulis yang produktif hasilkan tulisan hingga akhir hayat. Kemudian, tulisan tersebut mampu memberikan pendidikan kepada masyarakat yang membacanya.

Memperjuangkan Pilihan

Pilihan harus diperjuangkan, karena tanpa perjuangan, apa yang kita pilih akan sia-sia. Sebagai contoh, bangsa Indonesia ketika masa penjajahan, memilih untuk hidup merdeka. Kemudian, rakyat Indonesia coba memperjuangkan pilihan tersebut. Harta, benda, dan bahkan nyawa disumbangkan untuk memperjuangkan pilihan yang telah ditempuh.

Pun begitu juga dengan seorang guru, yang telah memilih menjadi guru penulis yang produktif menulis. Tentu, pilihan tersebut harus berani diperjuangkan, baik harta, benda, waktu, hingga nyawa sekalipun harus berani kita korbankan. Tanpa ada pengorbanan yang lebih, sangat mustahil impian menjadi guru penulis terealisasi.

Coba sesekali berkunjung ke tokoh buku, lihatlah buku-buku yang penulisnya seorang guru yang sudah bergelar profesor. Coba baca biodata penulis yang tertera di belakang buku tersebut. Kebanyakan mereka adalah orang-orang sibuk yang pekerjaannya bukan hanya mengajar di perguruan tinggi. Tak jarang dari mereka, ada yang jadi komisaris di sebuah perusahaan, ada yang aktif juga di pemerintahan, yang semuanya cukup menyita waktu.

Yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, mengapa kesibukan yang dimiliki tak menghalangi mereka untuk berkarya? Padahal, waktu yang diberikan oleh Tuhan sama, yaitu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 4 minggu dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. 

Tentu, jawabannya sangat simpel dan sederhana. Karena mereka mau memperjuangkan diri sekuat tenaga untuk menulis di sela-sela kesibukan mereka. Tanpa adanya perjuangan yang gigih, tentu mereka tak akan bisa hasilkan buku yang begitu banyak.

Lantas, apakah kita sebagai guru—yang mohon maaf, selalu memiliki alasan sibuk atau sekadar sok sibuk, tentunya kalah terhadap mereka yang benar-benar sangat sibuk dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Jika dipikir-pikir, tentu guru seperti kita lah yang harusnya memiliki banyak karya. Karena, kesibukan kita hanya berkutat di sekolah, rumah, dan masyarakat saja.

Maka dari itu, mari kita coba berkontemplasi sejenak, mengapa kita yang sok sibuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tak mau belajar menulis dan hasilkan tulisan yang banyak. Padahal, dengan menghasilkan tulisan, kita telah menggugurkan kewajiban moril untuk mendidik masyarakat secara luas.

Hidup untuk Berkarya

Pernahkah kita menyadari, setiap hari kita pergi pagi dan pulang sore. Tujuannya tak lain ialah, untuk mencari uang menafkahi keluarga kita. Sehingga keluarga kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari kebutuhan sandang, papan dan pangan.

Ada hal yang harus kita ketahui bersama, bahwa hidup itu bukan sekadar mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, hidup itu sebenarnya berkarya, dan karya yang kita buat manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang.

Karena hidup adalah berkarya, tentu kita tidak akan sembarangan dalam menciptakan sebuah karya. Yang kita inginkan dan kita pikirkan, bagaimana setiap karya yang kita hasilkan, menjadi mahakarya yang fenomenal dan dapat dikenang oleh banyak orang.

Memang benar, mengajar siswa/mahasiswa merupakan salah satu bentuk menciptakan karya. Hanya saja, karya yang diciptakan tersebut, bukan menjadi karya yang fenomenal. Akan tetapi, hanya karya yang biasa-biasa saja, dan semua guru bisa melakukan hal tersebut.

Jika Anda sebagai guru berkeinginan menciptakan karya fenomental dan belum dikerjakan oleh banyak guru, jadilah guru yang penulis. Karena, selain kita mengajar menciptakan karya, kita juga menulis buku sebagai bentuk menciptakan mahakarya yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang dan tak terbatas oleh ruang dan waktu.  

Penutup

Menulis atau tidak menulis, itu hak seorang guru. Akan tetapi, sebagai guru yang ingin menciptakan mahakarya, maka menulis adalah salah satu cara yang cukup ampuh. Karena, menulis cukup mudah, hanya membutuhkan latihan yang intensif saja.

Sebelum menutup tulisan ini, saya mengingatkan kembali, Anda sebagai guru sebaiknya memilih menjadi guru yang penulis, yang hasilkan banyak tulisan setiap harinya.

Selamat berkarya dan selamat menjadi guru yang penulis....!

  • view 92