Pengalaman Shalat Jum'at di Mesjid Ahmadiyah

Hamka Husein Hasibuan
Karya Hamka Husein Hasibuan Kategori Agama
dipublikasikan 25 Februari 2017
Pengalaman Shalat Jum'at di Mesjid Ahmadiyah

Sejak pertama kali saya mengenal Ahmadiyah, tepatnya pada kelas dua di Pasantren, saya sudah punya pemahaman bahwa Ahmadiyah bukanlah bagian dari agama Islam. Saya tahu tentang Ahmadiyah dari buku-buku yang ditulis oleh orang non-Ahmadiyah. Pemahaman seperti ini selama bertahun-tahun tetap saya pegangi. 

Pemahama seperti itu lama-lama mulai terkikis seiring dengan beberapa buku yang ditulis oleh orang Ahmadi sendiri ---baik itu buku-buku para khalifahnya maupun tokoh-tokoh Ahmadiyah--- mulai saya baca dan saya konsumsi. Ini dikerenakan konsep candah Ahmadiyah menjadi objek penelitian saya. Dan ini sudah saya tulis dengan judul: Ahmadiyah Bukan Agama Baru.

Setelah beberapa kali ngobrol dan berdiskusi dengan anggota Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) cabang DIY Yogyakarya, dan puncaknya adalah pada hari ini: mengikuti shalat Jum'at dengan mereka,  memantapkan pemahaman dan keyakinan saya bahwa Ahmadiyah adalah bagian dari Islam. Ahmadiyah adalah Islam.

Saya melihat tidak ada yang berbeda dari shalat Jum'at Ahmadiyah dengan muslim pada umumnya. Mulai dari azan (azan Jumatnya hanya sekali), khutbat Jum'at, dan shalat Jum'atnya.

Pertama masuk ke masjid Ahmadiyah, saya tidak melihat ada yang berbeda dengan mesjid pada umumnya. Tidak ada foto Mirza Ghulam Ahmad di dalam masjid, seperti yang dilontarkan sebagian pihak tertentu yang benci kepada Ahmadiyah. Pun, dalam mesjidnya adanya kaligrafi ayat al-Quran, tidak ada yang lain.

Di mesjid Ahmadiyah juga ada kebebasan. Anggota Ahmadi bisa shalat di luar masjid Ahmadiyah, begitu juga orang di luar Ahmadiyah bisa shalat bersama di masjid Ahmadiyah. Pada shalat Jum'at hari ini saya melihat itu, orang yang shalat banyak warga sekitar yang bukan anggota Ahmadi. Jadi, mesjid mereka tidak tertutup dan sektarisme seperti yang dituduhkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Azan di Ahmadiyah dan azan pada muslim pada umumnya adalah sama. Tidak ada kalimat "Ashadu anna Mirza Ghulam Ahmad Rasullulah". Tidak ada! Klaim yang dilontarkan oleh sebagian orang di luar Ahmadiyah, yang mengatakan bahwa azan di Ahmadiyah berbeda dengan dengan azan muslim pada umumnya adalah salah besar. 

Memang, anggota Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulum Ahmad itu menerima wahyu. Tapi harus diingat wahyu yang diterima MGA adalah wahyu at-tabsir wa al-indzar (wahyu dakwah) bukan wahyu at-tasyri' (wahyu syariat). 

Dikarenakan, MGA hanya menerima wahyu dakwah, maka dalam syahadat, azan, dan masjid-masjid mereka, maka tidak ada syahadad untuk MGA.

Saya juga tidak melihat ada yang berbeda pada shalat Jum'at mereka. Pada shalat Jum'at hari ini azan Jum'at dilakukan sekali, sebelum khatib naik mimbar. Kemudian, mengenai khutbah Jum'at. Cara khutbah Jum'at juga sama dengan khutbah dengan muslim pada umumnya. Syarat dan rukunnya juga sama, tidak ada yang beda secara prinsipiil. Ada ucapan alhamdulillah, shalawat, Syahadat, dan lain-lain. Sama dengan cara khutbah di masjid-masjid lainnya. Akhir kata, dalam catatan ini saya ingin mengatakan: Mbok, kalau belum pernah ngobol, berdiskusi, membaur, shalat bersama dan membaca buku/kitab  Ahmadiyah langsung, jangan gampang  nuduh orang lain sesat.

Kalaupun ada yang berbeda dengan muslim pada umumnya di Indonesia, itu tidak menyangkut hal-hal pokok. Ini disebabkan Ahmadiyah dalam hal ibadah mengikuti mazhab Hanafi sebagai tercantum dalam kitab Al-Qadiniyah al-Ahmadiyah fi Mian al-Haq karya Muhammas Sa'id At-Tarihi.

Dalam khutbah Jum'at pun yang dikutip adalah ayat al-Quran bukan dari kitab Tazkirah. Selama khutbah berlangsung khatib tidak pernah mengutip dari kitab Tazkirah.

Tuduhan orang yang tidak bertanggung jawab yang mengatakan bahwa dalam Ahmadiyah kitab sucinya adalah Tazkirah bukan Al-Qur'an adalah fitnah dan dusta besar. 

Tazkirah tidak lain adalah kumpulan perkataan, wejangan, catatan, dan ilhamat dari Mirza Ghulam Ahmad, yang dibukukan  27 tahun kemudian pasca wafatnya MGA. Jadi, bukan kitab suci.

Khutbah Jum'at di Ahmadiyah di lakukan dua khutbah, seperti pada umumnya. Di antara dua khutbah tidak ada bacaan shalawat.

Pada khubah Jum'at hari ini, sang khatib mengangkat riwayat hidup Hazrat Al-Muslih Al-Ma'ud:  Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, sebagai judul khutbah. 

Sang khatib mengatakan, kita perlu belajar dan meneladani Mirza Basyiruddun Mahmud Ahmad, yang dalam Ahmadiyah Qaidian sebagai khalifah kedua pasca Mirza Ghulam Ahmad. 

Lagi-lagi, sang khatib menjelaskan bahwa Mirza Basyiruddin adalah sosok yang terpuji, pintar sejak kecil dan merupakan putra yang ditunggu-tunggu.

Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad punya jasa besar dalam memperjuangkan Ahmadiyah, baik dalam sektor ekonomi, organisasi, pendidikan maupun dalam pemberdayaan perempuan. 

Lebih lanjut, sang khatib memaparkan bahwa Mirza Basyiruddin punya jasa besar dalam pemberdayaan perempuan pada masanya dengan membuka sekolah-sekolah untuk perempuan.

Juga, pada masa Mirza Basyiruudin inilah kota Robwah dijadikan sebagai kota suci keempat sesudah Makkah, Madinah, dan Qadian (tempat lahirnya Ahmadiyah). Sama dengan Syiah yang mengakui Karbala sebagai kota suci.

Dengan alasan inilah kemudian ada fitnah, kalau Ahmadiyah hajinya bukan ke Makkah melainkan ke Qadian atau ke London (pusat  Ahmadiyah internasional sekarang ada di London). 

Itu tidak benar, anggota Ahmadi yang berkunjung ke Qadian atau London itu dalam rangka mengikuti Jalsah Salanah semacam annual meeting, pertemuan tahunan, di Indonesia juga ada.

Shalat Jum'at di Ahmadiyah pun tidak ada yang berbeda, dilakukan dua rakaat, dengan bismillah dalam Fatihah tidak dinyaringkan, tidak ada zikir dan doa bersama. Dalam shalat subuh juga tidak ada qunut. Shalatnya pun menghadap Kiblat, bukan mengadap Qadian, Pakistan.

 

Fitnah dan tuduhan yang tidak mendasar dari golongan benci seharus harus ditolak. Seperti kaidah  yang dlontarkan Gus Dur:  Qaul al-mujtahidi  'an khasmihi la yu'khaz (perkataan ahli agama mengenai musuhnya tidak bisa jadi pegangan). Pendapat yang tidak bertanggung jawab seperti yang dilontarkan oleh kalangan FPI, MUI, HTI, FUI dan golongan apapun yang benci terhadap Ahmadiyah tidak bisa diandalakan, karena di dalamnya terdapat bias-permusuhan.

 

Akhir kata, dalam catatan ini saya ingin mengatakan: Mbok, kalau belum pernah ngobol, berdiskusi, membaur, shalat bersama dan membaca buku/kitab  Ahmadiyah langsung, jangan gampang  nuduh orang lain sesat.

  • view 119