Hukum Islam: Interrelasi Teks, Nalar dan Realitas yang Hidup

Hamka Husein Hasibuan
Karya Hamka Husein Hasibuan Kategori Agama
dipublikasikan 03 Februari 2017
Hukum Islam: Interrelasi Teks, Nalar dan Realitas yang Hidup

Dalam suatu acara seminar mengenai pengoptimalan zakat di Indonesia, yang diadakan oleh jurusan Hukum Ekonomi Syariah, UIN Suna Kalijaga, sang narasumber membuat pertanyaan sekaligus pernyataan yang bagi saya sangat mengganjal. Apakah fikih itu termasuk ilmu pengetahuan?  Apakah zakat yang dalam kitab-kitab fikih disebutkan dapat mensejahterakan masyarakat bisa diverifikasi?

Pertanyaan itu kemudian dijawab sendiri oleh narasumber bahwa fikih bukanlah bagian dari ilmu pengetahun. Sang narasumber yang ketika itu menjabat sebagai dekan di salah satu universitas Islam ternama di  Jakarta, menjadikan positivismenya Auguste Comte sebagai argumennya.

Menurutnya, fikih (hukum Islam) masuk pada level metefisika, belum sampai pada level positif dalam ketegorisasi Comte.

Di sinilah letak permasalahannya, karena sang narasumber tidak menjelasakan apa defenisi hukum menurut Auguste Comte.

Dalam ilmu mantiq (logika), defenisi (ta’rif) adalah “ruhnya  argumen”. Boleh jadi kita mengambil kesimpulan yang berbeda terhadap sesuatu disebabkan oleh defenisi yang kita pegangi juga berbeda.

MUI dan JIL berbeda dalam menyikapi pluralisme, karena defenisi yang mereka buat juga berbeda. Abu Hanifah dan Imam Syafii berbeda pendapat mengenai istihsan, disebabkan defenisi keduanya juga berbeda.

Menurut Comte, hukum adalah sekumpulan norma-norma yang abstrak yang terkadang irrasional. Berangkat dari defenisi ini kemudian Comte menyatakan bahwa hukum tidak termasuk dalam ketegori ilmu pengetahuan, kerena sifatnya yang abstrak. Sesuatu yang abstrak menurut Comte tidak bisa diverifikasi, yang otomatis dia masuk pada wilayah metafisika.

Bagaimana dengan hukum Islam? Apakah dia masuk pada level metafisika seperti yang disebutkan Comte? Di sinilah posisi tulisan ini.

Hukum Islam ketika didefeniskan dengan defenisi yang dibuat para ushuliyyin sebagai titah ilahi (khitabullah) yang tertuju kepada perbuatan manusia yang berisi tuntutan, penetapan atau pemberian alternatif. Maka penulis sepakat dengan Comte, hukum Islam masuk pada level metefisika. Khitabullah (titah ilahi) adalah sesuatu yang transendental yang tidak bisa diverifikasi. Bagi Comte, sesuatu itu bisa diverifikasi ketika dia bersifat empirik. 

Akan tetapi mendefenisikan hukum Islam seperti di atas adalah sesuatu tindakan  simplikasi. Hukum Islam bukanlah sekedar kumpulan teks al-Quran dan Hadis, yang dari sana semua persolan kehidupan bisa terjawab dan teratasi. Al-Quran lahir di ruang tidak hampa untuk merespons segala persoalan kemanusian yang terus bergerak dinamis. Dalam merespons persoalan inilah al-Qu’ran punya interrelasi dengan ajaran lain semisal teks hadist, nalar, maslahah dan realiatas yang hidup. Adanya interrelasi ketiga kompenen ini: teks, nalar, dan realitas yang hidup, sudah cukup untuk meruntuhkan argumen sang narasumber tadi bahwa hukum Islam bukan hanya sekedar berada pada wilayah metefisika-transendental, melain masuk pada level positif-empiris. Untuk lebih jelasnya, penulis uraikan di bawah ini. 

 Pertama, interrelasi teks al-Qur’an dengan teks hadist. Dalam hukum Islam teks hadist mempunyai posisi kedua dalam hierarki setelah a-Qur’an. Ini disebabkan fungsinya sebagai penjelas, penafsir, penguat, bahkan pembuat hukum baru. Disebabkan posisinya yang sangat penting ini, al-Auza’i (w.157) pernah menandaskan bahwa ketergantungan al-Qur’an terhadap Hadis lebih besar ketimbang ketergantungan Hadis kepada al-Qur’an (Abu Yasid, 2007: 03). 

Kedua, interrelasi teks dengan nalar. Sejatinya teks wahyu –baik itu al-Qur’an ataupun Hadis– bersikap diam. Yang menggerakkan teks wahyu adalah nalar manusia. Nalar manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi tolak ukur (mi’yar) dalam menggali apa yang ada di balik teks wahyu tersebut. Pada masa awal Islam, nalar Nabi lah yang berfungsi untuk memediasi antara teks wahyu dengan realitas yang hidup sesuai dengan kebutuhan manusia ketika itu. Pasca meninggalnya Nabi, tugas ini diberikan kepada para nalar juris Islam .

Ketiga, interrelasi teks dengan realiatas yang hidup. Ada sebuah adagium: Islam shalihun li kulli zaman wakan, Islam sesuai dengan ruang dan waktu. Adagium ini sebenar menggarisbawahi, bahwa hukum itu sebenarnya dibuat untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Maka dalam proses pembentukan hukum Islam, realitas yang hidup menjadi pertimbangan. Dengan kata lain hukum Tuhan (baca: Islam) bukanlah “pakaian jadi”, tapi dia selalu berproses dalam setiap ruang dan waktu. 

Interrelasi antara teks wahyu, realitas yang hidup, dan nalar harus berpijak pada maslahah. Hukum yang kering dari maslahah akan bersifat kaku, rigid, dan tidak menyelesaikan masalah. Dalam tradisi kajian jurisdiksi Islam, para juris tidak mempunyai kata sepakat dalam memberikan batasan dan defenisi maslahah. Namun pada tataran substansinya boleh dibilang sampai pada titik penyimpulan bahwa hukum Islam adalah sebentuk upaya hukum untuk mendatangkan sesuatu yang berdampak positif (manfaat) serta menghindarkan diri dari hal-hal yang bermuatan negatif (mudarat).

Dalam pembahasan filsafat hukum, term maslahah merupakam kata kunci dalam upaya merumuskan visi dan misi ajaran Islam. Dengan alasan inilah kemudian As-Suyuti mengatakan: dimana ada maslahah maka di situ ada hukum.

Keterkaitan anatara teks, nalar, dan realitas yang hidup merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. DengKeterkaitan anatara teks, nalar, dan realitas yang hidup merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan adanya keterkaitan  ketiga kompenen di atas, hukum Islam tidak akan “dimuseumkan” meminjam istilah Ulil Abshar-Abdalla.  

  • view 64