Konsep Persahabatan

Fifi Syahrir
Karya Fifi Syahrir Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Januari 2016
Konsep Persahabatan

Sahabat.

Yah, kata ini terdengar amat syahdu di telingaku.

Percaya atau tidak, aku masih tidak mempercayai konsep persahabatan hingga saat ini.?

Aku sangsi, mana mungkin ada orang yang rela menembus hujan, melawan panas, ketika mendapat kabar bahwa orang yang dia sebut "sahabat" sedang terbaring sakit atau apalah keadaannya.

Mana mungkin ada orang yang rela berjam jam mendengar cerita kita, rela mendengar semua keluhan kita.?

Mana mungkin ada orang yang mau ikut menangis melihat kita menangis, atau bahkan ikut tersenyum melihat kita bahagia.

Mana mungkin ada orang yang rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk menemani kita jalan-jalan hanya karena kita bosan berada di rumah.

ah, terlalu banyak hal yang aku sangsikan tentang konsep "persahabatan"

banyak yang bertanya tanya, lantas kusebut apa orang-orang yang selalu menemaniku?

mereka kusebut, SAUDARA.

mereka SAUDARAKU.

Saudara tak harus se-rahim kan?

untuk itu, kusebut mereka, Saudara dari rahim yang berbeda.

Hingga pada suatu hari, aku pernah berbincang dengan salah satu "saudaraku"

(sekedar memberitahu saja, biasanya aku hanya akan membahas hasil pemikiranku kepada orang-orang yang kuanggap tak akan bosan mendengarnya, yess u can call me weird hehe)

kira-kira seperti ini percakapan kami :

"Kenapa yah, hingga saat ini aku tak percaya konsep persahabatan, aku sangsi saja, aku selalu beranggapan pengorbanan si A tak selalu berbanding lurus dengan pengorbanan si B, loh, itu kan tidak adil"

"hahaha ayolah, persahabatan tak selamanya tentang pengorbanan yang sama. Mungkin saja kau sangsi, karena kau belum menemukan sahabat yang cocok untukmu. Atau bahkan, kau masih sangsi, karena kau selalu beranggapan bahwa apa yang kau beri, harus sama dengan apa yang mereka beri. Padahal fi, sejatinya persahabatan itu atas dasar ikhlas. Setiap orang punya caranya masing masing. Setiap orang selalu berbeda dalam mengekspresikan rasa sayang dan juga selalu berbeda dalam melakukan hal yang tadi kau sebut sebut, pengorbanan. Tapi kau tidak keliru, hasil pemikiran setiap orang pasti berbeda. Dan kau berhak mempunyai hasil pemikiran sendiri"

Kalimatnya cukup membuatku tertohok, mungkin ia benar, aku masih saja menganggap pengorbanan seperti ini harus dibayar dengan yang seperti ini juga. Lantas, apakah aku masih saja tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu yang kusebut, pengorbanan?

Baiklah, inilah salah satu bukti pengingkaranku terhadap pemikiranku sendiri.

Tapi, tetap saja, aku belum (aku mengganti "tidak" dengan "belum") mempercayai konsep PERSAHABATAN

hehe.

  • view 319