Secangkir Teh yang Kemanisan dan Kopi yang Pahit

Halimah Haa
Karya Halimah Haa Kategori Agama
dipublikasikan 15 April 2017
Secangkir Teh yang Kemanisan dan Kopi yang Pahit

Dimanapun kelembutan itu berada, ia akan menghiasi tempat itu. Kelembutan tutur kata, senyuman tulus di bibir, dan sapaan-sapaan hangat yang terpuji saat bersua merupakan hiasan-hiasan yang selalu dikenakan oleh orang-orang mulia. Semua itu merupakan sifat seorang mukmin yang akan menjadikannya seperti seekor lebah ; makan dari makanan yang baik dan menghasilkan madu yang baik. Dan bila hinggap pada setangkai bunga, ia tidak pernah merusaknya. Semua itu terjadi karena Allah menganugerahkan pada kelembutan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada kekerasan.

(La Tahzan , Jangan bersedih - Karya Syaikh Dr.'Aidh al-Qarni,hal.27)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak dapat kita pungkiri apa pun yang kita lewati di dunia ini, tidak pernah lepas dari kuasa dan Ridha Allah dalam setiap prosesnya. Baik buruk, rendah tinggi, naik turun kehidupan, itulah yang mebuat hidup itu menjadi kehidupan. 
Pernah tidak minum secangkir teh yang kebanyakan gula? Manis nya terlalu menyeruak di lidah, maniiis sekali dan cenderung eneg. Atau pernah tidak, semisal, minum kopi hitam yang sangat pahit? Bagi yang tidak biasa meminum nya, pastilah rasanya sangat pahit di lidah.
Begitu juga kehidupan. Apabila berisi senang-senang saja, maka akan terasa eneg, makna kebahagiaan menjadi bias di mata kita. Karena belum dapat memaknai pahit manis kehidupan.
Atau apabila hidup kita berisi galau-galau melulu, maka akan terasa lelah, karena kegalauan itu sesungguhnya dicipta dari hal-hal yang terjadi disekitar kita. Namun untuk menjadi bahagia, maka diri kita sendirilah yang memutuskan nya, kamu mau bahagia atau tidak? Kebahagiaan itu diciptakan dan dicari, bukan ditunggu dengan duduk termagu sambil galau-galau melulu.

Biasanya, ketika saya sedang bersedih hati, jurus berfikir terbalik saya terapkan.
Berfikir terbalik itu seperti apa ya?
Nah, kalau kamu sedang bersedih karena suatu hal, maka pikirkan lah kebaikan apa yang telah Allah persiapkan setelah ini.
Atau hikmah apa yang Allah siapkan untuk kita dari hal ini.
Kalau kopi itu terlalu pahit, maka tambahlah gula dan air agar tidak begitu pekat. Kalau teh itu ternyata terlalu manis, maka tambahlah air agar mengurangi kemanisan nya. 
Tidak perlu merutuki kopi dan teh yang memang sudah begitu adanya, kitalah yang harus merubahnya! Kitalah yang harus berusaha bangkit dari kesedihan.

Biasanya ketika saya sedang bersedih, saya memutuskan untuk pergi kajian untuk sekedar menghilangkan kesedihan. Ya hitung-hitung mencari ilmu, siapa tau banyak malaikat di majlis ilmu dan meng-aamiin kan do'a saya disana. Karena lokasinya cukup dekat dan saya sudah biasa berjalan kaki, saya memutuskan untuk berjalan kaki.
Setiap saya berjalan kaki beberapa mbak-mbak berhenti untuk menawarkan tumpangan. "Mbak mau kajian? Mau kesana bareng?" Masyaa Allah, dan hal ini sudah terjadi berkali-kali kepada saya. Bahkan pernah, suatu hari hujan cukup lebat, dan saya di tengah jalan kehujanan. Tiba-tiba ditawari tumpangan oleh seorang mbak yang juga mau ke tempat kajian.
Beruntungnya lagi, ditempat kajian saya disambut dengan salam dan jabat tangan yang hangat, ditambah disuguhi teh hangat yang juga menghangatkan hati saya. Aduhai, sungguh kalau saya diam saja sambil galau di kamar, mungkin kehangatan ini tidak akan saya dapatkan.

Begitulah, hal-hal se sederhana itu dapat membuat kita bahagia. Begitu lah akhlaq seorang muslim. Segala kelembutan terpancar dari hal-hal kecil namun sungguh itulah yang dapat meluluhkan kesedihan dan menumbuhkan kebahagiaan bagi saudara saudarinya. Mungkin kamu kira, senyuman dan salam hangatmu itu sepele, tapi bagi orang lain, hal tersebut bisa jadi sesendok gula yang mengurangi kepahitan hidupnya. Atau mungkin, saat kamu mendengar curhatnya, bukanlah sebuah hal yang luar biasa karena memang begitulah biasanya. Namun, bisa jadi hal itu lah membuat nya merasa di dengar dan mencegahnya dari berbuat yang tidak baik. Kita adalah telaga bagi orang lain, dan orang-orang disekitar kita adalah telaga bagi kita. Kehausan itu dapat melegakan saat kita menemukan mereka di sisi kita. Begitupun sebaliknya.

Karena itu... tetaplah berlemah lembut, tetaplah menebar kebaikan. Karena sesungguhnya, kebaikan sekecil biji zarrah pun akan diperhitungkan. Dan tahukah kamu sebesar apakah zarrah itu? Yakni biji sawi yang sangat kecil. 

(تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ (رواه الترمذى
“Senyum manismu dihadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)

(مَنْ لاَ يَرْحَمْ وَلاَ يُرْحَمْ (رواه البخارى
“Barangsiapa tidak menyayangi maka tidak disayangi” (HR. Al Bukhari)

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Muslim itu bersaudara bagi muslim yang lainnya, Jangan menzaliminya dan jangan memasrahkannya” (HR. Bukhori-Muslim)

(اللّٰهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ (رواه مسلم
Allah senantiasa menolong hambaNya, selama hambaNya suka menolong saudaranya (HR. Muslim)

  • view 114